Suamiku Anak Mami

Suamiku Anak Mami
S2- UNTILED


__ADS_3

'Aku tidak ingin merasakan sensasi mati dalam keadaan bernyawa.'


Begitulah Reyno mencurahkan isi hatinya di kesempatan yang ada. Farhan tertegun menelan saliva. Menatap sang adik yang serius bercerita kala itu.


'Mungkin terdengar berlebihan, tapi belahan jiwa memang benar adanya, Kak. Jennie ... wanita itu telah menjadi satu-satunya orang yang membuat aku gila ketika memikirkan perpisahan. Membuat hatiku teriris, menangis, dan tak kuasa jika suatu saat semesta memisakan kebersamaan kita.


Aku tidak ingin mati meninggalkannya, begitupun sebaliknya, aku tidak ingin dia mati meninggalkanku terlebih dahulu.'


Terdengar egois di telinga Farhan, namun sekali lagi pria itu masih mendengarkan curhatan sang adik dengan seksama. Kala itu Reyno bercerita panjang lebar tentang istrinya. Tentang betapa berharganya setiap momen kebersamaan yang pernah mereka lalui selama ini. Baik suka maupun duka.


Kini kedua pasangan suami istri itu sudah mendapatkan apa yang mereka inginkan. Yaitu menjemput maut secara bersamaan. Takut dan sakit yang mereka rasakan di dalam tragedi pesawat itu sudah berganti dengan kebahagiaan.


Meskipun Farhan belum pernah merasakan kematian sebelumnya, ia yakin Tuhan memberi kebahagiaan pada kedua adiknya. Mereka akan tenang bersama Tuhan di alam sana.


Setelah menjelaskan pelan-pelan, akhirnya Cillan dan Cello sudah mengetahui bahwa papa dan mamanya telah tiada. Ya, walaupun mereka masih tidak paham dengan penjelasan orang dewasa.


Menggunakan baju yang serba putih, Farhan mengajak kedua anak kembar itu mengunjungi sebuah pantai. Untuk mengenang satu bulan kepergian kedua orang tuanya yang mungkin sedang tersenyum bahagia menatap Cilla dan Cello dari atas sana.


"Om, di mana mama dan papa? Kenapa tidak ada di sini?" Cello mengedarkan pandangannya. Melihat seisi pantai yang hampa kecuali mereka bertiga.


Langit berwarna lembayung saat air mata Farhan jatuh mendengar pertanyaan Cello. Buru-buru pria itu menyeka air matanya sebelum binar polos itu menangkap kesedihan Farhan.


Apa kalian melihat kami dari jauh sana? Lihatlah, kedua anak kembar kalian ada bersamaku. Dia sehat, dan tentunya sangat merindukan kehadiran kalian, ucap Farhan di dalam hati. Dadanya sesak bagaikan terhimpit bongkahan batu besar.

__ADS_1


Belum hilang sesak di hati Farhan, satu lagi gadis kebanggaan papa mama berceletuk. "Katanya kita mau ketemu mama Panda and papa Teddy? Cilla tanen ama mama dan papa, Om!" Gadis kecil itu mendongak. Terisak-isak dengan sejuta pikiran polosnya.


Farhan sudah pernah menjelaskan, bahwa mama dan papanya ada bersama Tuhan. Namun, jawaban mereka sungguh menyayat hati hingga terbelah-belah. Cilla dan Cello langsung berdoa kala itu, menangis dan memohon agar Tuhan mengembalikan kedua orang Tuannya.


'Tuhan, tolong balikin mama dan papa Ello. Ello janji gak akan nakal, gak ngompol, gak akan takutin papa pake kecoa. Ello juga janji mau nurut. Jangan ambil papa dan mama Tuhan, nanti Ello sama siapa?'


Sementara Cilla, gadis kecil itu tak henti-hentinya menangis. Berharap kedua papa dan mamanya akan datang seperti saat ia merajuk. Namun nihil, harapan mereka patah bersamaan dengan kebingungan yang melanda mentalnya.


'Cilla cudah bisa hitung kue catu campe lima, Tuhan. Kata papa, Cilla akan dikacih hadia kalau lajin belajang. Tapi kenapa papa dan mama Cillanya diambil, Tuhan? Pada'al Cilla tidak jaat ama, Tuhan. Cilla lajin bedoa uga. Apa calah Cilla, Tuhan? Hikss ... Hiks'


Suara cempreng dengan gaya tersendat-sendat itu sungguh membuat sembilu melukis di hati siapapun yang mendengarnya. Ketulusan mereka dalam berdoa membuat Farhan dan keluarga merasakan hidup dalam kematian. Sakit. Tak kuasa, ingin marah, dan ketidakikhlasan itu hadir kembali menikam dada.


