Suamiku Anak Mami

Suamiku Anak Mami
S2- Bab 25


__ADS_3

Terlepas dari tatapan marah, ekspresi wajah Reyno berubah memudar tatkala menangkap bibir Jennie yang terlihat merah akibat tamparan keras yang Jennie lakukan sendiri—menggunakan tangan Reyno.


Reyno mengatur nafasnya agar sedikit lebih tenang. Mengusap bibir merah itu dengan ibu jaringa, lembut. Jika dilihat dari tatapannya yang berubah hangat, sepertinya ngambek Reyno sudah berangsur-angsur pulih.


"Aku memang kesal, tapi main tangan tidak akan membuat aku memafkanmu begitu saja. Justru, yang kamu lakukan telah membuatku semakin emosi. Kau meminjam tanganku untuk melukai diri sendiri. Sama halnya kamu telah membuat aku menjadi seorang suami yang kasar terhadap istrinya."


Mata Reyno jatuh pada bibir malang itu—bibir yang baru saja tersakiti oleh tangan kanannya. Reyno seperti tidak rela melihat istrinya menahan sakit. Meski Reyno tidak menampar secara langsung, namun ia tahu bahwa tamparan yang Jennie lakukan cukup kuat. Jennie pasti menahan sakit dalam bentuk diam.


"Sakit banget, ya?" tanya Reyno dengan ekspresi khawatir.


Belum menjawab pertanyaan yang tadi, Jennie dikejutkan lagi oleh sikap Reyno yang berubah baik. Berhasil. Hanya itu yang Jennie pikirkan saat keajaiban membawa perubahan dalam diri Reyno. Bagi Jennie, sakit tak seberapa itu bukanlah masalah besar, asalkan Reyno berhenti marah. Itu sudah lebih dari cukup.


mengulas senyum simpul, Jennie menggulingkan tubuhnya dari atas badan Reyno ke samping, dan berakhir masuk ke dalam dekapan erat suaminya.


"Kamu udah maafin aku kan? Udah engga marah lagi 'kan? Reyn, maafin aku ya, sudah bikin kamu malu. Maaf juga karena aku kurang peka. Lupa kalau kamu takut gelap."

__ADS_1


Jennie merenggangkan pelukkannya. Jari-jemari lentik itu membuka kancing piamaya Reyno dengan gerakan profesional. Malam ini, ia akan meminta maaf sekaligus memberikan tubuhnya tanpa harus di minta.


Selain kepepet, Jennie juga sudah memikirkan bahwa membawa Reyno ke hotel adalah hal yang tepat. Di sini, mereka bisa melakukan apa saja tanpa adanya gangguan. Bisa leluasa karena tidak ada Cilla dan Cello yang bergabung tidur bersama mereka.


Meski sudah dilatih tidur sendiri, tak jarang Cilla dan Cello merajuk ingin tidur dengan Papa Mamanya. Hal itu banyak menyita jatah waktu dari Jennie untuk Reyno. Bahkan tak jarang Reyno harus mengalah dan tidur di sofa atau kamar lain. Demi kedua anak tercintanya.


"Mau ngapain?" Kalimat menyebalkan meluncur bebas dari bibir Reyno. Lengkap dengan tatapan yang sulit untuk Jennie tebak.


Jennie yang merasa dianggap agresif mencoba untuk tidak peduli. Tetap terus melancarkan aksinya untuk menanggalkan pakaian yang Reyno kenakan.


Reyno menjawab datar dengan seribu gengsi yang bersarang di dalam dada. "Aku akan melupakan marahku untuk malam ini saja." Membantu Jennie melepas pakaiannya sendiri.


Bibir Reyno jatuh pada benda kenyal merah nan menggiurkan—bagaikan buah delima . Meneguk rasa manisnya dalam setiap hisapan yang dari pelan berubah menuntut.


Tak mau kehilangan waktu sedetik pun, Reyno menanggalkan piama milik Jennie tanpa melepas ciumannya. Keduanya melakukan gerilya apik dalam sorot lampu pendar. Saling meraba dan menaikkan gairah dalam setiap aktifitas indahnya.

__ADS_1


"Kamu sudah membuka jalan untuk binatang melata yang lapar, jangan salahkan aku jika malam ini kamu harus dieksekusi tanpa ada kata henti."


Jennie merinding geli sekaligus ngeri. Entah dari mana Reyno mendapat kata-kata mutiara yang terasa horor untuk di dengar.


Tak mau mengecewakan janji yang sudah dibuat sendiri. Jennie melepas senyum hangat seraya berkata,


"Ratu akan melayani baginda Raja dengan senang hati," balasnya dengan mata genit.


Malam yang panjang dan penuh gairah itu terjadi begitu saja. Tanpa ada kata lelah mereka melakukannya lagi dan lagi. Melampiaskan rasa yang sama-sama ingin tersalurkan.


Suara erangan mereka bagaikan senandung yang indah untuk didengar. Saling menyentuh, mengimbangi, dan berlomba-lomba mencapai puncak sebuah ujung kenikmatan.


Abaikan otot-otot yang minta diistirahatkan. Keduanya begitu buas dalam mengeksekusi permainan. Seolah baru pertama kali melakukannya, semangat Reyno dan Jennie tak pernah pudar. Hotel itu telah menjadi saksi bisu bahwa ada dua mahluk gila buas yang memporak-porandakan isinya tanpa belas iba.


***

__ADS_1


__ADS_2