
Jennie mengalungkan kedua tangannya di perpotongan leher sang suami. Kedua berdiri saling berhadapan di bawah lampu kamar yang bercahaya pendar. Mereka saling menatap dan mengunci pandangan satu sama lain. Sekejap saja keduanya tak ingin berpaling, bahkan untuk sekedar mengedipkan mata sekalipun.
"Sekarang boleh?" izin Reyno sambil membelai wajah berkilau sang istri yang di sinari pencahayaan temaram. Saat ini pikiran Reyno benar-benar hanya tertuju pada Jennie. Serta bagaimana semua ini akan di laluinya nanti.
"Lakukanlah...." Jennie melepas satu tangannya, jari-jemarinya bergerak turun hingga menyapu dada bidang suaminya. Gadis itu dapat merasakan gemuruh jantung Reyno yang berdetak hebat, bagaikan ada ribuan kuda yang berlarian di dalamnya.
Malam ini Jennie terlihat sangat cantik. Itulah yang Reyno rasakan saat dimabuk kebayang. Setiap sentuhan gadis itu terasa menyengat seperti aliran listrik dua ribu volt. Hmmm. Untuk pertama kalinya Reyno benar-benar terbuai dengan pesona wanita. Dialah Istri sahnya. Jennie.
Dengan hati-hati, Reyno mulai membaringkan Jennie di atas pembaringan. Netra beningnya masih menatap lekat Jennie, ia mulai mendekatkan wajahnya, perlahan bibirnya mulai mendekat, menyentuh permukaan lembut yang entah kenapa terasa begitu manis. Jennie semakin mengeratkan pelukannya.
"Aku mencintaimu, Jennie." Reyno mulai meningkatkan aktivitas serangannya pada bibir manis Jenie. Perempuan itu membakar dengan perlawanan yang sama, tertuju pada satu arah dalam bisikan dewi cinta. Jennie membuka mulutnya perlahan sebagai tanda permainan akan segera dimulai. Reyno memasukkan lidahnya ke dalam rongga mulut Jennie. lidah mereka saling membelit menikmati getaran rasa yang panas merasuki jiwa.
Reyno makin menggila dan meningkatkan serangannya pada titik pertahanan Jennie yang mulai melemah, menikmati alur permainan dengan naluri yang berjalan lancar bagai air terjun yang meluncur dari atas tebing. Sesaat Reyno menghentikan permainannya, lalu melanjutkan gerilya apiknya itu.
Penutup tubuh bagian atas Jennie mulai melonggar, sebagian dari baju mereka sudah terserak di lantai.
Wow ... Reyno menyaksikan apa yang disebut keindahan itu. Tanpa pikir panjang dia melanjutkan permainannya. Jennie tak kuasa menahannya, pertahanannya melemah dan semakin mengikuti alur permainan Reyno.
Walaupun baru pertama kali melakukannya, Reyno begitu menikmati setiap proses kegiatannya itu. Bagai seorang balita yang sedang kehausan, dia tak memberi kesempatan pada Jennie untuk bertahan. Mengabsen setiap inci permukaan kulit yang indah bercahaya.
"I love you, Reyno." Jennie mengucapkan sajak cintanya dalam mata terpejam. Sekejap semua kain penghalang di tubuh mereka telah hilang entah kemana.
"Sayang!" Reyno memanggil dengan suara yang setengah parau. Kegiatan itu berhenti sejenak. Jennie membuka matanya perlahan, menatap sayu Reyno yang sedang mengungkuh tubuhnya.
"Kamu sudah siap?" Reyno menatap Jennie penuh binar. Gadis itu hanya mengangguk dengan senyum bahagia.
"Tahan ya, mungkin ini akan menyakitimu. Kamu boleh gigit atau cakar aku kalau tidak kuat, tapi saat aku memulainya, aku tidak mungkin bisa menghentikannya lagi." Reyno menjelaskan dengan bibir yang bergetar. Keduanya masih sama-sama gugup. Lagi dan lagi Jennie hanya mengangguk, menutupi wajah malunya yang ia sembunyikan di ceruk leher suaminya.
Perlahan Reyno memulai tekanan dari yang paling lembutnya. Awalan yang sulit baginya. Maklumlah, istrinya masih murni dan dia belum memulai apapun sampai sejauh ini. Hujaman dahsyat itu membuat Jennie memekik tertahan, sakit, perih, dan sangat menakutkan. Mata indahnya menggenang menahan rasa nyeri yang luar biasa. Reyno menghentikan aksinya sejenak, menatap iba pada Jennie. Dia tahu sebesar apa rasa sakit yang harus ditanggung istrinya itu.
__ADS_1
Namun dia tak mau kehilangan momen seru untuk pertama kalinya, perlahan setelah semua terkendali lagi, di memulai serangannya. Pelan. Lembut dan berirama. Makin lama makin tercium aroma nikmat di antara mereka berdua. Keduanya terbang hingga ujung nirwana tertinggi.
Sepasang manusia yang sedang menuai manisnya madu itu terbalut dalam suasana malam yang indah. Melakukan pertarurangan malam hingga pagi mulai menjelang. Mereka seperti pengembara kehausan yang menemukan danau sejuk. Begitu buasnya menenggak air untuk meredakan dahaganya.
