Suamiku Anak Mami

Suamiku Anak Mami
Cium


__ADS_3

Dipandang lagi, dipandang lagi, lagi, lagi dan sekali lagi. Kenapa Jennie mendadak merasa Reyno itu imut sekali ya, wajahnya polos seperti boneka. Apa lagi di saat ia tidur. Rasanya begitu menggemaskan dan lucu, ingin rasa Jennie memakan habis cowok itu sekarang juga.


Sudah bergulang-guling sedari tadi, Jennie sama sekali tidak dapat memejamkan matanya. Malah bawaanya ingin melihat Reyno tidur sampai pagi. Aneh memang. Beberapa hari yang lalu Jennie merasa Reyno itu menyebalkan dan bawaanya malas melihat wajahnya. Sekang semuanya terbalik, Jennie sangat suka memandangi wajah Reyno. Bahkan cintanya tumbuh berkali-kali lipat saat melihat wajah imutnya yang di atas rata-rata.


Tangan Jennie mulai bergerilya nakal, mencubit si pipi kenyal itu dengan gemasnya. Tentu saja si pemilik pipi itu menggeram dalam tidur, lalu merubah posisi tidurnya hingga tengkurap.


"Sayang!" gertak Jennie saat objek kesukaanya di tutupi. Hmm ... Hmm. Reyno bergumam dalam mata terpejam, masih setengah terbawa ke alam mimpi. Dengan kasar Jennie bangun dan membalik tubuh itu hingga terlentang seperti ikan asin, namun dalam sekejap Reyno berbalik dan memunggunginya.


"Kamu berani bantah aku!" Nada mengancam keluar dari bibir galak Jennie. "Menghadap ke aku sini," ucapnya sambil menjenggut rambut Reyno. Pada akhirnya Reyno mengalah.


Awalnya ia tidur lagi. Namun lama-kelamaan Reyno merasa risih saat Jennie memperlakukannya seperti boneka. Dengan gerakan cepat, Reyno menangkap tangan Jennie dan mengunci tubuhnya kuat-kuat. Membenamkan kepala si nakal itu di dalam dadanya.


"Tidur ya, kucing kecil aku," gumam Reyno lirih.


"Gak mau!" tolak Jennie jutek. Kepalanya mendongak lalu menggigit dagu Reyo kasar.


"Arghhhh," jerit Reyno frustasi. "Kamu ada apa sih? Kalau gak mau lihat aku tidur bilang, biar aku pindah ke ruang tamu," ujarnya sembari bringsut dari posisi tidurnya.Menjuntaikan kaki dan hendak meninggalkan Jennie sendiri.


"Renren ...," panggil Jennie manja. Reyno menoleh dan tidak jadi beranjak pergi. Masih duduk di pinggiran ranjang.


"Apa lagi?" desahnya kesal.


"Siapa juga yang nyuruh kamu pergi. Aku mau cium."


"Hmmm." Hanya berdeham, namun tubuhnya bergerak kembali, memeluk Jennie yang sudah mengepangkan tangan sedari tadi.


Cup ... cup ... cup. Tiga kali kecupan mendarat di kening dan kedua pipi Jennie. Gadis itu langsung mengerucutkan bibirnya pertanda kesal.


"Bukan cium itu, tapi ini." Menunjuk bibirnya, Jennie memejamkan mata untuk bersiap. Reyno mendekat dan memberi kecupan singkat di atas benda kenyal itu.

__ADS_1


"Gitu doang?" Matanya sudah menyorot hitam, siap mengamuk si cowok tidak peka yang satu ini. "Aku mau ciuman romantis," protes Jennie tidak terima.


Jam menunjukan pukul 3 pagi, sebentar lagi juga semuanya bangun, tapi Reyno harus dipusingkan dengan tingkah Jennie yang luar biasa.


"Kamu ngajakin bercinta?" tanya Reyno menyelidik. Langsung ke poin yang itu.


"Dih, apaan? Aku mau cium! Gak minta lebih dari itu." Gara-gara ucapan Jennie ada dengkusan kesal yang keluar dari bibir Reyno. Lantas pria itu mendekat dan menjatuhkan bibirnya, menghisap dalam-dalam milik Jennie dan memberikan kecupan yang cukup lama. Hingga akhirnya ia merasa cukup dan melepaskan ciumannya.


