Suamiku Anak Mami

Suamiku Anak Mami
Adikku


__ADS_3

Sesampainya di Bandung Farhan langsung membawa William dan Tere ke hotel pribadi milik keluarga Haris. Pria itu seegera melajukan mobilnya kembali ke tempat Jennie. Ia harus segera sampai ke kontrakan Jennie sebelum Reyno datang. Rencananya menemui Jennie akan gagal jika sampai ketahuan oleh tuan mudanya. Tidak boleh ada yang tahu tentang rahasia Farhan. Keluarga Haris pasti tidak akan tinggal diam jika mengetahui orangtua Jennie adalah orang yang tega membuang Farhan saat masih bayi. Tuan Haris pasti akan menghancurkan keluarga Hermawan kalau sampai mengetahui hal itu, tahu kan betapa sayangnya Tuan Haris pada Farhan. Melebihi sayangnya pada anak kandung sendiri kalau kata William.


Tentu saja tidak sulit menemukan alamat Jennie, hampir tidak ada hal yang tidak bisa dijangkau oleh Farhan. Pria itu sudah sampai di depan kontrakan Jennie sekarang. Tempat yang sangat sederhana sekali, bahkan Farhan langsung terheran-heran jika memikirkan Reyno mau tinggal di tempat seperti ini. Jangan lupa juga kalau Reyno juga rela menjadi seorang kuli demi Jennie. Ah, anugrah Tuhan begitu indah ya.


Tok .... Tok .... Tok ....


Terdengar suara pintu di ketuk. Jennie langsung melirik jam di dinding kamarnya. Baru jam setengah empat, tumben sekali Reyno sudah pulang. Pikir Jennie. Gadis itu langsung berlari membukakan pintu rumahnya.


"Reyn, kok tumben kamu su—" Bicaranya terjeda, "Ngapain kamu kesini?" Jennie langsung meninggikan nada suaranya begitu melihat siapa orang yang mengetuk pintu rumahnya. Gadis itu langsung menutup pintu, namun dengan sigap farhan langsung menahannya. Ikut masuk dan menutup pintu rumahnya.


"Mau apa kamu kesini Farhan?" Jennie memicik tajam. Farhan langsung gugup, kaki dan tangannya dingin bersamaan dengan jantung yang berdetak kencang. "Ada hal penting yang kita harus bicarakan," jawab Farhan lantang. Agar kegugupannya tidak terlihat.


"Cih! Tidak tahu diri ... setelah membuat aku dan Reyno di usir, kau mau apa lagi kesini? Masih kurang puas sudah menghancurkan hidup kami?" Jennie bertolak pinggang, melengos jijik, enggan melihat wajah Farhan yang menyebalkan.


"Aku mau memberi ini." Mengulurkan sekotak coklat jahe yang waktu itu di beri oleh bunda. Untung masih terisa satu. Jadi bisa dipakai untuk alasan.


Mata Jennie langsung bercahaya ketika melihat coklat jahe buatan bundanya. Namun buru-buru Jennie langsung memasang wajah bencinya kembali. Ingat Jennie! Farhan bukan orang yang cocok dibaikin, dia adalah orang yang telah membuat hidup kamu susah. Begitulah otak Jennie mensugesti hati nuraninya.


"Aku tidak suka coklat! Pergi dan bawa coklat itu kembali." Diam-diam Jennie melirik Farhan. Memperhatikan nafas pria itu yang naik turun seperti ingin menanyakan sesuatu.


Farhan tidak mau menyerah. Meskipun ia tidak pandai meredakan amara wanita, setidaknya ia harus mencobanya. Dengan gerakan mantap, Farhan langsung mengeluarkan kalung berbentuk pipih itu dari saku jasnya. "Aku juga ingin memberikan kalung ini padamu."


"Itu kalung.milikku yang aku berikan padamu, ambil saja."

__ADS_1


"Ini punyaku. Dan aku sudah berniat memberikannya padamu."


"Terserah kamu lah, Farhan. Sebenarnya apa tujuanmu datang kemari? Jika ingin meminta maaf dan menyesali perbuatanmu, lebih baik kau pergi saja, aku tidak akan memaafkanmu."


"Aku tidak berniat meminta maaf." Jujur apa adanya.


"Cih! Benar juga, manusia sepertimu tidak mungkin mau meminta maaf . Aku yakin kamu juga tidak akan merasa bersalah sama sekali."


Farhan tidak peduli dengan ocehan adiknya. Seperti yang pernah Jennie lakukan waktu itu, Farhan mengalungkan kalung miliknya di leher Jennie. Pria itu langsung mendekap Jennie kedalam pelukkannya.


