
Jika kalian tahu seperti apa bahagianya mendapatkan gaji pertama, itulah yang sedang Reyno rasakan saat ini. Senangnya melebihi mendapatkan hadiah mobil pemberian dari orangtua. Meskipun nominalnya hanya seratuh dua puluh lima ribu. Jauh dari kata cukup untuk hidup berdua. Bicara tentang kata cukup, itu tergantung dari porsi gaya hidup masing-masing pribadi orang, ya.
Pukul lima sore semua pekerja di kontruksi bangunan mulai meninggalkan tempat kerjanya masing-masing. Waktunya istirahat setelah menjalani aktivitas berat selama seharian penuh. Begitu juga dengan Reyno, waktunya pulang dan bermanja-manja di pelukan istri tercinta. Sekalian minta dipijitin. Oh betapa enaknya menikah. Kalian yang masih jomblo diam saja ya, cukup nyimak.
“Yuhuu ... Jennie! Reyno in your area, nih.” Reyno berseru sesaat baru masuk membuka pintu kontrakannya. Hening seperti tidak ada orang, Jennie tidak ada di kamar ataupun di kamar mandi. Wajah bahagia Reyno luntur seketika. Cowok itu menaruh dua bungkusan nasi yang ia beli di warteg tadi ke atas meja. Ia merogoh ponselnya untuk menghubungi Jennie, pikiranya mulai kacau kemana- mana.
Apa jangan-jangan Jennie balap liar lagi , yah?
“Dooooor!" Jennie mengagetkan Reyno dari belakang. Ternyata gadis itu sudah melihat kepulangan Reyno, Jennie sengaja bersembunyi di balik pintu. Nakal. “Masa kamu gak sadar, aku berdiri di belakang kamu.” Jennie tergelak. Reyno langsung
berbalik badan dengan bibir yang manyun-manyun tidak jelas.
“Aku kangen kamu, Reyn.” Jennnie hendak menghamburkan tubuhnya, namun Reyno segera mundur untuk menjauh. “Jangan peluk aku ... badan aku kotor dan bau, aku mau mandi dulu,” tolak Reyno secepat kilat. Jennie mengernyit tidak senang, kedua alisnya sudah hampir menyambung jadi satu.
“Intinya aku kangen kamu ... aku gak peduli mau bau ataupun kotor,” Jennie langsung berlari kepelukan Reyno, cowok itu terpaksa membalas pelukan dari sang Istri. “Jangan pernah bicara seperti itu. Aku bete banget seharian ini, biasanya selalu ada kamu yang nemenin aku ... aku kesepian Reyn," rengek Jennie mengadu seperti anak kecil.
"Aku juga kangen kamu," balas Reyno.
Jennie mendongakkan kepalanya, merangkum wajah suaminya dengan kedua tangan. Benarkah ini Reyno? Si Anak Manja yang menyebalkan itu. Jennie menatap Reyno penuh binar, memperhatikan wajah lelahnya dengan penuh cinta. Tidak peduli dengan badannya yang kotor dan bau, yang Jennie ingin hanya memeluk tubuh lelah itu. Mengobati sedikit rasa lelahnya dengan sambutan sederhana dari dirinya. Jennie tahu kalau Reyno suka itu, makannya ia melakukan hal itu. Walaupun bermanja-manja bukan kebiasaan Jennie selama ini. Demi Reyno ia rela melakukan apapun. Bahagia Reyno adalah hal yang harus diutamakan, karena Reyno juga sudah susah payah berubah demi dirinya.
“Terima kasih ya, Reyn.” Satu kecupan lembut mendarat di pipi suaminya. Wajah lelahnya berubah menjadi sedikit lebih sumringah. Seperti tanaman layu yang baru menemukan air sejuk. "Iya, Jennie."
“Gimana hari pertama kerja?” Ini hanyalah pertanyaan sederhana dari seorang istri. Namun siapa sangka bahwa pertanyaan itu mengandung makna yang sangatlah besar. Menunjukan bahwa kita peduli, ingin tahu bagiamana susahnya seorang suami melewati hari-hari beratnya dalam mencari nafkah.
“Aku suka tempatnya, orangnya juga baik-baik.” Reyno berbohong.
Ia mengingat kembali saat dilokasi tempat kerjanya tadi, seharian ini Reyno terus
disuruh-suruh. Melakukan banyak pekerjaan di luar tanggung jawabnya, beli roko, beli kopi, dan juga beli makan siang. Waktu istirahat Reyno berkurang karena
kejailan para seniornya. Saat bekerja Reyno juga sering disalah-salahkan. Untungnya mereka menggunakan bahasa Sunda, jadi Reyno tidak mengerti dengan bahasa makian yang mereka gunakan. Setidaknya hati pria itu tidak perlu sakit mendengar
__ADS_1
umpatan mereka.
