Suamiku Anak Mami

Suamiku Anak Mami
Akhirnya bisa Pamer


__ADS_3

"Pagi, Pak!" Reyno datang bekerja dengan air muka bahagia, senyum dari bibirnya sudah secerah sinar surya di pagi hari.


Ini tandanya Reyno sedang dalam suasana hati yang baik. Padahal niatnya hari ini mau godain Reyno, tapi sepertinya anak itu sudah mendapatkan surga dunia yang selama ini selalu jadi target keinginannya. Akhirnya bisa juga. Pikir Pak Mandor.


"Minggi-mingir kalian ... semuanya minggir. Ada yang baru kehilangan perjakanya tuh." Sontak semuanya melihat ke arah Reyno, ikut senyum-senyum setengah menggoda.


"Apa kalian! Nikah sana kalau mau kayak aku." Skak mat. Reyno melotot dengan wajah juteknya. Semuanya langsung berpaling kembali. Terutama yang jomlo.


Maklum, kebanyakan pekerja di sini adalah perantau. Berpindah dari satu tempat hingga akhirnya terdampar di sini. Begitulah pekerja proyek, tidak bisa terus menetap. Jadi rata-rata pekerja di sini pasti jauh dari anak istri, dan sebagian belum menikah. Makannya Reyno mencibir mereka. Karena hanya Reyno yang bisa memeluk istrinya setiap hari.


Memang beginilah hidup manusia. Yang di Bandung ke Jakarta, dari Jakarta ke Bandung. Orang bilang kalau belum merantau belum sukses. Padahal di mana pun kita bekerja, tujuannya tetap sama, mencari uang untuk makan. Istilah kasarnya begitu. Ya, namanya manusia. Katanya ingin mencari pengalaman baru di tempat lain. Barang kali keberuntungannya ada di kota rantau. Iya tidak?


"Huh. Meuni sombong pisan euy, si Reyno. Mentang-mentang sudah di kasih jatah nutrisi. Ngabibita euy.." Sambil menyeduh kopi.


"Bae atuh." Reyno ngomong Sunda.


Awas ya, kalau tidak kuat angkat semen dua karung sekaligus." Salah seorang temannya berseru.


"Tiga sekaligus juga kuat, Pak." Reyno tergelak.


"Ngararopi ... ngararopi euy. Gawe bae kaya moal." Ada lagi yang berseru ngajakin minum kopi.


Inilah keadaan nyata para lelaki tangguh kalau di pagi hari. Harus ngopi dulu sebelum mulai beraktifitas, no kopi no life. Kalau Reyno lebih suka susu, ia tidak suka yang pait-pait katanya. Selera anak Mami memang beda.


Untung pak mandor menyediakan kopi, susu, dan teh gratis setiap paginya. Jadi tidak perlu jauh-jauh mencari kopi di luar. Katakan terima kasih pada pak Farik.


"Eleuh ... eleuh... Reyno, pagi-pagi minum susu. Masih kurang tah, susu yang semalam?" Semuanya tergelak mendengar lawakan Pak Mandor. Selalu ada saja cara untuk menggoda Reyno. Tidak hanya pak mandor, beberapa pekerja lainnya juga suka menggoda Reyno. Katanya enak kalau liat Reyno ngambek. Hiburan gratis di tengah lelahnya aktifitas.


"Biasanya juga minum susu kan Pak, kenapa baru sekarang protesnya." Reyno langsung manyun-manyun lucu dengan dahinya yang mengkerut.


"Ya kali aja kamu sudah tidak mau susu sapi. Secara sudah dapat susu perawan kan, hahahaha...." Semuanya tergelak lagi. Hanya Reyno yang manyun sendiri sambil memegang segelas susu.


"Dasar mandor jomlo!" cibir Reyno pada pak mandor.


"Potong gaji pak ... potong gaji." Temannya berseru sebagai kompor.


"Sudah ... sudah. Cepat habiskan minuman kalian, hari ini kerja kita berat karena harus rombang ulang beberapa bangunan yang sudah jadi."

__ADS_1


"Loh kok begitu, Pak?" Reyno protes sambil menyerngitkan dahinya.


"Gedung ini sudah dipindah tangan, jadi ada beberapa konsep bangunan yang akan di ganti." Pak mandor menjelaskan.


"Huh. Dasar orang kaya seenaknya saja. Padahal para pekerja di sini sudah capek-capek membuatnya, berbulan-bulan lagi." Reyno tidak terima. Padahal kan Papinya yang sedang diomongin. Xixixixi.


