
Suara berisik dari tangisan Cilla dan Cello membangunkan Alex dari mimpi buruknya. Jam menunjukkan pukul lima pagi, di mana waktu tidur Alex masih kurang tiga jam lagi karena biasa bangun tepat jam delapan.
Cilla dan Cello kembali merengek saat mereka bangun tak menemukan sosok mama dan papanya. Padahal, dari semalam Alex sudah memberitahu kalau papanya sedang ada urusan. Tapi kenapa sekarang mereka mendadak lupa ingatan dan mencari keberadaan orang tuanya? Sungguh, Alex hampir gila memikirkan kemauan anak-anak Reyno.
Dengan gerakan malas, Alex meraih ponsel yang ada di sampingnya. Lalu melihat apakah wallpaper di kontak Reyno sudah ada. Lagi-lagi nihil, pria itu lenyap tanpa kabar sama sekali. Bapak sialan itu benar-benar tega. Bisanya Reyno menitipkan anak kecil pada bujang amatiran seperti Alex.
"Oppa, Al. Manya papa?" tanya Cilla merengek.
Gendang telinga Alex nyaris meledak mendengar tangisan mereka yang tanpa henti. "Nanti ke sini, kalian bobo lagi ya. Ini masih malam, nanti ada hantu.
Bukannya menurut, kedua anak kecil itu beranjak turun dan naik ke pangkuan Alex. Tangisnya sedikit berhenti karena Alex sudah bangun.
"Oppa Al, iyat jam itu, kayo yang pajang ada di anka jua beyas, teyus yang pendek di anka yima, itu altinya suda pagi. Mama biyang Cilla ama akak Ello halus bangun."
"Argghh!" Alex menggeram seperti macan. Matanya masih memerah bersamaan dengan lingkar mata yang menghitam.
"Om Al gak boleh galak, nanti kita aduin ke kakek. Katanya kalo olang jahatin Cilla dan Ello, kakek akan buat dia mati."
Seketika Alex merinding. Memang yang diucapkan anak kecil tidak selamanya benar namun jika mengingat dua moster kembar itu Alex percaya bahwa kakeknya sekejam itu. Secara cucu Reyno adalah cucu sultan.
"Om gak jahat kok, ya sudah ... kita bangun yuk! Biasanya kalian ngapain kalo pagi-pagi gini? Mau makan?"
"Mandi duyu, om!" teriak Cilla.
"Tapi harus di mandiin, kata mama ga boleh mandi sendiri." Cello berseru. "Nanti ada tetan kamal mandi," imbuh Cilla.
"Mandi, ya?" Alex manggut-manggut seraya berpikir. Selain tidak bisa memandikan anak kecil, Alex juga tidak mau melihat kue apem Cilla untuk kedua kalinya. Jujur ia geli, bentuknya terlalu aneh dan tidak semenggoda milik wanita dewasa yang dilihatnya lewat majalah uye.
"Tapi Cilla gak mau manji cama cowok. Kayo bica cama akak tantik aja yang lambutna pajang." Yang dimaksud Cilla, ia ingin dimandikan oleh perempuan.
"Akak cantik?"
Aha, Alex yang sedari tadi otaknya buntu merasa mendapat angin segar dadakan. Tiba-tiba ia kepikiran pacarnya Siksa. Mungkin wanita bisa membantu karena wanita pasti memiliki jiwa keibuan.
"Oke, aku panggilin kakak cantik untuk memandikan kalian, tunggu ya!"
Akhirnya, Alex menelepon Siska untuk segera datang ke apartemennya. Beruntung sang pacar mau langsung jalan, kebetulan juga Siska sangat menyukai anak kecil.
Ting .... Tong .... Ting .... Tong.
Suara bell berbunyi satu jam kemudian.
"Kalian tunggu di kamar ya, jangan keluar. Itu pasti tante yang akan membantu mengurus kalian."
Alex berbalik dan melangkah keluar. Meninggalkan Cilla dan Cello yang duduk terpaku di atas kasur. Mereka mulai bermain, gulang-guling dan saling melempar bantal.
__ADS_1
Pintu terbuka. Alex langsung memeluk Siska begitu wajah gadis itu muncul.
"Cha aku ngga kuat," keluhnya dengan suara mengenaskan. Alex menarik Siska masuk, lantas menaruh dagunya di pundak Siska. "Aku di siksa sama mereka, Cha. Monster kecil-kecil itu serem banget, Cha."
"Al, kamu gak papa? Harusnya kamu panggil aku dari semalam. Jadi bisa bantuin kamu. Lagian Reyno gak ada otak, titipin anak sama orang gak jelas kayak kamu," sindir Siska melepas pelukan Alex. Gadis bertubuh sintal dan bermata lentik itu mendongak khawatir.
"Ini kamu kasian apa mau ngatain, Cha?" protes Alex kesal.
Siska terkekeh geli. Alex sangat lucu jika sedang kesal. Rasanya Siska ingin menggoda anak itu lebih gila lagi.
"Hehehe. Maaf, ya. Kamu pasti kurang tidur, Al," tebak Siska saat melihat kantung mata Alex yang menghitam. Dia rangkum wajah lelah itu, lalu mendaratkan sebuah kecupan di bibir Alex, singkat.
"Lihat nih!" Alex membuka kaos putih polosnya. Menampakan bagian dada kiri yang diperban alakadarnya. "Aku habis nyusuin anak Reyno. Gila gak?" adunya emosi.
Puftt. Detik itu juga Siska tak bisa menahan laju tawanya. Antara kasian dan tergelak bercampur jadi satu.
"Cha, kamu jahat banget ketawain pacar kamu yang lagi menderita. Aku gak beliin seblak, nih." Alex merengut masam.
