Suamiku Anak Mami

Suamiku Anak Mami
Berubah Manja


__ADS_3

"Dari mana saja Ren, istrimu habis pingsan tuh," ucap bunda saat melihat Reyno datang membuka pintu kamar anaknya.


"Pingsan?" Reyno langsung berlari menghampiri istrinya yang sedang duduk di atas pembaringan. "Kamu tidak apa, mana yang sakit? Maaf. Tadi aku pikir kamu sudah baik-baik saja, ada Lisa juga, jadi aku pergi ketemu Kakak dan Farhan."


Oh. Jadi kamu yang membuat Farhan pergi di saat kita sedang kangen-kangenan. Bunda menggerutu dalam hatinya.


"Kenapa kamu ngga bilang kalau aku hamil, aku ngga tahu kalau bunda ngga panggil dokter tadi. Aku hamil lima minggu, Reyn."


"Bilang kok, Sayang. Bahkan aku sudah ngucapin selamat kan, kamunya saja yang gak percayaan." Reyno tersenyum.


"Males ah. Aku bete sama kamu!"


"Loh kenapa?"


"Bunda...," rengek Jennie seperti anak kecil. "Aku ngga mau liat dia!" Menunjuk Reyno yang baru saja duduk.


Please, jangan ikut-ikut para wanita gila diluar sana. Jangan sampai Jennie nyidam benci suaminya. Reyno berdoa sebanyak-banyaknya kepada Tuhan yang maha pengasih. Bahkan mulutnya komat-kamit penuh harap.


"Eh, jangan begitu. Reyno kan suami kamu, Sayang."


"Bunda, tapi aku ngga mau liat dia. Cowok ini!" Mendorong tubuh Reyno dengan jijik. "Aku ngga suka deket-deket dia, cowok jahat yang udah bikin aku hamil, padahal umur aku kan baru tujuh belas tahun lebih Bunda, masa harus hamil."


"Kan kita bikinnya sama-sama. Kenapa hanya aku yang di salahin? Jangan mau enaknya gak mau anaknya." protes Reyno merasa tidak terima dengan ucapan istrinya tadi.


Apaan sih mereka, bahas yang seperti ini di depan orang tua. Ucap Bunda dalam hati. Ia sampai menggeleng kepalanya heran. Terlebih mendengar kata-kata Reyno. Bukankah itu kalimat yang biasanya diucapkan oleh perempuan? Kenapa jadi terbalik begini?


"Tapi aku belum siap hamil bodoh!" Bentak Jennie kesal. Reyno langsung diam, ia sudah tahu kalau tempramen orang hamil agak meninggi.

__ADS_1


"Ssstt. Jangan bicara seperti itu, anak adalah anugrah yang terindah. Kamu harusnya bersyukur. Di luar sana masih banyak orang yang ingin hamil sampai sudah usaha keras belum tercapai. Ini kamu kok malah menolak. Bunda juga dulu mengandung Farhan saat usia tujuh belas tahun."


"Tapikan Jennie ngga sekuat Bun—" Jennie menjeda ucapannya, "apa tadi Bunda bilang, Farhan?"


Baik Reyno dan Jennie sontak kaget mendengar bunda menyebut nama Farhan. Itu artinya bunda sudah tahu kalau Farhan adalah anak kandungnya.


"Bunda sudah menemui Farhan tadi. Sebelumnya Bunda tidak sengaja mendengar percakapan kalian berdua di taman. Antara percaya dan tidak percaya, akhirnya bunda mengklarifikasinya langsung pada Farhan. Bunda juga sudah minta maaf dan menjelaskan duduk perkaranya. Bunda benar-benar tidak tahu menahu tentang Alan yang dibuang. Tapi kita sudah ngobrol cukup banyak tadi, bahkan Bunda dan Farhan sempat pergi ke makan ayah Farhan."


"Makam?" Jennie terkejut.


"Ayah?" Reyno ikut menimpali dengan nada kaget yang sama persis.


"Farhan dan kamu tidak satu ayah. Paman Fedri yang sudah meninggal, itulah ayah Farhan sesungguhnya," ucap bunda menjelaskan.


"Lalu ayah? Dia yang telah membuang Kak Farhan selama ini? Betul Bunda?"


"Hiks ...." Jennie tak kuasa menahan air matanya. "Aku ngga nyangka ayahku yang baik bisa sejahat itu, itu artinya Farhan akan membenciku kan Bunda? Karena aku adalah anak Ayah."


"Sayang...." Bunda sedikit mendekati anaknya. "Farhan sangat menyayangimu, Nak. Bahkan ia masih meminta bunda merahasiakan ini. Farhan tidak ingin rumah tanggamu terganggu karena masalahnya."


"Lalu bagaimana dengan ayah? Apa Kak Farhan akan balas dendam pada ayahku?"


"Untuk itu bunda tidak tahu sayang. Farhan juga melarang bunda untuk memikirkan hal itu. Kamu juga tidak boleh ikut pusing dengan hal ini. Jaga kesehatanmu baik-baik.


"Tapi Bunda...,"


"Je, yang bunda bilang itu benar. Bagaimanapun aku jauh mengenal Farhan terlebih dahulu dibandingkan kalian. Farhan memang menyeramkan, tapi hatinya lembut dan hangat." Walau delapan puluh persen otaknya didesain menyebalkan. Imbuh Reyno dalam hati.

__ADS_1


"Aku masih marah sama kamu tahu!" bentak Jennie saat Reyno ikut bicara


"Uluh ... istriku, tayang-tayang. Maaf ya, jangan marah lagi." Reyno mengecup singkat bibir Jennie dua kali.


Bunda sampai mundur satu langkah melihat kelakuan menantunya yang satu ini. Ternyata anaknya juga tidak kalah gilanya.


"Cium aku satu kali lagi, baru dimaafin."


Cup. Satu kecupan mendat dikening Jennie. Gadis yang kepribadiannya mulai goyah efek nyidam itu tersenyum senang.


"Lain kali jangan suka pergi tanpa aku. Kangen tahu, nungguin kamu seharian."


Ya Tuhan. Anakku kenapa ini? Efek hamilnya kah?


"Maaf ya, kan ada Lisa. Aku pikir kamu mau kangen-kangenan sama dia. Sebagai gantinya aku akan peluk kamu semalaman. Oke!"


Ya Tuhan. Apa aku dianggap batu oleh mereka?


"Sepertinya kehadiran bunda hanya menjadi pengganggu ya. Bunda pergi deh," ucap Bunda sok mendrama.


"Maaf Bunda, Reyno lupa kalau ada Bunda di sini. Hehehe." Reyno langsung menggaruk kepalanya yang tak gatal. Menyeringai jenaka pada bunda yang berdiri tak jauh dari mereka.


Dasar bocah!


***


Berikan like dan vote dukungan kalian. Terima kasih.

__ADS_1


__ADS_2