Sekitar pukul dua belas siang Jennie dan Reyno bangun secara bersamaan. Untungnya hari ini Reyno libur, jadi bisa bermalas-malasan. Melanjutkan yang semalam juga masih sanggup. Tapi kasian Jennie, pasti kelelahan.
"Sayang...." Reyno membelai lembut wajah istrinya. Merapikan rambutnya yang acak-acakan pada balik telinga. "Terima kasih untuk hadiah terindah yang kamu berikan semalam. Aku tidak akan melupakan momen itu seumur hidupku."
Semalam mereka melakukan pertarungannya dengan lancar tanpa hambatan, padahal hanya di kamar sempit yang sederhana. Namun bahagia mereka melebihi apapun. Bersyukur mereka sudah tidak tinggal di rumah utama, mungkin mereka tidak akan sampai pada titik ini jika masih tinggal di rumah orangtua Reyno. Si Kutu Loncat William pasti tidak akan membiarkan Reyno dan Jennie bertindak lebih sampai sejauh ini. Syukurlah ... untung mereka sudah pindah.
"Sekarang aku sudah menjadi milikmu, Reyn." Jennie tersenyum bahagia.
"Masih sakit?" tanya Reyno sambil memeluk tubuh polos istrinya. Tangan nakal itu mulai berkeliaran menuju tempat-tempat yang paling sensitif.
"Udah nggak terlalu, sih. Cuma kayaknya susah buat jalan." Jennie menyeringai jenaka. Menangkap tangan nakal Reyno dan menguncinya.
"Maaf ya, kalau aku nggak profesional, aku juga masih takut dan bingung semalam."
Ingatannya kembali pada kejadian semalam. Di mana ia terus menjerit dalam nikmat, mendesah dan memanggil nama Reyno berkali-kali. Ahk, rasanya malu sekali kalau mengingat hal itu. Ternyata se indah ini ya, pernikahan. Kalian harus menikah dulu jika ingin seperti Jennie dan Reyno. Mengerti!
"Hari ini kamu di atas tempat tidur saja, ya. Biar aku yang masak dan melayani kamu seharian."
"Eh, kenapa begitu?" Jennie bingung. Tidak mungkin kan, Reyno masih merasa kurang, semalam kan sudah tempur habis-habisan.
"Tubuh kamu pasti masih sakit dan tidak nyaman. Jangan berpikir macam-macam, aku tidak akan melakukan apa-apa meski ingin. Kecuali kalau sakitmu sudah sembuh. Hehehe."
Reyno itu pengertian sekali, kebetulan ia banyak membaca pengetahuan s*ks di internet. Makannya ia tahu kalau melakukan untuk pertama kalinya pasti membuat pihak wanita tersiksa. Hari ini ia ingin memperlakukan Jennie seperti tuan putri. Tidak boleh bergerak, panggil Reyno jika ia menginginkan sesuatu.
"Kalau aku mau mandi gimana?"
__ADS_1
"Aku gendong kamu, nanti kalau sudah selesai kamu panggil aku, biar aku gendong kamu lagi ke kamar."
"Tapi cucian baju kita menumpuk, aku belum sempat cuci baju kemarin."
"Biar aku yang cuci."
"Kamu ngga bisa nyuci baju, kan!"
"Nanti aku lihat tutorial di you tube. Pokoknya kamu harus nurut. Semua pekerjaan rumah biar aku yang kerjakan hari ini."
"Makasih ya, Reyn. kamu memang suami aku yang pengertian banget. Aku benar-benar sangat beruntung mendapatkan suami seperti kamu. Walau suka nyebelin kalau lagi ngambek." Jennie mengecupi bibir Reyno berkali-kali.
"Kan biar besoknya di kasih jatah lagi sama Jennie. Hahaha." Reyno tergelak.
"Jadi kamu minta upah ya, karena udah ngerjain tugas rumah aku." Jennie mencubit kedua pipi Reyno.
"Jangan dicubit, dong! Nanti pipi aku merah. Kamu gak lihat, seluruh badan aku banyak sekali tanda keganasan kamu semalam. Masa mau ditambahin lagi." Reyno membuka selimutnya, terpampanglah hasil kerajinan Jennie semalam. Gadis itu langsung membalikan tubuhnya dengan malu-malu.
"Ciee ... marah. Aku suka, kok." Reyno memeluk Jennie dari belakang. "Kamu nggak perlu malu begitu."
"Sekali lagi kamu ungkit-ungkit kejadian semalam. Jangan harap kamu akan dapat jatah berikutnya," ancam Jennie kesal.
"Ampun Tuan Putri yang binal di ranjang."
"Reyno! kamu mau mati ya!"
Cowok itu semakin terbahak. Menggoda Jennie sangat menyenangkan. Semoga dapat melakukan hal seperti ini terus menerus.
***
__ADS_1
Maaf ya, buat pecinta 21+. Sengaja aku nggak buat detail greget, karena aku ngga mau novel aku sampai di tarik gara-gara adegan fulgar. Tau kan, kebijakan mangatoon gimana? Sudah banyak karya author lainnya yang di tarik. Wkwkwk. Jangan lupa, like, coment, follow, vote koin/poin.