
"Apa yang kalian lakukan?" Mata Farhan menyalang tajam saat dua bocah kembar itu sedang membuat pesawat-pesawatan menggunakan kertas dokumen penting milikinya. Entah dari mana mereka mendapatkan tas kerja Farhan, yang jelas keadaan sangat kacau karena dokumen yang harusnya ia gunakan untuk meeting pagi ini hancur tak terbentuk. Dijadikan mainan origami oleh kedua anak-anak polos itu.
"Om Palhan, Cilla bikinin bulung tantik buat Om Palhan." Gadis kecil itu berseru riang seperti tak ada dosa. Menghampiri Farhan dan langsung memeluk kakinya.
"Ello bikinin pesawat buat, Om!" seru Cello ikut-ikutan.
Kepolosan kedua anak-anak itu menyurutkan emosi Farhan secepat kilat. Hati pria itu kembali menghangat melihat Cilla dan Cello yang tulus menunjukkan karya berharga mereka untuknya.
Farha merendahkan tubuhnya. Berlutut dan mensejajarkan tubuhnya dengan si kembar. "Terima kasih ya, tapi kertas yang kalian gunakan adalah dokumen penting Om Farhan. Sekarang Om tidak bisa kerja karena kertasnya sudah berubah menjadi burung dan pesawat," tutur pria itu dengan suara yang dibuat selembut mungkin. Walaupun dalam hati ingin mencekik mereka berdua.
Bukannya merasa bersalah, Cilla dan Cello terlihat riang gembira. "Hore! Ello suka kalo Om gak jadi kerja, jadi bisa main terus sama Kita."
"Yeeeee!" Cilla ikut berjingkrak mengikuti kehebohan kakaknya.
Farhan menghela napas kasar, tidak jadi simpati pada dua bocah nakal itu. Ternyata anak dan istri adalah hal yang sangat merepotkan. Selama Farhan masih aktif bekerja, mungkin ia tidak akan kepikiran memiliki keduanya. Istri dan anak. Dua mahluk itu terlalu mengerikan dan jadi hambatan dalam urusan bisnisnya.
"Sebentar, ya." Farhan bangun dari posisinya, merogoh ponsel dan menghubungi Rico untuk izin tidak masuk kerja. Tak lupa ia mengabari Rico agar menyuruh kariawan untuk membuat salinan baru dari dokumen yang sudah berubah menjadi burung dan pesawat. Meeting penting yang harusnya berlangsung jam sembilan pagi ini terpaksa harus diundur hingga besoknya lagi. Farhan mendesah pasrah dengan kesalahan fatal yang baru terjadi untuk pertama kalinya.
"Ck. Awalnya mereka lucu, sempat membuat aku ingin memiliki yang seperti itu. Ah, sepertinya aku sudah gila," gumam Farhan yang baru saja menghempaskan tubuh kesalnya di atas sofa. Pria itu menengadah ke atas langit-langit ruangan keluarga. Lantas meraup wajah sambil menghirup udara sebanyak-banyaknya.
"Anak bunda kenapa? Pagi-pagi sudah lesu begitu?" tanya bunda yang baru saja datang dari arah dapur.
Farhan hanya diam, dengan mata yang menunjuk ke arah berkas-berkas yang sudah menjadi burung dan pesawat.
"Ah, ya ampun! Apa ini ulah cucu-cucu, bunda?" seru wanita paruh baya itu. Ia sudah bisa menebak apa yang terjadi cukup dengan melihat raut muka frustasi yang farhan tunjukkan. Pria itu hanya mengedikan bahunya—malas.
"Maaf ya, bunda sibuk masak dan lupa menjaga anak-anak. Baby sitter mereka juga lagi ijin pulang kampung. Maaf banget ya, Nak!" Bunda mengelus bahu Farhan—merasa bersalah karena dua cucunya sampai berani menyusup ke ruang kerja Farhan.
"Sudahlah, Bun. Mungkin sudah saatnya aku meliburkan diri. Anggap saja ini karmaku yang tidak pernah mengunjungi mereka dari kecil. Karmaku terhadap Bunda juga," ujar Farhan. Namun raut wajahnya masih menampakkan kekesalan yang tidak bisa diutarakan. Dalam diamnya, bunda yakin Farhan menahan emosi besar.
"Nak, meskipun mereka terkadang sangat menyusahkan, namun mereka akan menjadi penolong kita di hari tua nanti. Siapa yang akan merawat dan menyayangi kita kalau bukan anak dan istri."