"Sabar, Reyn. Ini bagus untuk kita. Kan masa kerjanya jadi di perpanjang, yang penting bayaran lancar. Susah loh, nyari proyek baru lagi."


"Oh begitu ya Pak, hehehe." Menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


Inilah nasibnya jadi kuli bangunan. Pekerjaanya tidak tetap. Kalau proyeknya sudah selesai ya nganggur. Menunggu ada proyek lagi baru di panggil, dan itu tidak menentu.


"Kerja ... kerja ..." Teriak Pak Mandor.


"Huuuh. Pagi-pagi sudah megang godam," protes salah satu pekerja. Hanya bualan para lelaki. Manusia memang tempatnya mengeluh.


(Godam\= Palu besar pemecah bangunan.)


"Reyno ngga mau megang godam, mau pake palu saja," kelakarnya sambil ketawa.


"Mau hancurin rumah berbie, Reyn?"


Aktifitas bekerja di mulai. Semua pekerja mulai berpencar mengambil jatah kerjanya masing-masing.


***


"Besok kita ke Bandung." Farhan mendatangi ruangan William.


"Besok?" tanya William kaget.


"Iya, besok. Jika Tuan Muda mau ikut, tapi tujuan kita hanya untuk mengecek pembangunan proyek yang baru diakuisisi."


"Tempat kerjaan Reyno?" William menyeringai senang. Akhirnya bisa ketemu Jennie. Selalu gadis itu yang dipikirkan William setiap harinya.


"Iya ... tapi jangan sampai Nyonya tahu. Beliau akan panik kalau sampai melihat Tuan Muda Kedua bekerja sebagai kuli bangunan." Farhan melirik meja William yang kosong. Tidak ada file atau dokumen di sana. Pasti William sedang malas bekerja. Tuan Muda yang satu ini memang harus selalu diingatkan kalau masalah tanggung jawab.


"Siap Boss! Tapi boleh ketemu Sweetheart, kan?" izin William setengah memohon. Ia sudah memikirkan banyak hal jika bertemu dengan Jennie. Salah satunya mengajak gadis itu kabur kemana saja.

__ADS_1


"Jangan macam-macam!" Farhan memberikan nada ancaman. William langsung mendesah dengan kecewa.


"Pelit kau Farhan!" Cibir William. Di mana Farhan sama sekali tidak peduli dengan ucapan pria itu.


"Mana dokumen yang saya suruh periksa kemarin kemarin, Tuan?" Farhan melirik meja kerja William lagi.


"Kaka Farhan yang tampan, beri aku waktu satu hari lagi, aku akan mengerjakan semuanya hari ini. Dan berhentilah memanggilku Tuan, oke." William bangun dari posisi duduknya. Ia memijat kedua bahu Farhan. Meluluh kan amara pria garang yang mulai meninggi.


"Baiklah. Saya akan memanggil anda William." Akhirnya Farhan mengucapkan kalimat itu. "Tapi selesaikan pekerjaan ada sekarang juga!" Marah.


Cih! Hidupmu kenapa terlalu lempeng begitu sih, Farhan.


"Kaka Farhan tersayang. Panggilah aku William. Atau apa saja lah, yang penting jangan gunakan bahasa baku. Menggelikan." William tersenyum jenaka. Lantas ia pura-pura merapikan dasi dan kerah baju Farhan.


"Jangan menguji emosiku William!" Semakin marah.


Lihatlah ... sudah menggunakan bahasa seakrab itu saja masih menyeramkan.


"Aku akan segera kerjakan! Kemarin aku sangat sibuk mengurus masalahku dengan Tere. Mengertilah Farhan." Rasanya William ingin sekali berlutut di hadapan Farhan. Tindakan pria itu terlalu menyeramkan jika menyangkut masalah kedisiplinan. Bisa-bisa ia memblokir semua kartu atm William.


"Sebaiknya kamu kerjakan sekarang juga. Sebelum Tuan Haris marah dan akan lebih parah nantinya."


"Baiklah Kakak ku tercinta." William mendorong Farhan keluar dari kantornya.


Fiuh. Akhirnya pergi juga.


Gara-gara sibuk mengurus masalah Tere, semua pekerjaan William jadi terbengkalai. Pria itu mengambil beberapa berkas dari laci bawahnya. Menumpuknya di atas meja, lalu memeriksa lembarannya satu persatu.


"Argh! tidak konsen begini sih?" Menyandarkan kepalanya di sandaran kursi. "Gadis gila itu sedang apa ya? Aku ingin sekali melihat keadaannya."


***


Like dan vote yang banyak ya...


Terimakasih.


❤❤

__ADS_1


Anarita.


__ADS_2