
Pantas saja rata-rata orang hanya ingin menikah satu kaliseumur hidupnya, ternyata begini ya, rasanya menjadi ratu sehari. Badan Tere serasa remuk semua, tulang-tulangnya mungkin sudah hancur gara-gara harus berdiri seharian, menahan beratnya gaun pengantin sambil tersenyum lebar sepanjang acara berlangsung. Ah, resepsi pernikahan tidak seindah yang ia
bayangkan ternayata. Lelah dan malu bercampur jadi satu. Tere yakin para wanita
yang terlihat bahagia itu menyimpan sejuta kebohongan, pura-pura tersenyum pada orang lain, padahal dalam hati mereka bosan menyalami banyaknya tamu undangan yang datang.
Maka di sinilah ia sekarang, berbaring di atas kamar pengantin yang bertabur bunga-bunga, masih memakai gaun super ribet yang selalu diimpikan para wanita. Sumpah ya, Tere memang bukan wanita tomboy, tapi ia tidak bisa mencopot gaun sialan ini tanpa bantuan orang lain. Sementara sang Suami yang tidak bertanggung jawab itu sedang asik mandi di dalam sana, Terememutuskan untuk tidur dengan gaun ini saja, barulah besok ia minta tolong orang lain. Terpejam, terpejam, hingga ia merasa kesadarannya mulai larut dalam bawah sadarnya.
“Heup!” Tere tersentak saat ia merasakan sesuatu yang dingin menyentuh permukaan kulit pipinya. William. Ternyata pria itu sudah selesai mandi. Tidak ada adegan teriak seperti di televisi, pria itu memakai baju tidur rapih. William bukan tipe orang yang suka semabarangan telanjang. Ia selalu menjaga tubuhnya dengan tertutup. Memakai baju dari kamar mandi tentunya.
“Apa kau tidak ingin mengganti pakaianmu, kenapa tidurdengan pakaian seperi ini?” tanya William sambil memperhatian Tere yang sedang membangunkan kesadarannya perlahan. Mengerjap-ngerjap lucu seperti orang bingung.
“Ah, kau sudah selesai mandi rupanya,” ucap Tere saat hidungnya mencium pekat aroma sabun dari tubuh William. “Aku ingin tidur seperti ini, gantinya besok pagi saja.” Tere mengambil guling di sampingnya
untuk menutupi wajah agar bisa kembali tidur.
“Apa kau gila, gaunmu mengambil jatah tempat tidurku. Bagaiman aku bisa tidur kalau kau memakai gaun yang memenuhi seisi kasur begini.”
Apa, apa tadi dia bilang? Jangan bilang kalau ia mau tidursatu ranjang denganku. Mata Tere yang sudah rapat seketika membola saat mendengar ucapan William. Lantas ia bangun dan mendudukan tubuh lelahnya.
“Kamu bisa tidur di sofa kan, memangnya siapa yang mau tidur seranjang denganmu. Kita tidak saling cinta. Jadi sudah seharusnya kita tidurterpisah.”
__ADS_1
“Ternayata isi kepalamu sama seperti adikku yang masih delapan belas tahun itu ya,” ucap William sambil menyunggingkan bibirnya. Senyum licik William tercetak jelas di wajahnya.
Pria ini sebenarnya mau apa sih? Sumpah demi apapun Tere tidak dapat menebak isi pikiran suaminya. Tidak. Bukan suami, melainkan hanya suami-suamian
yang bergelar di atas selembar surat pernikahan.
“Maksudmu apa? Aku tidak paham sama sekali.”
“Maksudku adalah—.” William sengaja menjeda ucapannya, “apa
kau sedang berfikir bahwa kita akan tidur terpisah, lalu membuat segelintir
surat perjanjian antar suami istri, di mana isinya mencangkup larangan dan
“Bagaimana kamu bisa tahu apa yang sedang aku pikirkan. Apa jangan- jangan kau cenayang, hei William!”
“Karena isi otakmu tidak jauh berbeda dengan adikku. Terlalu
mendrama dan mengikuti cerita di dalam buku novel.”
“Lalu apa maumu? Aku tidak suka bertele-tele, katakanlah
__ADS_1
dengan jelas!”
“Baiklah, aku tidak akan mengucapkan kalimat ini untuk kedua kalinya, dengarkan baik-baik, Barbieku Tersayang. Jika kau berpikir pernikahan kita akan seperti
cerita drama yang kau tonton, lebih baik berhentilah bermimpi. Menjadi istriku, itu artinya kau adalah milikku, tubuhmu, suaramu, bahkan seluruh hidupmu adalah milikku. Semua. Tanpa terkecuali! Dan berhentilah mengikuti cerita di dalam novel, a-k-u adalah pria normal, jangan pernah melarangku untuk tidak menyentuhmu. Walau sejatinya kita tidak saling cinta.”
“Kenapa ... kenapa begitu? Untuk apa kita melakukan hubungan suami istri kalau tidak saling cinta? Kau, bercintalah dengan gadis lain diluar sana, aku tidak masalah.”
“Hahaha! Aku sudah memiliki sesuatu yang halal untuk dinikmati, buat apa aku membayar wanita di luar sana. Ada yang gratis di depan mata, bukankah itu lebih menyenangkan? Bercinta dengan milikku sendiri,” bisik William pelan. Tere sampai merinding mendengar kata bercinta yang barusab William katakan.
“Jangan gila! Aku tidak mau melayanimu, bodoh!”
“Sudah ku bilangkan, kau adalah istriku, sebentar lagi akan menjadi ibu dari anakku bahkan. Melayaniku Tentu saja adalah tugas dan kewajibanmu.”
Tanpa aba-aba terlebih dahulu, William langsung mendaratkan sebuah kecupan di bibir manis Tere, tangannya yang kekar sudah melingkar kuat, mengunci tubuh indah itu agar tidak memberontak. Tidak ada yang bisa Tere lakukan saat ini, ia hanya bisa menerima perlakuan William yang terlalu berani menurutnya. Padahal selama ini William tidak pernah berani menyentuhnya. Kenapa sekarang jadi agresif begini? Lupakan! Tere harus segera menghadapi bahaya yang akan terjadi selanjutnya.
"Emp ... emmp ..." Akhirnya Tere dapat melepaskan ciuman kuat William setelah merasa pasokan udara di tubuhnya mau habis. "Gila ya! Siapa yang mengizinkamu menciumku. Hentikan atau aku akan teriak!"
"Berteriaklah sepuasmu. Tidak akan ada yang berani memarahiku karena hal ini. Jangan lupa! Kau adalah istri sahku sekarang." William kembali memagut bibir indah itu, posisinya sekarang sudah menindih tubuh Tere. Mengunci wanita tak berdaya itu ke dalam kungkuhannya.
Cih! Dia benar-benar memanfaatkan status pernikahannya. Ternyata pria di dalam kehidupan nyata tidak sebaik di dalam novel. Si keparat ini, aku benar-benar gila kalau begini caranya.
__ADS_1
***
Nextnya malam ya, aku potong dulu, ini masih siang ... gak enak di baca... wkkwkw