Sungguh sulit memberikan edukasi kematian pada anak di bawah umur. Cilla dan Cello terus mencari kedua orang tuanya meskipun semua orang menjelaskan ini itu.


Deburan ombak saling besautan dengan tenang. Menghantam karang dan lebur bersama buih di pesisir pantai. Farhan menjatuhkan lututnya. Mensejajarkan tubuhnya dengan kedua bocah polos yang tengah menangis itu.


"Apa mama dan papa akan datang?" Lagi-lagi pertanyaan yang sama lolos dari bibir Cello. Tetap kehadiran orang tuanya adalah hal yang mereka berdua tunggu.


Farhan memeluk Cilla dan Cello secara bersamaan menaruh kedua dagu mungil itu di atas pundaknya.


"Om, mana mama dan papa?" Air mata Farhan jatuh kembali. Jiwanya lemah melihat kedua bocah itu terus menuntut kedatangan kedua orang tuanya.


Apa kalian sungguh tidak akan datang? Dua bocah kembar ini sungguh membutuhkan kehadiran kalian berdua. Apa kalian tega melihat kepolosan mereka ternodai seperti ini?

__ADS_1


Rindu memukuk dada membuat Farhan berhalu sebuah keajaiban. Selayaknya Cilla dan Cello, ia juga berharap magic datang membawa kedua couple legend itu hadir kembali ke dunia. Terdengar lucu, untuk pertama kalinya Farhan merasa kehilangan sesuatu tanpa bisa berbuat apa-apa.


"Om jawab!" Amara Cello meluap. Pria kecil itu menggigit bahu Farhan sekuat tenaga. Suaranya mendadak serak. Hampir hilang karena terus menangis. Mereka berdua merasa dibohongi karena perkataan Farhan memutus harapan mereka. Farhan berkata ingin mengajak Cilla dan Cello berkunjung menemui orang tuanya. Namun tidak ada apapun yang mereka lihat, selain hamparan pasir luas dan lautan yang membentang.


"Kata emen-emen Cilla gak akan temu mama dan papa. Meleka bohong 'kan, Om? Cilla gak pelcaya. Cilla gak mau dikatain gak puna olang tua." Gadis kecil itu ikut protes kepada pamannya. Madis terus terisak-isak dengan suara yang terdengar tragis.


Hei kalian, datanglah cepat! Aku sudah tidak kuat melihat kesedihan dua bocah ini. Lebih baik aku saja yang mati, asal kalian tetap hidup dan berkumpul lagi bersama mereka. Arghh! Hati Farhan menjerit tak kuasa. Kehilangan benar-benar menyakitkan. Sesakit ini sampai ia merasa lebih baik mati daripada kehilangan.


Merasa harus tetap kuat, Farhan bangkit dan mencoba menerima kejadian ini dengan dada lapang. Pria itu mengelap air mata dan ingus si kembar dengan telaten. Sesuatu yang sangat kuat hadir sebagai keajaiban di dalam hatinya. Mulai saat ini Farhan akan menjaga dua bocah itu. Memastikan umur mereka jauh lebih panjang dari kedua orang tuanya.


"Kata siapa kalian tidak punya orang tua?" Hati Farhan mulai berapi-api. "Mulai saat ini ... panggil Om dengan sebutan ayah. Om adalah orang tua kalian."


Reflek Cilla dan Cello mundur satu langkah. Kedua anak itu menggeleng tanda penolakkan.


"Tidak mau! Papa akan marah kalau kita panggil om Farhan ayah!" tolak Cello diikuti anggukan tidak suka dari adiknya Cilla.


"Justru itu. Kalian harus panggil aku ayah. Agar papa kalian marah, lalu datang memarahi om Farhan seperti biasa."


Argh, Farhan benar sudah gila; segila ini sampai ia sendiri berharap Reyno datang sambil merajuk-rajuk seperti biasa. Kini ia merindukan hal yang sangat menjijikkan yang biasanya tak ingin Farhan lihat. Ya itu kelakuan manja dan cemburu besar seorang Reyno.


"Cila cetuju!"


"Ello juga!"

__ADS_1


Cilla dan Cello langsung kembali menghambur ke pelukan Farha. Ada senyum harap yang tadinya sempat terputus. Harapan bahwa kedua orang tuanya akan datang masih ada dan tumbuh semakin besar.


"Papa, Cilla dan kak Ello sekarang punya ayah. Apa papa cembulu?"


__ADS_2