Suamiku Anak Mami

Suamiku Anak Mami
Ikatan hati


__ADS_3

Hari ini Jennie di hukum lagi, ini adalah hukuman kedua yang diberikan Mami Dina untuk Jennie semenjak ia pulang dari liburan-nya. Kali ini Jennie mendaptakan hukuman untuk membantu pelayan dapur selama satu hari. Bagaimana dengan Reyno? cowok itu sedang duduk santai bersama dengan Maminya di pinggir kolam. Mencoba membujuk nyonya itu agar berhenti menghukum istrinya.


"Mam, tolong jangan hukum Jennie, yah. Dia kan tidak sengaja." Memijit bahu Sang Mami agar luluh hatinya.


"Ngga sengaja gimana, istri kamu itu sudah mecahin guci kesayangan Mami, jangan bela dia, Jennie memang patut untuk dihukum. Sudah jangan memohon apapun, Mami tidak akan memberikan keringanan apapun pada gadis itu," ucapnya sewot sembari mengibaskan rambut panjangnya.


"Permisi Nyonya." Jennie datang membawa sepiring buah-buahan pesanan Mami medusanya itu. Menaruhnya di atas meja lalu berbalik pergi.


"Jennie," panggil Reyno. "Mau kemana?" Gadis itu pura-pura tidak dengar dan berlalu pergi.


Mau kerja lagi lah, dasar suami tidak berguna. Bukanya nolongin istrinya, malah asik manja-manjaan sama Ratu Medusa.


"Sayang, biarkan istri kamu melakukan tugasnya. Kamu cukup di sini temanin Mami. Atau hukumanya akan Mami tambah," ancam Mami Dina pada Anaknya.


"Iya, Mam." Reyno pasrah.


Jennie kembali bekerja di dapur belakang, membantu para pelayan lainya menyiapkan makan malam.


"Mbak, saya kapan boleh makan-nya yah? Kalo nunggu hukuman selesai, pasti saya sudah pingsan duluan. Dari pagi saya terus bantuin kalian kerja, tapi ngga dikasih makan sama sekali," ucap Jennie terpaksa mengatakanya.


"Non Jennie belum diperbolehkan makan selama masa hukuman, dan kalau Nona sampai mengadu pada Tuan Muda atau yang lainya, hukuman Nona akan di tambah lagi. Hanya itu pesan yang Nyonya berikan pada saya. Maafkan saya Nona," tutur pelayan itu ramah.


"Heh, ada apa ini?" Mbak Mira datang menghampiri Jennie dan pelayan yang sedang mengobrol.


"Aku laper, Mbak. Tapi masih di hukum," adu Jennie sembari memegangi perutnya.


"Gini, di sini dilengkapi ruang cctv, kalo kamu mau makan pun ngga bisa, disini ada kepala pelayan yang akan selalu mengawasi gerak-gerik kita, ngga bisa main sembarangan comot-comot makanan. Tapi mbak punya beberapa telur rebus yang rusak alias ngga utuh bentuknya. Ini telor sisa untuk balado yang tidak terpakai, kamu mau?" tanya Mbak Mira sedikit tidak enak hati.


"Mau, Mbak ... Mau!" Jennie tersenyum senang. Meskipun itu adalah makanan yang tidak terpakai lagi, tapi masih layak untuk dikonsumsi karena hanya bentuknya saja yang tidak utuh, rasanya sama saja dengan telur rebus lainya.


"Ya sudah, kamu bawa ini ke kebun belakang, makan di sana, jangan sampai ketahuan orang." Mba Mira memberikan sekotak telur rebus rusak pada Jennie.


"Terima kasih, Mba." Jennie menerimanya, lalu pergi ke kebun belakang dengan sekotak makanan sisa yang ia dapat. Miris.

__ADS_1


Di bawah pohon besar nan rindang, Jennie mulai menikmati sekotak telur rebusnya, memasukanya dengan cepat ke dalam mulut saking laparnya. Bersih atau tidaknya, Jennie sama sekali tidak peduli. Yang penting ia bisa bertahan hidup di istana mengerikan ini.


Kurangajar Ratu Medusa itu, berani-beraninya menyiksaku seperti ini. Memang ini jaman romusha apa?


Cih! aku tidak akan menderita sekeras apapun kau menghukumku.


Jennie mengelap air mata yang hampir keluar, gadis itu teringat Bunda dan Ayahnya. Bunda pasti akan menangis jika mengetahui anaknya diperlakukan seperti pengemis di rumah mertuanya. Itulah yang sedang Jennie pikirkan, perasaan Bundanya.


"Apa yang kamu lakukan di sini?" Jennie menoleh saat mendengar suara, padahal ia sudah bersembunyi di balik pohon yang besar.


"Kaka?" Tersenyum selebar-lebarnya ketika melihat yang datang ternyata adalah Farhan.


"Jangan panggil saya Kaka. Hubungan kita tidak sedekat itu." Farhan mengamati kotak makanan yang ada dipangkuan Jennie.


Apa itu? Apakah dia sedang memakan sampah?


