
“Xixixi … xixiuww!”
Tawa pecah seorang bapak paruh baya memenuhi setiap aktifitas dan kesibukan di bengkel pusat milik Reyno. Semenjak ada pak mandor, suasana di bengkel Reyno semakin seru. Semua kariawan merasa nyaman dengan kinerja pak Farik, dia baik, suka melawak, namun tetap tegas.
Sudah dua tahun pak Farik menjabat sebagai manager umum di bengkel Reyno—semenjak ia merasa kesulitan ekonomi karena tidak mendapat orderan proyek selama setengah tahun lamanya. Beruntung ada Reyno—anak baik yang mengulurkan bantuan untuk pak Farik.
Roda kehidupan memang selalu berputar, dulu ia pernah menjadi atasan Reyno, kini ia bekerja sebagai bawahan anak itu. Meskipun
begitu, penghasilan yang pak Farik dapatkan lebih dari cukup. Ia mempunyai gaji tetap setiap bulannya. Tidak seperti kuli bangunan yang pekerjaannya tidak pasti. Setidaknya ada uang rutin untuk istri dan anak tercinta di kampung halaman.
“Pak Mandor!” seru Reyno yang baru turun dari mobil. Astaga. Anak itu ya, pak Farik kan sudah bukan mandornya lagi.
Reyno membawa sekantong jung food untuk makan anak-anak di bengkel. Itu merupakan cara Reyno untuk mendekati para pekerjanya. Agar mereka setia dan tidak
berhianat. Karena boss yang baik, adalah boss yang mampu mengayomi anak
buahnya. Wajar, setiap Reyno datang wajah para kariawannya selalu sumringah.
Bahagia, sama sekali tidak ada aura ketegangan. Apa lagi beberapa kariawan
Reyno ada yang mantan teman-temannya saat ia menjadi kuli bangunan dulu.
“Eh, si Boss datang,” goda pak Farik.
__ADS_1
“Apa sih, Bapak. Panggil Reyno saja,” protesnya kesal. Reyno memberikan kresek besar makanan itu pada salah seorang kariawan lainnya. “Buat makan siang rame-rame ya.”
“Wah, makasih banyak, Pak Boss!” Berlari riang, kariawan itu memanggil para temannya. “Woi! Makan enak kita!” serunya tanpa malu-malu.
Terkesan tidak tahu diri memang, tapi mereka sudah biasa bersikap leluasa begitu. Reyno menganggap mereka semua seperti teman sendiri. Tidak ada jarak antar boss dan kariawan. Itulah yang membuat semua kariawan betah bekerja di bengkel Reyno. Melihat kariawannya bahagia, adalah suatu kebanggaan tersendiri untuk si pemilik bengkel.
“Pak, ada yang mau saya bicarain sama Bapak.” Wajah Reyno berubah serius. Pak Farik yang semula ingin menggodanya jadi tidak berani.
Reyno mengajak pak Farik duduk di kafe tunggu yang ada di depan bengkelnya. “Ada apa, Reyn? Bengkel tidak ada masalah kan? Sepertinya bapak tidak melakukan keslahan apapun.” Merasa terancam, karena Reyno memang jarang bicara empat serius begini.
“Tidak ada, Pak. Hanya pengin ngobrol saja."
"Kamu tidak ada masalah dengan istrimu kan? Anak-anak sehat?" tanya pak Farik Khawatir.
"Lalu ada apa ya, Reyn?" Penasaran, ada senyum jenaka ala bapak-bapak.
"Jadi begini, Pak. Apartemen saya yang dulu kan sudah tidak di tinggali. Bagaimana kalau bapak ajak isrti dan anak bapak tinggal di sana.Selamanya." Wajah pak Farik berubah bingung.
"Jangan, Reyn. Itu terlalu berlebihan. Bapak tidak enak sama kamu."
Reyno sudah tahu kalau pak Farik pasti akan menolak, tapi ia masih punya seribu cara untuk membuat pak Farik berkata mau. "Anggap saja itu fasilitas, Pak. Semenjak bapak bekerja di sini, bengkel yang Reyno kelola semakin maju."
Tadinya, bengkel Reyno memang sempat mengalami kendala di perputaran modal. Semenjak Jennie sibuk mengurus anak, pemasukan bengkel menurun. Banyak barang-barang yang tidak laku, dan terpaksa Reyno harus merelakan satu bengkelnya tutup. Nyaris bangkrut, untung ada pak mandor yang membantu. Bapak tua itu bisa menggantikan Jennie untuk mengatur produksi barang yang konsumen mau. Bengkelpun kembali stabil setelah satu tahun kemudian.
__ADS_1
"Tapi—"
"Tidak ada tapi!" Reyno menyela pembicaraan pak Farik. "Bapak tidak mau kan, hidup menjomlo berkepanjangan. Ingat, Pak! Di Jakarta tidak ada kambing seperti di Bandung. Kasian yang di bawah, auto mati kalau terlalu lama di Off."
Baik-baik keparat, tapi yang Reyno ucapkan ada benarnya juga.
"Oke! Bulan depan bapak ajak anak istri ke Jakarta," sungutnya merasa kesal.
Reyno menyunggingkan bibirnya bangga. Memang ia paling pandai kalau di suruh merangkai kata yang sedikit abusrd. Tapi berhasil 'kan?
"Selamat ya, Pak."
"Terima kasih banyak ya, Reyn."
"Bukan selamat untuk Bapak, tapi selamat untuk kamar mandi di kontrakan Bapak. Akhirnya yekaan, tidak ternodai oleh cairan jahanam bapak lagi! Hahaha...." Reyno tergelak kencang.
Sialan! Anak ini paling pintar kalau menggoda. Sungut pak Farik dalam hatinya.
***
Hallo, ada yang kangen pak Mandor gak?
***
__ADS_1