Suamiku Anak Mami

Suamiku Anak Mami
S2- Bab 72


__ADS_3

Hari ini, mungkin adalah hari termalas untuk seorang Jennie. Susah payah ia menyusun rencana untuk memberikan kejutan di hari ulang tahun Reyno, namun semua itu gagal karena ia tidak bisa menyembunyikan apapun dari sang suami. Apalagi Reyno sudah mendapat surprise dari sang mami tepat jam dua belas malam, wanita itu semakin besar iri ketika ia hanya bisa menemani Reyno tidur di atas ranjang dengan kamar yang didesain dadakan seperti suasana kamar pengantin. Ck. Setiap Reyno ulang tahun, hanya itu yang Reyno minta dari sang istri. Di mana semua yang Reyno lakukan bertujuan untuk kebaikan rumah tangganya—agar lebih harmonis tentunya.


Sebagai istri yang kurang peka, Jennie hanya ingin memberikan kesan manis di hari ulang tahun Reyno. Namun, reaksi pria itu berbeda dengan biasanya.


"Cukuplah menjadi kucing penurut di atas ranjang. Jangan manyun kalau enoki hendak menyapa toppoki. Kalau bisa, jangan pakai baju setiap malam Jum'at." Begitulah Reyno menggoda istrinya saat sedang menangis kesal pada hari itu.


"Tapi aku ingin memberikan kejutan spesial untukmu. Harusnya, hari ini aku menghilang sampai kamu ulang tahun." Isakan Jennie semakin keras, membuat Reyno merasa kasihan melihat kondisi istrinya yang kecewa.


"Kau ingin menghilang menjelang ulang tahunku?" tanya Reyno menelisik.


"Hmmm." Jennie mengangguk bodoh. "Aku tahu kamu suka kejutan. Suka yang romantis-romantis seperti yang ada di dalam drama Korea. Niatnya, aku ingin minta tolong kak Dafa untuk merayakan ulang tahunmu di puncak Bogor. Lalu, kita bisa melihat kembang api bersama tepat jam dua belas malam."


"Selalu saja Dafa yang ada di pikiranmu."


"Iya memang rencana awal aku ingin seperti itu. Kalau kak Dafa tidak menyatakan cintanya, aku berniat untuk meminta bantuannya. Aku akan berpura-pura diculik, lalu seseorang meneleponmu untuk datang sendiri. Pada saat itulah, kembang api dinyalakan dan aku datang tepat dari arah belakangmu."


"Astaga, Je!" Reyno menepuk jidatnya, gemas. "Sejak kapan kamu jadi wanita yang mendrama begitu?"


Pria itu mengecupi rambut samping Jennie—mengelusnya dengan lembut seperti perlakuannya pada anak kucing. Senyum geli masih belum putus dari bibir Reyno. Seolah benda kenyal itu tak rela melewatkan moment lucu yang terjadi pada istrinya. Beruntung, si target sedang bersembunyi di dalam pelukannya. Mungkin Jennie akan marah kalau tahu bahwa dirinya sedang diketawai.


"Aku memang suka sesuatu yang romantis seperti yang kamu katakan, tapi apa kamu tidak berpikir? Caramu memberikan kejutan terlalu ekstrim. Bukannya aku terharu, yang ada aku akan ngambek kalau dikerjai begitu."


"Tapikan itu sesuai dengan adegan romantis di drama yang kamu tonton, padahal aku jadi ikutan nonton drama juga loh! Demi mencari tau hal ini." Jennie memukul dada Reyno, kesal. Namun tangisnya sudah mulai reda perlahan.


"Aku lebih suka kamu memberikan request hadiah. Itu lebih berguna karena sudah dijamin aku suka."


Jennie melepas pelukkan, menatap Reyno dengan gerakan mata penuh penekanan. "Requestmu selalu itu-itu saja. Meminta aku mendekorasi kamar sesuai dengan kamar pengantin. Apa tidak bosan, selalu mendapat seperti itu setiap kali ulang tahun?"


"Tidak sama sekali."


Jennie berpikir secara spontan. "Huh, dasar pikiranmu terlalu mesum? Segala sesuatu yang kamu ingin selalu berhubungan dengan ranjang. Aku juga ingin sesekali memberi kenangan manis di hari ulang tahun kamu, tahu!" protes Jennie dengan nada bicara manja.


"Jahat, aku tidak semesum itu tahu!" Reyno balik protes.


Melipat kedua tangannya di depan dada, Jennie berbicara dengan nada meledek. "Hadiah yang kau minta selalu berhubungan dengan ranjang, apa namanya kalau bukan mesum, heh?"


"Dasar tidak peka!" Reyno mengecup pucuk kepala Jennie gemas. "Meskipun ada hubungannya dengan ranjang, tidak berarti aku meminta hadiah itu karena mesum."


"Terus apa?"

__ADS_1


"Putar memori kamu!" Reyno menangkap kepala Jennie dengan kedua tangan. "Apa kau ingat kejadian empat tahun lalu?"


"Yang mana? Jangankan empat tahun lalu, empat hari yang lalu saja aku lupa."


Jennie mengerjap dengan kerlingan mata bingung. Sampai dahinya nyaris mengkerut sekalipun ia tidak akan pernah paham.


"Pertemuan pertama kita, saat aku tak sengaja masuk ke dalam toilet. Di mana kamu sedang ganti baju olahraga."


"Ah! Yang aku jatuh pingsan karena belum makan?" Lampu terang menyinari otak Jennie yang gelap gulita. Wanita itu tersenyum kecut sebelum berkata. "Tentu saja aku ingat, itu adalah kenangan terburuk yang pernah aku dapatkan. Kita dikeluarkan dari sekolah bukan karena masalah, tapi karena video itu sudah terlanjur menyebar ruah."


