Suamiku Anak Mami

Suamiku Anak Mami
S2- Bab 7


__ADS_3

Persalinan pertama Jennie benar-benar menjadi ujian yang paling berat di tahun ini. Selain menahan rasa sakit efek kontraksi, ia juga harus menahan malu atas semua yang Reyno lakukan. Untung suster pintar, mereka


menyuruh Reyno membeli makanan dan minuman hangat untuk persediaan Jennie bila ia lapar. Sejenak pergi, setidaknya keributan di rumah sakit ini sedikit berkurang.


“Sus, tolong maafkan sikap suami saya, ya, Sus.  Biasanya dia tidak separah itu, saya juga tidak tahu kenapa.” Jennie mengusap lembut bahu sang suster dengan wajah


mengiba. Merasa bersalah karena semua orang yang Reyno temui tak luput dari


amukkannya.


“Tidak apa, Bu. Perubahan sikap suami Anda adalah hal yang sangat wajar. Itu artinya suami Ibu benar-benar sayang pada Ibu, makannya panik dan marah-marah begitu, apa lagi suami ibu tidak bisa berbuat apa-apa ketika melihat ibu kesakitan. Kami sudah biasa menerima keluarga pasien melahirkan yang seperti itu, kok, bu.”


“Terima kasih, ya, Sus. Jasa kalian sangat berharga untuk kami.” Pujian beserta senyuman Jennie membuat sang suster tertunduk malu-malu.


Ia menyeka keringat yang bercucuran di wajah Jennie dengan telaten.


“Ibu juga semangat ya, saya salut dengan keinginan Ibu untuk melahirkan secara normal, padahal rata-rata ibu yang hamil kembar selalu minta jalur caesar di awal kehamilan mereka, tapi Ibu berbeda dengan yang lain. Saya bangga dengan keputusan Ibu. Saya doakan Ibu akan segera melihat kedua anak ibu secepatnya.”


“Terima kasih, Sus,” balas Jennie seraya mengaminkan dalam hatinya.

__ADS_1


***


“Reyno.” Panggilan bunda menjadi pemecah sepinya lorong rumah sakit di jam Sembilan malam. Pria itu menoleh, memamerkan wajah sembabnya pada sang bunda.


“Bundaa … Huaah,” jeritnya cukup keras. Ia menghambur ke pelukan bunda, menangis terisak dengan derai air mata yang tak mau berhenti.


“Ada apa, Reyn? Jennie baik-baik saja, kan?” Melihat Reyno seperti itu bunda jadi ikut panik. Pikirannya melayang-layang tidak jelas tentang putrinya “Jennie kenapa, Reyn. Di mana dia?” ulang bunda sekali lagi.


“Jennie ada di ruang persalinan.” Menunjuk pintu bertuliskan ‘Ruang Persalinan’ yang tidak jauh dari tempat berdirinya. “Ka … kata suster, dia baru pembukaan dua, melahirkannya masih lama, Bun, tapi Jennie sudah sangat kesakitan, Reyno kasihan melihatnya,” isakknya sedikit terbata. “Reyno ngga kuat, Bun. Rasanya seperti ingin mati melihat orang yang kita cintai begitu tersiksa.”


Mendengar penuturan Reyno, bunda langsung lega karena keadaan Jennie baik-baik saja. Dalam arti tidak ada hal gawat yang terjadi pada putri semata wayangnya. Justru ia khawatir pada si suami yang hatinya begitu melankolis ini. Bunda mengajak Reyno duduk agar pria itu sedikit tenang sebelum masuk ke ruang persalinan.


“Tenang, ya Reyn, istrimu pasti baik-baik saja. Sebaiknya kita duduk dulu sampai hati kamu tenang, baru nanti kita masuk ke ruang


 Reyno mengatur nafas dan juga mengusap air matanya yang terus keluar terus menerus. “Bunda sudah mengabari Mami dan Papiku, kan?”


 “Sudah Reyn, Bunda sudah telepon. Mereka sedang dalam perjalanan ke sini. Bunda juga sudah mengabari Farhan, dia belum bisa pulang, masih banyak urusan katanya.”


Sepertinya tangisan Reyno sudah sedikit mereda, akhirnya. Bunda masih mengusap-usap punggung Reyno yang

__ADS_1


Tidak menanggapi, Reyno malah mengalihkan pembicaraanya pada hal lain yang mengganjal di hatinya.


“Bunda, apa semua orang hamil seperti itu? Apa semua ibu yang hendak melahirkan sangat tersiksa seperti istriku?" Rasa penasaran itu membawa pikiran Reyno berpetualang ke masa lalunya, memikirkan apakah maminya juga mengalami hal yang sama dengan Jennie.


"Iya. Tapi kamu tenang saja, Tuhan memberikan kekuatan ekstra pada ibu hamil. Bunda sendiri merasakan hal itu. Dulu bunda sangat cengeng, jatuh dari sepeda saja bunda menangis. Tapi pas melahirkan Jennie, tidak ada setetes air matapun yang keluar. Bunda seperti dirubah menjadi wanita super pada saat melahirkan." Akhirnya bunda bercerita tentang masa lalunya.


"Benarkah Bunda? Bunda sedang tidak lagi berbohong 'kan? Masa bisa seperti itu. Reyno takut, Bun. Apa lagi Jennie harus melahirkan dua anak sekaligus. Gimana kalau Jennie ngga kuat?"


"Sttttt. Jangan bicara seperti itu. Semangati istrimu. Di saat-saat seperti ini. Dukunganmu sangat berarti untuk Jennie." Bunda menepuk bahu Reyno kuat-kuat, memberi semangat pada anak itu dengan wajah penuh keyakinan.


"Baik, Bunda. Terima kasih atas pencerahannya. Sebaiknya kita melihat kondisi Jennie. Reyno takut dia nyariin aku." Pria itu beranjak, wajahnya sudah sedikit tegar. Semoga saja pas masuk nanti tidak membuat kekacauan di dalam.


"Ayok. Bunda juga ingin melihat keadaan Jennie. Mereka berjalan beriringan menuju pintu ruang persalinan yang jaraknya hanya lima meter dari tempat duduk tadi.


Saat Reyno membuka pintu, ia langsung terperanjat dengan wajah murka. Aura di sekelilingnya menghitam, memancarkan cahaya membunuh dan mengerikan.


"Apa-apaan ini!" teriak Reyno menggila.


Ya Tuhan, baru saja dia tenang. Kenapa jadi begini lagi, sih! Sia-sia aku membujuknya dengan susah payah. Bunda membatin frustasi. Merasa terhimpit dengan situasi sekacau ini.

__ADS_1


***


Part berikutnya aku gak sanggup nulis. gimana ini ?🤣🤣🤣 Aku mau tawa bayanginnya.


__ADS_2