
Terlalu asik mengobrol membuat Reyno dan pak Farik lupa diri. Hari sudah semakin sore, waktunya untuk Reyno pulang menemui anak-anak dan istrinya. Namun kaki Reyno terasa berat untuk melangkah, pikirannya masih betah dan ingin ngobrol beberapa menit lagi dengan pak mandor panutannya.
“Stttt … stttt!” Pak Farik berbisik, mengedipkan mata nakal dan menyuruh Reyno melirik ke arah belakang. Reyno yang merasa penasaran mulai mengikuti intruksi,
menoleh ke belang dan melihat ada apa di balik punggungnya.
“Waow … gede ya, Pak,” bisik Reyno sambil cekikikan.
“Makan apa ya, Reyn, bisa segede itu, hahaha!” Tawa pecah
menggema. Reyno dan pak mandor tergelak melihat pemandangan absurd di belakangnya itu.
Tepat lima meter dari belakang Reyno, ada seorang wanita cantik yang sedang berdiri di depan kasir. Sepertinya ia sedang mampir membeli minuman dingin di bengkel milik Reyno. Ia menggunakan dress mini berwarna merah seatas lutut. Wanita itu juga memperlihatkan belahan dadanya seakan itu adalah hal yang wajar. Bahkan ia tidak sadar bahwa ada banyak mata lelaki yang melihat
pemampilannya barusan. Apa lagi ia sedang berkunjung di bengkel. Sunggung tidak
pantas untuk ditiru.
“Prikitiuuw …!” Gelak tawa semakin pecah, pak mandor berseru seperti sedang menggoda biduan dangdut di acara pernikahan. Untung wanita itu tidak mendengar karena sudah berlalu pergi menuju jalan utama.
“Hahaha, Bapak bisa aja! Kayak apa, ya, rasanya megang yang gede-gede gitu!” canda Reyno semakin jadi. Pandangan Reyno dan pak mandor masih tertuju pada si cantik yang bejalan menuju mobilnya.
Bagi kaum lelaki, ini adalah sesuatu yang sulit untuk dilewatkan. Perbandingannya bagaikan dosa untuk dilihat dan sayang kalau tidak dinikmati.
“Ehemm!” Sebuah dehaman mengerikan terdengar seperti kedatangan malaikan pencabut nyawa di hidup Reyno.
“Jadi Reyno pengin megang yang gede-gede, ya?” Detik berikutnya Reyno seperti sedang merasakan sensasi kiamat dadakan. Tamat sudah riwayat hidupnya. Ia menelan salivanya dengan susah payah. Tubuhnya mendadak panas dingin seperti mau mati.
__ADS_1
Wajahnya yang semula penuh tawa berubah menjadi pucat kala mendapati sang istri sudah berdiri di sampingnya—lengkap dengan pandangan mata menyalang. Jennie benar-benar datang tanpa diundang seperti hantu.
“Eh, Sayang.” Reyno menyengir kuda. Tangannya menjangkau lengan sang istri namun ditepis dengan cepat oleh Jennie.
“Mata coklat, hidung bangir, rambut lurus, kulit putih, tinggi 170 centi meter, anggun, manis, sosialita, jadi yang begitu ya, selera kamu?” Astaga. Selain tidak menyangka istrinya akan datang, Reyno juga tidak menyangka Jennie bisa menjabarkan semua tentang gadis itu dengan rinci.
“Satu lagi, kamu suka yang 38C!” tandasnya diakhir kalimat.
“Bukan begitu, Sayang. Itu hanyalah candaan mulut belaka. Mana ada aku melirik wanita lain.” Tiba-tiba hati kecilnya mendapat sebuah bisikan, mengalah saja Reyno, seperti apapun kau menjelaskan, pada akhirnya akan tetap kalah. Itu adalah kesialanmu, Reyn. Anggap saja begitu.
“Kamu sangat menikmati pemandangan itu. Bagaimana bisa, mulut berdustamu bisa berakata tidak melirik wanita lain?”
