Suamiku Anak Mami

Suamiku Anak Mami
S2- Bab 37


__ADS_3

Entahlah, hari ini Reyno seperti merindukan semua keluarga terdekatnya. Setelah menemui sang Mami, ia langsung melajukan mobilnya menuju kantor sang papi. Bermaksud ingin menumi direktur dan wakil Revical grup yang selalu sulit untuk ditemui.


Maka di sinilah Reyno sekarang, memandang kesal sang kakak yang sedang sibuk mememeriksa laporan keuangan. William nampak serius, sampai lupa ada adik behati sensitif yang butuh perhatiannya.


"Kak," panggil Reyno untuk kesekian kalinya. Melihat sang adik yang berbaring-baring dengan wajah bosan di sofa tamu, membuat William terpaksa harus menutup laptopnya dengan berat hati. Pria itu menaruh kacamata bacanya di atas nakas, dan ikut bergabung bersama sang adik—mengambil posisi duduk di sofa single.


"Kenapa kamu ke sini? Ribut dengan Sweetheart kah?" Reyno menggeleng malas. Bertahun-tahun lamanya, panggilan sayang sang kakak kepada Jennie masih belum dihilangkan juga. Apalagi jika mengingat Jennie yang menyatakan cinta duluan pada sang kakak. Rasanya Reyno ingin memakan tubuh kakaknya bulat-bulat. Lalu mengunyah dagingnya dengan gerakan menyiksa.


"Kangen Kakak," ucapnya sok manja. William langsung berdecih geli setelahnya. Ngeri sendiri lihat kelakuan bapak anak dua yang kelakuannya seperti anak TK.


"Cih! Kakak tidak sudi tuh, dirindukan sama adik macam kamu. Kalau tidak ada keperluan, pergi sana .... Temu papi di ruangannya, Kek."


"Hahaha, nanti dong. Sekalian ngelobi papi biar Reyno diangkat jadi direktur utama. Agar Reyno dapat menindas kakak sepuasnya. Hahaha," tawa Reyno dasyat.


"Pergi ... pergi! Sana lobi Papi, Kakak juga malas dengan jabatan memusing seperti ini." usir William seraya melempar buku bacaaan ke wajah Reyno. Bercanda ala anak laki-laki.


"Kakak sakiiit!" keluhnya dengan nada mengayun.


Hubungan mereka memang tidak selayaknya cerita di dalam buku novel yang saling rebutan harta gono-gini dan jabatan. Justru William dan Reyno kebalikkannya. Saling melempar jabatannya dan enggan meneruskan bisnis Papinya.

__ADS_1


"Ingat umur Reyn! Sudah tua dan berjenggot. Kelakuanmu masih saja manja kayak anakku Gibran." William menggerutu kesal. Sebagai pria yang merasa paling tua, ia terus terang menolak sang adik yang hendak bermanja-manja padanya.


Tiba-tiba telepon William berdering. Pria itu mengangkat panggilannya tanpa beranjak. Seolah membiarkan Reyno mendengar pembicaraanya di telepon.


"Habis lagi?" seru William yang terlihat kesal. Suasana hening sesaat. William sedang mendengarkan suara dari balik sana.


"Iya ... iya .... Nanti aku kirim lagi, jangan ngambek gitu dong. Ya sudah, aku sedang sibuk. Have fun ya, Sayang." Telepon ditutup.


"Selingkuhan Kakak ya?" duga Reyno asal jeplak. Matanya menyelidik seolah serius ketika bertanya.


"Sembarangan saja, itu kakak iparmu tahu. Tere kehabisan uang dan minta transer lagi," ucap William yang wajahnya terlihat biasa-biasa saja.


"Hemm." William menjawab dengan demahan.


"Apa pernikahan kalian baik-baik saja. Aku lihat kakak ipar kurang memperhatikan Gibran. Bahkan Gibran sering dibiarkan main sendiri," ujar Reyno yang membuka omongan dengan topik menjurus serius.


"Tidaklah, Reyn. Gibran juga punya baby sister sendiri. Pasti ada yang ngawasin." William membela sang istri. Maklum, ia sudah menjadi bucin selama ini.


"Tapi pas aku datang tadi, Gibran sedang main sendirian di rumah. Bahkan, kakak ipar malah pamit pergi di saat baby sister Gibran sedang tidak masuk."

__ADS_1


"Benarkah?" William bertanya dengan nada biasa saja. "Mungkin Tere sedang sibuk. Biarkan saja," ucap William terus membela.


Reyno yang merasa kesal langsung mencebikkan bibirnya. "Ikkh! Kakak gak peka!"


"Stop it, Reyn. Aku ingin muntah mendengarmu bicara seperti itu. Yang wajar-wajar saja jika masih ingin lanjut ngobrol denganku."


Kini wajah Reyno berubah serius. Tidak manja lagi seperti tadi. Kalau kata Jennie itu adalah proses Reyno berubah gaya seperti bunglon. Lantas ia berkata,


"Menurut apa yang Reyno lihat, Gibran seperti anak yang kurang perhatian dari ayah dan ibunya. Apa Kakak selama ini tidak pernah mengajak Gibran bermain? Setiap aku datang Gibran sangat senang, seolah sedang menunjukkan bahwa ia sedang kesepian."


Wajah William langsung berubah. Antara marah atau tekejut, Reyno tidak bisa membaca raut wajah kakaknya yang kurang jelas.


"Maaf kak, bukan maksudnya menggurui."


Kamu benar Reyn," ujar William. "Kakak memang tidak pernah ada waktu untuk Gibran. Mungkin benar yang kamu katakan, Girban tumbuh dengan pribadi yang kesepian."


***


Besok lanjut ya, aku ngantuk.. hehe. udah crazy up 3 kan .

__ADS_1


__ADS_2