
Hai hai, aku datang bawa kabar gembira. Novel baruku, Pesona Pelakor Liar.
***
"Reyn ...." Alex melirih setelah beberapa saat saling terdiam.
Dari nada suaranya lelaki bernama Reyno langsung tahu kalau Alex sedang ada masalah.
"Adaapa lagi? Kalo suruh nolongin kamu lagi aku ogah!" dengkus lelaki itu penuh waspada.
"Yaelah, Reyno! Negatif thinking, an banget lu!"
"Bukannya negatif thinking, tapi muka kamu jelas menggambarkan wajah orang susah. Jadi aku sengaja nolak duluan sebelum kamu minta bantuan."
"Hmmm. Kebiasaan. Aku cuma mau minta pendapat, kok."
"Pendapat apaan?" Sorot mata Reyno dipenuhi tanda tanya. Sesekali ia mengibas-ngibaskan tangannya karena gerah.
"Kalo semisal aku kencan satu bulan sama cewek selain Sisca, itu termasuk selingkuh, bukan si?"
"Ya selingkuh dong! Itu 'kan sama aja kamu bersenang-senang sama wanita lain. Gimana si kamu. Begonya kelewatan, deh!"
Alex menarik napas kasar. Tampak frustrasi gara-gara kalimat Reyno yang satu itu.
"Bukan begitu oncom. Aku bukan seneng-seneng karena aku suka sama cewek itu. Ini cuma sekadar chalenge gitu," ujar Alex.
Dua alis Reyno menukik tajam. Pandangannya yang semula santai berubah semakin menyelidik.
__ADS_1
"Kamu gimana si, Lex? Tadi katanya semisal, kok malah terjadi beneran?"
"Belum beneran, Reyn. Baru misalkan ini ...."
"Hmmm." Lelaki itu memutar bola matanya. "Sisca tau nggak tentang chalenge itu?"
"Ya enggak dong!"
Reyno mengangguk-anggukkan kepala. Tampak berpikir sejenak, lalu bicara kembali.
"Asal kencannya nggak macem-macem si gak masalah menurut aku. Lagi pula cowok belum menikah wajar begitu."
"Jadi gak masalah, Reyn?"
"Iya," jawab Reyno. "Tapi kamu harus hati-hati. Takutnya dari yang cuma chalenge jadi kebawa hati."
"Iya sih. Tadi aku juga deg-degan banget pas ciuman."
"Emmmm." Alex mendadak bingung harus menjawab apa. Pasalnya dia sudah terlanjur kepalang basah seperti ini.
"Sebenarnya beneran, Reyn. Tadi siang aku udah mulai mengikuti permainan cewek itu."
"Ya ampun Lex! Buat apa si mainan ngikutin permainan kayak gitu? Emang kamu nggak kasian sama Sisca? Dia pasti kecewa kalau tahu kelakuan pacaranya yang kaya garong begitu," sungut Reyno.
"Ya gimana lagi, Reyn. Ini semua demi kebaikan kita berdua. Cewek itu janji gak bakalan gangguin aku lagi kalau aku mau kencan satu bulan sama dia."
Pada akhirnya Alex berkata jujur. Dia memang sedang butuh-butuhnya teman curhat. Dan hanya Reynolah satu-satunya mahluk dewasa yang paham jika diajak cerita soal beginian.
"Emang siapa si ceweknya, hah?" Reyno melipat tangannya di depan dada.
__ADS_1
"Miss D."
"Haaaaaah?" Jawaban lirih itu sukses membuat Reyno berteriak sekencang-kencangnya.
"Kamu gila ya, Lex? Gara-gara skripsi kamu mau j!lat dosen sendiri?"
"Siapa yang mau kayak gitu, Com? Miss D dulu yang suka. Sebenarnya dia udah lama ngejar aku. Dia bilang aku menarik."
"Jadi sampai terjadinya chalenge gila ini. Kalian sebenarnya udah ada hubungan?"
Mau tidak mau Alex mengedikkan bahunya. "Dia yang ngejar, tapi aku ogah. Miss D itu tipe wanita yang gigih. Dia bilang gak akan berhenti penasaran sampai berhasil macarin aku. Jadi beginilah hasilnya."
"Terus Sisca gimana?"
"Ya nggak gimana-gimana, Reyn! Tapi kalau dia sampai tahu pasti marah."
"Bukan marah, tapi kamu langsung diputusin." Reyno mendelik garang. Kalau istrinya sampai tahu ia berteman dengan orang macam Alex, mungkin dia tidak akan menginjakkan kakinya ke tempat Alex lagi.
Reyno berdiri.
"Mau kemana?"
"Mau pulang. Jemputan aku udah nunggu di bawah." Ia lalu menepuk bahu Alex. "Menurut aku segera akhiri chaleng gila itu sebelum kamu menikmati. Aku nggak tega liat Sisca nangis gara-gara kelakuan kamu."
"Iya, Reyn ... Iya ...."
"Dilakuin jangan iya iya doang!"
"Iya baacyot! Kamu ini lama-lama kaya Nyokap aku ya?"
__ADS_1
"Jadi gue nyokap apa bokap"
"Dua-duanya!" sungut Alex.