Menceritakan itu, membuat Jennie mendengkus malas.


"Pintar!" Reyno menjatuhkan telapak tangannya di atas kepala Jennie. "Jangan terfokus pada fitnah mereka, tapi ingatlah bahwa itu merupakan hadian terindah yang pernah kau beri untukku."


Wajah Jennie berubah merah. Kesal bercampur gemas bersatu dalam emosi.


"Hadiah terindah?" Nada suara Jennie meninggi. "Jadi melihat aku tidak memakai baju adalah hadiah terindah untukmu?"


"Astaga!" teriak Reyno frustasi. Ternyata benar yang Jennie katakan, wanita itu memiliki tingkat kepekaan enol persen.


"Kenapa?" Lagi-lagi Jennie memasang tampang bingung tak berdosa. "Aku benar kan?"


"Hari saat kita terjebak berdua di dalam toilet, adalah tepat hari ulang tahunku. Dan sehari setelah ulang tahunku, kita berdua resmi menikah. Jadi aku selalu menganggap bahwa itu adalah kado terindah dari Tuhan yang ditujukan untukku melalui kamu. Meskipun dulu aku belum paham dan tidak pernah berpikir hubungan kita akan semanis ini."


"Oh! Maaf otakku gak sampai sedetail itu, Reyn. Aku juga merasa beruntung karena video virak itu mempertemukan kita berdua. Lalu apa hubunganny semua itu dengan dekorasi kamar pengantin?" tanya Jennie yang masih belum menemui titik terang.


"Untuk dekorasi kamar pengantin, tentu saja bertujuan untuk mengenang malam pertamaku yang gagal."


Sekarang giliran Jennie yang menepuk jidatnya gemas. "Tidak ada kata gagal, kamu yang nyuruh aku tidur di lantai. Dengan percaya dirinya kamu berkata, 'jangan sentuh aku!'. Cih!" Jennie mengejek geli.


"Maaf, dulu masih polos. Belum diserang negara api."


"Nega apinya pak mandor ya, Reyn!" ejek Jennie tiada henti.


"Ssttt ... jangan dibahas. Tahun ini aku mau minta kado yang berbeda."


Maka di sanalah mereka berada. Tepat di hari ulang tahun Reyno yang digelar meriah, si tokoh utama kabur membawa istrinya untuk meminta jatah hadiah yang dia inginkan.


"Ciuman nontsop satu jam!" Begitulah Reyno berbunyi seperti burung beo tidak dilatih. Hadiah yang Reyno minta kali ini lebih gila. Mungkin Jennie akan segera mendapat treatment sulam bibir secara gratisan.

__ADS_1


Mata saling bertemu, bibir saling beradu. Reyno dan Jennie sedang berada di kamar hotel. Sudah lima belas menit lidah mereka saling membelit tanpa berhenti sedikit.


"Hahh ... haah ..." Jennie menarik kepalanya saat merasakan oksigen tak lagi masuk ke dalam paru-parunya.


"Satu jam kelamaan, Reyn. Bisa tidak nyicil perlima menit sekali?"


Melengos kesal, Reyno mengedarkan pandangannya kemanpun asal tidak melihat mata istrinya yang memelas. Atau ia akan luluh dan gagal mendapatkan jatah hadiah.


"Baru pertama kali aku mendapat hadiah, di mana si pemberi hadiah minta dicicil. Apa hadiahku kau anggap kredit panci?"


Mendengar itu, Jennie sudah tidak tahu lagi harus bicara menggunakan bahasa yang seperti apa. Mungkin sudah derita si bibir yang harus rela jontor di tahun ini.


"Ya sudah, ayo kita lakukan lagi."


Tok ... tok ...


Baru saja mendekat, sebuah ketukan dari luar membuyarkan segala kegiatan sepasang manusia konyol yang ada di dalam kamar.


"Ada apa?"


"Maaf Tuan Muda, anak-anak panti sudah berkumpul dan ingin segera menyaksikan acara potong kue," seru seseorang di balik sana.


"Baik, saya turun!" balas Reyno singkat.


Pria itu mengelap bibir sang istri. Lantas menggandeng tangan mulus itu menuju lantai satu—tempat Reyno menyelenggarakan ulang tahunnya.


Berbeda dengan ulang tahun yang selalu dijadikan perkumpulan bisnis papanya, kini Reyno sudah bisa memilih konsep acara ulang tahunnya sendiri semenjak nikah. Walau sponsor acara masih dari perusahaan sang papi.


Pria itu mengundang 1000 anak panti di hari ulang tahunnya. Selain untuk beramal, Reyno juga sengaja melakukan ini untuk kedua anak kembarnya. Melihat banyaknya anak-anak panti membuat Cilla dan Cello bahagia. Bahkan, mereka meminta kedua orang tuanya untuk sering mengunjungi panti asuhan. Dengan alasan mereka ingin berbagi papa dan mamanya pada anak yatim-piatu. Mulia sekali.


Jennie dan Reyno sudah berada di dalam lift. Bersiap turun untuk menyapa seluruh anak panti.


"Berati masih kurang 45 menit lagi kan, Reyn?" tanya Jennie antusias.


Dengan entengnya Reyno berkata, "Karena terjeda, yang tadi gagal. Ulangi lagi setelah acara ini selesai."


"Ya ampun!" decak Jennie seraya membenturkan punggungnya tak kuasa. Sementara si suami tersenyum nakal dengan bangganya.


***

__ADS_1


__ADS_2