Suamiku Anak Mami

Suamiku Anak Mami
Demi kebaikan


__ADS_3

Hallo ...


Betewe ini kita lagi menuju konflik yang paling aku nantikan, konflik ringan yang di iringi dengan langkah kebucinan. Jadi aku mau ajak kalian membuka mata selebar-lebarnya, tentang suka dan dukanya menikah di usia muda.


Selamat membaca ...


***


Jennie melirik ponsel yang tidak ada aura kehidupanya sama sekali. Bergulang-guling di dalam kamar sendirian. Sementara sang suami sedang olahraga di ruang gym. Matanya sebalnya menatap Reyno yang tersenyum manis di layar ponselnya.


"Dasar suami nyebelin! kamu senyum-senyum ya, lihat aku menderita begini. Gara-gara kamu, aku ngga punya teman, tahu. Aku kangen Lisa, dia pasti sudah menghubungiku terus-menerus. Di mana kamu sembunyikan hapeku, hah?" Frustasi tidak begitu juga kali Jen, itu hanya wallpaper, percuma kamu marah pada benda mati seperti itu. Begitulah sisi lain dari hati Jennie yang berbicara.


Tiba-tiba seorang pelayan mengetuk, lalu membuka pintu tanpa permisi terlebih dahulu, Jennie yang sedang gulang-guling di atas kasur langsung terperanjat duduk.


"Maaf, Nona. Anda sedang di tunggu di ruang keluarga." Pelayan itu menunduk sopan.


Ada apa ini? kok perasaanku mengatakan tidak enak begini? Aku tidak melakukan kesalahan, kan?


Jennie mencoba memutar memori kecil di otaknya, menerka-nerka salah apa sebenarnya ia. Tidak ada jawaban, otaknya buntu. Gadis itu tidak melakukan kesalahan apapun, bahkan ia sangat yakin dan ingat seratus persen.


"Mari, Nona. Semua sudah berkumpul di ruang keluarga." Jennie tersentak, lalu menyeret kaki mungilnya untuk mengikuti pelayan tadi.


Semua orang sudah berkumpul? Tidak mungkin kan, mau ngajakin nobar? Secara mereka manusia elit, pasti ada apa-apa. Duh, aku jadi deg-degan begini, sih!


Jennie mengikuti pelayan keluar dari kamarnya, menuruni anak tangga dengan perasaan was-was. Jantungnya bertalu-talu tidak jelas, dan sampailah ia di ruang keluarga. Di sana sudah ada Farhan, Reyno, kemudian Mami dan Papi Reyno yang juga ikut berkumpul bersama. Pelayan langsung pergi setelah mengatarkan Jennie menuju ruang keluarga.

__ADS_1


"Siang, Om, Tante." Jennie menyapa tetua yang sedang duduk berdampingan.


Ada apa ini? Kenapa dengan si medusa itu.


Kenapa dia menangis? Drama apa lagi ini? Apa aku akan segera mati?


Jennie mendudukan tubuhnya hati-hati di samping Reyno, matanya melirik pada suaminya yang sepertinya juga sama-sama bingung. Kenapa ini? Ada apa? Mata mereka saling berbicara satu sama lain.


"Ini pertemuan kita untuk kedua kalinya ya, Jennie?" tanya Tuan Haris, tidak lupa ia tersenyum pada menantu kesayanganya itu.


"Ia, Om." Gadis itu menunduk takut. Reyno langsung menyikut Jennie yang selalu salah bicara. Maksudnya panggilan itu, loh.


"Eh, kok manggil Om? Kamu kan sudah menjadi menantu saya, itu artinya, kamu wajib Memanggil kita Mami dan Papi," ucap Tuan Haris memberitahu, sementara Mami Dina masih menangis di pelukan suaminya. Suasana menjadi canggung dan membingungkan gara-gara Nyonya Muda itu terus menangis.


"Iya, Maaf Papi."


"Pih, tolong jangan seperti ini. Mami ngga setuju, apapun yang terjadi, Mami ngga akan setuju dengan keputusan Papi." Merengek pada suaminya.


Sementara Farhan yang menjadi tersangka utama, hanya bisa menunduk. Ada penyesalan sebesar gunung melingkupi ruang di hatinya. Farhan merasa bersalah pada Tuan Muda dan adik kandungnya sendiri.


