Suamiku Anak Mami

Suamiku Anak Mami
Pernikahan William


__ADS_3

Pernikahan William dan Tere diadakan secara sederhana. Namun sesederhana apapun pernikahan orang kaya, tetap saja terlihat mewah. Hanya saja acara sedikit tertutup dan hanya dihadiri orang-orang terpilih. Semua itu adalah keinginan Tere, mengingat kondisinya yang hamil muda juga. Bahkan saat Jennie dan Reyno datang kursi pelaminan sudah kosong. Tere sudah kelelahan dan minta dibawa ke ruang privat untuk istirahat.


Karena harus ujian terlebih dahulu, mereka berdua jadi datang paling terlambat. Keduanya pun langsung di bawa petugas WO ke ruang privasi. Reyno menuntun Jennie yang sedikit susah jalan menggunakan heels dengan hati-hati. Beberapa pasang mata sampai iri melihat dua pasangan muda ini. Manis sekali.


"Cie kondangan ke tempat mantan," goda Reyno sambil menarik pinggang istrinya.


"Jangan mancing diri sendiri. Kamu yang ngomong, nanti ujung-ujungnya kamu sendiri yang cemburu loh." Jennie mengingatkan jika Reyno lupa siapa dirinya. Mahluk sensitid yang mudah baper hatinya.


"Hehehe. Iya ngga mancing deh," ucap Reyno mengakhiri candaannya.


"Kamu bawa kado untuk pernikahan tidak?"


Reyno hanya menggeleng. Pikirnya untuk apa memberi kado pada William. Dia saja tidak memberi kado saat Jennie dan Reyno menikah, datang saja tidak.


"Tuh kan, untung aku ingat dan bawa kado. Malu kan, kalau datang dengan tangan kosong?"


"Jadi kamu sempat beli kado buat kakak?" Wajah Reyno berubah kesal. Langkah kakinya semakin berat saja menuju ruang privasi. Jelas ada cemburu melihat istrinya begitu perhatian pada sang Mantan.


"Tidak. Ini kado yang dulu mau aku kasih ke dia, tapi kita sudah terlanjur putus. Jadi aku bawa." Mereka sudah hampir sampai ke ruang di mana William dan Tere berada.


"Huhh. Reyno mendesah lemah. "Jangan cemburu dong, Sayang. Mereka sudah menikah loh, masa kamu masih kesal," rayu Jennie saat melihat suaminya mengerucutkan bibir dengan alis yang menukik. Diciumnya pipi Reyno agar dia sedikit tenang. Cup. Mendarat dengan singkat dan cepat. Abaikan WO yang berjalan mengikutinya di belakang. Anggap saja mahluk tak kasat mata.


"Nah, begitu dong." Senyum mengembang di pipi Reyno.


Mereka berdua sudah sampai. Penjaga langsung membukakan pintu untuk Reyno dan Jennie. Reyno melirik istrinya sebentar, dia terlihat gugup dan gusar. Mungkin karena hendak bertemu dengan mantan saingannya dulu. Tere.


"Selamat ya, Kak." Reyno langsung berlari menghampiri kakaknya yang sedang duduk. Membelah dan duduk ditengah dua insan yang baru saja menikah. "Selamat juga buat Kakak Ipar."


Jennie masih berdiri mematung. Menatap canggung dua tiga manusia yang terlihat akrab sekali. Tiba-tiba Farhan datang dari belakang.


"Kenapa bengong? Ayo ucapkan selamat untuk mereka." Ditariknya tangan sang Adik agar ikut bergabung. Dasar Reyno tidak tahu diri, lupa kalau punya istri.

__ADS_1


"Selamat ya...," Jennie mengulurkan tangannya Sebagai tanda selamat sambil senyum. Tere juga menyambutnya cukup dengan senyum hangat.


Oh jadi ini, gadis yang membuat William sampai gila begitu. Ternyata biasa saja, baju pestanya juga sederhana. Tere menyipitkan matanya seperti sedang merendahkan.


Huh. Aku harus segera cuci tangan setelah menyentuh istri mantanku. Dia kan pelakor. Jennie.


Sepertinya kedua wanita itu saling menyembunyikan rasa bencinya dalam senyum. Dasar wanita.


Jennie bergeser dan menyalami William. Belum sempat mereka berjabat tangan, Reyno langsung bangun dan menyembunyikan sang Istri di belakang punggungnya.


"Mana kadonya, langsung kasih saja, tidak perlu salaman."


