Suamiku Anak Mami

Suamiku Anak Mami
Ngambek


__ADS_3

Reyno dan Jennie sudah berada di depan apotik dengan jararak lima meter. Kedua bocah itu masih saling dorong mendorong sedari tadi. Mungkin sudah lima belas menit mereka melakukan hal seperti itu. Jangan aneh dengan tingkah laku mereka berdua yang seperti ini. Memang beginilah desain pernikahan mereka berdua. Unik tiada duanya. Duh, Menggemaskan kalo dipikir-pikir.


"Kita pulang aja deh, ngga usah beli begituan." Jennie yang sudah malas berdiri sedari tadi menyarankan untuk pulang saja. Daripada harus menahan malu karena dilirik banyak orang. Pikirnya.


"Yah ... ko pulang sih, terus kita gak jadi begituan, dong ?"


"Ya engga, lah!"


"Jennie tega banget sih...." Aku kan udah lihat tutorial yang ada di video tadi, masa batal, yang ada aku bakalan di suruh selingkuh sama kambing. Ucap Reyno dalam hatinya.


"Kan janjinya mau beli bareng, tapi Reynonya tiba-tiba ngga mau. Malah dorong-dorong aku terus. Kamu ngeselin banget tau!" Mellipat kedua tangannya di depan dada sambil menatap Reyno malas.


"Soalnya penjaganya wanita semua, aku kan malu."


"Ya sudah! Makanya kita pulang aja." Tanpa sadar perdebatan mereka dilihat oleh beberapa orang yang lalu lalang, banyak yang tertawa melihat tingkah lucu mereka berdua.


"Ya sudah, ayo kita beli sama-sama, deh. Tapi jangan pulang." Akhirnya Reyno mengalah daripada tidak dapat jatah. Jennie dan Reyno bergandengan mantap menuju etalase. Di mana ada dua penjaga wanita yang tersenyum ramah saat melihat kedatangan mereka.


"Selamat datang, ada yang bisa di bantu?" Cukup lama mereka terdiam dalam kebingungan, sampai akhirnya Reyno membuka omongan.


"Saya mau beli koyo," ucap Reyno lantang. Jennie langsung menohok. Menyerngitkan dahinya dengan air muka bingung.


Kok jadi beli koyo, sih! Memangnya koyo bisa dipakai untuk alat kontrasepsi? Panas, dong?


"Reyn...." Jennie menyikut lengan Reyno, namun anak itu tetap membeli koyo yang dia bilang tadi. Entah apa yang di pikirkan cowok pecinta d**rakor itu.


Setelah selesai membayar, Jennie dan Reyno langsung kembali ke parkiran motor. Gadis itu menendang- nendang udara sepanjang langkah kakinya. Bibirnya manyun sambil menatap punggung Reyno dari belakang.


"Kenapa kamu beli koyo, sih?" Kesal itu pasti. Rasanya Jennie ingin mencakar Reyno. Setengah mati menahan malu, malah akhirnya beli koyo.


"Kita lupa bawa buku nikah."


"Hah?" Jennie melongo takjub. "Mau ngapain bawa buku nikah?"


"Hissss. Jennie itu gimana, sih?" Reyno menyandarkan badannya di motor Jennie. "Kita itu kan pasangan muda."


Iya terus apa masalahnya, Reynoo!


"Memangnya apa hubunganya pasangan muda sama buku nikah?" Jennie mulai naik darah. "Kenapa beli pil KB harus bawa buku nikah segala?" Dahi Jennie sudah mengkerut-kerut sedari tadi. Menahan amara yang entah sulit sekali ditahan.


"Harus banget!"


"Dapet teori dari mana? Ngikut- ikut drama Korea aku gantung kamu ya, Reyn."


"Aku engga lagi ngikutin drama Korea. Coba kamu pikir deh, kita itu masih muda. Kalau misalkan kita beli obat begitu tanpa nunjukin buku nikah, mereka pasti ngiranya kita mau berbuat mesum."


Aku harus percaya Reyno apa tidak, nih?


"Kenapa bisa begitu?" Mikir lama.

__ADS_1


"Karena kita ngga bawa buku nikah."


"Ohh, aku paham maksud kamu. Jadi kita harus bawa buku nikah biar mereka percaya kalau kita sudah menikah beneran."


"Yups. Pintelna istli athuh." Reyno berbicara sok imut.


"Tapi memangnya harus seperti itu?" Jennie sedikit ragu. Masa iya bawa buku nikah untuk meyakinkan.


"Hmmm. Kamu pernah ngga, lihat alkohol dan roko yang dijual di supermarket. Pasti ada tulisan 18+ kan? Sama halnya dengan pil KB, Yang boleh beli hanya yang sudah menikah. Waktu kita mau ngontrak juga suruh kumpulin surat nikah kan?." Ini hanya pikiran bocah delapan belas tahun.


"Takutnya nanti malah kita ngga di bolehin beli. Anak kecil kalau beli roko di supermarket juga tidak boleh. Sama halnya kita yang belum terlihat sebagai pasangan yang sudah menikah." Hanya Reyno yang memiliki pemikiran seperti ini. Terkadang terlalu pintar juga bahaya.


"Benar juga ya, Reyn. Suami aku pinter banget sih. Aku malah ngga kepikiran sampai ke situ." Jennie ikut-ikutan percaya.


"Reyno gitu, loh!" Membusungkan dadanya bangga.


"Ya udah. Ayo kita pulang. Ambil buku nikahnya dulu, tapi jangan beli di apotik ini lagi. Hehehe" Jennie menaiki motornya.


"Iya Malu, tadi kan udah ke sini." Reyno juga ikut naik di belakang. Jangan suruh dia di depan ya, Reyno kan tidak bisa naik motor.


