
Hari ini William dan Tere berniat menemui Rian, meluruskan masalah yang sempat terbengkalai karena kesibukkan William di kantornya. Sesuai yang pernah dijanjikan William sebelumnya, ia akan mengajak Rian bicara baik-baik mengenai perkara putusnya hubungan Tere dan Rian.
William dan Tere sudah berada di sebuah restaurant private, menunggu Rian yang mungkin sebentar lagi akan segera datang. Ada harapan besar yang bersarang di hati Tere, semoga saja Rian dapat mengerti bahwa masalah mereka hanyalah salahpaham. Lalu hubungan mereka akan kembali seperti semula. Mengingat Rian adalah pemuda yang baik dan pengertian.
"Rian...," lirih Tere saat pria itu datang. Rian hanya tersenyum hangat, lalu memperhatikan wajah Tere yang agak pucat. "Maaf. Sebelum memulai pembicaraan, bisakah aku memeriksa kondisi Tere sebentar?" Rian berbicara dengan sopan dan lugas pada William.
"Silahkan...." William hanya menganguk sambil menyilangkan satu kakinya. Pria itu dapat melihat dengan jelas, bahwa Rian masih sayang dan peduli dengan kekasihnya. Harusnya sih tidak susah membuat mereka balikan. Semoga saja.
"Apa kamu tidak menjaga tubuhmu dengan baik?" Rian sudah selesai memeriksa. Di tulisnya beberapa resep untuk Tere.
"Memangnya kenapa dengan bayiku? Apa dia tidak sehat?" tanya Tere sedikit bingung. William hanya menaikkan satu alisnya tanpa bergeming, seolah tidak peduli dengan Tere dan bayinya.
"Aku bukan dokter kandungan, aku tidak tahu kondisi bayimu. Yang jelas kamu kurang sehat, tensi darahmu rendah sekali dan ada kemungkinan HB—mu juga rendah." Rian memasukkan alat-alatnya ke dalam tas. "Tebus obat yang sudah ku tuliskan di resep tadi. Itu hanya vitamin dan pereda mual."
"Terima kasih," ucap Tere sedikit canggung. Lantas gadis itu memasukkan resep obatnya ke dalam tas.
Datanglah ke rumah sakit besok, kandunganmu harus segera diperiksa. Ajak ayah dari bayimu itu," tukas Rian sambil melirik William yang terlihat begitu cuek dan tidak peduli.
Aku masih bisa merasakan kamu masih peduli denganku. Tapi kenapa kamu lebih memilih mengakhiri hubungan kita? Gumam Tere dalam hatinya.
"Bisakah kita memulai pembicaraannya sekarang?" tanya William, pria itu menurunkan kakinya, menghela nafas panjang dan mulai menata keseriusannya.
__ADS_1
"Hal apa yang ingin kalian bicarakan padaku?" Rian menoleh kepada Tere, lalu berganti menatap William yang sepertinya sudah siap untuk bicara.
"Seperti yang sudah Tere bicarakan waktu itu. Hadirnya bayi di Perut Tere adalah kesalahan yang tidak disengaja. Aku minta maaf karena telah melakukan kesalahan fatal. Kami tidak sengaja melakukannya."
"Lantas? Apa yang harusku lakukan? Bisakah langsung bicara pada titik poinnya saja?" Rian masih tetap bicara dengan tenang. Walau jujur di hatinya sangat sakit. Pria mana yang bisa menerima kenyataan bahwa wanita yang sangat ia cintai hamil dengan orang lain.
Tere adalah gadis yang sangat Rian jaga selama ini. Hubungan mereka berjalan secara sehat dan jauh dari kata mesum. Tentu saja hati Rian sangat hancur mendengar keadaan Tere saat ini. Beruntung ia masih memiliki kesabaran untuk berlapang dada.
"Menikahlah dengan Tere. Aku dan dia tidak saling mencintai, Rian. Untuk masalah bayi itu, aku akan tanggung jawab sepenuhnya. Aku akan menanggung semua biaya hidupnya." William menatap Rian penuh keyakinan. Sementara Tere hanya menunduk sambil menangis.
"Apa kamu pikir hidup manusia hanya membutuhkan materi saja? Jika aku tidak memandang anak itu, aku pasti sudah menikahi Tere. Meskipun anak itu bukan darah dagingku."
"Maksudnya?" William menyipitkan matanya bingung. Ia masih belum paham dengan arah bicara Rian.
"Aku harap ini adalah pertemuan terakhir kita. Jangan ada lagi pertemuan dengan pembahasan seperti ini. Lupakan segala impian kita, kehidupan nyatamu ada pada bayi itu." Rian pergi meninggalkan Tere dan William.
"Rian," panggil Tere, namun pria itu tetap saja berjalan dan menghilang di balik pintu.
Maaf. Aku tidak tahan dengan kenyataan ini. Jujur hatiku sakit sekali, aku telah gagal melindungi apa yang seharusnya menjadi milikku. Rian.
Rian memilih pergi meninggalkan Tere yang saat itu sedang memnangis. Pria itu tidak kuat jika melihat gadis yang sangat ia cintai menangisinya sampai begitu. Rian tahu tindakannya begitu kejam di mata gadis itu, namun Rian akan salah jika memisahkan ayah dan anak kandungnya. Bujkan ia tidak bisa menerima bayi William yang ada di kandungan Tere, tapi bayi tak berdaya itu berhak mendapatkan apa yang sudah seharusnya jadi miliknya.
__ADS_1
Rian ingin mereka mempertanggung jawabkan perbuatan mere, mulai memikirkan bayi yang ada di dalam kandungan Tere. Semoga saja dengan kepergian Rian, mereka akan sadar akan perbuatannya.
"Maaf." Hanya kata itu yang mampu Wiiliam ucapkan saat Rian sudah berlaru pergi. William ingin sekali memeluk gadis itu untuk sekedar menenangkan hatinya, namun ia sadar. William bukan siapa-siapa. Bahkan kehadirannya tidak mampu membuat gadis itu berhenti menangis.
"Aku akan bilang pada orang tuamu yang sebenarnya, mungkin apa yang Rian katakan ada benarnya. Aku harus bertanggung jawab atas bayi yang ada di dalam perutmu itu."
Pernyataan William sukses membuat gadis itu me ndongak, mengabaikan linangan air mata yang tidak bisa dihentikan. Mata sayu Tere mencoba menatap William lekat, mencari sosok keseriusan di wajah pria itu.
"Bagaiman dengan Jennie?"
"Dia akan selalu menjadi Sweetheartku," kelakar William dengan wajah jenaka.
Cih! Sudah Tere duga pria menyebalkan itu akan berkata seperti itu. Tak berguna pernyataan serius yang ia lontarkan tadi, William masih tidak bisa melepaskan gadis itu.
"Sweetheartku sudah bahagia dengan adikku. Sekarang giliran aku membahagiakan gadis Barbieku."
Apa! Barbie? Siapa yang gadis yang dia maksud Barbie? Apa itu aku?
Tanda tanya besar memenuhi seluruh ruang kepala Tere.
***
__ADS_1
Seribu like dong, nanti ku up part Reyno.