
"Akh! Panas!" Reyno menepikan mobilnya di tengah jalan saat merasakan gelisah hebat yang melanda tubuhnya. Alex yang merasa tidak gerah sama sekali, langsung bingung ketika melihat Reyno tiba-tiba bertelanjang dada.
"Kamu baik-baik saja kan, Reyn?" Tubuh Reyno terlihat memerah. Seperti orang yang terserang alergi dadakan.
"Panas Al, rasanya tidak nyaman. Kenapa ini? Aku gak kuat, Al." Reyno mengeluh. Di mana cuaca biasa saja, AC mobil juga sudah full power.
"Tidak nyaman bagaimana?" Wah, detik itu juga Alex merasa curiga. Jangan-jangan ada yang menaruh racun di minuman itu. Biasanya, bar memang selalu menjadi sarana dan transaksi gelap para kaum bawah. Bodohnya Reyno main sembarang meminum sesuatu yang bukan miliknya. Anak itu ... haisssh, bikin khawatir saja.
"Panas Al, dadaku sesak sekali. Rasanya nyeri," keluh Reyno lagi, nafasnya terlihat naik turun tidak jelas. Keadaan pria itu sudah kacau balau seperti hendak di jemput mati.
"Tahan, Reyn! Aku tidak mau jadi tersangka kalau kau mati di sini. Ya Tuhan, setidaknya Engkau ambil nyawa sahabatku setelah di rumah sakit saja. Aku tidak mau dikira membunuhnya."
Reyno menonyor kaki Alex dengan kakinya sendiri. "Kepalamu mati! Aku masih ingin hidup bodoh!"
"Hah ... hah ... hah ..." Nafas Reyno mulai putus-putus. Pandangannya mulai buram dan tidak bisa melihat objek dengan jelas menggunakan netra beningnya.
"Ah, tahan Reyn! Aku saja yang menyetir, kita ke rumah sakit sekarang." Dalam hati Alex berdoa agar Reyno jangan mati.
Saat Alex hendak bertukar kemudi. Tiba-tiba Reyno bergeser ke bangku sebelah dan mencengkeram tangan Alex kuat-kuat. Lalu mengunci tubuh Alex dengan rangkulan Reyno yang kencang. Bisa dibayangkan posisi mereka sekarang sedang pangku-pangkuan.
"Tolong aku, Al. Arghh, bibirmu manis sekali!" racau Reyno yang menganggap Alex bak bidadari di matanya. Sangat menggoda dan ingin menerkam saat itu juga.
Saat Alex sedang terbengong-bengong mencerna sikap aneh Reyno, tiba-tiba saja pria gila itu mendaratkan bibir seksinya di atas benda kenyal milik Alex. Reyno berhasil mencuri sebuah kecupan di bibir Alex.
"Huahhh, Mama!" teriak Alex yang saat itu juga berasa mau mati. Ternyata Reyno tidak keracunan, melainkan ia meminum sembarangan minuman yang sudah di beri obat perangsang.
"Bantu aku Al, puaskan aku!"
__ADS_1
"Huahh gila!" Alex benar-benar terjebak masalah paling sial seumur hidupnya. Adegan seperti ini memang yang selalu diimpikan seorang Jordan Alex Sando , tapi tidak dengan Reyno juga kali!
"Reyn, tahan please. Jangan sampai ada adegan timun makan timun. Aku masih normal Reyn!"
Reyno sudah tidak tahu siapa Alex. Yang ia rasa Alex adalah objek yang menggoda. Alex sendiri sudah tidak tahu bagaimana caranya mencegah kebrutalan seorang Reyno. Tidak dibantu obat saja Alex dapat mengetahui seberapa mesumnya pria itu. Apalagi ada bantuan obat perangsang yang meninggikan gairahnya.
"Arghhhh!" Alex menjerit frustasi kala Reyno berhasil merobek baju di bagian dada Alex. Reyno meremas dada Alex dengan gemas. Di mana Alex dapat merasakan batang besar milik Reyno yang menonjol di pahanya.
Sumpah? Ada dosa apa dia di masa lalu? Kenapa bisa sesial ini hidupnya.
***
Jam menunjukkan pukul satu siang saat Jennie berhasil menidurkan anak-anaknya. Ia juga sudah menyuruh seseorang memperbaiki boneka Reyno yang rusak. Semoga saja bisa kembali untuh seperti semula. Karena selain kotor dan basah, beberapa lengan boneka itu ada yang terkoyak akibat ditarik-tarik Cilla dan Cello.