"Kamu sedang apa?" Akhirnya Farhan bertanya karena terlalu penasaran dengan apa yang dilakukan gadis itu di bawah pohon.


"Makan, Kak. Aku tidak akan menawarkan makanan ini padamu. Hanya ada sedikit, dan aku belum makan sejak pagi." Bahkan Jennie masih bisa tersenyum saat mengatakanya. Entah terbuat dari apa mental dan hatinya.


"Ini sisa telur rebus rusak yang akan di buat telur balado. Hari ini aku sedang di hukum karena tidak sengaja memecahkan guci antik kesayangan Mami Dina, aku tidak boleh makan sampai hukumanku selesai."


Baguslah, sebentar lagi hukuman dan penderitaanmu akan lebih berat dari ini.


Farhan menyunggingkan bibirnya sinis. "Apakah itu enak?" Menunjuk telur rebus yang sedang Jennie nikmati perlahan.


"Enak, kok. Mbak Mira menambahkan garam agar rasanya tidak terlalu tawar. Upsss ...." Jennie menutup mulutnya. "Kaka tidak akan memberi tahu Mami Dina kan? Kalo aku diam-diam memakan telur ini di masa hukuman. Soalnya aku belum makan sejak pagi, untung Mba Dina baik dan memberikan telur ini untuk dimakan," terang Jennie dengan sorot mata polosnya, membuat hati Farhan mendadak tersentuh mendengar penderitaanya.


Perasaan apa ini?


Mengapa hatiku mendadak sakit seperti ini? Apa kamu sedang memberontak hati? Harusnya kamu senang melihat gadis kecil itu menderita.


"Kak!" Jennie memanggil Farhan yang terlihat melamun. "Kaka tidak akan memberi tahu orang lain kan?"

__ADS_1


"Apakah itu benar-benar enak? Itu terlihat seperti sampah. Sama sekali tidak layak untuk dimakan." Akhirnya Farhan buka suara saking tidak tahanya.


"Enak, kok. Mau coba?" Jennie menyodorkan kotak itu pada Farhan, pria itu langsung mundur karena mual mencium baunya. "Hahaha ... ternyata pria galak sepertimu takut pada telur, ya. Mungkin jika ada makanan lain, aku juga akan merasa ini tidak enak. Karena aku lapar dan tidak ada makanan lain yang bisa di makan lagi, aku anggap makanan ini adalah makanan terenak di dunia." Lagi-lagi Jennie tersenyum riang, sama sekali tidak ada aura menderita di wajahnya.


"Oke ... oke. Makanlah, jangan dekat-dekat denganku." Farhan menutup hidungnya. Sialan, mengapa aku merasa tidak terima melihat dia diperlakukan seperti itu. Menggeram kesal.


Apa benar kami memiliki hubungan darah? apa itu yang membuat hatiku merasa sakit. Stop Farhan! dia adalah gadis yang harus kamu benci. Ingat itu.


"Kak, kamu belum menjawab pertanyaanku. Kamu tidak akan memberi tahu orang lain kan? Ayolah! berbaik hati lah sedikit." Jennie memohon. Semua telur rebus yang ada di pangkuanya telah habis di makanya.


"Tidak!" jawab Farhan cuek.


"Makasih, Kak. Aku percaya bahwa kamu akan menjadi malaikat pelindungku di rumah ini."


Farhan terperanjat mendengar perkataan Jennie, bahkan pria itu akan segera menambah penderitaan Jennie. Samar-samar hatinya mulai goyah. Ia menyesal dengan ide gila yang ia sarankan pada Tuan Haris.


"Mengapa kamu bisa seyakin itu?"


"Entahlah, perasaanku mengatakan seperti itu."


Perasaanmu salah Nona Muda, sebentar lagi kamu akan lebih menderita dari ini. Tapi hatiku sepertinya goyah untuk menyiksamu lebih dari ini.


"Golongan darah kamu apa?"


"Eh, kenapa tanya hal itu?" Penasaran karena Farhan selalu menanyakan hal yang tidak penting pada dirinya. Reyno bilang Farhan tidak punya waktu untuk menanyakan hal-hal tidak penting seperti ini.


"Jawab saja!" Kesal.


"Golongan darahku B"


B? Lihatlah, bahkan kami memiliki golongan darah yang sama. Sudah tidak perlu di selidiki lagi, kamu memang adik kandungku. Kalau tidak mana mungkin aku memiliki perasaan familier seperti ini.


"Kaka!" Jennie langsung menghamburkan tubuhnya ke dalam pelukan Farhan. Membuat pria itu mematung kaget tanpa ekspresi. "Tadinya aku merasa sangat sedih dengan nasib ini, namun sejak kamu datang tadi, aku merasa bahagia. Sedih aku hilang begitu saja. Terima kasih untuk beberapa detik yang kamu luangkan untuk menyapaku."

__ADS_1


Apa yang sedang kamu lakukan? Apa kamu sedang memberikan sentuhan keluarga secara tidak langsung. Mengapa hatiku hancur begini?


__ADS_2