
Bantal itu terkoyak sempurna karena Alex terus menahan geli yang menjalar di sekujur tubuhnya. Seumur hidupnya, Alex tidak pernah mengira bahwa ia akan mendapatkan pengalaman menyusui anak manusia. Tentu saja rasanya tidak seenak bibir seksi wanita. Untung saja Alex belum mati.
Alex juga tidak pernah menyangka bahwa ia akan merasakan sensasi jadi homo dadakan untuk kedua kalinya. Yang pertama dengan Reyno, dan yang kedua dengan benih kecebong hasil buah cinta pasangan Reyno dan Jennie.
Selain meratapi kesuciannya yang terenggut, Alex juga merasa bingung harus menjawab apa ketika ia sudah menikah nanti. Biasanya, perempuan akan bertanya tentang pengalaman intim apa saja yang pernah dilakukan suaminya saat mereka sudah menikah. Mengorek masa muda suaminya adalah hal yang sangat wajib dilakukan oleh kaum wanita yang terlahir posesif.
Sungguh, Alex tidak ingin memberi tahu bahwa ia pernah dicium laki-laki dan disusui oleh balita tiga tahun. Sangat melakukan menceritakan hal itu meski pada pasangan sendiri.
"Arghhhhh!" Alex menjerit hebat saat miliknya digigit kuat oleh Cello. Pria itu berusaha melepaskan, namun gigitan Cello terlalu kuat hingga ia takut choco chips nya putus jika dilepas paksa.
"Hikss ... Ya, Tuhan. Kenapa nasibku semalang ini, sih?"
Alex menatap wajah polos yang tengah lelap itu. Ingin balas menggigitnya namun ia sendiri yang akan terkena imbasnya jika Cello sampai bangun lagi. Maka yang bisa ia lakukan hanya bersabar menahan rasa.
Setengah jam kemudian, bibirnya Cello mulai mengendur. Tarikan nafas teratur itu menandakan bahwa Cello sudah terlelap di dalamcpangkuan Alex. Pria itu langsung memisahkan bibir Cello dari choco chips hitamnya dengan hati-hati.
Fiuh! Alex menghela napas lega setelah berhasil menidurkan dan menaruh anak piranha itu di samping Cilla. Lantas, Alex membuka laci di bawah nakas untuk mengambil antiseptik untuk mengobati dadanya yang terluka.
"Putus gak ya?" Alex meringis sakit ketika cairan obat itu menetes sempurna di atas choco chipnya. Milik laki-laki tidak seelastis seperti punya perempuan. Sehingga Choco chips Alex nyaris lepas dan sangat mengenaskan.
Baru iya hendak beranjak dan menggelar kasur lantai, tiba-tiba Alex merasakan ada aliran hangat yang merembes di bawah kasur yang ia duduki.
"Ya Tuhan!" Alex mendesah frustasi. Selesai mengurus Cello, gantian si kecil Cilla ngompol tanpa aba-aba. Bahu Alex langsung merosot bersamaan dengan tubuh yang ia jatuhkan ke lantai.
"Kenapa hidupku sesial ini, sih?" geramnya emosi.
Alex mengambil ponsel, bermaksud menghubungi Reyno untuk melambaikan tangan tanda menyerah. Namun, nomor pria tidak tahu diri itu masih belum aktif. Foto profilnya masih belum muncul pertanda Reyno masih ngambek.
Jadi, ponsel mana yang Reyno pakai tadi? Ah, pasti sibrengsek Reyno sengaja membeli ponsel baru untuk kebutuhan pribadinya. Sialan!
"Aku harus gimana? Kalau didiamkan saja apa anak itu tidak akan masuk angin? Arghhh!" Alex berteriak seraya mengguyar rambutnya dengan gerakan kasar.
__ADS_1
Setelah mengganti boxer yang basah karena terkena ompol Cilla, Alex mengambil celana popok di tas perlengkapan si kembar yang ada di meja ruang tamu. Lalu kembali ke kamar untuk mengganti popok anak itu.
Tanpa berpikir dua kali, Alex menurunkan celana Cilla. Dan ...
"Aww .... Aww." Alex menutup matanya, malu. Ia benar-benar lupa kalau Cilla adalah monster kecil berjenis kelamin wanita. Meski tampak kecil dan tak menimbulkan rangsangan apapun, namun Alex merona merah saat melihat kue apem mulus milik gadis kecil itu. Putih, bersih, dan tak ada bulu di sana.
"Maaf ya, Nak. Aku harus melakukan ini agar kamu tidak sakit. Sampaikan maafku pada pacar atau suamimu, nanti. Akulah pria asing pertama yang melihat mahkota berhargamu itu." Sedikit mengerjap-ngerjap, Alex berpalimg tak ingin melihat mahkota si kecil itu.
Setelah berhasil menarik celana Cilla hingga terlepas. Alex memindahkan tubuh kecil itu ke sisi kasur yang masih kering. Lalu menutupi bekas ompol Cilla dengan bantal. Barulah ia memasangkan popok setelah melihat tata caranya di petunjuk penggunaan.
"Jika kau tidak mengganti rugi atas kejiwaanku yang rusak. Maka persahabatan kita cukup sampai di sini," gumam Alex yang langsung membanting tubuhnya di atas kasur lantai. Lalu terpejam bersama mimpi buruknya malam ini.
