
Tubuh mami Dina terhoyong-hoyong bersamaan dengan kabar yang baru saja disampaikan oleh petugas kepolisian. Tanpa sempat menangis, wanita itu ambruk dengan kepala yang membentur pada bingkai pintu. Jiwanya terguncang hebat ketika mendengar kabar buruk yang menimpa putra dan menantunya.
Sekarang ... semuanya sudah berkumpul di rumah Reyno dan Jennie. Termasuk ayah Hermawan yang saat itu juga Farhan bebaskan dari penjara. Tangis dan jerit memenuhi rumah itu, untungnya kedua bocah polos sudah diasingkan bersama baby sitternya ke tempat lain. Farhan yang mengusulkan hal itu, ia tidak ingin kedua mental ponakan kembarnya sampai terganggu melihat tangisan semua orang yang ada dikediaman Reyno dan Jennie.
Ratusan tim sar sudah dikerakahkan untuk mengevakuasi semua korban tragedi pesawat tersebut. Orang-orang Tuan Haris juga sudah dikerahkan demi mencari jasad Reyno dan Jennie. Terutama black box yang menjadi bukti penting terjadinya tragedi pesawat tersebut.
Dua minggu sudah berlalu. Pencarian tim sar masih terus berlanjut, namun untuk evakuasi sudah dihentikan secara paksa oleh petugas kepolisian. Baik itu dari negara Indonesia maupun Korea Selatan.
Dalamnya perairan dan cuaca yang memburuk sangat menyulitkan petugas evakuasi untuk mengambil jenazah para korban. Apalagi sebagian tubuh mereka sudah hancur. Terbukti ada beberapa tim sar yang menemukan potongan tangan dan kaki para korban pesawat. Takutnya malah menimbulkan korban jiwa bagi tim evakuasi.
Langit mendung kala itu, tuan Haris dan para keluarga korban mengadakan acara tabur bunga di samping pesisir. Untuk melalukan doa bersama karena jasad para korban tidak dapat diangkat ke daratan. Perairan laut itu sudah menjadi tempat dan kuburan bagi ratusan korban yang jatuh di kecelakaan pesawat KOI AIR 574 pagi. Mengenang duka dan luka bagi para keluarga yang ditinggalkan oleh korban. Tidak hanya Cilla dan Cello, ada puluhan anak lain yang kehilangan ibu atau ayahnya. Ada juga ibu yang kehilangan anaknya, suami yang kehilangan istrinya, istri yang kehilangan suaminya, juga suami istri yang meninggal bersamaan seperti Reyno dan Jennie.
"Reynooooo!" Sepupu paling rusuh sejagad raya datang. Sasha turun dari mobil dengan pakaian serba hitam, wajahnya sembab, dan rambutnya acak-acakan tak terurus.
"Apa kau gila! Kenapa kau berani mati duluan meninggalkanku, hah?" Gadis itu berteriak histeris. Hampir menceburkan tubuhnya ke dalam laut andai tidak di cegah oleh dua bodyguardnya.
__ADS_1
"Lepaskan aku, aku ingin membuat perhitungan pada sepupuku yang menyebalkan itu." Sasha terus menggila. Tidak terima sepupunya pergi meninggalkannya begitu saja.
"Rey ... noooo!" teriak Sasha kembali. Meskipun pribadinya terlihat keras kepala, namun semua orang yang melihat tingkah Sasha langsung menangis saat itu juga. Mereka tahu betapa terguncangnya gadis itu sampai berani teriak-teriak di acara duka.
"Kenapa semua orang pergi meninggalkanku. Kenapa tidak aku saja yang mati?" Sasha menengadah ke langit. Seolah meminta jawaban dari Yang Maha Kuasa atas segala apa yang terjadi dalam hidupnya.
Jauh dari dalam hatinya, Sasha sangat menyayangi Reyno. Meskipun keduanya selalu tidak akur saat bertemu.
"Sha, sudah jangan teriak-teriak. Malu dilihat orang-orang." Ayah Sasha mencoba menenangkan kehisterisan anaknya. Kecuali Sasha, semuanya sudah berlapang dada melepas para korban yang meninggal. Hanya gadis itu seorang yang tidak terima sepupunya meninggal.
Dari arah belakang, Sashi kembaran Sasha datang menyusul. "Sudah, Sha ... jangan membuat kehebohan. Kenapa kamu jadi bahas adik kita?"
Gadis yang wajahnya bagai pinang dibelah dua menarik Sasha ke dalam dekapannya. Ia juga ikut menangis lantaran kedua anak kembar itu kecilnya cukup dekat dengan Reyno.
Begitulah mati, tidak menunggu kita siap dan tidak memberi aba-aba. Ajal datang tanpa terduga, bahkan di saat hati kita sedang diselimuti kebahagiaan sekali pun.
__ADS_1
"Aku benci kamu Reyno!"
Sasha meluapkan semua emosinya. Sampai akhirnya gadis itu tak sadarkan diri dan dibawa oleh para bodyguard.
William dan Papih yang melihat Sasha di bawa oleh dua bodyguard langsung menjatuhkan air matanya kembali. Mereka berdua mengingat terakhir kali Reyno datang ke kantor saat memberi wejangan. Tidak menyangka, nasihat yang Reyno berikan adalah kata-kata manis terakhir sebelum ajalnya menjemput. Sungguh andai mereka tahu, mungkin mereka akan memperlakukan Reyno dengan lebih baik lagi.
'Sayangi pasangan kita selagi kita masih ada.' Begitulah Reyno menasihati papi dan William pada saat itu.
Masih dengan lingangan air mata, bunda menjatuhkan kepalanya di dada sang suami. Hermawan mengelus lengan istrinya lembut, mencoba menenangkan seorang ibu yang sakit hati karena kehilangan anak perempuannya.
Ia sendiri juga tidak menyangka bahwa putri tunggalnya akan menemui ajal secepat ini. Padahal, mereka baru saja berbaikan tiga minggu yang lalu.
Tepat satu hari sebelum Jennie dan Reyno melakukan bulan madu malapetaka itu, Jennie sempat mendatapi tahanan untuk menemui ayahnya. Di saat Hermawan sedang meratapi nasibnya, seorang petugas datang dan berkata bahwa putrinya datang berkunjung. Lutut kaki Hermawan terasa lemas, pria paruh baya itu menangis haru melihat wajah putrinya yang nampak cantik sedang menunggunya.
Wanita itu berlutut dan menangis di kaki sang ayah. Ia meminta maaf karena selama ayahnya ditahan tak pernah sekalipun datang menjenguk sang ayah. Jennie juga berkata bahwa ia sakit hati dengan kelakukan ayahnya. Namun setelah Reyno menjelaskan bahwa ayahnya tidak sepenuhnya bersalah, Jennie langsung merajuk dan ingin menemui sang ayah saat itu. Sama seperti Farhan yang hatinya tergerak untuk memaafkan Hermawan. Begitulah Jennie saat itu.
__ADS_1
***