
Jennie menggeliat kecil saat pendengaranya merasa sedikit terganggu, terdengar teriakan beberapa anak kecil yang bermain di luar kontrakan—nya. Ia membuka matanya perlahan, Reyno suami kesayanganya masih terlepap sambil mendekap tubunya. Kesayangan? Sejak kapan Jennie mulai sayang pada cowok itu. Jangan tanya! Jennie sendiri juga tidak tahu sejak kapan ia sayang.
Pelan-pelan ia menggeser kepala si Manja yang masih setia menempel di dadanya, Memberinya jarak agar Reyno dapat bernafas dengan teratur, Dalam diam ia memandangi wajah polos suami manjanya, memperhatikan sangat lama sambil senyam-senyum sendiri. Gadis itu sedang memikirkan kalimat yang Reyno ucapkan sebelum tidur. Harus tidur sama-sama, dan bangun secara bersamaan juga.
Kenapa aku jadi nungguin kamu begini sih, mau tidur sampai kapan coba? Kalau kamu bangun besok, aku juga harus bangun besok! Huuuuh, sejak kapan aku jadi nurut sama kamu gini.
Mentowel dagu Reyno dengan telunjuknya. Cowok itu langsung menggeliat dalam tidurnya, tapi tidak bangun.
“Reyn!” bisik Jennie tepat di telinga Reyno. Hari juga sudah mulai sore, waktunya untuk mandi dan mencari makan. “Bangun Reyno! Ini udah sore, loh. Kita cari makan, yuk!” Mencubit pipi Reyno sedikit keras.
“Enggggg ....” Menggeliat lagi, mengeratkan pelukan dan kembali pada posisi favoritnya. Jennie segera mendorong kepala menyebalkan itu dari dadanya.
“Bangun, ikh!” Menggoyang-goyangkan kepala Reyno. Lama-lama geram juga menunggu orang tidur. Apa lagi perut Jennie sudah keroncongan minta di isi. “Mandi dulu, Reynooo!”
“Eugh ... Nanti bangunin lagi kalau bibi udah selesai nyiapin air hangatnya.” Mengigau sepertinya. Pasti Reyno berfikir ini masih di rumahnya. Dasar bocah. Pikir Jennie dalam hatinya.
Jennie mencoba menyingkirkan tangan dan kaki Reyno yang bertaut pada tubuhnya. Lebih baik Jennie mandi dulu saja, nanti baru bangunin Reyno lagi setelah ia selesai mandi. Gadis itu bergerak pelan menjulangkan satu kakinya di lantai.
“Jangan pergi!” sergah Reyno menangkap tubuh itu dalam pelukanya kembali. “Sebelum Reyno buka mata, Jennie ngga boleh turun dari tempat tidur.” cicit Reyno sambil mengusak-usak kepalanya manja.
“Kamu semakin lama jadi tambah ngatur hidup aku, ya? Cuma mandi saja dipersulit. Ini mandi, loh! Bukan ngurus BPJS,” kesalnya.
“Sebentar, Reyno cuma mau peluk Jennie. Sekalian kamu bikin peraturan atau larangan buat Reyno,” ucap Reyno sambil membuka kelokap matanya perlahan.
Mendapat sinyal hijau seperti itu Jennie langsung ambil kesempatan, ia tidak mau menyia-nyiakan hal bagus yang satu ini. Dalam waktu kurang dari lima menit, peratutan baru ala si tomboy sudah siap.
“Oke. Aku udah mutusin peraturan baru buat kamu. Mulai sekarang aku yang cari uang, sementara Reyno harus beres-beres rumah, masak, dan jangan lupa cuci baju.” Menyeringai licik. “ Ngga boleh protes!” ancam Jennie ketika melihat cowok itu sudah menyerngitkan dahinya.
“Yang lain aku bisa, tapi kalau nyuci baju gak ngerti. Reyno belum pernah.” Protes sedikit.
“Ya sudah, bajunya di laundri saja, tapi untuk yang lain wajib. Aku ngga mungkin masak, nyentuh kuwali saja tidak pernah,” ungkapnya jujur.
__ADS_1
“Oke. Siap!” Memejamkan matanya kembali.
Tangan nakal Reyno mulai membelai benda timbul yang ada di depan wajahnya. Segera saja Jennie menepis tangan sialan itu. Tolong dikondisikan ya, Reyn. Begitulah tangan Jennie berbicara saat menepis kelakuan tangan nakal Reyno.
“Huuh ... Pelit!” Tangan itupun naik lagi dan kembali pada tempat semula.