Ya ... namanya juga baru pertama kalinya kerja. Tidak ada yang langsung mahir. Semuanya butuh proses untuk berkembang. Tapi mereka seolah tidak menerima semua itu, Reyno dituntut harus sempurna dan langsung bisa.
"Ya sudah, kamu mandi dulu sana!"
Reyno mengernyitkan dahinya bingung. "Gimana caranya aku mandi? Kamu masih nempel begini." Bukannya melepas Jennie malah semakin mengeratkan pelukannya. Membenamkan kepalanya di dada suaminya.
"Ya udah sana mandi!" suruhnya, tapi tidak mau melepas.
"Lepas dulu!"
"Masih kangen ...."
"Mau mandi bareng?"
"Gak!" Langsung di tolak. Untuk pertama kalinya Reyno merasa tingkah Jennie sangat menggemaskan. Dia dapat menjalani perannya dengan baik sebagai cewek manja. Sekilas Reyno melihat dirinya sendiri ada di dalam jiwa si tomboy itu.
"Cewek tomboy kalau lagi manja lucu juga ya ..." Reyno tergelak.
"Emangnya cewek tomboy gak boleh manja?" Jennie merengut, pelukannya di lepas begitu saja.
"Boleh kok, tapi sekarang aku mau mandi dulu, aku keringetan, nih. Nanti lagi ya pelukakkanya, kalau akunya udah wangi." Reyno mengecup pucuk kepala Jennie. Lalu berjalan sambil senyum-senyum sendiri.
Sepanjang berjalan dari tempat kerja ke kontrakan Reyno sampai menutup hidungnya, karena ia sendiri saja tidak kuat menahan bau badannya. Namun Jennie malah lengket dan menghambur ke pelukan Reyno. Bikin gemas saja.
Gak sia-sia aku kerja banting tulang, yang penting di sayang Jennie seperti ini. yihaaa...
***
“Benarkah ini anakku, Reyno?” Senyum Tuan Haris mengembang dadakan ketika melihat kegiatan Reyno di tempat kerjanya, membawa adukan semen? Sungguh pemandangan yang menakjubkan sepanjang sejarah hidup Reyno. Anak yang tahunya merengek dan selalu menuntut keinginannya harus selalu terpenuhi, sekarang telah berubah lebih dewasa.
__ADS_1
“Benar, Tuan. Anda tidak salah melihat, itu Tuan Muda Reyno.”
Tuan Haris menggelengkan kepalanya masih tidak percaya. Lebih tepatnya ia masih terkesima dengan pemandangan yang ia lihat. “Lihatlah Farhan... Anakku berubah ... dia sudah berubah. ” Haris menepuk bahu Farhan saking
senangnya.
"Tuan muda dan istrinya banyak sekali mendapat kesulitan selama ini, mungkin itu yang menjadi faktor pendorong kedewasaanya." Farhan berkata lagi, "mata-mata yang mengawasi mereka hanya memastikan keduanya baik-baik saja. Tidak ada bantuan apapun dari pihak kita." Sesuai keinginan yang Tuan Haris mau.
Sebaiknya aku tidak usah cerita tentang mantunya yang balap liar dijalanan. Toh kegiatan itu sudah dihentikan sebelum aku bertindak.
“Akuisi perusahaan itu Farhan!” perintah Tuan Haris.
“Sudah saya lakukan, Tuan, sedang dalam proses.”
“Bagus ... Kamu memang selalu tahu apa mauku.” Tuan Haris manggut-manggut senang.
"Bagaiamana kalau kita sudahi saja hukuman untuk mereka, sepertinya perubahan tuan muda sudah lebih dari cukup."
"Jangan! Aku ingin melihat Reynoku lebih dewasa lagi."
"Tapi, Tuan." Haris memotong ucapan Farhan, "ikuti saja perintahku, Farhan."
Farhan mengernyitkan dahinya. Tuan haris terlalu serakah untuk hal ini. Bagi Farhan pelajaran untuk mereka sudah lebih dari cukup.
Sebagai orang yang pernah di buang, Farhan merasa takut kalau Reyno marah dan malah tidak mau kembali. Bagaimanapun juga Farhan tahu betul yang sedang Reyno rasakan saat ini.
Di buang.
***
__ADS_1
Kira-kira begini wajah kucel bau Reyno habis nguli. Ada yang mau peluk?