
"Papa, Mama!" Cilla yang melihat Reyno dan Jennie langsung berteriak riang. Dua bocah iti berlomba-lomba untuk sampai ke tempat papa dan mamanya berdiri.
Cello yang sampai duluan langsung melemparkan pertanyaan. "Kok ada papa ikut?' tanyanya dengan wajah polos. Karena memang Reyno dan Jennie belum pernah menjemput anak-anaknya berdua. Selalu berganti-ganti, malah kadang di jemput Mami Dina.
Reyno meraih Cilla yang sudah mengulurkan tangannya. "Papa mau ajak kalian main ke tempat grandma."
"Yeeeeeeee!" Cilla yang sudah berhasil digendong Reyno langsung berseru riang.
"Sama mama Panda juga."
"Ciuz Ma?" Cilla bertanya sok imut. "Iya, dong," jawab Reyno seraya mengangguk. Jennie ikut mengangguk untuk mengkonfirmasi bahwa omongan Reyno benar.
Kedua bocah polos itu bersorak lebih riang. Untungnya mereka tidak mengira Jennie sedang kesambet karena mau menginjakkan kaki ke rumah mertua. Pasalnya Jennie tidak pernah mau diajak ke rumah sang nenek. Meskipun mereka menangis dan memaksa sekalipun.
Reyno sendiri juga tidak membolehkan Jennie pergi ke rumah utama karena sikap Maminya yang kurang baik. Pria itu menjadi penengah di antara dua wanita yang berseteru. Hingga waktunya tiba, yaitu berdamai dan mencoba menerima keadaan.
"Beli es krim dulu yuk, Papa haus," ucap si biang kerok Reyno. Di mana Jennie menggerutu kesal di dalam hati. "Udah lama gak makan es krim, boleh kan Mah?"
__ADS_1
Reyno melirik Jennie penuh harapan. Setelah melihat tiga pasang mata anak-anaknya, akhirnya Jennie mengangguk dengan rasa terpaksa. Ishkk, Reyno mulutnya selalu gatal kalau lihat es krim. Apa lagi kedai 'Es Krim Chillin' yang ada di dekat sekolah anak-anaknya.
Ketiga anak Jennie bersorak ria gembira. Kali ini teriakan mereka lebih keras, membuat Jennie yang tadinya kesal mendadak bungah. Kenapa anaknya ada tiga? Karena yang dua adalah anak kandung dan yang satunya lagi anak jadi-jadian. Alias si suami Hello Kitty.
"Kalian ke kedai es krimnya sama Papa ya, mama tunggu di kursin ini aja. Ingat, satu anak hanya boleh beli satu es krim dan satu topping." Bukan karena pelit, tetapi semua topping mengandung banyak gula dan pemanis buatan. Jennie tidak ingin melihat anak-anaknya sakit.
Cilla turun dari gendongan Reyno. Lalu berjalan beriringan bersama Reyno dan Cello menuju kedai es krim. Sementara Jennie mulai duduk di kursi taman. Mulai memainkan game ular untuk menghilangkan rasa bosan. Lumayan. Barangkali saja bobot ularnya bisa nambah.
Reyno mulai membolak-balik buku menu di kedai es krim itu. Setelah lima menit, akhirnya ia memutuskan membeli dua es krim coklat untuk anak-anaknya, dengan ekstra topping keju di atasnya. Sementara ia sendiri memesan es krim tiga rasa berukuran jumbo. Ada lima topping yang terdiri dari, keju, choco chips, potongan coklat, permen gummy warna-warni dan terakhir potongan strawberry yang mempercantik bentuknya.
Ketiga makhluk yang wajahnya mirip itu sudah memegang es krim masing-masing. Waktunya untuk kembali ke tempat ibu macan menunggu. "Ayo ke pulang, makannya di mobil aja biar adem." Karena kedai es krimnya terlalu kecil dan tidak ber Ac. Cilla memiliki kulit sensitif, sama seperti Reyno.
"Punya papa bagus. Es krimnya gede, ada banyak isi. Kenapa Cilla dan Ello kecil jelek begini?" Si boy tertua juga ikut-ikutan protes. Membuat mbak pemilik kedai es krim ikut kesal melihat tingkah ayah berhati teletabis itu.
"Pokona Cilla mau yang kayak Papa!" protes gadis kecil itu. Sudut matanya mulai menggenang. Mungkin sebentar lagi bendungan sungai di matanya akan segera luber.
"Papa nakal, mending kita giv away in aja si Papa, dek," protes Cello yang Ingin membuang es krim berpenampilan jelek itu. Tapi tidak jadi karena takut tidak dibelikan lagi dan malah dimarahi.
__ADS_1
"Tanya sama si mbaknya, tuh. Anak kecil memang makannya yang itu." Reyno menunjuk es krim Cilla dan Cello. "Kalau begini buat Papa yang sudah besar. Iya kan, Mbak?"
Si mbak penjaga stand es krim itu terpaksa mengangguk. Mengiyakan pendapat ayah lucknut yang suka makan es krim. Ya, si mbak penjual es krim itu memang tahu bahwa Reyno suka es krim. Terbukti pria itu selalu beli es krimnya setiap kali menjemput Cilla dan Cello. Reyno rela datang lebih awal, demi bisa ngumpet makan es krim tanpa mengajak anak-anaknya.
"Huahhhh!" Anak Reyno yang paling kecil mulai menangis. Menatap tampilan es krim tidak menarik yang warnanya coklat ditaburi keju. Bahkan, keju kurang enak di lidah saat dimakan dengan es krim bagi Cilla. Anak kecil sukanya yang manis-manis, namun Reyno tidak mau gigi susu mereka rusak karena makanan enak dan laknat itu.
"Ssstt ... jangan nangis ya, nanti mama marah kalau Cilla beli es krim yang kayak papa. Kalau Cilla dan Cello bisa ngabisin es krim itu, nanti Papa bagi es krim Papa."
"Beneran, Pa?" Akhirnya Cilla berhenti menangis. Menatap sang papa dengan sorot mata penuh harapan.
"Iya. Kalian boleh makan punya Papa kalau es krim kalian habis." Karena Reyno tahu porsi makan mereka tidak banyak. Itu hanya akal-akalan Reyno agar anak-anaknya diam. Terbukti, kedua bocah itu diam.
"Tapi Ello mau makan buaya di es krim Papa sekarang!" Anak kecil bermata jeli itu mendongak seraya menunjuk topping yupi berbentuk buaya. Dengan berat hati Reyno menyendok buaya-buayaan itu dan memasukkannya ke mulut Cello.
"Cilla uga mau tobelly yang ende. Mau talu cinih ..." Astaga! Reyno menyendok topping strawberry mengiurkan itu dan memberikannya di atas es krim Cilla.
Pria itu kembali menatap es krim tiga rasa itu dengan perasaan berat, seperti ada yang kurang dengan tampilan es krim jumbo istimewa yang ia pesan.
__ADS_1
"Sudah ayo ke Mama, nanti makan di mobil bareng Mama." Jennie tidak dibelikan es krim, Reyno sengaja mau makan berdua biar so sweet seperti orang pacaran.
***