
William baru saja tiba di Bandara CGK. Pria itu langsung menyuruh pak supir untuk segera melajukan mobilnya pulang ke rumah utama. William sudah mendengar tentang kabar di usirnya Reyno dan Jennie dari rumah. Tentu saja ia langsung terkejut begitu mendenger kabar diusirnya mereka. William memikirkan nasib dua bocah ingusan itu, sampai ia lupa bahwa dirinya sendiri juga punya masalah yang cukup besar.
Akhirnya mobil yang ditumpangi William mulai memasuki gerbang utama. William segera keluar dari mobil. Berjalan cepat mencari Maminya.
"Selamat pagi Tuan Muda." Beberapa pelayan menyapa William serentak.
"Mami sama Papi mana?" Sudah menunjukan ekspresi emosinya.
"Tuan tidak pulang ke rumah, Nyonya sedang sarapan di kamar," jawab pelayan wanita itu sambil menunduk takut.
William langsung berlari ke kamar Maminya. Di lihatnya sang Mami sedang duduk melamun sambil menatapi makanan yang ada di depan matanya.
"Mam." William menghambur ke pelukan sang Mami. "Mami apa kabar?"
"Reyno ... Reyno di usir sama Papi kamu." Langsung menangis sambil memeluk anak pertamanya. "Tolong bantu Mami membujuk Papimu William, ini sudah hampir satu bulan Reyno pergi."
"Kenapa Papi mengusir Reyno, memangnya dia bikin masalah apa?" Di pikiran William Reyno selalu menjadi anak kesayangan orangtuanya. Tentu saja ia menanyakan kesalahan fatal apa yang anak itu lakukan sampai bisa di usir dari rumahnya sendiri.
"Papi kamu bilang ingin mengubah Reyno agar menjadi lebih dewasa lagi. Namun entah dapat ide dari mana menggunakan cara seperti itu. Kamu tahu tidak, Mami sudah berhari-hari tidak nafsu makan. Setiap mau makan selalu kepikiran Reyno, sedang apa dan di mana. Mami takut Reyno kelaparan."
"Mami tenang saja, ya. William akan bantu cari tahu di mana keberadaan Reyno. Dia bersama Jennie kan, gadis itu memilki pertahanan hidup yang cukup kuat. Jennie pasti bisa menjaga Reyno."
"Jangan sebut anak itu di depan Mami. Reyno di usir itu gara-gara dia!" Melengos marah.
"Baiklah, Mami harus sehat dan tetap makan. William akan menemui Farhan, anak itu pasti tahu di mana keberadaan Reyno." Secara Farhan adalah orang yang paling dekat dengan Papinya. Melebihi anak kandungnya sendiri.
***
Reyno sedang melamun, memikirkan seperti apa rasanya terbang ke surga yang sering diceritkan orang-orang. Nanti malam ia akan segera mendapatkan hal itu.
Aku tidak sabar ingin terbang ke surga itu, hahaha. Nanti malam aku punya sayap, dong. Kan katanya terbang.
"Sudah beli?" Pak Mandor mengagetkan Reyno dengan menepuk bahunya. Cowok itu habis menikmati makanan siangnya. Di tempat biasa, warteg si teteh Eci yang bisa kasbon dulu bayar kemudian. Hehehe. Maklum, gaji para kuli memang hanya pas-pasan untuk makan, sisanya untuk nonton dangdut gratisan setiap malam minggu. Khusus yang masih bujangan.
"Belum, Pak. Malu mau belinya." Reyno cemberut.
__ADS_1
"Reyn ... Reyn ... Tinggal tancap saja kok dibikin susah hidupmu. Kalaupun malu kan petugas apotiknya ngga kenal kamu."
"Namanya juga anak muda, Pak. Bapak sirik saja, deh."
"Buahaha. Memang istri kamu sudah bilang mau?"
"Mau dong, Pak. Siapa yang gak mau sama anak ganteng dan menggemaskan seperti saya." Reyno memuji diri sendiri.
"Wah, kasian sekali kambing di lapangan depan. Padahal gemuk-gemuk. Gak jadi selingkuh kamu, Reyn?" Masih setia membahas kambing.
"Kambingnya buat bapak saja sana! Kan bapak yang jomblo. Hahaha." Reyno tergelak.
"Gaji kamu saya potong, ya!" ancam pak Mandor.
"Yah, bapak ko gitu. Maaf deh, Reyno kan hanya bercanda. Masa sampai potong gaji."
