
Sebelumnya aku cuma mau kasih jawaban, yang suka tanya kapan Reyno berubah. Nanti pasti berubah, cuma segala sesuatu itu butuh proses. Kalo aku langsung ubah, jadinya malah kayak aneh gitu, kan. Jadi nikmati saja kalau kalian suka.
Selamat membaca.
***
Setelah lelah berdebat masalah Dilan, akhirnya Jennie mulai memasuki jalan kompleks di rumahnya. Motor Jennie langsung berhenti agak jauh dari gerbang rumahnya, Reyno langsung tersentak dengan wajah masam. Maksudnya kenapa harus berhenti di sisi jalan, sedangkan matahari siang ini begitu jahat membakar kulit.
"Kenapa berhenti?" Menyerngitkan dahinya bingung.
"Coba kamu lihat! Mereka itu pasti orang suruhan Papi kamu kan?" Jennie menunjuk beberapa penjaga yang sudah siaga di depan gerbang rumahnya. Sepertinya Tuan Haris benar-benar sudah mempersiapkan rencana mengusir itu matang-matang. Bahkan rumah Jennie saja sudah di jaga ketat.
"Terus gimana dong?"
"Aku juga bingung, mereka pasti akan menghalangi kita kalo tetap maksa masuk" Berfikir ... Berfikir ... Berfikir, Jennie mencoba melakukanya namun hasilnya buntu.
"Hatcihhh ... Hatchiiih ... Hatcihhh ..." Reyno mulai bersin-bersin. Kulitnya me—merah karena teralu banyak terkena debu di pinggir jalan. Ini juga pertama kalinya ia naik motor.
"Kamu kenapa?" Jennie langsung panik. Banyak sekali bercak merah di permukaan kulit Reyno yang putih mulus. Cowok itu memang belum sempat ganti baju, ia masih mengenakan baju olahraga saat di usir tadi. Bahkan celananya saja pendek begitu.
"Aku alergi debu." Menutup hidungnya dengan kaos berbahan jersey yang ia kenakan.
"Duh, gimana nih? Maaf ya, aku ngga tahu kamu alergi begini. Cari apotik terdekat dulu, abis itu baru kita makan. Kamu belum makan juga, kan?" Gimana? sudah cocok menjadi istri perhatian belum? katakan sudah.
"Ngga jadi kerumah Jennie?"
"Ngga jadi, Reyn. Ada penjaganya. Kamu pegangan lagi, aku mau jalan, nih." Jennie menghidupkan motornya kembali. Berbalik arah dan mencari apotik terdekat.
Jennie langsung menghentikan motornya tepat di depan apotik yang baru saja ia temukan. Gadis itu turun dari motornya, membeli obat alergi untuk Reyno. Sementara si cowok manja itu duduk di jok motor, melipat kedua tanganya di depan dada. Belum apa-apa, Reyno sudah ngambek mengeluh panas. Cowok itu juga mengeluh karena kepalanya berat menahan beban helm. Reyno ingin mencopot, tapi Jennie melarang dengan alasan bahaya. Padahal ia sendiri sudah rela mengabaikan keselamatanya demi sang suami, loh.
Akhirnya motor Jennie berhenti di cafe sederhana yang ia temui di pinggir jalan, gadis itu mencopot helm sang suami, kemudian menariknya lemah lembut untuk segera masuk ke dalam cafe. Walaupun tidak terlalu bagus, setidaknya ada ac, lumayan untuk mendinginkan tubuh yang mendidih sedari tadi.
"Duduk dulu, ya." Wajah Reyno sudah ditekuk lecek seperti koran bekas. Tentu saja ia tidak suka dengan tempat—nya. Jennie mengambil ransel di pundak Reyno, kemudian meletakanya di sofa. Kedua duduk bersebelahan karena ada ransel di sofa satunya lagi.
__ADS_1
"Maaf ya Reyn, hanya bisa makan di tempat seperti ini. Kamu kan tahu, uang yang di berikan Papi kamu tidak banyak." Jennie mengelus kepala Reyno seperti kucing.
"Iya. Ngga pa-pa, kok." Barulah Reyno merubah ekspresinya setelah di perlakukan dengan lembut dan anggun. Begitulah caranya mengambil hati seorang Reyno.
"Reyno mau makan apa?" Jennie membolak-balik buku menu, mencari menu makanan yang pas dengan selera suaminya.