***


Akhirnya mereka pulang kembali mengambil buku nikahnya. Jangan mencela, memang begini romansa cinta pasangan muda. Imut-imut menggemaskan gimana gitu.


Sekarang kedua bocah itu sudah berada di di depan apotik, bukan apotik yang tadi, ini apotik yang lainnya. Jennie dan Reyno berjalan beriringan masuk ke sebuah apotik yang cukup besar. Lengkao dengan buku nikah yang ada di tangan Reyno. Petugas apoteker itu langsung menyambut Reyno dan Jennie dengan gerakan Tiga S. Senyum, sopan, santun.


"Ya?" Apoteker itu mendadak linglung. Ada apa ini? Mengapa ada pangeran tampan menunjukan buku nikahnya pada ku?


"Kita sudah menikah."


Apa hubunganya denganku kalau kalian sudah menikah?


"Maaf, maksudnya bagaimana ya?"


Kita mau membeli pil KB." Reyno berkata lagi. Sementara Jennie hanya menunduk malu di belakang Reyno.


Ya ampun, kalian mau beli pil KB ternyata. Hahaha. Menggemaskan sekali sih!


"Tunggu sebentar ya...." Tersenyum.


Kariawan itu berlalu pergi. Kemudian ia menyuruh temannya yang satu lagi untuk mengantarkan beberapa sample pil KB untuk Reyno. Karena jujur ia tidak tahu apa masih bisa menahan tawanya jika bertemu dengan Reyno lagi. Ia lekas membuka ponselnya, hendak membuat status di instagram, meneceritakan pada dunia bahwa ada kejadian lucu yang baru saja di lihatnya.


'Baru kali ini ada yang beli pil KB sambil bawa buku nikah.'


Begitulah insta story yang ditulis sang Apoteker.


"Permisi Kaka, ini ada beberapa sample pil KB, mau yang mana?"


Jennie maju duluan. "Yang ngga bikin hamil, Kak." Gadis itu yang menjawab.

__ADS_1


Kariawan itu sedikit tersenyum geli . "Seumanya akurat Kaka, asal rajin meminum dan mengikuti panduannya dengan benar." Menjelaskan pada Reyno dan Jennie.


"Kalau begitu yang mana saja, terserah Kakanya." Reyno yang menjawab.


Apoteker itu memilih salah satu merek pil KB untuk di bungkus. Reyno membayar dan segera pulang. Masalah pil KB sudah selesai. Waktunya mempraktekan beberapa tutorial yang sempat Reyno tonton sebelum pulang kerja tadi. Jangan lupa ingat pesan Pak Mandor.


"Pilih tutorial yang gampang saja, untuk pertama kali jangan terlalu banyak gaya." Begitulah Pak Mandor saat memberi wejangan pada Reyno yang polos itu. Bahaya kan, kalo di praktekin semuanya.


***


Akhirnya Reyno dan Jennie sudah berada di rumah. Jennie sedang membaca peraturan dalam menggunakan pil KB.


"Ternyata harus minum setiap hari, Reyn!" Jennie berseru. Reyno datang dan memberikan segelas air putih pada istrinya.


"Ya sudah, buruan di minum obatnya." Reyno sudah tidak sabar rupanya. Jennie segera meminum obatnya. Reyno terlihat tersenyum setelah melihat itu. "Yuk, ke kamar," ajak Reyno riang gembira.


"Tunggu dulu Reyn," Jennie menahan tangan Reyno saat ia hendak beranjak.


"Apa lagi?"


"Di sini peraturannya baru boleh melakukan hubungan badan setelah dua hari meminum pil KB—nya." 🤣


Sontak wajah Reyno berubah murka. "Apa-apaan! Biasanya obat langsung berfungsi kalo sudah di minum." Marah besar. Reyno langsung merebut kertas yang sedang Jennie pegang dan membacanya.


"Jadi aku harus nunggu dua hari lagi?" Naik pitam dia.


"Iya...." Jennie mengangguk. Pura-pura kecewa gitu, deh.


"Jangan tidur sama aku!" Reyno ngambek dan masuk kamar duluan. Cowok itu membanting tubuhnya dengan kasar dalam posisi tengkurap. Jennie langsung berlari menyusulnya.


Apa-apaan, sih? Kayaknya apoteker sialan itu sengaja ngerjain aku. Dia jomlo, sirik lihat pengantin baru. Makanya dia kasih aku obat yang dosisnya lambat begitu. Reyno menggerutu dalam hati.


"Reyn, kok kamu marah sama aku, sih?" Jennie mencoba membujuk suaminya yang sedang ngambek. Di saat-saat seperti ini, Reyno pasti tidak bisa mengendalikan dirinya.


"Kamu tukerin dulu obatnya sama yang baru. Masa harus nunmnggu dua hari dulu, sudah gila apa apoteker itu." Menggerutu di bawah bantal. Kebiasaan Reyno kalau sedang ngambek pasti menyalahkan orang lain.


"Emm, Reyn. Mungkin memang obat ini berbeda dengan obat lain. Cara kerjanya memang seperti itu."


"Kalau begitu kamu jangan tidur di sini!" Yang kena Jennie.


"Terus aku tidur di mana, dong?"


"Di kamar mandi sana!" bentak Reyno jutek. Teganya Reyno kalau sedang ngambek.


Kejadian ini persis seperti malam pernikahan mereka kala itu. Saat Reyno menyuruh Jennie tidur di lantai karena risih dengan kehadiran istri baru.


***


Sabar ya, ini proses yang sesunguhnya. 500 like aku up lagi, ya. Wkwkkw.

__ADS_1


__ADS_2