
"Kamu ada masalah hidup apa sih, Reyn? Sini cerita sama aku Sayang. Untuk apa memakaikan jaketmu di tubuhku? Dasar pria korban drama," gerutu Sasha kesal. Ia hendak melepas jaket itu, namun Reyno buru-buru menutup risleting jaketnya sampai ke leher Sasha.
"Pake saja bawel!" Reyno mencubit hidung Sasha kuat-kuat. "Dari mana kamu tahu kampusku?"
Nada suara Reyno terdengar tegas, namun Sasha tidak takut sama sekali dengan pria itu. "Ya ampun anak Mami! Jangan galak-galak, Beb. Mana Reyno yang dulu suka nangis setiap kali bertengkar denganku? Kok hilang."
"Aku sudah menikah. Sudah punya dua anak. Gila ya, suruh nangis mulu," ambek Reyno seraya menarik tangan Sasha. Berjalan agak cepat menjauhi gedung kampusnya.
"Gadis bodoh! Apa kamu tahu yang tadi itu berbahaya. Bagaimana jika ada orang yang melihat kita di dalam toilet.?
Sasha tergelak seraya memegangi perutnya geli. "Bagus. Itu artinya kamu akan dinikahkan untuk kedua kalinya," ucap Sasha tidak tahu diri.
"Dasa gadis gila!" Reyno melangkah semakin cepat menuju parkiran. Sasha yang merasa tidak suka langsung memberontak. Mencoba mengalahkan kekuatan Reyno walaupun hasilnya nihil.
"Mau kemana? Lepas atau kubuat kau menangis di kampus!" Reyno tak menghiraukan omongan Sasha. Pria itu menyeret Sasha dengan kasar. "Don't touch me stupid! I wanna flirting around your campus."
(Lepaskan aku bodoh, aku ingin tebar pesona di kampusmu)
Brug! Reyno menghempaskan tubuh Sasha ke dalam mobilnya. Lalu ikut duduk dan mengunci pintu mobilnya.
"Are you crazy?" Teriakan Sasha menggema nyaring di mobil Reyno.
(Apakah kamu gila?)
Reyno memutar posis tubuhnya hingga menghadap Sasha. "Could you speak in bahasa?"
"What the hell, are you saying?" ulang Sasha.
"Berbicaralah menggunakan bahasa indonesia yang baik dan benar. Apa Amerika membuatmu lupa di mana kamu dilahirkan?" Reyno menarik rok Sasha sedikit kasar.
"Dan juga ini, apa kamu tidak ada baju layak lagi? Mengapa menggunakan kain yang kurang bahan seperti itu. Mending sekalian saja telanjang." Kesal sendiri.
"Jangan galak-galak, Beb. Di amerika yang seperti ini sudah biasa," ujar Sasha. Reyno hanya berdecih jijik tanpa berkomentar.
'Aku merindukanmu." Sasha memeluk paksa tubuh Reyno. Melewati pembatas duduk di antara mereka.
__ADS_1
"Lepas Sha," gertak Reyno seraya memutar bola matanya malas.
"Kangen!"
"Butuh bantuan apa?" balas Reyno yang langsung dapat menebak isi kepala sepupunya itu.
"Reyno!" Sasha semakin mengeraktan pelukkanya. "Bisakah kamu memberikan aku tempat tinggal?" tanya Sasha penuh harap.
"Big no!" jawab Reyno tanpa berpikir dua kali. "Aku akan mengantarmu ke rumah orang tuamu. Sekarang!"
"Huahh!" Sasha menjerit tanpa sebab. Pelukkanya semakin erat sampai tidak bisa dilepas.
"Aku kabur ke Indonesia itu ingin bersenang-senang. Sengaja melarikan diri dari jerat pendidikkan yang memusingkan. Ayolah Reyno ... tolong aku kali ini saja. Aku bisa digantung ayah ibu kalau ketahuan pulang. Beri aku tumpangan, satu minggu only, okey?"
"Satu haripun aku tidak akan sudi memberikan tumpangan untukmu," kekeh Reyno dengan nada ketus.