"Terserah!" Setelah beberapa jam tidak mendengarnya, akhirnya kata horor itu muncul kembali.
"Nasi goreng?"
"Gak mau!"
Sabar level satu, tersenyum anggun.
"Salad?"
"Gak!"
"Mie goreng?"
"Gak sehat!"
Sudah tidak sabar, satu tangan Jennie sudah mengepal, ia sembunyikan di bawah meja. "Terus maunya apa?"
"Terserah!"
Tolong tenggelamkan Jennie ke dasar samudra, biarkan ia bergabung dengan spongebob dan teman-temanya.
Terakhir kali Jennie bertanya? "Capcai pakai nasi gimana? Kamu kan suka sayuran."
"Nasi goreng aja deh," ucapnya sembari mendorong buku menu.
Bunuh saja aku, Reyn.
__ADS_1
Hidupmu kok repot begini, ya?
Aku sudah menawarkan menu itu dari awal, bodoh.
Akhirnya Jennie memesan dua nasi goreng, dua air mineral dan satu jus strawberry untuk Reyno. Gadis itu juga menyuruh suaminya meminum obat alerginya dulu sambil menunggu pesanan datang.
Reyno menyandarkan kepalanya di pundak Jennie dengan gaya manja ciri hasnya. Cowok itu juga memainkan rambut lurus Jennie dengan ujung jari telunjuknya. Lakukan saja sesuka hati Reyno, asal jangan marah dan ngambek lagi.
"Cepat sembuh ya Reyn," ucap Jennie sambil mengelus pundak suaminya. Gadis itu juga mendaratkan beberapa kecupan di pipi Reyno. Muach! Muach! Muach! Cowok itu langsung berubah sumringah. Mengedarkan semburat merah di pipinya.
Hehehe, sepertinya aku semakin pintar merawat Hello Kitty ini. Bangga.
"Kepala Reyno pusing, Jennie." Meraih tangan Jennie. Maksudnya minta di sayang lagi. Jennie harus paham itu.
"Sabar, ya sayang. Aku tahu kalau kamu masih shock dengan kenyataan hidup ini." Cih! Drama sekali perkataan Jennie.
"Papi Reyno jahat, dia udah ngga sayang Reyno lagi." Mencebik, pria itu hampir menangis lagi.
"Eh, jangan begitu dong, mungkin niat Papi kamu itu baik. Agar kamu lebih mandiri dan bertanggung jawab. Kamu kan sudah menikah, itu artinya kamu harus mulai mandiri. Mulai sekarang Reyno harus kuat, ya?" Cowok itu tersenyum kembali. Ada bahagia setelah mendengar nasehat dari bibir Jennie yang sok manis.
Namun semua itu berubah ketika makanan pesanan Reyno datang. Cowok itu langsung ngambek begitu melihat tampilan makananya yang tidak menarik. Reyno menyendok satu kali nasi goreng itu, lalu menyingkirkan piringnya ke samping. Itu artinya Reyno tidak suka. Catat.
Jennie menatap Jengah cowok yang ada disampingnya. Baru beberapa menit yang lalu ia terlihat bahagia, sekarang sudah menunjukan wajah masam yang menyebalkan.
Perkara lagi aja, ya! Hidupmu repot sekali sih, Reyno!
***
Note dari Ana: Sejauh ini ada yang sadar apa engga? kalo cerita ini aku dedikasikan pada ciwi-ciwi yang hidupnya selalu merasa benar sendiri. Itulah aku sendiri. Jadi sifat Reyno aku ambil dari berbagai ragam sifat menyebalkan para perempuan. Adakah diantara kalian yang memiliki sifat Reyno? contohnya: Selalu ngomong terserah, nuntut pasangan kita harus peka, lebih cinta idol dari pada pasangan, dan selalu menjadi mahluk yang maha benar. Kenapa aku bikin cowoknya yang jelek, dan kenapa ceweknya yang strong. Sekali lagi ya, aku ini perempuan. Jadi aku gak mau jelek-jelekin kaum-ku. Nikmati saja jika kalian suka. Anggap saja lagi melihat diri sendiri memalui sifat Reyno, hahaha. Kalo kalian berfikir Reyno itu egois, memang iya benar sekali.
Sekali lagi kayak siapa? Tentu saja kayak kalian para ciwi-ciwi.
Kabuuuuuuur....
__ADS_1