
Reyno sudah berusaha mencoba menyingkirkan bibit pelakor itu, namun apa daya cara yang ia gunakan gagal total. Artinya Jennie harus turun tangan langsung untuk membantu suaminya.
Cara terbaik untuk menghancurkan bibit pelakor adalah bicara dari hati ke hati. Di mana hanya kaum wanita yang paham bagaimana cara melakukannya.
Menurut umurnya, harusnya Mila masih masuk dalam kategori gadis yang baru tumbuh dewasa. Mendengar Reyno berkata bahwa ia merupakan cinta pertama Mila, artinya gadis itu masih benar-benar polos. Meskipun kelakuannya sangat aduhai.
Ayah Mila dan pengacara suruhan Papi Reyno keluar dari ruangan Mila. Jennie langsung bangun dari posisi duduknya, lantas menarik tangan Reyno agar ikut bangun juga. "Ayo masuk, kita lihat kondisi gadis itu," ajak Jennie setelah merasa keadaan Reyno sudah lebih tenang dari sebelumnya.
"Gak mau! Aku malas melihat wajahnya. Aku juga harus menjelaskan hasil rekamanku dan Mila saat di restauran—agar masalahnya cepat selesai. Kamu saja yang masuk," cetus Reyno jutek.
Tersenyum penuh arti, Jennie melepas genggaman tangannya. "Ya sudah, kalau begitu aku masuk."
Jennie melangkah anggun—memasuki ruang rawat Mila sesaat setelah pengacara dan ayah Mila keluar. Sungguh kebetulan yang menyenangkan untuk Jennie. Ia juga tidak rela melihat suaminya ikut menjenguk gadis itu.
Detik kemudian, ia melihat tubuh lemas Mila bersamaan dengan pintu ruangan yang terdorong. Jennie mendekat, memperhatikan wajah Mila yang ternyata cukup imut. Sayang hatinya tak seindah parasnya yang lugu.
"Hai!" sapa Jennie, ia tersenyum manis lalu memperkenalakan diri. "Saya Jennie, calon bidadari surganya Reyno." Jennie menekan kata bidadari cukup keras. Sengaja.
"Hai juga, saya Mila." Mila berbicara dengan suara lembut dan polos. Membuat Jennie semakin jijik melihat sikap manisnya.
Enggan berlama-lama. Jennie langsung berbicara pada poin pentingnya. "Langsung saja ,ya. Aku sudah tahu kalau kamu menyukai Reyno."
Mila membalas. "Iya. Memang aku sangat menyukai Kak Rey."
Idih. Apaan sih, dia? Bicaramu seperti ABG yang baru saja ketahuan memiliki gebetan oleh teman sebangkunya, tahu. Jennie berdecih dalam hati.
"Tahu kan, kalau Reyno sudah memiliki anak dan istri?" tanya Jennie yang mulai geram. Pantas saja Reyno tidak suka dengan Mila. Ternyata dia mengandung aura polos-polos keparat.
"Iya tahu Kak, tapi aku masih tetap mencintainya." Gila, detik itu juga Jennie merasa menyesal kenapa tidak membawa pisau ke ruangan ini. Lumayan, bisa dipakai untuk memotong lidah gadis itu.
"Baiklah. Agar kamu tidak berharap lebih, aku hanya ingin memberi tahu .... Meskipun kamu menginginkan suamiku, dia tidak akan pernah menginginkanmu. Mengerti gadis kecil?"
Jennie sampai menggemelutukkan giginya karena terlalu emosi. Akan tetapi ia harus membuat semuanya menjadi jelas.
"Aku sudah menyerah."
Jennie terperanjat tidak percaya mendengar penuturan gadis itu. Benarkah semudah itu?
"Kenapa tiba-tiba menyerah?" ulang Jennie masih tidak menyangka.
__ADS_1
"Apa Kakak ingin aku terus maju mengejar suami orang? Aku menyerah karena aku tidak mau menjadi pelakor." Pernyataan Mila terdengar menyebalkan, tapi benar.
Buru-buru Jennie membalas ucapan Mila agar tidak sedang terlihat mati kutu. "Bagus deh kalu kamu tahu diri. Sayangi hatimu, takutnya rusak seperti jantungmu itu."
"Kakak!" Mila meninggikan nada suaranya. Agak menggertak namun terdengar manja untuk telinga seorang Jennie.
"Aku tahu Kakak membenciku, tapi bukan berarti kakak berhak berbicara seperti itu." Mila mulai menangis terisak-isak. Lagu lama. Jennie benci sekali melihat wanita bersalah yang menghiba.
Cih! Dasar bocah. Karakter Mila yang lembek seperti agar-agar sama sekali tidak pantas berperan menjadi orang ketiga.
"Jangan merasa menjadi mahluk yang tertindas begitu. Bagaimanapun juga aku berhak marah pada wanita penggoda sepertimu," sanggah Jennie ketika melihat gadis itu terisak-isak.
Ah, anak kecil yang menyebalkan. Jennie pikir saingannya seberat apa. Ternyata hanya gadis kisaran dua puluh tahunan. Yang ditinjau dari sifatnya bukan merupakan tipe wanita idaman Reyno. Karena pria itu suka dengan gadis yang kuat dan sedikit tomboy. Katanya lebih menantang.
Tiba-tiba Jennie teringat perkataan Reyno beberapa tahun silam. Saat masih di awal pernikahan mereka. Terdengar imut dan langka. Sangat manis untuk di kenang.
'Aku suka gadis tomboy, karena aku terlahir sebagai pria yang lemah lembut. Jadi bisa menutupi semua ini.'
"Hikss .... Hiksss .... Hiksss." Gadis itu masih setia terisak.