***
Deru napas Reyno naik turun tak beraturan. Begitu mobil terparkir, ia langsung berlari menuju klab malam di mana Jennie berada.
Menurut mata-mata yang melacak keberadaan Jennie melalui penyadap ponsel, klab malam adalah tempat yang Jennie tuju beberapa jam lalu. Karena terakhir Reyno mendapat info bahwa Jennie sudah kembali kerumah, Reyno sengaja menyuruh bodyguard dan mata-mata yang mengawasi Jennie untuk mundur istirahat. Reyno tidak pernah mengira bahwa Jennie akan keluar—bahkan memberanikan diri datang ke tempat yang membahayakan seperti itu.
Langkah berat itu berhenti tiga meter dari tempat tujuannya. Reyno menghela napas lega saat melihat Jennie masih duduk sendiri di depan bartender.
Terdengar Jennie meracau, memanggil nama Reyno dan mengucapkan maaf berkali -kali. Bau alkohol yang keluar dari mulut Jennie menyeruak masuk, membelai bulu-bulu hidung Reyno dengan ganasnya.
Detik itu juga, Reyno merasa ada remasan kuat yang membuat dadanya sesak. Ia tidak menyangka Jennie akan sefrustasi ini ditinggal olehnya.
"Maafkan aku, Sayang."
"Reyn ...." Seolah mengetahui miliknya. Jennie melirih saat merasakan ada sentuhan hangat yang mendekap tubuhnya. "Maafin aku Reyn ... tolong jangan pernah tinggalin aku, kamu boleh pukul aku sampai babak belur. Asal jangan pernah lari dari hidupku."
Tak butuh waktu lama, Reyno langsung merengkuh tubuh rapuh itu lebih dalam. Membawanya ke dalam dekapan hangat seoalah tak ingin melepaskannya. "Maafkan aku, Je. Aku terlalu egois dalam berlebihan dalam menghukummu."
"Hehe," cengir Jennie tanpa sadar. Wanita itu merangkum wajah Reyno, lalu memberikan sebuah kecupan yang membuat otak Reyno seketika memanas. "Kamu mirip Reyno," ucap Jennie.
__ADS_1
"Ini aku Reyno, suami kamu!" tegasnya kesal. Bagaimana bisa Jennie melupakan suaminya sendiri. Apa orang mabuk selalu bertingkah seperti ini? Pikirnya kesal.
"Reyno?" lirih Jennie dengan suara lirih dan terdengar frustasi.
"Iya, Reyno! Ini Reyno suami kamu," tandas Reyno mengkonfirmasi.
"Dasar istri nakal! Aku harus menghukummu malam ini. Kau melarangku pergi ke bar, tapi kau sendiri mabuh dan membahayakan dirimu sendiri. Apa kau ingin membuatku semakin gila?" Reyno mendumel, tanpa ia tahu bahwa objek yang sedang ia marahi tak paham sama sekali dengan ocehannya.
"Ini adalah terakhir kalinya kamu datang ke tempat seperti ini. Jika kau berulah lagi, aku akan mengurungmu di rumah selama lima tahun. Mengerti?"
Jennie hanya membalas nasihat Reyno dengan tawa ringan. Ia terus menusuk-nusik pipi Reyno dengan telunjuknya.
"Kamu ngeselin!" gerutu Reyno saat omongannya tak didengar oleh Jennie.
"Aku mau kamu, Reyn." Jennie yang masih berada di ambang batas kesadaran. Mulai menggerayangi tubuh Reyno. Tanpa peduli bahwa ia sedang berada di tempat umum dengan musik kencang yang menggebu-gebu di telinga.
"Yang sabar, ya. Kita cari hotel terdekat."
Reyno langsung menggendong tubuh lemas Jennie sebelum ia pingsan karena suara musik yang merusak gendang telinga. Klab malam bukan hanya berbahaya, tapi membuat Reyno mual karena bau alkohol yang bercampur dengan musik hip-hop. Membuat Reyno ingin muntah kalau terus berlama-lama di sana.
Bugh!
Mobil di tutup rapat, Reyno menidurkan tubuh Jennie yang berat di jok belakang. "Mabok itu merepotkan sekali, sih?" omelnya kesal.
"Reyn, aku mau kamu ...." Jennie merangkul leher Reyno. Menarih kepala itu hingga mata Reyno memebelalak sempurna. "Puasin aku, Reyn."
"Puasin?" Mendengar kalimat itu Reyno langsung bersemangat. Apa wanita mabuk seimut ini? Jarang sekali seorang Jennie mengucapkan kalimat mesum tanpa rasa malu.
"Reyn ...," lirih Jennie lagi. Tangan nakal Jennie sudah menyentuh antena tegang yang ada di bawah sana.
"Sabar Sayang. Aku harus nyetir mobil." Reyno mengecup dahi Jennie. Saat ia hendak pindah posisi ke depan, Jennie menarik tangan Reyno dan enggan melepas mahkota berharga milik Reyno. "Aku mau ini," lirih Jennie, matanya sudah sayu tanpa ada malu.
__ADS_1
Oh, Reyno mendesis tak berdaya saat jemari nakal Jennie memijit miliknya. Apa wanita mabuk seenak ini? Batin Reyno bertanya-tanya.
***