"Biarkan saja, biar istri kamu marah-marah. Terus batalin ena-enanya. Xixixxii." Pak mandor tertawa dengan simbol tawa kebanggaan para bapak-bapak. Xixixixi, itu loh.
"Tega sekali bapak!"
"Kan masih ada kambing, Reyn." Membahas kambing lagi. Sepertinya Pak Mandor itu pecinta kambing, ya?
"Hahaha." Bapak Mandor ketawa.
"Oh iya, Reyn. kamu sudah berilmu belum? Biar nanti malam tidak malu-maluin. Awas ya Reyn, kalau kamu berani menginjak harga diri laki-laki."
"Menginjak kenapa?"
"Kali aja kamu ngga bisa begitun."
Kalau sudah membahas hal begini. Si Teteh penjaga warteg yang masih perawan langsung menutup telinganya dengan earphone. Malas dengar curcol para lelaki.
"Bisa dong, Pak. Kalau waktu pertama kali menikah baru tidak bisa. Rasanya geli kalau ngga cinta."
"Buahaha. Jadi kalau sudah cinta enak ya, Reyn." Tuh kan benar. Pembahasannya mulai kemana-mana. Padahal di situ ada tiga pekerja lain yang sedang makan. Mereka semua jomlo. Alias tidak punya pasangan. (Seperti kalian yang sedang baca. Ampun.)
__ADS_1
"Bapak bisa aja!" Reyno meminum es teh manis yang ada di depannya.
"Kamu punya hape, Reyn?"
"Punya, Pak. Kenapa?"
"Bapak mau kasih video tutorial. Masih ragu nih, sama kemampuan kamu." Secara Reyno itu terlihat polos sekali. "Keluarkan hape kamu," suruh Pak Mandor.
Reyno mengeluarkan ponselnya dari kantong celana. Pak mandor mulai mengirim koleksi miliknya untuk bahan pelajaran Reyno. Beginilah para lelaki kalau sudah berkumpul, tidak beda jauh dengan perempuan yang suka tukar menukar episode drama. Laki-laki juga melakukan hal yang sama, hanya saja isinya sedikit berbeda.
"Terima kasih ya, Pak." Semua video tutorial terkirim. Reyno langsung menekan tombol play pada layarnya. Sontak semua orang yang ada di situ langsung menoleh ke arah Reyno. Tiga orang jomblo itu tidak bodoh-bodoh amat. Mereka tahu maksud dari suara-suara jahanam yang keluar dari ponsel Reyno. Apa lagi full volume.
"Woi, Reyno! Bagong sia!" Pak Mandor langsung menelepak kepala Reyno. Mematikan suara lakhnat yang berasal dari ponsel Reyno.
"Kenapa pak, kok saya di pukul?" Menatap pak mandor dengan mata polos dan wajah jenakanya.
"Saya kasih itu bukan berarti harus langsung di tonton sekarang. Kamu ngga ada ahlak Reyno!"
"Hehehe. Habisnya penasaran, Pak. Mau langsung Reyno pelajari. Dari jaman masih sekolah sudah biasa begini, setiap dapat materi baru pasti langsung saya pelajari saat itu juga."
Pak mandor menggeleng frustasi. Yang Reyno katakan memang benar. Itu namanya murid teladan, tapi tidak untuk yang satu ini. Kasian telinga anak buah pak Farik yang masih perawan. Masa harus mendengar suara jahanam begitu. Nanti kalau ngiler gimana? Reyno itu benar-benar, ya.
Polos apa bodoh?
"Pak, sudah mau masuk. Saya ke dalam dulu, ya. Makasih untuk video tutorialnya, nanti saya tonton di rumah saja."
"Yayaya, jangan lupa angkat semen yang di sebelah utara dulu, jangan salah Reyno. Maskernya dipakai, jangan gaya-gaya ikutan yang lain, nanti alergi kamu kumat, tidak jadi kerja seperti kemarin." Menasehati seperti anak sendiri.
"Siap, Pak Boss!" Tangannya membentuk hormat.
"Tidak usah hormat begitu. Kamu pikir saya bendera?"
"Bukan bendera, tapi tiangnya bendera." Langsung kabur.
Pak Farik menggelengkan kepalanya. Reyno memang kadang suka bercanda kurang ajar seperti itu. Persis seperti anaknya. Tapi ia tidak pernah bisa marah sama sekali. Berkat adanya Reyno juga, ia dapat merasakan kehadiran anaknya yang jauh di kampung. Hidup pak Farik sedikit berwarna."
__ADS_1
***
Semoga kalian sabar menunggu prosesnya. Jangan lupa vote ya, kalau bisa pakai koin sekali-kali. 🤣