Jennie sadar sikapnya terlalu arogan pada orang yang sedang sakit. Namun sebagai istri yang baik, ia harus selalu siaga dan bersikap tergas pada siapapun orang yang berusaha merusak rumah tangganya. Sekalipun ia adalah gadis penyakitan.
"Maaf Kak, awalnya aku tidak pernah tertarik dengan suami Kakak. Namun, semua itu berubah setelah aku melihat penampilan suami Kakak yang sangat sederhana. Tiba-tiba aku sangat ingin melihat suami Kakak memakai barang-barang yang aku belikan. Menurutku, akan sangat keren jika Kak Rey memakainya."
Mengatur nafasnya sejenak. Wajah Mila berubah sendu. Seperti ada mendung yang menyelimuti jiwa gadis itu.
"Aku pikir Kakak tidak menjaga suami Kakak dengan baik. Makannya aku berniat membelikan barang-barang untuk Kak Rey. Ternyata aku salah, Kak Rey memang sengaja berpenampilan sederhana untuk Kakak."
Berarti dari awal Mila sudah tahu kalau Reyno memang sudah menikah. Namun ia tetap maju karena dia pikir Reyno kurang perhatian dari istrinya.
Dalam kasus ini memang sedikit membingungkan. Jennie sengaja menyuruh Reyno berpenampilan jangan mencolok, tapi malah ada gadis yang tertarik dan penasaran dengan gaya Reyno yang selalu sederhana itu.
Penampilan ternyata bukan segalanya, karena yang utama tetap dukungan wajah. Apa lagi otak Reyno begitu sempurna.
Huuh. Jennie mendesah kesal.
"Baiklah Mila. Sepertinya kamu sudah tahu seberapa pentingnya aku untuk Reyno 'kan? Jadi, aku harap kamu simpan saja rasa cintamu untuk diri sendiri. Selain caramu salah, aku khawatir kamu kecewa dan berakhir bunuh diri—karena Reyno tidak memandangmu sedikitpun." Pedasnya kata-kata Jennie, biar saja Mila kapok.
Pelakor memang harus dikerasi. Apa lagi Jennie bukan tipe wanita lembut seperti Mila. Ia berbicara sesuai hati dan emosional perasaanya. Yang sudah jelas saat ini bongkahan merah miliknya sedang dipenuhi oleh amarah.
__ADS_1
"Aku tidak akan menyimpan perasaanku untuk Kak Rey di dalam hati. Itu terlalu menyakitkan."
Mendengar itu, Jennie langsung melotot tajam ke arah Mila. "Lalu maumu apa?!" bentaknya geram.
"Menyimpan perasaan akan sangat menyakitkan. Aku sudah memutuskan untuk membuang perasaan ini jauh-jauh."
Ya? Jennie tidak salah dengar kan! Ia pikir Mila akan bersikeras merebut Reyno. Tapi ternyata ia cukup tahu diri dalam mengambil keputusan.
"Awalnya aku tidak mau menyerah. Namun setelah melihat video kedua anak kembar kalian yang di unjukkan oleh pengacara Kak Rey—saat itu juga hatiku langsung berpaling. Aku tidak tega merebut ayah mereka. Meskipun sebenarnya aku tega merebut suami orang."
Entahlah, apa Jennie yang bodoh atau memang Mila yang aneh. Meskipun kalimatnya terdengar mengesalkan, namun ada kesan imut dalam diri gadis itu.
Karena yang Jennie tahu pelakor di jaman sekarang itu ganas-ganas. Sedangkan Mila menyempatkan diri untuk memikirkan perasaan anak-anaknya.
Oh, Mila mungkin jenis tingkatan pemula. Masih bisa didandani.
"Terima kasih atas pengertianmu." Jennie mulai melembut. "Mulai sekarang, jauh-jauhlah dari keluarga kami."
"Ayah sudah berencana untuk mengirimku ke Jerman, aku akan belajar di sana," imbuh gadis itu. Di mana detik selanjutnya Jennie merasa lega mendengarnya.
"Ingat ya, Kak. Jaga suami Kakak dengan baik. Aku menyerah demi anak-anak kalian yang lucu-lucu itu. Bukan demi kaka!"
Terserahlah, Jennie tidak peduli lagi. Ia terlalu senang mendengar Mila akan pergi jauh.
Pesan Moral:
Sejauh ini paham tidak? Orang ketiga tidak akan bisa masuk jika suami istri kompak untuk menolak. Mulailah terbuka satu sama lain dalam hal apapun.
Satu lagi, untuk semua wanita di manapun—yang membaca pesan ini. Jika posisimu dalam kebimbangan karena menjadi orang ketiga. Aku tahu, kau mungkin merasa datang di saat yang tepat. Mungkin saja wanita yang kau rebut suaminya tidak sesempurna dirimu. Tapi seperti apapun kelemahan istrinya, tetap saja yang kau lakukan itu salah.
Pesan di atas adalah edukasi pembejalaran saat posisimu menjadi orang ketiga.
Maka yang harus kau pikirkan adalah anak polos yang takut akan kehilangan ayahnya. Mereka tidak berdosa. Dan yang terpenting, saat kau rebut ayah kandungnya—mental dan hatinya akan rusak seumur hidup.
***
Kata author: Gak semua pelakor merasa salah. Karena kadang dari pihak suami juga menjelekan istrinya, dan hal itu membuat si pelakor semakin berani untuk maju. Kadang juga memang istrinya yang salah.
Intinya, yang harus dipikirkan itu anaknya. Karena aku tahu kalau sudah bicara persaingan. Semua wanita pasti ingin menang.
__ADS_1