Suamiku Anak Mami

Suamiku Anak Mami
Jawaban Dari Suamiku Anak Mami


__ADS_3

Setelah tangisan itu reda. Reyno menyuruh Jennie pergi ke kamar. Ia masih harus menyelesaikan beberapa pekerjaannya, lalu kembali ke kamar sekitar pukul dua pagi.


Sungguh berat perjuangan menjadi seorang ayah, semua ini Reyno lakukan demi keluarga tercinta. Lelah yang Reyno rasakan akan sirna ketika melihat anak dan istrinya tertawa.


Reyno memutar knop pintu sediki pelan, namun betapa terkejutnya ia saat mendapati sang istri masih terjaga sepagi ini.


"Belum tidur? Ini sudah hampir pagi, lo." Nampaknya, Jennie masih asik memainkan game ular kebanggannya.


"Belum. Aku masih mikir," ucap Jennie yang masih bergeming menatap layar ponselnya. "Bagaimana mungkin aku bisa tidur dalam keadaan galau seperti ini."


"Masih mkirin yang hilang itu?" tanya Reyno seraya menutup pintu.


Pria itu mengecup kedua pipi Cilla dan Cello. Lantas Reyno mengambil air putih di atas nakas.


"Ya, kayaknya aku tahu. Sekarang kamu agak beda. Sudah berhenti manja sepertinya. Tapi bukan karena kamu lagi marah sama aku 'kan?"


“Tidak sama sekali. Oh ya, bagaimana rasanya?” Reyno menaruh gelas kosong yang baru habis isinya di atas nakas. Ia mulai naik ke atas ranjang. Mencium pipi Jennie yang masih duduk dengan layar kebanggan di tangannya.


“Aku cuma mau lihat bagaimana reaksi kamu jika memiliki suami normal? Mungkin saja kamu ingin hidup layaknya wanita pada umumnya. Tapi sepertinya kamu tidak senang. Terbukti bahwa kamu merasa kehilangan.”


"Ya, aku memang kehilangan," jawab Jennie apa adanya.


"Apa kau ingin tahu sebuah rahasia?"


Menyerngitkan dahinya bingung. Jennie semakin tidak paham dengan arah bicara suaminya.


Jennie yang tadinya pura-pura sibuk main game, langsung menoleh dan meletakkan ponselnya di samping bantal.


“Rahasia apa?”


“Tentang alasan kenapa aku selalu bersikap manja selama ini.”


Jennie menatap Reyno tidak percaya. Benarkah ada sebuah rahasia di balik sikap manja Reyno? Dengan penuh antusias Jennie berkata,


“Bukankah karena mami selalu memanjakanmu sejak kecil?”

__ADS_1


“Salah satunya, tapi ada hal lain lagi.”


Reyno merengkuh tubuh Jennie, lalu menaruh kepala itu di samping dadanya. Seolah menyuruh sang istri untuk lebih dekat dengannya.


“Aku manja bukan tanpa alasan. Selama ini, manja adalah cara terbaik untuk aku bisa dekat dengan wanita yang paling aku sayangi.”


Deg. Jantung Jennie berhenti sejenak. Menimbang perkataan Reyno yang entah mengapa terdengar menusuk. Mengandung arti sebuah pengorbanan di dalamnya.


Reyno masih memain-mainkan ujung rambut Jennie dengan tangannya. Menggulung dan mengulur berkali-kali.


“Maksudnya?” Jennie butuh penjelasan lebih rinci.


“Jika semua sifat dan sikapku yang aneh ini dapat membuatku semakin dekat dengan pasangan. Kenapa pula harus ada kata berubah?”


Reyno tersenyum manis sekali. Membuat hati Jennie bergetar walau sudah sering melihatnya.


“Manja adalah cara terbaik untukku agar bisa dekat denganmu. Mengutarakan apapun yang aku pikirkan tanpa rasa malu. Karena yang aku tahu, di dunia ini masih banyak suami yang kurang terbuka pada istrinya. Bukan karena mereka tidak mau, tapi karena mereka tidak tahu bagaimana cara memulainya. Merasa tidak pantas dan malu untuk mengeluh. Harus jadi batu kokoh yang kuat. Tanpa perduli pada hidupnya bahwa mereka juga butuh sandaran hidup. Dan aku ...” Reyno menggantung bicaranya. Lalu memeluk tubuh Jennie dengan gemas.


“Aku termasuk dalam kategori suami beruntung karena dapat memiliki kedekatan yang hampir tanpa jarak dengan istriku.”


"Aku berhenti manja karena aku ingin melihat seperti apa reaksimu. Dan ternyata, kamu merasa kehilangan. Yang menandakan bahwa kau menyukai sikapku. Merindukan keterbukaan dan setiap tingkah lakuku yang tidak seperti pria normal."


