
Acara makan malam mereka bertiga berlangsung dengan sangat hening. Hanya ada dentuman sendok yang sesekali berbenturan dengan piringnya. Sudah di bilang kan, Reyno paling tidak suka jika ada orang yang berani macam-macam dengan miliknya. Dan Mami Dina sudah paham di mana letak salahnya, pasti karena aduan bahwa Mami pernah menghukum Jennie dengan kejam.
Wajar Reyno marah, selama ini ia memang tidak pernah tahu seperti apa kelakuan Maminya yang suka main hukum orang sembarangan, yang Reyno pikir hanya hukuman biasa. Selama ini Reyno hanya tahu di manja, tanpa pernah melihat ada orang-orang yang tersiksa di belakangnya, William dan Farhan juga tak luput dari hukuman Mami Dina.
"Pelan- pelan makanya, Sayang." Reyno mengelap noda makanan di bibir Jennie, sontak mami Dina menohok. Menyaksikan anaknya yang semakin kentara sekali perubahannya.
Selama ini, sikap Reyno yang seperti itu selalu dtujukan kepada mamihnya saja. Jelas ia merasa cemburu dan iri hati melihat Jennie diperlakukan secara spesial begitu.
"Huuu ... huu ... huu ...." Mami Dina pura-pura nangis bawang. Acara makan malam mereka bertiga menjadi semakin canggung. "Anakku ... huu ... huuu."
"Nyonya, apa anda baik-baik saja?" Kepala pelayan wanita yang sedang berdiri di belakang mami Dina langsung mendekat. Sementara Jennie dan Reyno seketika menghentikan kegiatan makannya. Mencoba membaca situasi saat ini. Waktunya main drama- dramaan. Pikir Jennie dalam hati.
"Huuu. Suami dan anak pertamaku sibuk bekerja, sekarang anak bungsu kesayanganku tidak peduli lagi dengan ibunya. Lebih baik aku mati saja," jerit Mami Dina.
Cocok sekali ya, ibu dan anak. Yang satu suka nonton drama, yang satu lagi jadi pendrama. Jennie.
"Mam. Tolong jangan seperti itu, Reyno akan selalu sayang dan peduli sama Mami." Reyno angkat bicara.
__ADS_1
"Kamu lebih mementingkan istrimu dibandingkan mamimu sendiri. Di mana letak sayangnya?" protes Mami Dina sembari mengusap air mata buayanya.
Cih! Bikin tidak nafsu makan saja. Jennie menggerutu dalam diamnya.
"Reyno kan sudah bilang kalau Reyno itu sayang banget sama Mami. Tapi Mami ngga bisa menghargai istri Reyno, itu artinya Mami juga ngga menghargai Reyno. Jadi yang sebenarnya tidak sayang itu Mami, bukan Reyno."
Suasana di meja makan semakin runyam saja. Kedua ibu dan anak itu sama-sama memiliki hati yang sensitif. Tidak ada yang mau mengalah satu sama lain.
"Bisa-bisanya kamu bicara seperti itu!" Mami Dina teriak. "Otak kamu benar-benar sudah di cuci ya, sama gadis kurang ajar itu. Di mana letak kesopananmu Reyn?" Mami Dina semakin naik pitam. Apa lagi melihat wajah polos Jennie yang seperti orang tak berdosa. Semakin memperkeruh hati Mami Dina saja.
"Mam...," lirih Reyno lembut. "Reyno hanya ingin Mami menerima istriku, karena faktanya kita sudah menikah. Reyno tidak ingin keluarga kita seperti orang-orang di luar sana, yang tidak akur hanya karena mertua dan menantunya tidak bisa saling menerima. Reyno sayang Mami, tapi Reyno juga sayang Jennie. Belajarlah menerima Jennie, anggaplah Jennie seperti anak Mami sendiri
"Mam...," bujuk Reyno sambil memeluk sang Mami. "Jangan marah-marah lagi ya, kita kan baru saja bertemu. Sayang juga perawatan Mami kalau marah terus begini, nanti jadi cepat tua loh." Merayu dengan sejuta keimutannya yang paripurna.
Cih! Tidak di mana- mana selalu saja cari perhatian hidupmu, Reyn. Batin Jenie sambil memperhatikan ubu dan anak itu main dram-dramaan.
"Kamu kan tahu, Reyn. Kalau mami itu orangnya cemburuan. Wajar kalau belum bisa menerima istrimu." Merajuk manja pada Si Bungsu kesayangannya.
__ADS_1
"Iya, kalau sekarang belum bisa, nanti juga tidak apa, Mam. Dan jangan pernah menghukum Jennie dengan kelewat batas ya. Reyno tidak ingin membenci Mami."
"Memangnya apa yang istri kamu adukan, pasti dia menjelekkan Mami ya?" Melirik Jennie sinis.
"Tidak ada Mam."
"Kenapa menuduh Mami kalau tidak ada?"
"Uluh ... Mami. Reyno tidak menuduh, hanya mengingatkan. Kalau begitu kita ke kamar duluan ya, Mam. Mau ganti baju, trus kita juga mau tidur di pavilliun saja."
"Kenapa? Takut istri kamu di apa-apain sama Mami." Mata itu melirik Jennie lagi, seakan ingin membunuh dengan tatapan yang menikuk tajam.
"Bukan begitu, banyak kegiatan kami yang mungkin akan mengundang kebisingan. Reyno tidak ingin Mami sampai terganggu, apa lagi Papi jarang pulang kan?" Menyeringai sok imut. Ada jeda sebentar untuk mami mencerna omongan nyeleneh anaknya.
Dan detik kemudian.
"Kurang ajar sekali kamu Reyno!"
__ADS_1
Lari tunggang langgang bersama Jennie.
***