"Maafkan aku," lirih Farhan. Jennie terbelalak. Buru-buru ia memberontak dan mendorong tubuh besar Farhan.


"Sudah gila ya! Ngapain kamu peluk-peluk aku. Dan kalung ini, aku sudah memberikannya untukmu." Jennie mencopot kalung miliknya. Lalu mengulurkannya pada Farhan.


"Ini kalung yang kamu berikan untukku." Mengeluarkan kalung Jennie dari dalam kemejanya. "Yang aku berikan adalah kalung milikku."


"Coba goyang-goyangkan liontinnya!"


"Hahaha." Jennie tergelak. "Apa aku akan menemukan nama Farhan tertulis di liontin ini? Jadi kamu ingin membuat kalung coupple."


Jennie menggoyang-goyangkan kalungnya sambil tertawa. Dan dua detik kemudian, ekspresi gelinya berubah total, gadis itu mendadak gemetar melihat nama yang tertera di dalam liontinya. Ini tidak mimpi kan, siapa saja tolong sadarkan Jennie.


Alan. Jennie sangat mengenal nama itu, bunda pernah bercerita bahwa Alan lahir sebelum Jennie. Namun anak itu meninggal karena mengidap penyakit ikerus patologis saat bayi. Itu lah sejumput yang Jennie tahu tentang Alan.

__ADS_1


Tiba-tiba saja otaknya tersambung pada fakta yang Jennie pernah dengar dari Reyno. Farhan itu anak yatim-piatu, ia di buang oleh orangtuanya saat masih bayi.


Dan Jennie menyambungkannya lagi dengan kalung yang di miliki Farhan. Tidak! ini tidak mungkin. Bunda dan Ayah tidak mungkin tega membuang anaknya. Tubuh Jennie mendadak limbung. Ia seperti tidak dapat menerima kenyataan ini.


Ditengah-tengah kebingungan Jennie. Farhan mulai berbicara dan menjelaskan duduk perkaranya.


"Kalung itu ada bersamaku sejak bayi. Ibu panti menyimpannya untukku, beliau berkata hanya kalung itulah yang akan menjadi petunjuk untuk menemukan orangtuaku." Farhan menjelaskan dengan tenang.


"Kakak!" Derai air mata langsung meluncur bebas dari sudut mata Jennie. Gadis itu langsung menghamburkan tubuhnya ke dalam pelukan Farhan.


Dua insan yang sudah lama terpisah itu akhirnya dapat bersatu kembali. Dan untuk pertama kalinya, Farhan menitikan airmatanya, ternyata seperti ini ya, rasanya memiliki keluarga. Hangat dan nyaman.


Jennie dan Farhan seperti menemukan perisai baru. Senjata dimana mereka berdua akan saling melindungi santu sama lain untuk kedepannya.


"Maafkan aku adikku... gara-gara usulan dariku, kamu harus merasakan penderitaan seperti ini. Aku berjanji akan mengembalikan semuanya seperti semula." Farhan semakin memeluk Jennie erat. Mendaratkan kecupan sayang di pucuk rambut adiknya.


"Tidak ... aku tidak menderita." Jennie mendongakkan kepalanya. Menatap Farhan dengan bola kristalnya. Pria yang ada dihadapan Jennie adalah kakanya. Jennie menyentuh wajah Farhan dengan kedua tangannya, merangkum dengan lembut semua bagian wajah itu. Kakakku. Batin Jennie bangga. Ia terus menatap Farhan dengan mata sayunya. Seutas senyum mengembang di sudut bibir Farhan. Pria itu membiarkan sang adik melakukan apapun yang dia mau.


Antara percaya dan tidak, pria tampan yang ada di hadapannya adalah kakak Jennie. Jennie memperhatikan wajah Farhan sekali lagi. Ah, kenapa ia baru sadar kalau Farhan mirip sekali dengan ayah. Dari dulu kemana saja sih?


"Aku sayang kamu, Kak." Jennie memeluk Farhan sekali lagi. Melepas rindu yang tidak pernah terbalaskan selama ini. Memiliki Farhan adalah impian terbesarnya yang tidak mungkin terwujud tadinya, karena ia merupakan anak tunggal. Siapa sangka? Tuhan membawakan Jennie sebuah keajaiban. Sesuatu yang hanya mimpi berubah menjadi kenyataan. Kakak Jennie punya kaka ya Tuhan. Senangnya tidak terkira.


"Aku juga sayang kamu, Adikku." Farhan berkata. Ia juga merasakan kebahagiaan yang sama dengan adiknya.

__ADS_1


***


Author ucapkan terima kasih untuk kalian yang mau menyempatkan diri untuk menekan like, tanda ❤ dan menyumbangkan poin berharga untukku.


__ADS_2