Suamiku Anak Mami

Suamiku Anak Mami
S2- Bab 30


__ADS_3

"Aku sudah di depan rumah." Ponsel menempel pada daun telinga. Reyno menunggu Jennie membukakan pintu sambil menghentak-hentakkan kakinya, kesal.


"Kamu lagi, apa sih? Kok lama?" Terdengar Jennie berlari dengan langkah buru-buru.


Cekrek! Jennie membuka pintu dengan perasaan gugup. Ponsel masih menempel di telinganya. Bahan Jennie belum sempat mematikan panggilan telepon dari Reyno.


Menyengir kuda, lantas Jennie menggaruk kepalanya yang tak gatal. Menutupi kegugupannya dengan tingkah ambigu. "Eh, Sayang. Kenapa telepon? Biasanya juga langsung masuk 'kan."


"Gak peka!" Reyno nyelonong masuk dengan bibir yang mencebik. Di mana Jennie langsung berlari menyusul suaminya yang sedang ngambek.


"Aku telepon itu sengaja. Biar disambut pas pulang kerja sama kamu." Reyno membanting tubuhnya kesal di atas sofa. "Belum pernah kan, kamu nyambut suami kamu pulang kerja? Giliran di telepon, respon kamu malah kebingungan."


Panik, saat itu juga Jennie bersimpuh di pangkuan Reyno. Lalu memeluk pinggang itu dengan rasa yang berkecamuk. "Maaf ya, Reyn. Biasanya yang nyambut kamu pulang kan Cilla dan Cello. Berhubung mereka tidur cepat, aku gak kepikiran nyambut kamu pulang."


Jujur apa adanya memang lebih baik. Jennie bukanlah wanita yang terlahir romantis seperti kebanyakan pada umumnya. Dia lebih banyak tidak peka dibandingkan suaminya. Di saat Reyno mendambakan hal-hal kecil yang romantis, tak jarang ia mendapatkan sesuatu yang berkebalikan dengan keinginannya.


"Kamu sudah makan?" Mengatur emosi agar lebih tenang, Reyno mengelus kepala Jennie yang masih bergelayut di pangkuannya. Sekesal apapun perasaanya, marah bukanlah hal baik untuk membimbing seorang istri.


"Belum. Aku mau makan sama kamu," balas Jennie sok dimanja-manja.


Reyno mengangkat tubuh kecil itu. Lantas mendaratkan sebuah kecupan sayang di kening Jennie. "Aku selalu ngajarin sesuatu yang romantis, tapi kenapa kamu selalu tidak peka ya? Perhatian-perhatian kecil dalam hubungan rumah tangga itu penting, Je. Pasangan kita bisa saja bosan jika kita terlalu bersikap cuek dan bodo amat. Apa lagi semakin lama usia pernikahan kita, semakin berat pula cobaan yang harus dijalani. Bagaimana jika suami kamu bosan dan berpaling pada wanita lain?"

__ADS_1


Dueeeer! Jennie serasa di sambar petir sekaligus tersengat listrik 2000 volt. Omongan Reyno begitu menusuk perasaan Jennie. Bagai sembilu kebenaran yang menyayat bagian hati terdalam gadis itu.


"Maaf Reyn, aku akan belajar lebih peka lagi." Wajah Jennie berubah sendu. Hampir menangis kalau tidak di tahan.


Reyno menyelipkan rambut Jennie pada balik telinga, lalu mengecup bibir basah Jennie gemas. "Bukan salah kamu, mungkin aku yang terlalu menuntut kesempurnaan," ujar Reyno yang semakin membuat Jennie terserang penyakit bersalah dadakkan.


Jennie menggelengkan kepalanya, salah tingkah. "Gak! Gak gitu, Reyn. Aku juga salah kok. Padahal Cilla dan Cello sudah punya dua baby sister, di rumah juga ada asisten rumah tangga yang bantuin ngurus rumah. Cuma akunya aja yang dasarnya engga peka. Gak bisa ngertiin mau suami aku," ujar Jennie sadar diri.


