
Menghela napas berat, pada akhirnya Jennie mengangguk tanda setuju. Membiarkan sang suami berbuat semaunya. Lalu tangan itu mulai bergerilya dengan genitnya, menyusup pada bagian-bagian favorit kesukaan Reyno.
Bagaimana dengan ikan? Mungkin sebentar lagi telinganya akan segera ternodai karena suara berisik mereka dalam mengeksekusi permainan.
Namun, ponsel Jennie yang berdering tiba-tiba membuat Reyno terperanjat. Di mana ponsel itu Jennie letakan di samping bantal yang dekat dengan telinga Reyno.
Ai yai yai I'm your little butterfly
Green black and blue make the colours in the sky
Ai yai yai I'm your little butterfly
Green black and blue make the colours in the sky.
"Siapa?" Wajah Reyno berubah kesal. Pria itu mendongak dengan bibir yang mengerucut sebal. "Kamu belum blokir nomor Dafa?" Otaknya langsung tertuju pada Dafa.
"Bukan Dafa, gak ada nomornya," ucap Jennie sambil memutar layar ponselnya menghadap Reyno.
"Terus siapa?"
Pasalnya Reyno tahu betul tentang ponsel Jennie yang sepi seperti kuburan. Hanya Reyno satu-satunya pria yang selalu menelepon dan mengirim pesan padanya. Jadi, wajar jika Reyno heran karena ponsel Jennie mendadak berdering di malam hari.
"Gak tau, aku coba angkat dulu, takutnya penting." Menekan tombol untuk menjawab lantas berkata, "Hallo!"
Reyno terdiam dengan dagu yang ditumpangkan di pundak Jennie. Dasar menyebalkan, kau lebih memilih panggilan tidak jelas itu daripada suamimu yang sudah jelas menahan gejolak sedari tadi. Bicara dalam hati diikuti dengan bibir yang menyerucut sebal.
"Ah, benarkah? Ya Tuhan, rasanya masih seperti mimpi. Aku pasti akan menunggumu." Jennie terlihat amat senang hingga tubuhnya bergetar heboh. Efek bahagia.
Seseorang di balik layar ponsel masih terus bicara, namun tidak sampai terdengar ke telinga Reyno
Siapa di sana? Kenapa kalian akrab sekali? Bola mata Reyno menyalang sempurna ke arah Jennie. Di mana Jennie bisa mengartikan arti dari tatapan seorang Reyno.
Tak mau berlama-lama membuat suaminya kesal, Jennie segera mengakhiri panggilannya. "Hehehe, kalau begitu sampai jumpa. Aku menunggumu, Kak. I love you!"
"I love you?" teriak Reyno bersamaan dengan panggilan yang baru saja Jennie tutup. "Apa kamu tahu apa yang kamu ucapkan tadi?" Kesal sekaligus hilang semua gejolak yang ada di dalam diri Reyno.
"Aku seneng banget, Reyn. Kakak besok akan pulang."
__ADS_1
Jennie memeluk Reyno, tanpa peduli bahwa pria yang ada di depannya sedang marah besar.
"Ya, aku tahu kamu senang. Tapi apakah harus mengatakan kalimat semanis itu pada orang lain?" Seperti biasa, bola mata Reyno berputar malas—lengkap dengan kedua tangan yang dilipiat di depan dada.
"Bukan begitu, Sayang. Aku terlalu senang jadinya keceplosan. Lagian dia bukan orang lain, tapa kakak kita—Farhan." Jennie berbicara dengan dahi yang terlipat ke dalam. Agak sedikit kesal menanggapi kecemburuan suaminya yang tidak mendasar.
"Bukan masalah siapa dia, tapi aku yang suamimu saja tidak pernah mendapatkan ucapan semanis itu. Jika dihitung, tidak sampai memenuhi sepuluh jari dalam sebulannya," protes Reyno seraya menaruh sepulu jarinya di depan muka.
"Ya, maaf. Aku lupa."
"Lupa? Bahkan saat aku memancingmu dengan kata manis, kamu hanya menjawab dengan ekspresi datar dan sedikit kecupan malas di pipi."
"I love you, i love you, i love you, i love you, i love you, i love you, i love you, i love you. Apa itu sudah cukup?" Tidak lupa Jennie mengucapkan dengan senyum manis yang membuat pipi gembilnya mengembang sempurna.
"Tidak butuh!" ketus Reyno karana ucapan itu hadir ketika diminta.
"Ya ampun, Reyn! Aku harus bagaimana loh?" Jennie menjatuhkan kepala di pangkuan Reyno. Lalu mengelus benda berharga milik sang suami yang sudah tidur kembali. Menandakan bahwa mood Reyno rusak gara-gara ucapannya pada Farhan tadi.
"Aku tidak cemburu karena kau mengataka itu pada kakakmu sendiri, tapi kalimat itu membuatku teringat, bahwa kemanisan rumah tangga kita sudah berkurang banyak. Bukankah dulu kita sudah pernah berjanji bahwa kita akan terus bersikap manis sampai akhir hayat?"
Reyno menghela napas lemah, lantas menyibakkan anak rambut Jennie pada balik telinga. Menatap wajah lelahnya yang kemudian ia tarik ke dalam pelukkan.
Reyno meraih remot di atas nakas, lantas mematikan lampu kamar. Ditariknya tubuh sang istri semakin merendah hingga posisi mereka berbaring sambil pelukan.
"Mungkin banyak orang yang menganggap lebay. Dan tidak perlu menyatakan cinta ketika sudah menikah. Tapi bagiku itu adalah hal yang sangat penting." Lembut Reyno mengatakannya, sambil mengelus-elus rambut panjang sang istri.
