Suamiku Anak Mami

Suamiku Anak Mami
S2- Bab 56


__ADS_3

Jennie senyum-senyum sendiri, hatinya berbunga-bunga selama dalam perjalanan pulang. Ia masih mengingat-ingat kebaikkan sang mami mertua untuk pertama kalinya. Bukan hanya baik, tapi ia juga dibekali berbagai makanan yang cukup untuk makan tiga hari. Karena Jennie cerita asisten rumah tangganya pulang kampung.


Ternyata begini ya, rasanya jadi anak Mami Dina. Sekarang sudah tidak ada lagi mertua galak yang seperti landak melahirkan. Bicara mami Dina juga sudah berubah lembut, mulutnya tidak lagi pedas seperti habis makan bakso mercon. Semuanya sempurna. Jennie sudah masuk dan berhasil menjadi menantu kesayangan di keluarga Haris, sama seperti Tere.


"Hari ini aku seneng banget, Reyn." Satu kecupan berhasil melayang sempurna di pipi Reyno. Pria itu merona senang. "Makasih sudah mau berusaha untuk mendamaikan aku dan mami, pasti itu sulit. Meskipun aku gak tau gimana caranya, pokoknya makasih aja," ujar Jennie.


"Sama-sama. Makasih juga buat servis tadi siang. Aku puas," cengir Reyno seraya mengedipkan mata nakal. Secara habis gempur tiga ronde tanpa jeda.


"Dasar suami mesum!" ejek Jennie menjulurkan lidah.


Mereka berdua sedang berada di dalam kamar. Habis mandi bersama setelah menidurkan dua anak yang kelelahan akibat kebanyakan bermain di rumah sang nenek.


Jennie menjatuhkan tubuhnya ke atas sofa, lantas melempar handuk pada Reyno yang juga duduk di sampingnya. "Keringin rambut aku, kamu yang bikin rambut ini basah setiap saat kan."


"Siap tuan putri, hamba akan bertanggung jawab sepenuhnya." Reyno mulai mengeringkan rambut sang istri dengan gerakkan lembut. Sambil sesekali pegang-pegang apapun yang ingin di pegang tentunya.


"Aku ngerasa beruntung banget bisa sampai titik ini. Ya, walau kadang suka iri lihat temen-temen yang masih bebas, sedangkan aku sudah punya dua anak di usia semuda ini. Tapi kalau bukan sama kamu aku gak mau nikah muda, Reyn."


Reyno tertegun. Menelan saliva dan menghentikan aksi mengeringkan rambut sang istri. Dari belakang, ia menjatuhkan dagunya di ceruk leher Jennie, lalu melingkarkan kedua tangannya dengan lembut.


"Kenapa ngga mau nikah muda kalau nggak sama aku?" Pernyataan Jennie masih terdengar aneh di telinga Reyno.


"Nikah muda itu berat. Godaannya besar! Salah langkah sedikit kita bisa goyah dan mengakhiri ikatan sakral yang sudah terjalin. Meskipun kamu manja dan suka nakal, aku tetap akan milih kamu."


"Kenapa bisa begitu?"tanya Reyno yang merasa tidak seistimewa itu. Bahkan Reyno sendiri masih merasa kurang dalam berumah tangga.


"Kamu suami langka, yang selalu berfikir ratusan kali sebelum mengambil langkah apapun itu. Meskipun hubungan kita tidak semulus jalan tol yang baru dibangun, tapi kamu belum pernah mengatakan kata pisah. Bahkan, ketika kita belum saling cinta sekalipun."

__ADS_1


"Itu karena aku menerapkan ucapan kamu waktu malam pertama kita di hotel. Saat-saat di mana kita masih polos dan merasa terjebak."


"Memangnya aku ngomong?"


Reyno memperagakan omongan Jennie yang masih ia ingat dengan jelas walau sudah bertahun-tahun lamanya.


“Reyn, janji sama aku, ya. Jangan pernah main-main dengan pernikahan kita ya. Walau aku dan kamu sama-sama belum mengerti apa itu menikah, kita harus kuat melalui semua cobaan ini. Mungkin sekarang kita belum saling mencintai. Tapi tidak ada salahnya juga kalau kita berusaha menumbuhkan rasa itu. Kita sama-sama belajar dari nol ya, Reyn."


"Astaga!" Jennie menohok. "Serius aku ngomong begitu? Sepertinya aku lagi modusin kamu deh, Reyn. Soalnya aku ingat besoknya lagi aku pengin cerai sama kamu."


