
Sayangnya kehidupan nyata tidak semulus jalan tol yang baru dibangun, juga tidak seindah kisah di dalam novel percintaan. Ini Indonesia, tempat yang kaya makmur, namun memiliki rintangan yang sulit untuk dapat bernapas atau sekedar memijakan kaki di atas buminya.
Tanah airku Indonesia. Begitulah orang menyebutnya. Tahu kan, betapa sulitnya mencari pekerjaan di Indonesia, apa lagi Reyno hanya mengandalkan ijasah smp yang ia miliki, karena cowok itu di keluarkan dari sekolah sebelum menjalani ujian. Di tambah ia tidak memiliki skill ataupun pengalaman kerja sebelumnya.
Ini sudah satu minggu lebih, hampir setiap hari Reyno mengirimkan map colkat berisi surat lamaran, menaruhnya di manapun yang bertuliskan dibutuhkan tenaga kerja. Entah standar kariawan seperti apa yang mereka inginkan, yang jelas Reyno cukup tahu diri untuk hal ini, pria itu hanya melamar di tempat-tempat sederhana, seperti warung kelontong, restauran pribadi, toko swalayan, atau menjadi ob di perusahan biasa. Sama sekali bukan pekerjaan mewah, bukan? Namun tidak ada satupun pencari tenaga kerja yang membutuhkan kinerja bocah delapan belas tahun itu. Miris.
Semangatnya untuk menjadi kepala rumah tangga yang bertanggung jawab kembali pupus. Susahnya mencari pekerjaaan membuat dirinya tidak yakin bisa menjalani rumah tangga ini, apa lagi Reyno memiliki istri yang doyan makan. Mengemis? Masa sih harus menjadi seorang pengemis. Jangan sampai Reyno melakukan pekerjaan itu, tapi kalau begini caranya, bisa saja ia nekat karena kepepet.
Seharian ini Reyno dan Jennie di rumah saja, tidak mencari pekerjaan seperti hari-hari sebelumnya. Mereka berdua sudah tidak punya uang lagi untuk ongkos mencari kerja. Keduanya menghabiskan waktu di dalam kamar, mengirim lamaran via online sambil sesekali bercanda. Hanya itu usaha terakhir mereka.
“Reyno stop!” Jennie menangkap kepala Reyno yang mulai nakal.
“Jangan di senggol, sakit tau,” sergah Jennie sambil menutupi dada dengan kedua tangannya
“Sakit kenapa? Aku gak kasar, loh. Lagian cuma bercanda, ngga sampai megang juga,” protesenya lucu. Karena cowok itu hanya merasa mengusak-usak kepalanya, tidak mesum. Bahkan ia sering melakukan hal itu setiap hari. Mereka sedang bercanda, tapi kepala Reyno tidak sengaja menyentuh buah dada ranum istrinya.
Reyno beranjak duduk, menaruh kepala Jennie di pangkuanya. Hari ini Jennie sedang tidak asik. Menyebalkan. Ujarnya dalam hati. Wajah merengutnya tidak bisa di tutupi, membuat Jennie semakin gemas melihatnya.
__ADS_1
“Ini masa mendekati menstruasiku, Sayang. Jadi aku sensitif, sebagian badan aku juga ngilu dan sakit. Setiap bulan seperti itu,” tutur Jennie menjelaskan. Gadis itu memainkan wajah menggemaskan Reyno dengan kedua tangannya. Mencubit-cubit pipi itu geregetan sekali.
“Aku kan gak tahu jadwal menstruasi kamu. Maafin aku, ya. Mau aku pijitin? Biar agak reda sakitnya,” tanya Reyno.
“Gak mau!” Jennie menggeleng samar. “Aku maunya makan.”
Reyno terdiam. Tidak menjawab permintaan Jennie. Ia tahu bahwa bahan makanan di dapur sudah habis, bahkan tidak ada sisa makanan untuk makan mereka berdua. Sejenak ia merutuki ayahnya kandungnya yang begitu kejam, rasanya tidak ingin bertemu Papi lagi. Kalau bisa bahagia dengan Jennie saja, itu sudah cukup.