"Bagaimana jika besok pagi aku mati kecelakaan. Di mana malam ini kamu belum mengucapkan sesuatu yang manis-manis. Aku yakin kamu pasti akan menyesal seumur hidup, Jennie."
"Reyn," lirih Jennie dengan nada protes tidak suka. Tangannya membungkam mulut sang suami sambil menggelengkan kepala. "Kenapa bicara begitu? Aku gak suka kamu bahas mati."
"Kenapa tidak suka? Dia akan segera datang tanpa aba-aba. Menimpa siapa saja meski si target belum memiliki persiapan. Aku hanya ingin kamu menghargai setiap detik moment kebersamaan kita. Karena kita tidak tahu kapan ajal akan menjemput."
Jennie mendongak dengan linangan air mata yang sudah tidak dapat dibendung lagi. Hatinya bergetar ketika mendengar ucapan suaminya. Benar yang dikatakan Reyno, kita tidak akan pernah tahu kapan kematian itu datang. Maka dari itu, menghargai setiap detik kebersamaan kita dengan keluarga adalah hal yang sangat penting. Sebelum Tuhan mengambil orang-orang yang kita sayang, atau sebaliknya Tuhan yang menjauhkan kita dengan cara mengambilnya dari orang tercinta.
"Maafkan aku, Reyn. Aku janji akan lebih menghargai lagi hubungan kita."
"Stttt ... sudah jangan menangis, kamu tidak salah. Aku sebagai suami wajib mengingatkan apapun yang penting untuk kebaikan kita. Agar kita selalu berada di jalan yang sudah ditentukan Tuhan." Diusapnya lelehan bening itu dengan ibu jari. Lalu sebuah kecupan sayang mendarat sempurna di bibir manis Jennie. "Semoga saja apa yang aku panjatkan setiap hari didengar oleh Tuhan. Syukur-syukur di kabulkan," ucap Reyno dengan suara berat yang terdengar parau.
__ADS_1
"Memangnya kamu berdoa apa?" tanya Jennie yang masih menahan isak tangis.
"Hanya doa sederhana sih, di mana aku berharap dapat menjemput maut bersamamu. Entah itu di usia muda, atau sampai kita tua nanti. Karena kebanyakan dari manusia selalu berdoa agar rumah tangganya awet hingga rambut memutih dan maut memisahkan. Tapi aku tidak ingin seperti itu, aku tidak ingin dipisahkan oleh maut. Katakan aku egois, tapi memang itu yang aku inginkan."
Huah. Jantung hati Jennie nyaris lepas dari sarangnya ketika mendengar penuturan sang suami. Haru bercampur sesak menjadi satu. Karena hampir tidak pernah mereka membicarakan kematian seperti ini.
"Bagaimana jika aku mati terlebih dahulu?" tanya Jennie dengan perasaan berkecamuk. Cemas sekaligus tidak rela.
"Tidak masalah. Itu artinya doaku tidak dikabulkan, karena manusia hanya bisa berusaha dan berdoa. Terkabul dan tidaknya adalah urusan Yang Maha Kuasa. Aku akan terus meneruskan hidupku sambil menunggu kematian itu datang, lalu kita bisa berkumpul bersama. Entah itu di surga atau neraka."
"Apa kamu tidak ingin menikah lagi?" Pertanyaan itu lolos dari bibir Jennie. Walau hatinya seperti tertikam sembilu jika Reyno sampai menikah lagi saat ia mati.
"Tidak akan! Aku memang hanya bisa merencanakan, tapi aku akan berusaha meneruskan hidup sebaik mungkin sampai kita dipertemukan lagi. Dan aku harap kamu pun begitu, tidak menikah lagi saat aku yang mati terlebih dahulu."
"Jika tidak menikah, siapa yang akan menghidupi seorang janda sepertiku?" Jennie bertanya dengan goda jenaka, karena ia ingin tahu jawaban yang keluar dari bibir Reyno.
"Kita memiliki kedua anak, investasi jangka panjang dan beberapa bisnis kecil-kecilan di luar perusahan papiku. Sepertinya itu cukup untuk menghidupi istri yang hobi makan," goda Reyno sedikit terkekeh.
"Dan jika aku tidak punya apa-apa ketika meninggalkanmu, aku yakin Tuhan tidak akan tinggal diam. Semua risky sudah di atur. Jangan takut kelaparan."
Ingatan Jennie kembali pada waktu mereka baru menikah. "Iya juga sih. Saat dulu kita kelaparan juga ada orang baik yang membantu memberi makanan 'kan?"
Dan sekarang teteh pemilik warung itu sudah memiliki kios berkat bantuan Reyno. Pria itu tidak pernah lupa dalam membalas semua orang yang dulunya pernah baik kepadanya.
"Betul. Jadi jangan takut kamu akan kelaparan jika aku sudah tidak ada. Tapi jika kamu merasa kesepian dan ingin menikah lagi, ya sudah. Aku hanya bisa mendoakan kebaikan untuk hidupmu."
Jennie tersenyum siput dengan pelukan yang semakin dipererat.
"Sama sepertimu, aku juga akan menjalani hidup dan meneruskan cinta kita yang terjeda. Aku tidak ingin menikah lagi, agar aku bisa menjadi bidadarimu selamanya."
Sudut bibir Reyno tertarik sempurna. "Terima kasih, Sayangku. Kamu sudah lelah kan? Ayo kita tidur saja."
"Eh." Jennie sedikit terkejut. "Kamu ngga jadi minta jatah?"
"Besok pagi saja, sekarang mau mimpi indah bersamamu."
Lalu doa yang mereka panjatkan menjadi pengantar tidur yang manis. Mengiri mimpi indah yang terjadi pada malam itu.
__ADS_1
***