Pikir Reyno, mereka kan pasangan halal. Mau ngapain saja bebas. Mau itu-itu juga boleh asal tahu caranya. Eh, sebenarnya Reyno juga tidak bodoh-bodoh amat tentang materi sx. Jika mengikuti naluri, ia mungkin sudah berhasil melakukan kegiatan suami istri pada malam kemarin. Hanya saja ia masih takut dan belum siap, takut juga kalau sampai Jennie hamil. Siapa yang mau mengurus anaknya nanti, sedangkan keduanya masih layak disebut anak-anak.
Intinya keberanian Reyno masih dalam batas greepe-greepe iseng, belum berani melangkah ke jenjang selanjutnya. Mungkin nanti, sekalian belajar dan memantapkan hatinya. Yang jelas bila waktu itu tiba, Reyno akan melakukanya dengan pro, handal dan tidak boleh ada kesalahan kecil sama sekali. Tunggu saja tanggal mainya. Oke.
“Mandi sana!” usir Jennie sambil mendorong tubuh Reyno. Dorongan tangan itu berkata bahwa aku tak suka dipeluk-peluk terus seperti ini.
“Iya! Ini juga udah kepengin mandi,” ucapnya dengan nada jutek. Reyno langsung menjulangkan kaki kebawah, beranjak pergi menuju kamar mandi.
Fuihhh! Akhirnya cowok itu pergi juga. Melelahkan sekali menghadapi suami seperti Reyno. Namun tidak dapat di pungkiri, banyak sekali tingkah Reyno yang menggemaskan dan menyebalkan. Antara ingin memaki sekaligus pengin memeluk. Untung dia tampan, setidaknya ada poin tambahan di tengah-tengah sifat manjanya.
“Jennie!” teriak Reyno dari dalam kamar mandi.
Tuh kan, mulai lagi.
Gadis itu langsung beranjak dengan wajah kesal, keluar dari kamar dan mengambil handuk dari dalam tasnya. Kemudian ia mengambil kantung kresek berisi alat mandi yang ia beli di jalan tadi.
“Nih!” Sambil menggedor pintu kamar mandi. Cowok itu keluar dan menarik Jennie masuk.
Eh, ngapain ini. mau ngajak mandi bareng, kah?
“Ini gimana cara mandinya? Ngga ada shower, apa lagi bathtup. Desain rumah apaan sih, ini?” kesalnya lagi. Mau tidur ribut, mau mandi ribut, dan nanti pasti akan ada banyak keributan lainnya.
“Ini namanya desain rumah rakyat jelata! Ngga ada shower, apa lagi ngarep ada bathtup—nya. Jangan protes yang aneh-aneh. kalau mau mandi pakai gayung ini.” Jennie mengambil air segayung dari dalam bak penampungan air.
Byurrrrrrr!
__ADS_1
Mengguyurkanya pada wajah Reyno. Sesabar-sabarnya manusia pasti ada batasanya. Apa lagi energi kesabaran Jennia selalu di sedot habis oleh Reyno.
“Dinginnn!” Teriak seperti balita dua taun, dan Jennie yang jadi ibunya.
“Jadi kamu mau aku mandiin apa mandi sendiri?” Emosi. “Jangan ngarep minta air hangat, di sini ngga akan ada.” Mengambil air lagi untuk mengguyur suaminya.
Byuuuuur ... Byurrrr ....
“Iya! Iya ... Reyno mandi sendiri. Dasar cewek galak!” serapahnya dengan kesal.
“Lebih baik galak, dari pada kamu cowok lembek seperti tape!” Di guyurkanya air segayung sekali lagi.
“Keterlaluan! Reyno laporin polisi atas tuduhan KDRT.” Mencebik.
“KDRT dari mana? Cuma baju yang basah, dasar cowok lemah!” ejeknya.
“Biarin lemah, kayak gitu juga suami kamu. Bweekkkk.” Mencibir. “Sudah sana keluar, ngapain masih di kamar mandi, Mau liat?” Reyno membuka bajunya.
“Sinting!” Jennie segera keluar dari kamar mandi. “Gak pengin lihat, punya kamu kecil!” teriaknya saat kamar mandi itu di tutup.
“Punya kamu kendor!” Ejekan dibalas mengejek.
“Sialan! Punya kamu kecil, ngga kerasa.Dasar Bambang!”
“Awas ya! Aku makan kamu entar malam.”
“Bidi imit!” cibir Jennie tidak takut.
“Berani kamu, ya? Hahaha.” Terdengar gelak tawa Reyno dari dalam kamar mandi.
“Kamu yang aku makan duluan,” balas Jennie lagi. Karena dia tahu Reyno belum siap melakukan hal macam-macam pada dirinya.
__ADS_1
Acara ejek mengejek belum berakhir. Beginilah mereka jika sedang kumat, datang sifat kekanakan dari keduanya.
***