Setelah menyeka air matanya beberapa kali, Siska masih belum dapat menghentikan laju tawanya. "Maaf Al, habis kamu lucu banget sih! Sini aku peluk, kamu sih gak ngabarin aku. Siapa yang salah?"
"Lupa!"
Alex kembali merengkuh tubuh Siska. Mendorong badan kecil gadis itu hingga menempel di pojok pintu. "Aku kangen kamu, Cha."
Siska mencoba mengimbangi gerakan Alex. Sudah seminggu mereka tidak bertemu karena sibuk dengan urusan skripsinya masing-masih. "Al," desah Siska saat tangan Alex mulai bergerilya, nakal.
Siska melepaskan tautan bibirnya sebelum Alex bertindak lebih gila lagi. "Gak boleh, belum saatnya," ujar Siska, lalu mengakhiri semua itu dengan menjatuhkan kecupan lembut di pipi Alex.
"Aku mau liat anak-anak Reyno. Kamu beli makan ya, di bawah. Abis aku selesai mandiin mereka kita makan bareng. " Melepas sepatunya, Siska berjalan menuju kamar Alex untuk melihat dua bocah kembar itu.
"Makan apaan? Aku gak tau mereka sukanya apa." Siska berbalik, menatap Alex yang masih terpaku di depan pintu.
"Beli bubur ayam aja, nanti aku yang suapin mereka. Jangan dikasih sambel atau kacang-kacangan. Nanti keselek. Oh ya, kamu sudah bikin susu buat mereka?"
"Udah. Aku jalan dulu." Alex membuka pintu. "Kalau bisa mereka suruh makan sendiri, aku yang pacarnya aja nggak pernah di suapin." Alex menutup pintu dengan nada membanting. Membuat Siska menggeleng heran melihat kecemburuan bocah itu.
Setelah membeli empat porsi bubur ayam yang tak jauh dari gedung apartemennya. Alex kembali ke apartemen dan menyiapkan empat mangkok bubur di atas meja.
"Cha!" panggil Alex, tak ada suara dari dalam. Membuat otak penasaran Alex membawa langkah kaki untuk melongok ke dalam kamar.
"Astaga, Cha!" teriak Alex bersemu murka. Wajah pria itu merah padam. Melotot tajam ke arah Cello hingga anak itu mendongak ketakutan. Siska yang terkejut langsung merapikan bajunya kembali.
"Kamu gila ya, Cha! Ngapain kamu menyusui anak itu," bentak Alex tidak terima. Ia yang pacarnya saja belum pernah menyentuh benda istimewa milik Siska. Berani-berani Cello memegang dan merasakan gunung ranum Siska sebelum Alex dapat merasakannya.
__ADS_1
"Tadi aku mau pegang ngga boleh, tapi kamu kasih ke anak kecil." Alex dengan tidak tahu dirinya protes.
"Ya ampun, Al. Jaga ucapan kamu. Cello masih kecil, belum tahu apa-apa."
"Oppa Al, nyenye juga?" tanya Cilla sedikit paham.
"Tuh kan, kamu kalau ngomong yang benar sedikit dong, Al. Mereka itu masih kecil."
"Pokoknya aku gak terima ya, anak itu menang banyak, Cha!" Sudah dari semalam Alex menahan diri untuk tidak marah. Namun kali ini ia tidak terima dengan kelakuan bocah lancang itu.
"Aku yang ngasih, Al. Biar dia diem. Sekalian belajar juga kalau nanti punya enak."
"Belajar sama aku kan bisa."
Astaga! Siska menggelengkan kepalanya heran. "Kita belum menikah. Kalau Cello kan anak kecil."
"Bodo amat! Beraninya kamu selingkuh dengan cowok lain di kamarku!" Alex tak dapat menahan laju marahnya. Apapun kata yang ada di pikiran Alex keluar dengan sendirinya. Meskipun itu terdengar tidak logis.
"Om Al kenapa Ante?" tanya Cello ketakutan. "Ello takut sama om Al."
"Sttt ... Jangan nangis, ya. Gak tahu, biarkan saja om Al begitu. Lebih baik kita makan yuk!" Siska menuntun Cilla dan Cello ke ruang makan. Melewati Alex yang masih berdiri di sandaran pintu sambil cemberut.
"Jadi kamu lebih milih bocah itu, Cha?" teriak Alex kesal.
"Aku pacarmu, Cha. Wajar aku cemburu ketika melihat kamu memberikan itu untuk orang lain selain aku."
"Cha!" Alex berteriak murka. Di mana Siska masih pura-pura tuli tak mendengar.
"Cha, aku gak suka di diemin!" teriaknya lagi.
Siska masih duduk anteng sambil menyuapi Cello dan Cilla.
"Anak kecil itu monster, Cha. Dia memang licik, penggoda. Kamu jangan mau percaya sama matanya yang polos dan mengelurakan air. Itu triknya dia, Cha."
Alex semakin jadi. Membuat Siska menggeram kesal sekaligus geregetan. Apa Alex tidak tahu, bahwa ada dua otak polos yang mendengarkan semua yang ia ucapkan. Mungkin mencerna itu dalam diam.
"Aku cemburu karena aku cinta kamu, Cha!"
Pada akhirnya Siska ngambek. Sekeras apapun Alex meminta maaf, Siska tetap marah karena menganggap kecemburuan Alex tak mendasar.
Inilah yang di namakan, sudah jatuh tertimpa semen dan batu bata sekaligus.
Nyesss. Cello berhasil merebut hati Siska di pertemuan pertama mereka. Juga berhasil mengalahkan Alex dalam hal apapun. Termasuk merebut perhatian pacar Alex.
***
__ADS_1