
Suasana menjadi semakin kacau, Tuan Haris pergi setelah mengatakan niatanya itu. Ia menyerahkan segala urusanya kepada Farhan. Pria baik yang menyarankan ide gila untuk kelangsungan hidup Reyno dan Jennie.
"Kak, apa itu kamu yang melakunya?" Jennie menatap Farhan penuh binar. Pria itu langsung menciut nyalinya, mengalihkan pandanganya kemanapun. Asal tidak melihat sang Adik yang tidak pernah berhenti menatapnya.
"Berhenti memanggilku Kaka! hubungan kita tidak sedekat ini. Kemasi barang-barangmu, dan pergi secepatnya dari rumah ini." Nada suara membentak.
Sial, kenapa begini? Hatiku hancur sekali.
"Aku hanya bertanya, apa perlu membentak seperti itu?" Jennie menyerngitkan dahinya. Ah, kenapa kau memiliki sifat yang sama sepertiku, pemarah.
"Ikuti saja perintah Papi mertua kamu, jangan banyak bertanya." Menggeram frustasi, menggusar rambutnya berkali-kali.
"Diantara semuanya, hanya kau yang paling gugup, bahkan lebih gugup dari aku dan Reyno. Itu artinya ide itu berasal darimu, ya kan?." Jennie menyeringai dengan senyuman. Senyuman yang bahkan tidak dapat diartikan oleh Farhan sendiri.
Sial, pandai sekali dia membaca ekspresi orang. Aku seperti sedang melihat pantulan diriku sendiri di dalam diri gadis itu. Bodoh! Dia kan adikmu, Farhan.
"Aku tidak akan menjawab pertanyan-pertanyaan yang tidak penting." Farhan berbicara dengan logat kaku dan mengerikan seperti biasanya.
"Baiklah. Aku tidak akan bertanya." Tiba-tiba Jennie mengeluarkan kalung panjangnya, mencopot dan mengalungkannya di leher Farhan.
"Hei, apa ini?" Mundur satu langkah sembari memegangi kalung yang baru saja Jennie alungkan di leher Farhan.
"Aku tahu kau sangat menyukainya, kau sering melirik kalung ini bukan? Anggap saja itu hadiah perpisahan dariku. Jika kamu gerakan liontinya samar-samar, akan ada namaku di dalam liontin kaca itu."
"Aku tidak butuh ini!" Jutek.
"Pakailah, itu adalah benda paling berharga yang pernah aku miliki. Anggap saja sebagai hadiah dariku, karena kamu telah membebaskanku dari penjara mematikan ini."
Apa yang dia katakan, penjara?
Jadi dia merasa senang di usir dari rumah ini. Woaa ... Apakah ini yang dinamakan berbuat jahat tapi tidak direstui oleh Tuhan?
"Hei, aku tidak mau ini!" Kesal karena Jennie pergi meninggalkanya sendiri.
"Jaga dan simpan itu untuku, aku akan mengambilnya jika kita bertemu lagi suatu hari nanti." Berjalan cepat menaiki anak tangga.
__ADS_1
Aku juga sudah punya benda seperti ini, adik bodoh!
***
Jennie membuka pintu kamar hati-hati, di lihatnya Reyno sedang menangis di pelukan sang Mami.
Cih! Katanya hanya mau bermanja-manja denganku, dasar anak Mami. Baru kemarin berkata seperti itu, sekarang sudah tersendu-sendu di pelukan si Medusa.
Jennie memilih mengabaikan drama ibu dan anak itu. Ia mulai mengemasi beberapa barang-barang untuk di bawa. Hanya beberapa baju saja, karena hampir semua barang di sini bukan miliknya.
"Apa yang kamu lakukan?" Mami Dina kesal karena Jennie sibuk sendiri.
"Tentu saja sedang membereskan barang-barang, Nyonya. Kita ini sudah di usir bukan?" Jennie tersenyum manis penuh kepura-puraan.
"Diam kau! Jangan pernah tersenyum kepadaku. Dasar anak tidak tahu diri! Puas kau sudah menghancurkan masa depan anak-ku begini." Dini menatap Jennie dengan airmuka kebencian.
"Mih, jangan marahin Jennie, dia ngga salah. Reynolah yang sudah menghancurkan masa depan Jennie."
"Sayang, jangan membela dia terus, anak Mami tidak pernah bersalah."
Cih! jadi teori itu berasal dari si medusa ya?
Jennie sudah selesai memasukan beberapa bajunya, ia juga memasukan baju Reyno ke dalam ransel besarnya.
