Suamiku Anak Mami

Suamiku Anak Mami
S2- Bab 16


__ADS_3

Gadis bernama Mila itu meremas rok berbahan satin yang ia kenakan. Sesekali Mila melirik Reyno yang sedang fokus menyetir. Membelah padatnya lalu lintas di jam makan siang. Huuh. Hembusan nafas kasara Mila mengiringi perasaan ketar-ketir yang bersarang di lubuk hatinya.


"Siapa namamu?" Reyno bertanya, tanpa melirik Mila sama sekali. Gadis itu semakin gugup dan meremas tangannya lebih kuat lagi—hingga buku-buku jarinya memutih.


"Saya Mila, Kak!" jawabnya tergagap-gagap. Jantungnya berdetak tidak karuan. Mendadak otak Mila dipenuhi perasaan bersalah. Ia tahu seniornya sudah menikah bahkan punya anak, namun hati Mila tetap bersikeras menaruh perasaan cinta pada Reyno. Hal itu memacu Mila untuk berbuat kenekatan gila—ia mengirim banyak hadiah untuk Reyno melalui teman suruhannya.


"Oh. Mila ya...." Reyno mengangguk. Mobilnya mulai melambat, pertanda tujuan yang ia mau hampir sampai.


"Kak Rey, maaf, kalau boleh tahu kita mau kemana ya?" Memberanikan diri untuk bertanya, Mila semakin canggung dengan situasi saat ini.


"Makan siang," ucap Reyno datar.


"Makan?" Mila menoleh tak percaya. Gadis itu menyerngitkan dahinya bingung seraya berkata, "Apa tidak masalah makan berdua dengan kakak? Bukannya kakak sudah punya anak dan istri ya?"


Reyno menyunggingkan bibir tipisnya. Lalu membelokkan kemudi—masuk ke sebuah restauran yang tak jauh dari kampusnya. "Kamu sudah tahu aku memiliki anak dan istri? Kenapa masih berani melakukan hal seperti itu?"


Deg! Jantung Mila serasa mau lepas dari tempatnya. Mana ia tahu kenapa bisa melakukan hal gila ini. Cinta itu buta. Mungkin itu adalah alasan yang tepat untuk seorang Mila yang baru hendak mengenal cinta. Sayangnya cinta pertama Mila adalah suami orang. Miris.

__ADS_1


Mobil sudah berhenti. Reyno sengaja tidak langsung turun karena ingin mendengar jawaban Mila.


"Maaf Kak, aku tidak bisa menahan diri untuk tidak menyukai Kaka." Kembali meremas jari, Mila tertunduk tatkala ia sadar siapa Reyno sebenarnya. Pria dalam kategori bucin, yang tidak mungkin bisa berpaling dari istrinya. Itu menurut informasi yang Mila dapat dari beberapa orang kepercayaannya. Begitulah Reyno.


"Baiklah. Ayo kita bicarakan ini dengan kepala dingin. Aku harap masalah ini bisa terselesaikan dalam satu kali pertemuan." Reyno membuka pintu mobilnya. Lalu berjalan meninggalkan Mila yang masih duduk di dalam mobilnya.


Ya Tuhan, aku mau mati saja. Di balik wajahnya yang polos dan tampan, kakak Rey sangat mengerikan. Mila ke luar dari mobil, lalu berlari kecil menyusul Reyno yang sudah jalan terlebih dahulu.


Duduk saling berhadapan, tidak ada hal lain yang bisa Mila lakukan kecuali terus-menerus meremas baju dan rok seraya menunduk. Perasaaanya semakin kacau. Jangan-jangan, Reyno mengundang istrinya untuk datang ke sini juga. Agh, otak Mila tidak bisa menebak apa yang akan terjadi selanjutnya.


"Samakan saja dengan Kaka."


Reyno mengangguk. Menutup buku menu dan memanggil pelayan untuk mengecek pesanannya. "Dua Roll egg, dua choco mouse, wonton bakar dan kentang goreng satu ya, Kak. Ditunggu pesanannya." Pelayan itu pergi, membuat Mila terpaksa harus fokus pada pembahasan yang akan mereka bicarakan.


"Jangan takut, aku tidak akan memakanmu." Reyno menyadari bahwa Mila masih sangat polos, maka dari itu ia tidak mau marah atau melakukan hal yang merusak jiwa kepolosannya.


Dikeluarakannya semua barang-barang itu dari dalam ranselnya. Reyno menaruh satu-persatu barang yang pernah Mila berikan di atas meja. Lalu mendorong barang-barang itu pelan ke hadapan Mila.

__ADS_1


"Niatku mengajak bertemu, adalah untukku mengembalikan semua barang-barang yang pernah kamu titipkan pada teman-temanku. Ambillah," ucap Reyno dengan ekspresi wajah tenang.


"Aku ikhlas memberikan pada Kakak. Kenapa harus dikembalikan?" tanyanya polos. Ada perasaan sakit sekaligus kecewa menyelimut hatinya.


"Jelas harus. Aku tidak pantas menerima barang-barang pemberian darimu. Berikanlah semua barang ini pada orang yang tepat. Percayalah, aku sudah mendapatkan semua yang aku inginkan dari istriku sendiri." Kalimat Reyno sukses membuat sudut mata Mila merambang. Air mata Mila mulai berdesakkan dan ingin segera terjun bebas membasahi pipi.


"Tapi aku ingin Kakak memakai barang pemberianku. Meskipun tidak bisa memiliki Kakak, setidaknya aku bisa melihat Kakak menggunakan barang pemberianku."


Tersenyum kembali, ada perasaan geram yang Reyno tahan sedari tadi. Mila ini memang polos asli, atau sedang pura-pura sih?


"Mila .... Istriku akan sakit hati jika melihat suaminya menggunakan barang dari wanita lain. Apa kau paham itu? Bukankah kamu seorang wanita? Seharunya kamu tahu sesensitif apa perasaanya."


Tes! Air mata itu jatuh bersamaan dengan hancurnya perasaan Mila. Kenapa nasibnya begitu malang? Andai Mila dapat mengatur perasaanya, ia tidak akan mau melabuhkan hati pada sesuatu yang salah. Namun, sosok Reyno benar-benar sangat mengagumkan di mata Mila.


***


Sabar guys, tarik napas, jangan marah dulu ya... biar aku ngetik bab selanjutnya bisa cepet. Hahaha

__ADS_1


__ADS_2