Mendadak Farhan ingin guling-guling dipasir. Apapun masalahnya, bunda selalu mengaitkan semua itu dengan sebuah pernikahan.
Contohnya saat Farhan terserang flu, bunda bilang kalau Farhan butuh istri sebagai obat. Padahal, paracetamol saja sudah cukup untuk mengobati penyakit flu.
Ada lagi, saat Farhan kesiangan bangun. Bunda langsung mengaitkan telatnya Farhan karena tidak ada istri yang tidur di sampingnya. Padahal ia hanya lupa menyalakan alarm tepat waktu.
Ah, entah sudah berapa kali bunda membahas istri dan pernikahan dikesempatan yang ada. Seolah dua cucu kembar itu belum cukup membuat bunda bahagia kalau Farhan belum ikut iuran menyumbangkan cucu.
__ADS_1
Jujur saja, kehadiran bunda yang masiy sangat baru membuat Farhan senang sekaligus bingung. Untuk pertama kalinya. Farhan merasakan sensasi dipaksa menikah bekali-kali. Untuk dia Farhan, seseorang yang hampir tidak pernah menuruti kemauan siapapun termasuk ibunya sendiri.
"Bun, Farhan sudah bilang berapa kali. untuk saat ini, Farhan belum memikirkan pernikahan," ujar Farhan yang sudah mengatakannya ratusan kali; di mana ratusan kali yang Farhan ucapkan tidak membuat bunda goyah untuk berhenti memaksa Farhan menikah.
"Sampai kapan, Nak? Umur kamu sudah menginjak kepala tiga. Takutnya bunda keburu mati kalau kamu menunda pernikahanmu terus menerus, padahal bunda ingin sekali melihat kamu menikah," balas bunda beraksi. Ia menggunakan kata-kata terhoror yang sering dipakai di drama dan fillm layar lebar. The power of emak kalau kata netizen.
Tidak mau kalah, Farhan mencoba menenangkan ibunya dengan kata manis. "Farhan pasti menikah. Mungkin jodoh Farhan belum lahir, Bun." Memegang kedua bahu bunda, Farhan tersenyum lalu bergegas kabur ke dalam kamarnya sendiri. Kepalanya sudah hampir meledak memikirkan dokumen yang berubah wujud jadi burung dan pesawat, ia tidak mau semakin hancur hanya karena ocehan bunda yang membahas hal itu-itu saja. Menikah.
Setelah mengunci pintu kamar, Farhan menjatuhkan tubuhnya kasar di atas ranjang. Lalu mengambil ponsel untuk membuka aplikasi nonton kartun bodoh kesukaannya. Di saat ia sedang bosan, Farhan selalu menyempatkan diri untuk menonton segala tingkah dan kebodohan Patrick—Spongebob.
"Dasar bodoh!" umpat Farhan saat Spongebob dan Patrick baru saja membeli teve, tapi mereka membuang teve dan mengambil kardusnya saja untuk dijadikan sarana petak umpat.
Selain adegan Patrick dan Spongebob, Farhan juga mengumati persiteruan antara tuan Krab dan Plankton. Dua pebisnis food and beverages yang membuat Farhan geleng-geleng kepala setiap kali melihatnya.
"Kenapa kelakuan mereka tidak ada yang benar, sih?" Mata Farhan masih tak bergeming menatap layar ponselnya. Daripada menyiapkan ratusan rencana jahat untuk mencuri krabby patty, kenapa tidak membelinya saja? "Dasar bodoh," umpat Farhan kemudian.
Bosan semakin melanda, tiba-tiba Farhan teringat pada gadis yang bodohnya tidak jauh dari Spongebob Squarepant.
"Sedang apa gadis itu jam segini?" gumam Farhan penasaran. Menutup aplikasi tontonan kartunnya, Farhan beralih pada CCTV di apartemen rumahnya.
Pria itu menggemeretakkan giginya kesal saat melihat seisi apartemennya berantakan bagiakan kandang sapi. Gadis nakal itu benar-benar tidak bisa dipercaya, baru ditinggal beberapa hari saja sudah seenak jidatnya, gumam Farhan.
Seketika memalingkan wajah, pipi Farhan merona malu saat melihat Lisa membuka semua pakaiannya. Menyisakan bra dan celana dalam berwarna senada, lalu telentang bebas di atas sofa.