"Ayo!" Gadis itu terlihat bersemangat. Mengajak Reyno untuk segera pergi dari rumahnya. Otaknya sudah memikirkan apa yang akan dilakukan setelah pergi dari rumah ini.
"Sudah gila apa kamu? Mau kemana?" Mami Dina membentak Jennie penuh emosi.
"Tentu saja pulang kerumahku, kalau kita di usir dari sini, masih ada rumahku untuk tempat tinggal. Kenapa harus pusing-pusing dan menangis seperti itu."
Mami Dina langsung sebal mendengar ucapan Jennie, namun ada benarnya juga. Kenapa ia tidak kepikiran sampai ke sana. Ah, gadis itu pintar juga ternyata.
Tas ransel sudah tercantol di kedua pundak Jennie. Gadis itu sudah bersiap pergi meninggalkan rumah megah ini. Dengan perasaan bahagia tentunya, karena ia akan segera bertemu Bunda dan Ayahnya. Akhirnya ia bisa kembali ke tempat paling nyaman yang pernah ada.
"Kamu tidak bisa pulang ke rumahmu, Nona." Farhan masuk ke dalam kamar tanpa permisi. "Gunakan uang yang di berikan Tuan Haris untuk hidup dan mencari pekerjaan. Pergilah, sebelum kalian di seret oleh satpam." Farhan mengucapkan kalimat itu tanpa raut iba sama sekali. Namun di dalam hatinya sangat sedih, sekali lagi ini adalah rencana awal yang ia rencanakan sebelumnya.
__ADS_1
Farhan ingin adiknya merasakan seperti apa rasanya terbuang, hidup sengsara dan tidak punya apa-apa. Itulah yang Farhan rasakan dulu.
"Peraturan dari mana itu?" Jennie merasa kesal dan putus asa. Mau kemana lagi kalau tidak bisa pulang ke rumah Bundanya?
Jennie tidak menyangka Farhan akan sekejam itu. Dia kira Farhan hanya akan membebaskan Jennie dari rumah jahanam ini, ternyata dugaanya salah. Mungkin Farhan sudah merencanakan hal ini matang-matang, rencana yang Jennie dan Reyno tidak paham apa maksudnya.
Bahagia yang ia rasakan tadi langsung lurub seketika. Mana mungkin Jennie dan Reyno mampu hidup tanpa bantuan orang tuanya. Bahkan mereka berdua tidak memiliki pengalaman kerja sama sekali.
"Benar kata Jennie, kalian sudah mengusir anaku dari rumah ini. Kenapa tidak boleh tinggal di rumanya? Apa kalian benar-benar mau melihat anaku menjadi gelandangan di jalanan. Sudah gila! Dasar pria-pria tidak berperi kemanusiaan!" Teriakan Mami Dina menggema nyaring sampai keluar kamar.
Farhan tidak pernah menyangka akan sekacau ini. Namun bagaimanapun juga, Tuan Haris adalah orang yang sangat susah untuk di bujuk.
Terlambat!
Dua bodyguar bertubuh besar sudah datang ke kamar Reyno, bersiap untuk mengusir dua remaja itu dari kediaman Haris.
"Mohon Maaf Nyonya, Tuan muda dan Nona Jennie harus segera pergi meninggalkan rumah ini.
"Gila ... Kalian sudah gila!" Dina berteriak semakin frustasi, memeluk Reyno erat sekali. "Aku tidak akan membiarkan anaku pergi, tidak akan!"
"Maafkan saya Nyonya, ini perintah langsung dari Tuan Haris." Satu Bodyguard mencengkeram Reyno dari pelukan Maminya, satu lagi memegangi Jennie.
"Lepaskan aku, jangan pegang-pegang! Aku akan pergi tanpa harus di seret."Jennie memberontak.
"Mamiiiiii ...!" Reyno berteriak ketika Bodyguard itu mencoba memisahkanya dari Sang Mami. Wanita itu sudah tidak tahan, ia pingsan ketika melihat anaknya di seret paksa oleh Bodyguard suruhab suaminya.
"Farhan! Aku benci kamu," teriak Jennie frustasi. Sementara Farhan hanya menunduk dengan sejuta penyesalanya.
"Aku akan membunuhmu jika aku tidak boleh membawa motorku juga," teriak Jennie saat sudah mulai menuruni anak tangga bersama Bodyguard yang menyeretnya untuk keluar.
***
Bantu kasih aku bintang lima, kalau naik jadi 4,9 . Aku carzy up.
Terima kasih.
__ADS_1
💖
Ana.