
(Side Story)
"Kamu percaya 'kan sama aku?" Satu kecupan lembut mendarat di pipi Jennie. Reyno menarik tubuh polos itu ke dalam pelukkannya. Memangkas jarak seakan enggan untuk terpisahkan.
Tangan Jennie memainkan dada bidang Reyno . Membuat bentuk-bentuk tidak jelas dengan jari telunjuknya. "Aku engga yakin, Reyn. Gimana kalau kamu malah jadi jatuh cinta setelah menemui gadis pelakor itu?"
"Mana mungkin. Aku hanya ingin meluruskan semua ini. Tenang saja, semua percakapanku dengan gadis itu di restaurant nanti akan aku rekam. Kamu bisa mendengarkannya—agar tidak ada kesalahpahaman di anatara kita."
Berat, namun Jennie mencoba percaya dengan keputusan suaminya. Walaupun sejujurnya ia begitu was-was dan takut suamiya berhasil direbut wanita lain.
Ada Jeda sebentar, Jennie terdiam dalam pikiran dan asumsi negatifnya. Mungkinkah ia telah salah dalam membuat peraturan? Sehingga menimbulkan kejadian tidak diinginkan dalam rumah tangganya.
Jennie sudah melihat barang-barang yang diberikan gadis itu di ransel Reyno. Dan semua itu adalah barang mewah merek terkenal dari luar negri. Sudah dipastikan bahwa gadis itu adalah anak orang kaya.
"Hei ... kenapa melamun?" Reyno menarik dagu ranum itu. Lalu menggigitnya dengan gemas.
"Sakit, Bodoh!" Ada cubitan melayang di paha kiri Reyno. Pria itu mengaduh bodoh, lalu terkekeh melihat bibir manyun istrinya.
Menyadari sorot mata yang tak biasa, Reyno berhenti megajak istrinya bercanda. "Kalau ada apa-apa itu dibicarakan baik-baik. Jangan malah melamun dan mengutuki suami di dalam hati."
"Siapa yang mengutukimu?" Jennie tidak terima. Sedang kesal begini malah di goda.
"Aku cuma lagi mikir," ujarnya seraya memutar posisi tubuh, berubah miring dan membelakangi Reyno.
"Mikirin apa? Bukannya selama ini aku selalu terbuka sama kamu? Aku tahu kamu sakit hati dengan kejadian ini, tapi lebih baik aku jujur sama kamu. Apapun yang terjadi, perasaan aku buat kamu engga akan goyah. Reyno hanya milik Jennie Hermawan seorang. Adapun gangguan orang ketiga, mereka hanyalah batu sandungan yang membuat kita harus lebih hati-hati lagi dalam melangkah."
"Justru itu!" Jennie membalikkan badannya kembali. "Kamu ingat 'kan peraturan yang aku buat sebelum kamu masuk kuliah?"
Reyno tampak berpikir seiring dengan bola matanya yang berputar-putar. Lalu menyengir bodoh seraya berkata,
"Hehehe ... ada banyak sekali peraturan yang kamu buat saat aku baru masuk kuliah dulu. Jujur aku lupa apa saja peraturan itu. Meskipun engga hafal, tapi kayaknya aku ngga pernah ngelanggar peraturean kamu. Buktinya aku gak pernah dihukum sama kamu, kan?"
__ADS_1
"Huhuh. Sudah aku duga, kamu asti lupa," tebaknya dengan bibir melengkung ke bawah.
Jennie akui, Reyno memang tidak pernah melanggar aturan yang ia buat selama ini. Tanpa mengingat detail aturannya, Reyno sudah tahu bagaimana cara menjaga hati istrinya selama ini. Ia tahu mana yang harus dilanggar dan mana yang tidak.
"Heehehe. Ya, maaf. Jadi apa hubungannya masalah kita dengan peraturan yang kamu buat? Aku belum paham, nih!" Reyno menyengir bodoh sekali lagi.
Setelah menggeleng geram. Kemudian Jennie mulai menjelaskan, "Jadi begini, loh. Menurut barang-barang pemberian gadis itu, sepertinya dia sangat memperhatikan penampilan kamu."
