
"Hallo Bunda!" Reyno duduk membelah bunda dan Farhan yang sedang ngobrol berdampingan. Sementara Jennie duduk di sofa single sebelah kanan Farhan.
"Haii Sayang. Bagaimana kabar kalian selama di Bandung? Apa kalian menemui kesulitan selama ini?" tanya bunda pada Reyno selaku kepala rumah tangga.
Please, Reyn. Jangan berkata macam-macam yang membuat bunda khawatir. Entah paham atau tidak, yang jelas tatapan Jennie kepada suamianya menyiratkan hal itu. Semoga saja Reyno mengerti kode mata dari Jennie.
"Tentu saja Bunda!" Digenggamnya tangan sang bunda, sambil bergelayut manja di pundak Bunda. Farhan sedikit bergeser, malu sendiri melilhat tingkah Reyno yang luar biasa manjanya.
Mulai deh, kalau sudah ketemu bunda. Langsung caper begitu. Aku yang anaknya saja tidak pernah manja-manjaan begitu.
Kelakuan Reyno memang begitu. Awalnya bunda juga kaget melihat tingkah menantunya yang selalu berbalik dengan anak kandungnya sendiri. Tapi lama-kelamaan bunda paham, menantu satu-satunya ini memang manis dan imut seperti kucing.
"Apa hidup kalian selama ini menderita? Kalian berdua pasti mengalami banyak kesulitan ya?" Raut wajah bunda mendadak berubah sedih. Orang tua mana sih, yang tega melihat anaknya yang belum cukup umur dilepas di luar sana.
"Awalnya memang begitu Bunda. Reyno sudah melamar pekerjaan ke sana-sini selalu di tolak. Tapi sekarang Reyno sudah kerja, kok. Meskipun hidup kami tidak mewah, tapi hidup kami tidak kesulitan lagi."
Senyum bunda kembali menghangat. Pada intinya, yang terpenting adalah melihat Jennie dan Reyno sehat-sehat saja sekarang. Maka hilanglah kekhawatiran bunda selama ini.
"Terima kasih ya Sayang, sudah menjaga Jennie dengan baik. Bunda senang sekali Melihat Jennie sedikit berubah semenjak sama kamu. Sedikit terlihat seperti perempuan." Sambil melirik Jennie.
"Apa sih, Bunda!" protes Jennie kesal.
Gadis itu mulai cemburu melihat Reyno yang terus-terusan mencari perhatian bundanya. Sangat jauh berbeda dengan Jennie yang selalu bertingkah menyebalkan di hadapan Mami Dina, Reyno malah justru selalu membuat hati bunda terbang-terbang dengan segala tingkahnya.
"Oh, ya. Reyno kerja apa di Bandung?" tanya bunda penasaran.
"Kuli bangunan, Bun."
__ADS_1
"Kuli?" Mata bunda membelalak sempurna. Bahkan ia sempat melirik Jennie tak percaya.
"Iya kuli bangunan. Kenapa Bunda kaget begitu? Malu ya, punya menantu seorang kuli?" Reyno melengos ke samping. Anak itu kesal melihat ekspresi bunda yang terkejut mendengar kejujurannya. Padahal sama mertuanya sendiri, tapi sikap ngambeknya sudah seperti pada ibu kandungnya saja.
"Bukan begitu, Reyn. Bunda hanya kaget saja. Masa sih, Reyno mau kerja kasar seperti itu? Jujur Bunda antara percaya dan tidak percaya, sih." Bunda mencoba menenangkan Reyno yang mulai berubah ekspresinya. Ia Lupa kalau menantunya yang satu ini sangat sensitif hatinya.
Percalah. Saat ini Farhan sedang menatap Jennie dengan terheran-heran. Tak menyangka bahwa adik angkatnya akan bersikap tidak tahu diri seperti itu. Bahkan anak kandung bunda tidak ada yang sok akrab seperti Reyno.
"Lihat tangan aku, Bun." Menunjukkan kedua telapak tangannya yang kapalan dan ada beberapa bekas luka di sana-sini. Ceritanya sedang pamer kalau ia bekerja keras menghidupi anak bunda. "IniĀ karena sering dipakai bawa batu sama ngaduk semen, sekarang Bunda percaya kan, kalau Reyno bener kerja jadi kuli? Bahkan Reyno sering lembur loh."