Reyno mencebik kesal, lalu menusuk pipi Jennie dengan telunjuk. "Kejujuran kamu nyebelin, Yank. Jahat banget kamu sama aku."


"Tapi gak apa Reyn, modus aku bisa jadi inspirasi kamu lo. Buktinya kamu selalu menjaga hubungan kita agar tidak goyah," ujar Jennie bangga. Ia mengelus rambut kepala Reyno yang agak basah seraya mencium pipinya.


"Lucu ya, kalau ingat masa-masa pernikahan kita di awal. Rasanya berat, dan gak nyangka bisa selanggeng ini." Masih dengan posisi memeluk dari belakang, Reyno menghujani kecupan sayang di pipi Jennie.


"Aku ngga inget Reyn! Aku kan pelupa, jadi sebagian kenangan di masa awal pernikahan hilang "


"Ya mau gimana lagi? Memang aku pelupa." Jennie terkekeh dalam geli. "Eh, tapi ada satu hal yang aku selalu ingat tentang kamu di masa lalu?"


"Apa?"tanya Reyno penasaran.


"Pas kamu nangis-nangis waktu di usir. Gak mau pergi dari depan gerbang rumahmu, terus aku bujuk kamu dengan berbagai rayu agar mau diem."


"Kalau itu sih aku juga inget. Apa nggak ada moment lebih spesial lagi yang bisa kamu inget."


"Ada!"

__ADS_1


"Apa?" tanya Reyno mulai antusias.


"Pas aku sudah berhasil diemin kamu sampai gak nangis lagi. Kamu mengucapkan sebuah kalimat yang bikin aku bergetar, dan gak pernah lupa sampai detik ini."


"Aku ngomong apa?" Reyno mulai terpancing dan semakin antusias.


Jennie memutar memori otaknya dulu, lalu mulai memperagakan omongan Reyno tempo dulu. "Mulai sekarang tugas Jennie harus jagain Reyno. Rawat dan lindungi aku bagaimanapun caranya! Hahaha." Jennie tergelak kencang.


"Aku gak akan pernah lupa momen itu Reyn. Secara kalimat itu biasa diucapkan oleh wanita. Dengan pedenya kamu minta dijagain sama aku."


"Ugh, nyebelin! Yang diingat semuanya tentang aku yang jelek-jelek. Dasar istri gak ada akhlak!" Reyno ngambek, sementara Jennie masih setia tergelak.


"Lucu tahu, dan bodohnya aku iyain permintaan kamu."


"Bodo amat! Gak denger ... gak denger!" Reyno sudah melepas pelukannya. Hendak menjauh karena terus-terus di bully. Otaknya  yang biasanya selalu pintar merangkai kata, mendadak hilang entah ke mana.


"Jangan marah dulu. Anggap semua itu adalah kenangan," ujar Jennie, lalu berbalik badan seraya menatap Reyno penuh binar. "Kamu memang meminta aku buat jagain kamu, tapi nyata kamu sudah berhasil jagain aku. Rela kerja keras, rela ngutang ke warung yang pedagangnya belum kamu kenal. Ingat pas kamu ngutang pembalut buat aku? Disitu aku ngerasa haru banget, suami lain jangankan ngutang, beli aja belum tentu mau."


Jennie merangkum wajah Reyno yang masih terlihat masam. "Kamu itu suami terbaik aku. Rela merendahkan harga diri kamu demi istri bisa makan. Itu sebabnya aku selalu berusaha untuk nurutin kemauan kamu walaupun banyak ngga masuk akal dan nyebelin. Karena jasa kamu terlalu banyak dalam berperan membahagiakan aku."


"Kamu gak lagi modus kan, Sayang?" Pipi Reyno merona merah setelah mendapat pujian termanis dari sang istri. Hatinya terbang-terbang tidak jelas. Merasa jadi pria paling istimewa sedunia.


"Aku serius! Di balik kekurangan kamu, hanya aku yang tahu persis bagaimana kamu yang sebenarnya. Biarlah dunia mencela, yang penting aku selalu berbangga."


Mendengar itu, Reyno langsung menghambur ke pelukkan Jennie. Meraih tubuh kecil itu dengan sangat erat. Haru biru memenuhi suasa kamar di jam tujuh malam.


"Makasih ya, aku akan berusaha kerja keras lagi untuk membahagiakan kalian. Usaha bengkel akan terus berjalan meskipun nantinya harus membantu Papi mengurus perusahaan."

__ADS_1


Karena bagi Reyno, sukses sesungguhnya adalah saat dia bisa mengundang BLACKPINK di acara sunatan anaknya.


***


__ADS_2