"Memangnya kenapa dengan penampilan aku?" Jujur Reyno masih merasa bingung.
"Awalnya aku ngelarang kamu berpenampilan terlalu mencolok kalau pergi ke kampus 'kan?" Jennie menarik nafas sebentar sebelum berbicara kembali.
"Aku pikir dengan membuat peraturan begitu, gadis-gadis di kampus kamu tidak akan tertarik, tapi nyatanya aku salah. Gadisi itu sepertinya iba melihat penampilan kamu yang sederhana. Dari barang-barang yang aku lihat, semua itu adalah barang yang kamu tidak pernah pakai jika pergi ke kampus. Jam, topi, sepatu mahal, hoodie. Semua itu adalah barang yang membuat kamu jadi terlihat keren."
Reyno menohok mendengar ucapan dari kepekaan istrinya. "Terus menurut kamu? Dia kasih barang-barang itu karena merasa aku kurang terawat, dalam arti kurang perhatian dari kamu?"
Jennie mengangguk. "Yups. Dia pasti berfikir aku gak perhatian sama suami aku. Makannya dia mencoba memberikan barang-barang itu sebagai bentuk perhatiannya sama kamu."
"Nyatanya gadis itu memiliki pemikiran lain. Sudahlah, aku capek membahas dia. Kenal juga enggak!"
Jennie yang mulai kesal sendiri memilih bangun karena hari sudah hampir pagi juga. Saat ia hendak memunguti pakaiannya, Reyno menarik paksa tubuh itu hingga masuk kembali ke dalam pelukkannya.
"Mau kemana? Pembahasan kita belum selesai, loh!" Dikecupnya bahu indah itu. Reyno memeluk Jennie erat dari belakang.
"Mau masak, bantuin bibi di dapur!" ucapnya jutek.
"Jangan galak-galak, dong. Sini dulu, temenin aku."
"Males!" jawab Jennie, masih dengan wajah yang merengut kesal.
"Aku kan sudah jujur, setiap ada malasah apapun baik di kerjaan atau di kampus selalu cerita ke kamu. Sabar ya, jangan marah-marah terus. Aku akan selesaikan masalah ini secepatnya, kok."
__ADS_1
"Gimana kalau dia jadi baper setelah ketemu kamu? Bukannya selesai, masalahnya akan jadi tambah panjang."
"Namanya juga usaha, Sayang. Kalau aku gak bisa selesain masalah ini. Itu artinya aku butuh peran kamu untuk bertindak. Terserah, mau dengan cara apa kamu negur dia."
"Aku tonjok dia boleh?"
"Jangan dong...," larang Reyno dengan nada manja.
"Tuh kan, belum apa-apa kamu udah belain dia."
"Siapa yang belain dia?"
"Tuh kan, belum apa-apa sudah belain pelakor!" protes Jennie marah.
"Gak ada dalilnya aku belain pelakor. Aku cuma gak mau istri aku dipenjara gara-gara menganiaya anak orang."
Tangan dan mulutnya sudah tidak terkondisikan. Sesuatu di bawah sana sudah tidak mau diajak berdiskusi lagi.
"Kalau mau ngomong ya ngomong aja, tapi tangan dikondisikan." Jennie menepis tangan Reyno yang sudah menjalar ke mana-mana.
"Untuk menghadapi kenyataan, seorang suami butuh semangat pagi sebelum datangnya matahari. Karena permasalahan akan terasa mudah jika ada dukungan istri di pagi hari. Aku butuh amunisi sebagai semangat dalam berambisi."
"Ngomong sama tembok, Reyn! Tinggal tho the poin kalau enoki kamu bangun lagi aja susah banget. Mau minta jatah lagi kan! Harus banget ya, pakai rangkaian kata yang disusun sedemikian rupa. Cih!" Jennie berdecih geli setelahnya.
"Kamu paling tahu apa mau suami kamu, deh!"
Hahaha. Tertawa bangga penuh kemenangan. Reyno mulai melancarkan aksi melahap jatah sarapan paginya.
***
Tetoottt .... likenya dong, kok makin sedikit aja, apa udah pada bosen? mau ditamatin kah? hehehe
__ADS_1