"Gadis gila!" umpat Farhan dengan dada naik turun. Mata nakalnya kembali melirik ke arah ponsel. Jantung Farhan berdetak lebih kencang lagi saat mendapati Lisa berbaring tanpa busana, sedang memainkan ponselnya dengan gaya santai.
Buru-buru Farhan menutup layarnya, lantas menghubungi Lisa yang ada di balik sana.
"Kamu sedang apa?" tanya Farhan sedikit gugup karena baru saja melihat pemandangan terlarang yang harusnya tidak ia lihat.
Ah, aku baru saja pulang kuliah, Tuan. Oh ya, kapan Tuan akan kembali ke Amerika? tanya Lisa dari balik sana.
"Aku tidak akan kembali, kau selesaikan kuliahmu dengan baik. Perusahaanku di Indonesia membutuhkan kinerjamu. Sudah saatnya kau membalas budimu padaku," ujar Farhan agak sedikit kasar.
Baik Tuan, jawab Lisa di balik sana.
"Amerika mulai memasuki musim dingin, sebaiknya gunakan baju tebal meskipun itu di rumah." Akhirnya Farhan buka suara.
Oh, terima kasih atas perhatiannya, Tuan. Lisa menggaruk kepala belakangnya di balik benua sana.
__ADS_1
"Ya sudah, jangan lupa dengan janjimu. Dapatkan predikat yang harus kau capai jika sudah lulus nanti. Jaga diri baik-baik." Telepon segera di tutup sebelum gadis yang ada di seberang sana menjawab. Farhan yang sedang dalam posisi duduk kembali menghempaskan tubuhnya. Menarik selimut dan tidur masih dengan setelan jas hitam yang biasa ia pakai untuk kerja.
Dog ... Dog ... Dog ...
Suara gedoran kuat membangunkan Farhan dari tidurnya. Pria mengerjap kaget. Lantas mengalihkan pandangannya ke arah jam di dinding kamar. Sudah jam sebelas siang, di mana ia mulai tidur jam delapan pagi.
Dengan langkah malas. Farhan membuka pintu. Ternyata dua ondol-ondol kembar yang ingin mengajaknya bermain.
"Nenek!" teriak Cello keras sekali. Khas suara cemprengnya keluar semua. "Om Palhan ngompol, Nek!"
Mata Farhan membola sempurna, menunduk dalam rasa malu sambil memeriksa celana bahan hitamnya.
"Shiit! Pasti gara-gara mimpi sialan itu," gumam Farhan lirih.
"Nenek!" teriak Cello lagi.
Buru-buru Farhan membekap mulut bocah kecil itu. Lalu membawa Cilla dan Cello masuk ke dalam kamar.
Ini bahaya, Farhan akan dipaksa segera mencari sumber amunisi kalau sampai bunda tahu kejadian ini.
Cilla menatap Farhan dengan wajah jijik. "Om gak puna pempes, ya? Makannya, kao bobo pake empes dulu," ujar si kecil Cilla memberi nasihat.
"Ello mau ke nenek ... mau ke nenek," rengek Cello yang sudah Farhan tebak akan mengadu pada bunda.
"Ssst ... jangan berisik," rayu Farhan hati-hati. "Jangan bilang-bilan nenek ya, nanti kalau kalian berdua nurut, om ajak main ke taman hiburan," rayu Farhan penuh harap.
"Beneran?" Cello langsung antusias. Hilang sudah niatnya mengadukan Farhan ngompol di celana.
"Om takut di malahin nenek, ya? Makanya layu kita," celetuk si cadel Cilla yang paling peka sejagat raya. Persis seperti papanya.
Oh, ingin rasanya Farhan menjelaskan. Bahwa ia tidak takut di marahi. Tapi takut dipaksa nikah oleh bunda.
"Iya, Om takut. Jangan diaduin, ya."
"Oke, deh! Kita tutup mulut," balas Cello. Anak laki-laki itu sudah tidak sabar ingin segera diajak main ke luar.
Kalian duduk di sofa dulu ya, abis itu kita jalan-jalan setelah om Farhan mandi." Pria itu bergegas ke kamar mandi. Membersihkan sesuatu yang lengket dan membuat pangkal pahanya tidak nyaman.
Seharusnya hal seperti itu sudah jarang terjadi bagi pria dewasa seumuran Farhan. Namun berhubung ia masuk dalam kategori jombie abadi, ia tidak dapat menyalurkan apa yang seharusnya menjadi kebutuhan orang dewasa. Jadilah, tragedi CCTV yang berakhir basah.
__ADS_1
***