
Jam menunjukkkan pukul delapan pagi. Pukul sepuluh nanti, Reyno sudah harus berangkat ke kampus, yang artinya ia memiliki waktu dua jam untuk menyelesaikan drama cemburu di pagi hari ini. Syukur-syukur bisa langsung selesai, agar Reyno bisa mendapat jatah nutrisi sebelum memulai aktifitasnya di luar rumah. Pikiran mencari keuntunggannya berkeliaran.
"Mana hapenya?" Baru saja Reyno masuk ke dalam kamar, Jennie langsung berseru dengan mata menyalang. "Cepat! Lelet banget, sih."
Benar kata pepatah, wanita yang sedang cemburu memang lebih menyeramkan dari kecoa. Itu pepatah yang melintas dipikiran Reyno secara dadakan.
"Ini, Sayang." Memberikan ponselnya dengan wajah imut.
"Sayang ... sayang gundulmu!"
Jennie langsung meraih ponsel itu. Mengecek seluruh isinya dari atas sampai ke bawah. Sementara Reyno juga ikut duduk di samping Jennie, menaruh dagunya pada pundak sang istri dan memainkan rambut lurus milik Jennie.
"Kalau sudah begini baru cek hape suami. Gimana kalau aku beneran selingkuh, kamu gak akan tahu karena terlalu cuek sama aku. Pahal setiap hari aku cek ponsel kamu," gerutu Reyno dengan bibir manyunnya.
Jennie meletakkan ponsel Reyno di atas nakas setelah meihat semua pesan di ponsel Reyno. Tidak ada yang menonjol, Miss D hanya memaggil Reyno dengan sebutan Baby, untuk semua isi pesannya wajar, tentang materi kelas dan tugas yang diberikan Miss D untuk Reyno.
"Aku tuh mahasiswa jalur beasiswa, kalau aku mau dapat beasiswa terus sampai wisuda, aku harus ekstra belajar dan mendapat nilai terbaik sekelas. Makannya Miss D selalu memperhatikan aku banget," terang Reyno sejujur-jujurnya.
"Tapi aku masih marah." Walau tidak jadi memblokir nomer dosen kecentilan itu, Jennie tetap belum memaafkan Reyno. "Hati aku masih sakit, tahu?" tanya Jennie dengan nada lemah.
"Iya. Maafin aku ya," ucap Reyno seraya menggenggam tangan istrinya.
"Kamu tahu ngga, apa yang aku rasain setiap kali kamu jauh dari aku?" Reyno hanya menggeleng samar. Menunggu Jennie menceritakan keluh kesahnya selama ini.
"Aku selalu mikir kamu akan tergoda dengan gadis-gadis cantik di kampusmu. Aku tahu Reynoku pasti akan menjadi mahasiswa yang keren. Kamu sudah bukan cowok cupu yang manja lagi. Semua wanita pasti akan tertarik melihat wajah tampan dan prestasimu yang mendukung. Dan aku ... aku takut akan tersingkir dari duniamu, Reyn."
Air mata Jennie jatuh tanpa terasa, membasahi jemari yang saling bertaut di atas pangkuannya. Isaknya mulai meninggi, tubuhnya gemetar kala menafsirkan sesuatu yang belum pasti akan terjadi.
__ADS_1
Begitulah wanita. Meskipun laki-laki dan perempuan sama-sama memiliki perasaan cemburu, namun wanita sedikit berbeda pikirannya. Kaum yang satu ini selalu memikirkan jangka panjang hubungannya untuk kedepan. Bahkan selalu membayangkan suatu kesimpulan yang belum terjadi hingga berujung sakit hati. Bisa di katakan, kaum wanita hobi menambah pikiran dengan argumen-argumen tidak penting tentang pasangannya.
Sambil mengusap air matanya, Jennie mulai berkata kembali, "Jujur, selama ini aku selalu cek ponsel kamu, kok. Tapi aku ceknya pas kamu tidur atau kamu lagi di kamar mandi. Aku gengsi kalau harus terang-terangan kayak kamu. Kecuali kalau udah gak tahan kayak gini. Tapi semenjak kamu kuliah, aku gak pernah cek ponsel kamu, aku takut liat sesuatu yang gak aku mau lihat.