Astaga. Bagaimana caranya Reyno menjelaskan pada Jennie akan hal ini? Masalahnya, pembahasan seperti ini memang sudah mejadi rahasia besar untuk kaum lelaki. Semua wanita yang suka mengumbar kemolekan tubuhnya memang akan bernasib seperti itu, Menjadi bahan candaan dan pembahasan sesama laki-laki
saat sedang mengobrol. Meskipun begitu, tidak semua lelaki menginginkan atau
Belum sempat Reyno menjawab, sudah ada pertanyaan mengerikan yang keluar dari bibir Jennie. "Apa kamu mau menghadirkan pelakor di dalam kisah hidup kita, Reyn?"
Jennie memutar bola mata sinis ke arah pak mandor. Bapak paruh baya itu langsung membela anak emasnya sebelum adegan baku hantam terjadi.
"Neng Jennie salah paham sepertinya, yang kita lalukan tadi hanya bercanda Neng. Meskipun mata laki-laki sering melirik wanita seksi, tapi hati kami hanyalah untuk istri."
"Jadi sering ya!" Nada suara Jennie meninggi. Ia hanya mendengar bagian negatif tanpa penduli dengan kalimat positif yang pak mandor ucapkan.
"Gak gitu, Mama Panda!" Tch, Reyno menatap pak mandor kesal. Bantuan yang ia berikan malah menjadi boomerang untuk Reyno.
"Cukup! Mata kamu memang harus di colok dengan obeng." Entah dari mana, Jennie sudah memegang obet berbahan tembaga itu.
__ADS_1
Pak mandor yang sudah tidak bisa membantu lagi, memilih pamit untuk undur diri. "Saya masih banyak urusan, mau ke belakang dulu ya, Neng, Bos." Menoleh pada Reyno dengan wajah terpaksa.
Sialan! Di saat begini lelaki tua itu malah pergi tanpa bertanggung jawab. Padahal, saat melakukan dosa begitu kompak. Heuh.
"Awk ... Awk ... Awk ...!" Ketika pak mandor sudah menjauh pergi. Ia mendengar teriakan Reyno tanpa berani menoleh kebelakang.
Berjuanglah, Reyn. Kau sudah di takdirkan untuk sesati (setia satu istri). Ck. Sedang bercanda saja ketauan, apa lago yang beneran. Gumam-gumam lirih keluar dari bibir pak mandor.
"Sakit, Sayang. Jahat banget sih, istri aku. Suami kamu itu hanya bercanda, hiburan iseng-iseng!"
"Oh, kelakuan genit begitu kamu anggap bercanda ya, Reyn?" Ada cubitan banyak setelahnya. lengan dan paha Reyno memerah.
"Ampun, Yang! Gak lagi lagi begitu," janjinya seraya memelas iba. Senjata terakhir yang Reyno gunakan.
"Kapan-kapan aku mau ke klab deh, biar bisa cuci mata juga kayak kamu. Lihat penari pria yang badannya kotak-kotak."
"Yah ... yah ... yah. Jangan begitu dong, aku janji gak akan kayak gitu lagi, please. Aku bisa mati kalau istri aku beneran lirik cowok lain." Egosi, tapi itu nyata yang Reyno rasakan.
Sialan! Gara-gara ini Reyno jadi semakin benci pada wanita seksi.
"Satu minggu! Aku mau tidur di kamar anak-anak. Ngga ada kata protes lagi." Getokan obeng tiga kali yang Jennie pukulkan ke atas meja menjadi penutup perdebatan mereka. Reyno mendesah lemah, pasrah dengan hukuman yang Jennie berikan daripada masalah mereka semakin larut-larut.
Padahal yang Reyno lakukan tadi hanya sebatas candaan, akan tetapi lain lagi jika sudah didengar oleh telinga istri.
***
Sukurin, lo, Reyn! Wkwkkw 🤣🤣 Nakal sih,
__ADS_1
Aku ngetiknya kesel, tapi itu fakta, cowok kalo di belakang istrinya suka bgtu. ☹️