"Ya ampun Sayang?" Ada miris bercampur haru mendengar cerita Reyno. "Kenapa ngga suruh Jennie cari kerjaan, biar bisa bantu keuangan kamu. Jennie kan tidak ada kerjaan pasti di rumah." melirik anak kandungnya sendiri.
"Apa sih Bunda, meliriknya gitu banget. Huuuh. Inikan bukan salah aku." Jennie protes.
"Reyno yang larang Jennie kerja kok, Bunda. Jennie kan belum genap delapan belas tahun. Ini sudah menjadi tanggung jawab Reyno sebagai seorang suami," ucap Reyno dengan senyum polos.
Cih! Pamer sekali anda Tuan Muda. Gumam farhan melirik sinis.
"Makasih ya Sayang. Reyno ternyata suami yang baik yah," puji bunda bangga.
Dibalik sifat Reyno yang manja, ternyata masih ada klebihan yang tidak terduga sama sekali. Reyno sangat bertanggung jawab, melihat keadaan Jennie yang bertambah gemuk, itu artinya dia bahagia selama ini. Bunda sudah tidak khawatir lagi.
"Iya Bunda. Lama tidak melihat bunda, sekarang jadi tambah cantik dah muda loh." Reyno balas memuji.
"Masa sih?" Bunda memegangi wajahnya sambil bersemu malu.
Cih! Pintar sekali dia mengambil hati bundaku. Farhan.
__ADS_1
"Iya, Reyn. Ini berkat skin care yang kamu rekomendasiin ke bunda waktu itu. Bagus banget loh, di wajah bunda. Dipakainya segar dan ringan.
Aaaa. Bahkan mereka sampai membicarakan skin care segala. Sejauh apa sih, hubungan meraka. Farhan bergumam iri dalam hatinya.
"Mulai deh, Bunda. Ngebahasin skin care, kita pergi saja yuk kak, Farhan."
****
Jennie mengajak Farhan ke taman di samping rumah untuk bicara berdua saja. Ada hal penting yang mengganjal di hati Jennie. Ia sudah tidak tahan dan ingin meminta Farhan segera membuka rahasianya.
"Kak Alan." Kalau hanya berdua, Jennie berani memanggil Farhan dengan nama aslinya. "Lebih baik kita jujur sama Bunda, aku ngga kuat lihat hal ini. Siapa tahu kita akan menemukan petunjuk lebih.
"Jangan dulu, biarkan tetap seperti ini."
"Tapi Kak, aku ngga bisa lihat kakak seperti ini. Apa lagi kalau sudah melihat keakraban Reyno dengan Bunda. Pasti kaka iri kan, ingin seperti itu." Nafas Jennie sudah naik turun, jujur saja ia merasa sakit hati sendiri melihat Farhan di bedakan sekali, secara bunda tidak tahu kalau Farhan itu anak kandungnya.
"Tolong jangan beritahu, kasih kakak waktu untuk mencari kebenaran."
"Hanya Bunda, Kak. Aku janji tidak akan memberi tahu yang ayah atau yang lainnya. Bunda pasti mau merahasiakan ini."
"Jennie." Farhan memeluk adiknya yang mulai hilang kesabaran. "Tolong jangan beri tahu bunda kalau kita adalah kakak beradik. Beri aku waktu untuk memikirkan semua ini. Jangan gegabah. Aku tidak mau membahayakan keselamatan adikku. Mengertilah, ayah angkatku akan murka jika tahu mereka yang telah membuangku sewaktu bayi." Jennie hanya mengangguk patuh dipelukan kakaknya.
Sementara di sisi lain. Ada sepasang mata cantik yang mendengarkan pembicaraan mereka sedari tadi, tubuhnya mulai limbung. Kaki tangannya bergetar hebat mendengar fakta yang sangat mengejutkan.
Tidak ... Tidak ... Aku pasti salah mendengar. Rahasia apa yang mereka sembunyikan selama ini.
Bunda berjalan dengan langkah yang susah ke kamarnya. Ia masih belum bisa menerima kenyataan ini, antara percaya dan tidak percaya sebenarnya. Tadi dia tidak salah dengar kan? Jennie memanggil Farhan dengan sebutan Alan.
__ADS_1
***
Like-nya ... dong... vote juga... hehhe