Kepalanya sudah bersandar di dada bidang suaminya. Kedua tangan Jennie melingkari pinggang Reyno yang masih diam membisu. Mungkin ingin memberi kesempatan pada Jennie agar mengungkapkan seluruh isi hatinya sampai puas.
"Kamu paham ngga sih, Reyn. Kenapa malah diam?" Jennie mulai risih dan merasa tidak diperdulilkan. "Aku tuh takut kehilangan kamu.
"Iya aku paham," jawab Reyno seraya mengusap punggung kecil itu. Setengah gemas, akan tetapi ia memaklumi kekhawatiran istrinya. "Kalau mau cek hape aku, cek saja di depan aku. Gak perlu gengsi, karena aku suka diposesifin sama kamu, bahkan aku menunggu hari itu tiba.
"Hmm." Jennie menjawab dengan dehaman.
"Jangan nyakitin kamu dengan mikirin hal-hal negatif tentang aku. Sayangi hati dan pikiran kamu, apa lagi kamu lagi mengandung anak kita, aku gak mau kamu sampai stress nantinya." Satu kecupan melayang lembut di kening Jennie.
"Gak bisa, semua itu datang sendiri," sanggahnya kesal. Marah pada hatinya yang lemah dan mudah patah.
"Mulai hari ini ... setiap kali istirahat, aku akan video call kamu. Aku juga tidak akan menyimpan nomor wanita tanpa seizin kamu. Aku akan benar-benar menutup diri dari mereka, dan menjelaskan bahwa aku sudah menikah pada semua teman kampusku." Berharap apa yang ia katakan dapat meredakan kecemasan di hati istrinya.
"Makasih" jawab Jennie datar. Hatinya masih belum membaik. Butuh pelukkan dan kasih sayang yang lebih banyak lagi.
"Kamu masih gak percaya sama aku? Gimana kalau ikut aku ke kampus? Biar semua orang tahu kalau aku milik kamu." Tersenyumlah Reyno, lalu menghapus sisa air mata Jennie dengan ibu jarinya.
"Apaan sih, lebay tahu!"
"Terus maunya gimana? Aku disuruh ngapain?" tanya Reyno bingung. Agak putus asa juga, sih.
"Peluk aku sampai hatinya tenang."
__ADS_1
Bukannya memeluk, Reyno malah menidurkan istrinya secara paksa. Menjatuhkan benda kenyal nan basah itu di bibir manis Jennie.
"Ngapain cium? Aku gak minta."
"Cinta memang harus sering-sering dibuktikan dengan hal yang nyata."
"Jangan macam-macam ya, Reyn. Tadi malam kan udah." Bahaya, Jennie merasa mendapat ancaman di pagi hari. Ia paham apa yang akan terjadi selanjutnya. Setiap kali marahan, akan selalu ditutup dengan hal seperti ini.
"Sayang—" Bibirnya agak bergetar. "Sebentar lagi kamu berangkat loh, aku gak mau kamu kelelahan." Hanya itu alasan yang masuk akal.
"Aku kuat, kok."
"Aku belum mandi, Reyn. Bau." Jennie menolak secara halus.
"Aku gak masalah, aku suka." tangan, bibir semuanya sudah tidak terkontrol lagi.
"Tapi kamarnya terang banget, badan aku yang gemuk akan terlihat. Aku malu."
"Gak penting, justru aku suka lihat tubuh kamu yang mulai mengembang. Empuk kayak roti bakpau."
Hei, pujian apaan itu, aku kok ingin marah dan memukul kepala bocah ini sampe pingsan. Jennie.
Reyno benar-benar memanfaatkan kesempatan yang ada. Dan lucunya, Jennie selalu menjadi kaum yang pasrah walau awalnya menolak.
Sungguh pagi hari yang indah untuk mereka berdua.
***
__ADS_1
Tetooooot... mana like dan komennya. Aku udah crazy up nih... wkwkwk.