“Reyn!” Jennie merengek lagi. Membangunkan Reyno dari lamunanya. “Lapar!” tegasnya. Wajah memelas itu membuat hati Reyno semakin hancur, menjerit ditengah derita yang sedang mereka jalani. Namun buru-buru ia menutupinya dengan senyuman.
“Aku ke dapur dulu ya, coba lihat masih ada bahan makanan apa tidak.” Reyno mengelus rambut kepala Jennie yang tidur lemas di pangkuanya. Sepertinya masih ada satu bungkus mie instan. Pikirnya dalam diam.
Uang juga sudah habis dipakai untuk makan dan ongkos mencari pekerjaan selama satu minggu lebih. Belum untuk fotocopy, beli kertas, beli map, dan juga perlengkapan melamar kerja lainya. Hidup ini kejam, apa lagi untuk bocah seusia Reyno dan Jennie.
“Aku tadi telepon nomor rumah, tapi ngga bisa, Reyn. Padahal aku mau minta uang sama Bunda.” Jennie menahan Reyno saat ia hendak bangun dari posisinya.
“Papi aku benar-benar keterlaluan, pasti itu ulahnya. Aku juga tidak bisa menghubungi Mami.” Reyno menggeram marah. “Aku ke dapur dulu, ya.”
__ADS_1
“Ikut ... Aku mau bantuin kamu.” Gadis itu bangun dan melompat dari pangkuang Reyno. Ia berjalan menuju dapur terlebih dahulu, biasanya Reyno selalu memasakanya makanan untuk Jennie setiap hari. Jadi ia curiga ketika Reyno tidak masak hari ini.
“Berasnya habis?” tanya Jennie saat melongok persediaan beras mereka di dalam panci tinggal sedikit. Sementara Reyno hanya mengedikan bahunya.
“Masih ada mie.” Menunjuk sebungkus mie instan di atas rak piring.
“Tinggal satu.” Jennie menyerngitkan dahinya. “Apa aku jual motor aku ya, buat makan.” bergumam lirih, namun Reyno dapat mendengar nada tidak rela yang keluar dari bibir Jennie.
“Kasih aku waktu sampai besok, aku akan cari kerja. Jalan kaki bila perlu.” Karena motor mereka sudah kehabisan bensin, mau jual ponsel juga tidak mungkin. Itu satu-satunya akses untuk mencari pekerjaan via online. Juga akses komunikasi.
“Kok hidup kita begini amat ya, Reyn. Ternyata berumah tangga lebih sulit dari pada sekolah.” Jennie menyandarkan kepalanya di dada Reyno. “Apa sebaiknya kita cerai saja, terus nikah lagi kalau sudah dewasa.” Reyno tidak menjawab pertanyaan nyeleneh Jennie, dan mengalihkan pembicaraan gadis itu.
“Maafin aku yah, ngga becus jadi suami buat kamu. Bahkan membuat isrti aku kelaparan.” Mengelus bahu kurus Jennie. “Aku masak dulu ya,” izin Reyno sambil melepas tangan Jennie yang masih memeluk tubuh kekarnya. Gadis itu masih termenung dalam diam. Marah ya?
Reyno mulai mengambil sisa beras yang ada di dalam panci, mencucinya untuk di masak dalam rice cooker. “Reyn, aku ngga bermaksud bikin kamu tersinggung kok.” Reyno masih sibuk dengan kegiatanya. “Kamu marah ya, gara-gara aku ngeluh terus, tapi aku ngga menyesal kok, nikah sama kamu.” Memeluk Reyno dengan perasaan bersalah.
“Maafin aku Reyn, mungkin di luar sana masih banyak orang yang menderita. Bersyukur kita masih bisa berteduh tanpa kepanasan dan kehujanan.”
__ADS_1
***