"Reyn," tubuh Jennie bergetar tanpa sebab. "Aku memang merasa kehilangan selama ini, tapi aku ngga nyangka kalau sikap manjamulah yang telah hilang. Dan lebih parahnya lagi, aku tidak pernah menyangka bahwa aku menyukai sikap manjamu. Pasalnya, aku selalu mengeluh setiap kali sikap manjamu datang. Tanpa sadar bahwa aku sudah terbiasa, bahkan merasa kehilangan saat hal itu tidak lagi ada."


Jennie menitikkan air matanya dalam rasa haru yang tak terbendung. Ia tidak pernah menyangka bahwa alasan dari sikap Reyno yang manja akan sedalam itu.


“Terima kasih, menjadi istrimu adalah keputusan paling bijak yang pernah aku buat.”


"Sama-sama, Sayangku."


Malam itu, dunia terasa lebih hangat dari biasanya. Ada bulan penuh yang bertengger di atas langit. Bintang pun bertaburan di mana-mana. Seolah ikut bersorak ria menyaksikan sepasang suami istri yang manis.


"Aku masih gak nyangka, alasan kamu manja ternyata seperti itu. Aneh, tapi terbukti berhasil. Aku yang tadinya tomboy langsung luluh kalau sudah ngadepin sikap manja kamu, Reyn."


"Uluhhh." Reyno mencubit pipi Jennie gemas. "Sini aku ceritain."

__ADS_1


Jennie mulai bergelayut di dada Reyno. Memainkan roti sobek kotak-kotak dengan jari jemarinya. "Cepet cerita, aku mau denger semua."


"Dulu memang aku manja dan selalu dimanja, tapi seiring berjalannya waktu semua itu menghilang perlahan. Sikap manjaku yang dulu berubah karena semakin beratnya tanggungan yang harus di hadapi. Perlahan aku mulai mempelajari banyak hal. Aku tidak bisa manja terus. Dan ...."


"Jadilah aku yang sekarang. Selain ke kamu dan mami, aku ngga bisa manja pada orang lain. Aku masih tetap pria normal. Aku bukan tidak bisa berubah, tapi memang aku sengaja tidak berubah. Demi bisa dekat dan terus mendapatkan perhatian dari kamu."


Air mata kembali menetes di pipi Jennie. Kali ini semakin banyak hingga tak terbendung lagi.


"Hikss ... aku terharu Reyn. Tolong jangan berhenti manja ya, aku gak mau kamu berhenti manja."


Mendengar itu, Reyno sedikit menyerngitkan dahinya, heran. "Bukannya kamu sering ngeluh kalau aku lagi manja?"


"Iya. Tapi aku merasa kehilangan saat kamu berhenti manja. Kamu seperti bukan suamiku yang biasanya. Mungkin ini terdengar gila, tapi nyatanya aku mencinta semua sikap manjamu." Jennie menjeda ucapannya sejenak, meraup oksigen sebelum mulai bicara lagi.


"Reyn, tolong jangan berhenti manja. Aku suka pria yang tidak normal. Aku suka pria posesif. Aku suka pria yang hobinya cemberut. Aku suka semuanya selama itu adalah kamu."


"Iya, mulai sekarang dan seterusnya aku akan terus manja sama kamu. Aku gak peduli meski dunia menghina sekalipun."


Berawal dari sang mami yang selalu memanjakan anaknya, Reyno tumbuh dengan pribadi yang lembut dan peka terhadap lingkungan sekitar. Terutama terhadap wanita.


Awalnya memang hanya sekedar manja dan kekolok-kolokan saja, namun lama kelamaan ia sadar. Di antara kakak dan papinya, Reyno adalah pria yang paling mengerti hati sang ibu. Reyno tahu semua tentang maminya, Reyno selalu dijadikan tempat berkeluh kesah oleh maminya.


Dari situ, Reyno mulai menerapkan kemanjaannya pada sang istri. Dan terbukti berhasil. Reyno adalah pria pertama yang mampu merubah sikap dan sifat liar Jennie. Kelembutan Reyno dan sedikit gaya merajuk yang menusuk membuat Jennie semakin hari semakin berubah.


Tanpa harus ada gaya tegas apalagi kasar. Reyno mampu mendidik istrinya pada jalan kebaikan.


Manja bukanlah sebuah kecacatan, karena Reyno masih tetap pria yang bertanggung jawab pada kodratnya. Manja tidak sama dengan malas. Meskipun banyak orang yang menganggap dua kata itu sama saja.


Malas adalah kondisi di mana seorang pria tidak mau bekerja, dengan berbagai alasan ini itu. Jika kita tidak bisa, kita masih bisa berusaha. Tapi jika kita sudah menerapankan kata malas, meskipun ia bisa melakukan apapun tetap judulnya malas.


Reyno adalah si manja yang rela melakukan apa saja. Memiliki pikiran dewasa di balik kelaukannya yang mencengangkan. Setara dengan anak kecil, bahkan.


Namun nyatanya, si manja dapat membuktikan bahwa ia layak disebut pira. Rela berkorban, mau hidup susah, tidak malu bekerja menjadi kuli bangunan sekalipun.


Si manja rela melakukan apapun demi keluarganya.

__ADS_1


***


__ADS_2