"Ulangin. Kamu kayak gak rela gitu," protes Jennie sekali lagi.


"Ya ampun. Aku harus gimana? Kamu pikir aku cowok profesional kayak William!"


"Eh, ngapa jadi bawa-bawa kakak kamu?"


"Bodo amat!" Sorot mata Reyno mendadak berubah. Mungkin karena efek ngantuk bercampur marah. Pria itu menarik selimut dan menutupi seluruh tubunya.


"Kenapa jadi kamu yang marah? Aku kan hanya minta cium."


Ya? Hati Jennie mendadak bergetar mendengarnya. Memang banyak yang berkata, hamil pertama akan berimbas pada kelangsungan rumah tangga kita sehari-harinya. Pasti akan banyak masalah dan perdebatan antar suami dan isrti. Jennie mulai menyadari akan hal itu. Sekuat apapun mereka, takyal hanyalah anak remaja yang dipaksa dewasa sebelum waktunya.


"Jadi kamu mau nyerah?" Dibukanya selimut yang menutupi wajah Reyno. "Kamu ngga mau berjuang untuk anak kita? Kamu lupa pesan bunda kalau aku ini lagi hamil dan hatinya sangat sensitif. Benar kata kamu, kamu memang gak profesional kayak William. Kamu gak bisa ngambil hati aku di saat kayak gini. Egois!"


Ada helaan panjang membentang, Reyno sedikit menyesali ucapannya. Ia menatap wajah Jennie lekat, gadis itu nampak kuat dan tidak menangis seperti biasanya.


"Maaf. Aku akan berusaha lebih keras lagi sekarang," lirih Reyno lembut, kemudian menarik Jennie ke dalam dekapannya.


Dipagutnya bibir itu sambil membayangkan adegan yang ada di drama korea, kemudian larut dan menjadi pemeran utamanya.


Reyno mencoba sebisa mungkin memberi sentuhan lembut tanpa membangunkan gairah satu sama lain. Sebuah tantangan yang sangat susah memang, namun demi istri ia rela melakukannya. Terutama menahan rasa sakit akibat koneksi yang sudah bangun di bawah sana.

__ADS_1


"Sudah? Apa begini sudah romantis?" tanya Reyno saat ciuman mereka terlepas.


"Sudah. Terima kasih."


"Ada lagi yang kamu mau? Kalau ngga ada kita tidur sekarang."


"Ada!" Glek, mendadak Reyno menelan saliva. Dia tidak akan macam-macam kan, jangan sampai Jennie menyurhnya mencari seblak jam tiga pagi. Atau minta hal-hal lain yang aneh. Please anak papah tersayang, berpihaklah pada ayah kandungmu kali ini.


"Mau apa lagi?" tanya Reyno dengan lembut.


"Aku risih lihat kamu pakai baju!"


Fiuh. Hembusan nafas lega keluar dari paru-paru melalui hidung. Reyno membuka kaos putih polos miliknya, menampilkan deretan otot-otot yang membentuk sobekan roti manis.


"Sudah di buka, punya kamu mau dibuka sekalin, tidak?"


"Gak!" cetus Jennie. "Mulai sekarang jangan pakai baju di dekat aku, mau lihat kamu begini terus," lirihnya sambil meraba-raba.


"Apa ini termasuk nyidam?"


"Iya. Aku nyidam suami aku telanjang dada."


"Ada-ada saja, ya sudah, ayo lanjut tidur lagi. Bumil ngga boleh kurang tidur."


"Jangan pakai baju, ya."


"Iya, Sayang."


Reyno menggeleng tak percaya karena nyidam Jennie yang tidak masuk akal itu. Namun ia akan menuruti sekalipun harus menahan hawa dingin dari terpaan AC.

__ADS_1


***


Jangan lupa like dan komennya ya, masa yang like gak ada 5 persen dari yang paporitin cerita ini. Untuk yang belum paporit jangan lupa tekan love merah❤, biar aku seneng. Uhuy


__ADS_2