
Jennie langsung buru-buru pergi ke rumah sakit begitu mendapat panggilan mengejutkan dari Reyno. Bahkan ia sampai menitipkan Cilla dan Cello pada gurunya, lantaran harus memutar balik mobilnya menuju rumah sakit.
Selama dalam perjalanan ia begitu khawatir. Mengingat bagaimana paniknya Reyno, Jennie yakin pria berhati melankolis itu pasti sangat ketakutan. Bisa-bisa ia menyalahkan dirinya sendiri atas kejadian yang sama sekali bukan tanggung jawabnya.
"Kurang ajar! Beraninya kau membuat nyawa anakku dalam bahaya. Apa kau tahu bahwa Mila adalah putriku satu-satunya? Dia lebih berharga dari apapun. Saya akan menuntutmu karena kasus ini," ancam ayah Mila.
Jennie langsung berlari begitu mendengar suara seorang bapak meneriaki Reyno. Pria itu menunduk dengan wajah bersalah. Tanpa berani mengucapkan sepatah kata apapun pada Ayah Mila.
"Jangan sentuh suami saya!" teriak Jennie saat ada pukulan yang hendak melayang di tubuh Reyno. Sontak Reyno dan ayah Mila menoleh pada sumber suara itu. Untung Jennie datang tepat waktu.
Melangkah pasti dengan gagah berani. Jennie berhenti tepat dua meter di hadapan ayah Mila.
"Suami saya tidak bersalah! Putri Andalah yang bersalah karena telah mencoba mengganggu rumah tangga kami. Seharunya Anda jangan main hakim sendiri. Cari tahu dulu duduk perkaranya."
Melihat sudut bibir Reyno yang sedikit robek, Jennie semakin naik pitam. Ia tidak terima melihat suaminya menjadi korban amukan seorang bapak marah. Lantaran anaknyalah yang salah. Sayangnya, suster datang dan memanggil bapak tua itu karena anaknya baru saja sadar. Bapak tua itupun masuk ke dalam—meninggalkan Reyno dan Jennie di koridor tunggu.
"Duduk dulu, yuk!" Lembut, Jennie menuntun Reyno untuk duduk di bangku koridor.
Ia mengambil tissu dari dalam kantongnya. Lalu mengelap bekas noda darah di bibir Reyno. "Sakit?" lirih Jennie seraya mengusap lembut pinggiran luka itu dengan tisu—hingga noda darahnya bersih.
__ADS_1
"Lumayan....," keluh Reyno datar.
"Maaf ya, aku telat datangnya. Kamu sampai luka-luka begini. Sakit ya...?" Bukannya menjawab. Reyno malah menghambur ke pelukan istrinya. Mengabaikan orang yang lalu lalang di koridor itu.
"Aku yang harusnya minta maaf. Karena sudah melibatkan kamu dalam masalah ini. Aku terlalu percaya diri, aku pikir bisa mengatasi hal ini dengan mudah. Ternyata masalahnya menjadi panjang dan semakin runyam," ucap Reyno sedih. Air matanya merembas, membasahi kulit leher Jennie dengan cairan hangat itu.
Puk ... puk ... puk. Jennie menepuk bahu Reyno lembut. Jennie yakin, sebelum ia datang ke rumah sakit pasti Reyno sangat ketakutan. Masalahnya ini menyangkut nyawa seseroang. Gadis itu dilarikan ke rumah sakit saat sedang bersama Reyno.
"Sudah jangan dibahas. Aku ini kan istri kamu. Malah aku akan marah kalau kamu sampai berani menyimpan hal ini sendirian. Ayo kita hadapi sama-sama." Pelukan mereka terlepas. Jennie merangkum wajah Reyno dengan kedua tangannya. "Jangan nangis, dong. Apa sih yang kamu takutkan? Aku sudah ada di sini, loh," ujar Jennie seraya mengusap air matanya.
"Aku takut nyawa gadis itu tidak bisa terselamatkan. Maka dari itu aku langsung menghubungi pengacara Papi untuk mengurus hal ini. Bagaimanapun juga, aku yang membuat penyakit jantung gadis itu kumat. Karena penolakkanku."
"Beneran?" Bagai anak kecil. Reyno mencoba memastikan sekali lagi.
"Iya. Sayang...," lirihnya gemas. "Kamu kenapa ngga ngelawan pas dipukulin sama bapaknya gadis itu? Aku ngga terima loh, Reyn, lihat wajah kamu sampai memar-memar begini."
"Aku takut. Soalnya aku salah," akunya dengan wajah memelas iba.
"Ikh. Bandel! Udah dibilang kamu gak salah. Awas ya, berani nyalahin diri kamu sendiri," ancam Jennie geram.
__ADS_1
Mempunyai suami berhati malaikan memang harus di jaga benar-benar. Reyno terlalu baik untuk dunia yang jahat. Bahkan, pria itu tidak dapat membedakan mana orang baik dan bagaimana orang jahat.
"Tuan Muda, bagaimana keadaan Anda?" Pengacara suruhan Papi Reyno datang. Pria paruh bayah itu langsung khawatir begitu melihat wajah Reyno yang sembab dan ada beberapa memar luka.
"Suami baik-baik saja. Tapi kami butuh bantuan Bapak agar si Tua itu berhenti menuduh Reyno mencelakai anaknya."
"Tenang saja Nona Muda, Tuan Muda, saya pastikan semuanya akan baik-baik saja. Lebih baik Nona bawa Tuan Muda ke ruang pengobatan," ujar sang Pengacar itu.
"Terima kasih Pak, semoga Bapak bisa membantu Reyno untuk membuktikan bahwa ia tidak bersalah. Sekali lagi terima kasih banyak, Pak."
"Tidak usah sungkan. Melindungi keluarga Haris memang sudah menjadi kewajiban saya. Permisi."
Melihat tingkah Reyno yang manja seperti anak lima tahun, membuat pengacara itu muak dan ingin segera pergi.
Sedari tadi, Reyno terus memeluk Jennie erat. Menyembunyikan wajahnya di ceruk leher sang istri dan menonjolkan sifat kemanjaanya. Bahkan tidak mau menoleh pada pak pengacara sedikit pun.
Manjanya, persis saat masih duduk di bangku TK. Saat Tuan Haris terpaksa harus menghadiri rapat kerja seraya memangku anak bungsunya. Lantaran Reyno tidak mau terlepas dari gendongan ayahnya.
***
__ADS_1