Sasha menggemerutukan giginya, kesal. Lantas melepas drama pelukkan yang ia lakukan. "Tega kau, Reyn! Kita kan sepupu sekaligus teman dekat."
"Teman?" Reyno memicingkan matanya sinis.
"Jangan kebanyakan drama, kalau hanya tumpangan kamu bisa menginap di hotel. Katakan padaku, ada misi tersembunyi apa di balik semua ini?"
Tergelak seraya memukul bahu Reyno kencang, Sasha menyimpan bongkahan amarah besar di dalam hati. Sialan, pikirnya. Ketahuan juga rencana liciknya.
"Hahaha, IQ mu ternyata lima ratus beneran ya, Reyn. Aku memang ingin menyelam sembari minum air. Mendekati istrimu adalah tujuan utamaku," ucapnya tidak tahu diri.
"Jennie?" Reyno menyerngit tidak suka.
Anggukkan sok manis mengiringi wajah Sasha yang terlihat menjinjikkan di mata Reyno. "Betul, dari Jennie aku bisa mengenal ibunya. Jika sudah mengenal ibunya, aku akan mempropokasi ibu kandung Farhan agar menjodohkannya denganku. Bukankah sepupumu pintar, Reyn?"
"Heuh." Reyno menghela napas kasar. Sudah ia tebak, Sasha tidak mungkin datang kepadanya tanpa tujuan. Selalu ada hal busuk yang mengiringi kedatangan gadis itu.
"Sejak SMP kau menyukai patung di kasih batrai itu. Apa negara Amerika sudah kehabisan stok laki-laki? Jika tujan hidupmu masih seputar mengejar lelaki seperti Farhan—lebih kamu cari gedung yang tinggi, lalu lompat dan bunuh diri. Itu jauh lebih mudah.
"Gila! Dasar sepupu sialan," umpat Sasha kesal.
__ADS_1
Reyno tergelak dan menarik kemudi. Mulai menjalankan mobilnya. "Sensasinya sama saja, Sha." Reyno menjeda ucapannya sebentar.
"Mengejar cinta Farhan bagaikan mengejar kematian."
Menyilangkan kedua tangannya di depan dada, Sasha mencebik putus asa. "Selama dia belum menikah, aku akan terus mengejarnya."
" Bukankah kalian satu negara? Apa Farhan tidak memberitahumu. Sebentar lagi Farhan akan menikah, Sha."
Sontak Sasha memalingkan wajahnya ke arah Reyno.
"Menikah?" Melotot tidak percaya, Sasha berkata, "Walaupun tinggal satu negara, aku tidak pernah berhasil menemui pria sibuk itu. Dengan siapa dia menikah? tanya Sasha antusias.
"Menikahi bayang-bayang semu. Hahaha." Sekali Lagi Reyno tergelak bangga. Baru kali ini ia berhasil membuat Sasha kesal sejadi-jadinya.
"Bercanda kamu ngga lucu Reyn," papar Sasha kesal.
Mobil semakin melaju bersamaan dengam tawa Reyno yang masih belum putus.
"Aku akan membawamu ke rumah Mami, jangan membantah."
Hei! Kau ingin membunuhku ya. Antarkan aku ke mana saja, asal jangan menemui Mamimu. Itu sama saja, Mamimu pasti akan memberi tahu orang tuaku, Bodoh!" Sasha menjambak rambut Reyno kesal.
"Terus mau kemana?"
"Kerumahmu saja, nantia malam baru nginap di hotel."
Reyno menggeleng sebagai bentuk penolakkan. "Tidak bisa. Hari ini istriku sedang sibuk menyiaplan kejutan spesial untuukku. Kalau mau main besok saja."
Sasha menyunggingkan bibirnya sinis. "Cih! Sudah tua masih saja seperti ABG. Tidak ingat umur."
"Biarin!" Reyno menjulurkan lidahnya, membuat Sasha semakin kesal mendengar keuwuan mereka. Semeentara kisah cintanya masih di jalan tragis.
Pada akhirnya, Reyno menghentikan mobilnya di sebuah hotel. Membiarkan Sasha mencari kesenangannya sendiri tanpa harus merepotkannya.
***
__ADS_1