"Pih, ada apaan, sih? Kenapa? Kok Mami sampai nangis begitu." Tentu saja Reyno langsung berfikir yang bukan-bukan. Reyno berfikir bahwa Papinya sedang ada masalah pribadi dengan sang Mami. Jangan-jangan mereka mau cerai. Itulah isi kepala Reyno saat ini.


"Mulai sekarang kalian berdua tidak bisa tinggal di rumah ini lagi."


Derrrrr. Kalimat itu terdengar seperti petir di telinga Reyno. Jadi Perkumpulan ini untuk membahas perihal mengusir Jennie dan Reyno. Cowok itu mencoba mengatur pernapasanya, berharap dugaanya salah besar.

__ADS_1


"Maksudnya apa? Papi mau nyuruh Reyno dan Jennie pindah, begitu? Reyno ngga masalah kok, di pavilliun sebelah juga gak pa-pa kok, Pih." Reyno masih menanggapi ucapan Papi-nya dengan pikiran positif.


"Bukan begitu Reyno, mulai sekarang kamu harus belajar menghidupi istri kamu sendiri. Kamu bukan lagi tanggung jawab kami setelah menikah. Ini uang dua juta, carilah tempat tinggal dan pekerjaan. Hidupi istri kamu, Dulu Papi juga seperti itu. Papi berjuang menghidupi Mami dan kalian berdua." Jennie dan Reyno saling menatap, mencari kekuatan dengan kontak mata itu.


"Pih! Mami bisa mati kalau begini caranya." Seorang ibu tentu saja tidak mungkin bisa melihat anaknya diperlakukan seperti itu. Apa lagi Reyno masih delapan belas tahun. Mau kerja apa coba?


"Jadi Papi ngusir Reyno dan Jennie? Itu maksudnya?" Mata Reyno sudah berkaca-kaca. Tak menyangka sang Papi tega mengusir anak kandungnya sendiri.


"Pih, tolong jangan lakukan ini, Reyno itu masih delapan belas tahun. Di luar terlalu berbahaya." Mami masih mencoba membujuk suaminya yang keras kepala itu.


"Papi Jahat!" Reyno beranjak dan lari menaiki anak tangga menuju kamarnya. Cowok sensitif itu tidak mampu lagi menerima tekanan menyakitkan seperti ini.


"Sayang...." Mami langsung mengejar. Mengikuti Reyno menuju kamarnya, sementara Jennie masih duduk di sofa, masih bingung dengan situasi sekarang ini. Antara sedih bercampur bingung.


***


"Reyno, kamu jangan marah dulu, ya. Papi kamu pasti hanya menggertak saja, nanti Mami akan bujuk Papi, untuk sementara ikuti saja, kamu bisa mencari hotel di luar sana." Mami mencoba membujuk anaknya yang sedang ngambek.


"Tapi Papi udah keterlaluan, Mi. Bagaimanapun juga, Reyno itu masih kecil. Masa di suruh tanggung jawab sama Jennie sendirian! Buat apa Reyno memiliki orang tua kaya raya, kalau masih harus kerja begini." Tentu saja Reyno tidak akan mengerti arti hidup yang sesungguhnya.


Niat Papi hanya ingin anaknya berubah mandiri, ia tidak mungkin melepas anaknya begitu saja, Papi juga telah menyuruh orang untuk mengawasi Reyno dan Jennie nantinya. Tuan Haris tidak benar-benar membuang anaknya.


Mungkin di kasus ini, hanya Jennie seorang yang mengerti dan memahami maksud dari Papi Reyno. Sekaya apapun orang tua, kita tetap harus berjuang menghidupi keluarga kita sendiri. Mereka juga dulunya susah payah menghidupi istri dan anak-anaknya.


Menikah adalah satu langkah menuju hubungan yang paling serius. Harus ada kekompakan antar suami dan istri. Berapapun umurnya, anak manusia yang sudah menikah bukan lagi tanggung jawab orang tua. Itulah fakta yang harus mereka hadapi sekarang. Berjuang demi kelangsungan rumah tangga kecilnya.

__ADS_1


Reyno dan Jennie.


***


__ADS_2