Apaan sih, padahal kamu sendiri cipika-cipiki sama wanita ular itu. Jennie menatap Reyno kesal. Gadis itu mengambil kado dari dalam tasnya. Lalu memberikannya pada Reyno.


"Buat Kakak," ucap Reyno jutek. Dia langsung menarik tangan Jennie dan duduk agak jauh dari kakaknya. Farhan yang melihat hanya geleng-geleng kepala saja.


"Terima kasih, Sweetheart." William malah memancing. Sepertinya ada dua mahluk yang tidak terima mendengar nama Sweetheart disebut. Reyno dan Tere.


"Ehmmm." Reyno buka suara duluan. "Kami semua sudah menikah, kapan kau akan segera menyusul, Farhan? Kami juga ingin melihatmu bahagia dengan wanitamu, Farhan.


"Hahaha. Hiduplah dengan bahagia, Tuan Muda. Kebahagiaan kalian berdua adalah bahagiaku juga. Tidak perlu memikirkan hidupku, cukup tidak merepotkanku saja aku sudah senang."


"Kau belum tahu ya, sebentar lagi Farhan akan segera membuat skandal percintaan dengan pembantunya sendiri." William menimpali.


"Jaga mulut Anda, Tuan!" Farhan kesal.


"Ah, benarkah?" Reyno yang penasaran langsung antusias mendengarnya. "Apa kau suka menonton drama juga, Farhan. Bos yang menikahi pembantunya sendiri. Itu sering terjadi dalam drama-drama."


"Jangan mimpi!" Farhan bahkan belum pernah melihat drama satu episod pun.


Reyno tergelak kencang bersamaan dengan kakaknya. Kedua bocah itu paling merasa hidup kalau sudah membully kakak pertamanya. Seperti mendapatkan energi tambahan. Sementara yang perempuan memilih diam mendengarkan, mencari aman dengan tidak ikut menimbrung obrolan laki-laki.

__ADS_1


"Cepat ceritakan padaku, bagaiamana ceritanya Farhan bisa jatuh cinta pada pembantunya sendiri." Reyno sudah menyimpulkan asumsinya sendiri. Padahal Farhan belum melangkah sampai sejauh itu.


"Singkat cerita, saat Farhan keracunan kemarin. Dia diracuni oleh gadis penyusup yang bekerja di hotel. Kemudian Farhan menghukumnya dengan cara menjadikannya pembantu."


"Apa?" Reyno menggelengkan kepala. "Sepertinya gadis itu punya nyali yang cukup besar, sampai berani meracuni monster agung seperti Farhan."


"Diam kau!" bentak Farhan emosi. Ada bantal sofa yang melayang setelah Reyno mengatakan hal itu. "Berhentilah membual hal yang tidak masuk akal seperti itu. Belajarlah menjadi ayah yang baik, untuk anakmu saja, William.


"Di mana gadis itu? Aku ingin melihat manusia bernyawa sembilan yang berani menantang Sang Pencabut Nyawa seperti Farhan. Hahaha," tanya Reyno yang merasa belum puas membully Farhan.


"Berhentilah mengurusi urusanku, Reyno. Atau aku akan mengambil adikku dari tanganmu."


A ... aa ...adik? Apa maksudnya ini?" William yang merasa belum tahu apa-apa langsung terperanjat mendengar Farhan menyebut kata adik. Bahkan ia sampai melirik Jennie dan Farhan secara bergantian.


"Kau keceplosan, Farhan. Sebaiknya jelaskan saja kalau Jennie adalah adik kandungmu."


"Adik kandung?" Wah William semakin heran, di mana ada kebetulan yang seperti ini. Itu artinya, orang tua Jennie yang membuang Farhan saat masih bayi. Begitu artinya kan.


"Jelaskan padaku cepat. Bisa-bisanya kalian main rahasia-rahasian denganku begini." William kesal.


Tiba-tiba seorang pelayan datang membuka pintu. Menghampiri mereka dengan kepala yang menunduk takut.


"Tuan Muda Reyno, Nona Jennie, Tuan Haris dan Nyonya Dina ingin bicara. Mari ikut saya, mereka sedang menunggu di ruang sebelah.


Ada apa ini? Firasatku jadi tidak enak begini. Jennie.


Akhirnya pertemuanku dan Papi tiba juga. Reyno.


Reyno dan Jennie pun pergi meninggalkan Farhan dan William. Biarkan mereka mendengar kabar basi yang Reyno sudah tahu sejak lama.


***

__ADS_1


Jangan Lupa Like ya...hehehe.


__ADS_2