Reyno tersenyum hangat. Lantas menyesapkan sebuat kecupan pada bibir tipis Jennie. Memberi sebuah ciuman yang manis dengan kandungan cinta yang dalam dari seorang suami yang ingin dimengerti.


"Belajar! Kamu masih punya banyak waktu." Reyno mengedarkan pandangannya. Ruanga tamu itu tampak biasa-biasa saja, membuat tanda tanya besar menyelimuti pikiran pria itu. "Mana kejutan romantis buat aku?"


Reflek Jennie menyeringai bodoh. "Aku udah siapin, sih. Tapi gak tau itu romantis apa engga. Soalnya aku cuma nyiapin ini berdasarkan riset."


"Tutup dulu mata kamu.." Jennie mengambil pengikat mata hitam dari kantung celana yang sudah ia siapkan. Lantas menutup kedua mata Reyno dengan kain hitam itu.


"Wah, sepertinya romantis banget ya, sampai harus tutup mata gini. Awas ya, kalau kejutannya gak menarik, aku hukum kamu sampai gak bisa jalan," kelakar Reyno dengan nada mengancam.


"Papa Teddy bawel, deh." Jennie mulai menuntun Reyno. Hatinya dag-dig-dug tidak jelas memikirkan apakah Reyno menyukai kejutan yang ia siapkan.


Langkah terhenti. Penutup mata Reyno mulai dibuka perlahan. Mengerjap-ngerjapkan mata, Reyno mulai mengedarkan pandangannya ke sekeliling.

__ADS_1


"Ini kamu yang buat?"


Reyno menatap kagum pada kolam renang yang sudah di dekorasi indah. Di mana ada ribuan bunga yang tersusun bertuliskan 'I LOVE U PAPA TEDDY' di dalamnya. Sejenak Reyno merasakan menjadi peran utama di dalam drama yang ia tonton.


Detik kemudian, ia mengalihkan pandangannya pada perjamuan makan romantis. Jennie menyiapkan candle light dinner di pinggil kolam renang.


"Untuk bunga-bunganya bukan aku yang nyiapin. Aku minta bantuan petugas dekorasi. Kalau meja untuk makan malam kita baru aku yang siapain, sama makanannya juga," ujar Jennie menyengir kuda.


"Makasih, Sayang." Rangkulan lembut itu menjadi wujud syukur Reyno pada malam ini. Ngambek yang sempat di tahan, langsung hilang seketika. Ia begitu bahagia. Untuk sekian tahun lamanya, baru kali ini Jennie melakukan hal yang begitu manis. Meski harus diminta terlebih dahulu.


"Suamiku," lirih Jennie yang sudah menyiapkan kata-katanya sejak siang. Pandangan cinta itu begitu dalam. Menembus cela hingga mendarat di hati bagian dalam Reyno.


"Terima kasih karena telah menerima kekuranganku selama ini, Reyn. Terima kasih juga atas semua perjuangan yang kamu lakukan hingga kita bisa mencapai titik ini. Kamu adalah anugrah terindah walau hubungan kita di awali dari kesalahpahaman."


Menghentikan bicaranya, Jennie menarik dagu Reyno hingga membungkuk. Lalu mendaratkan sebuah ciuman seraya merangkulkan kedua tangan. Malam yang berbintang, menjadi saksi dua insan yang sedang berusaha untuk jatuh cinta setiap hari.


Beberapa detik berlalu, kedua masih saling beradu untuk melampiaskan hasrat cinta. Menikmati sesapan hangat dalam nikmatnya ciuman halal. Mereka terus berpagut dalam kemelut cinta seolah enggan terlepas. Bunyi decapan dari bibir keduanya terdengar syahdu. Yang mungkin bintang dan bulan merasa iri melihat kemanisan mereka.


Ciuman kasih sayang itu terlepas. Diakhiri kecupan singkat Reyno yang mendarat di puncak kepala Jennie.


"Terima kasih untuk malam ini, Isyriku tersayang. Aku harap, kebersamaan seperti ini tidak hanya kita dapatkan di dunia. Semoga saja, cinta kita bisa abadi hingga terbawa sampai ke surga."

__ADS_1


***


__ADS_2