Setelah menghubungi William, Jennie baru tahu kalau Reyno sesayang itu dengan bonekanya. Andai ia tidak bercerita dan bertanya tentang masa lalu boneka itu, ia tidak mungkin tahu betapa kelamnya masa kecil Reyno yang dibeda-bedakan oleh neneknya.
TING TONG TING TONG
Terdengar suara bell pintu di depan berbunyi. Jennie bergegas membukkakan pintu untuk melihat siapa orang menyebalkan yang tidak sabaran ini.
"Siapa?" Jennie langung terkejut saat melihat keadaan Reyno yang menggenaskan. Pria itu diikat menggunakan tali yang suka dipakai untuk mengikat kambing, dengan pakaian kotor awut-awuttan. "Kenapa suamiku? Hei bodoh! Kau mau mati ya?" Jiwa macan Jennie seketika berkoar.
"Bunuh saja aku Je, aku juga hampir mati menahan malu asal kau tahu!" Alex menggerutu pasrah. Membuat Jennie bertanya-tanya apa yang terjadi sebenarnya.
"Memangnya kamu kenapa?" Reyno sudah jatuh ke pelukkan Jennie. Karena tangannya diikat, ia hanya bisa menggeliat-geliat tidak jelas.
"Apa kau tidak melihat aku yang lebih menggenaskan." Detik itu juga Jennie baru sadar bahwa banyak sekali luka cakaran di tubuh Alex. Bahkan kaos yang pria itu kenakan hampir tak berbentuk. Compang-camping seperti diterkam beruang buas.
__ADS_1
"Seumur-umur. Aku baru pertama kali ini teriak minta tolong pada warga sekitar. Andai saja tidak ada warga yang menolong, pant*tku sudah menjadi sasar empuk suamimu yang kegatelan."
"Maksudnya? Kau menuduh suamiku homo!"
"Hampir saja kita menjadi homo kalau tidak dicegah warga. Sebaiknya kau cepat bawa dia ke kamar, bantu Reyno tuntaskan birahinya. Pria itu sedang dalam pengaruh obat perangsang berdosis tinggi."
Jennie terperanjat kaget. "Apa? Bagaimana bisa ia meminum obat perangsang? Kau mengajaknya aneh-aneh ya?"
"Sudah jangan banyak tanya. Keselamatan sumimu lebih penting. Tadi kita habis ke bar dan Reyno tak sengaja meminum obat sialan itu."
"Bar?" Jennie ingin membunuh Reyno saat itu juga. Namun keadaan pria itu tidak memungkinkan untuk diajak berdebat. Bahkan, Reyno terlihat seperti orang yang setengah gila.
"Sudahlah. Aku pinjam kamar mandi di rumahmu, tubuhku penuh noda. Apalagi bibir suciku baru saja di cium kambing bandot afrika," decak Alex sebal, ia nyelonong masuk dan segera menuju kamar mandi tamu. Hiii, Jennie merinding geli membayangkan Alex dan Reyno berciuman.
"Eugh!" Reyno menggeliat-geliat heboh.
"Tahan Reyn!" Lagi-lagi Jennie terpaksa harus mengesampingkan amarahnya. Ia tidak mau menjadi janda di usia muda. Jennie juga tahu bahwa obat perangsang memiliki efek samping kuat pada tubuh manusia. Bisa menyebabkan gagal jantuh dan parahnya sampai berakhir kematian.
Kini mereka sudah berada di dalam kamar. Beruntung Cilla dan Cello sedang tidur siang, jadi mereka tidak perlu melihat keadaan papanya yang menggenaskan seperti orang kesetanan.
Karena tidak berhasil membuka ikatan kuat yang mengikat tangan Reyno. Terpaksa Jennie harus keluar kembali mencari gunting rumput untuk memutus tali kuat itu.
Bagai hewan buas yang baru saja di bebaskan, Reyno langsung menerkam Jennie secara membabi buta. Membuat wanita itu kewalahan dalam menuntaskan birahi suaminya.
Setelah puas, Reyno tertidur pulas dan meninggalkan Jennie yang masih sadar seorang diri. Untuk pertama kalinya, Jennie merasa diperlakukan seperti wanita bayaran yang ditinggal pergi setelah puas. Walaupun Reyno tidur, tetap saja rasanya sama seperti ditinggal pergi begitu saja.
Cepatlah sadar, Reyn. Aku akan mengasah pisau tajam untuk membunuhmu. Gerutu Jennie yang sudah kesetanan. Menahan emosi yang sulit sekali untuk dikendalikan.
__ADS_1