Suamiku Anak Mami

Suamiku Anak Mami
S2- Bab 31


__ADS_3

Makan malam berdua mereka berlangsung sangat baik dan romantis. Ada cinta bertaburan di mana-mana. Quality time seperti ini sangat perlu untuk kebaikan pasangan yang sudah menikah. Agar terciptanya keharmonisan dalam sebuah hubungan rumah tangga. Bila hubungan kedua orang tua berjalan dengan baik, maka akan berdampak baik juga untuk masa depan anak-anaknya, kelak.


Keharmonisan keluarga itu sangat penting. Bukan hanya sekedar menikah, tapi ayah dan ibu perlu memberikan contoh dasar untuk bekal anak-anaknya menjelang dewasa. Sehingga mereka dapat membina rumah tangga yang baik sesuai kaidah yang diajarkan.


"Terus ... terus?" Jennie tergelak saat Reyno bercerita tentang kedatangan Sasha yang tiba-tiba.


Reyno merengut kesal. Bukannya cemburu, Jennie malah tertawa mendengar semua ceritanya. "Kamu ngga asik, deh. Harusnya kamu cemburu, bukannya ketawa," gerutunya dengan sorot mata sebal.


"Bukan begitu, aku ketawa karena kamu ketakutan sampai nahan pipis," kelakarnya lagi. Tawa Jennie semakin pecah bersamaan dengan peraduan garpu dan sendok di atas piring. Lalu ada spagetty yang masuk untuk menyumpal mulutnya agar diam.


"Ya memang gitu, aku takut ketauan dan difitnah deterjen lagi kaya jaman dulu," adu Reyno yang bibirnya terlihat lucu. Maju mundur tiga centi dan bergerak seirama.


"Sasha kan sepupu kamu, Reyn. Engga mungkin ada yang berani nikahin kalian berdua. Tapi kalau nikah gak papa, khusus Sasha aku rela."


"Amit-amit ... huek!" Reyno menjentik dahi sang istri keras-keras. "Sembarangan aja kamu kalau ngomong. Kamu pikir enak dimadu?" decaknya sebal.


"Bercanda Sayang, Sentimen banget sih suami aku. Jadi makin cinta 'kan akunya. Hehehe." Buru-buru melempar gombalan sebelum pria berhati bunglon itu menunjukkan taringnya.


"Aku juga cinta sama kamu. Sayang nama kamu Jennie."


Menyerngitkan dahinya bingung. Jennie mendelik kesal pada suaminya. "Kenapa kalau nama aku Jennie? Nggak suka?" Melontarkan kalimat sinis.


"Suka, kok. Cuma gak bisa ikut nempelin sticker 'Harta, tahta, Jennie,' di mobil. Namanya gak nyambung," seloroh Reyno tidak tahu diri.


Plok! Plok! Plok!


Sebuah tepukkan tangan membuat Jennie dan Reyno kompak menoleh. Membuyarkan candaan garing di antara mereka berdua.


"Sasha?" Reyno terkejut bukan main ketika mendapati gadis itu sudah berdiri di pintu masuk menuju kolam renang.


"Isk ... iskk ... isk ... Keluarga bucin sedang makan malam romantis rupanya." Sasha mendekat, menghampiri Reyno dan Jennie yang sedang berdiri menatapnya.


"Tak lama kemudian, bibi datang terburu-buru dari belakang. "Maaf Tuan Reyno, Tadi bibi hanya membukakan pintu saat bell berbunyi, dan Nona ini langsung masuk sebelum menjelaskan perihal kedatangannya." Meskipun takut, bibi menjelaskan apa adanya.


"Tidak apa-apa, Bi. Sasha adalah sepupu kami. Bibi kembali saja ya," ucap Jennie mengusir secara halus.


Melihat tatap Reyno yang berubah marah. Jennie mencoba menyapa sepupu suaminya sekaligus gadis yang pernah menjadi teman sekelasnya selama dua tahun. Tidak baik jika menyambut tamu dengan amara. Terkecuali Reyno karena mereka musuhan sejak kecil. "Apa kabar Sha? Sudah lama ya, kita tidak bertemu."


Sasha langsung senang begitu melihat reaksi Jennie yang menyambutnya dengan baik. Gadis itu menyalami Jennie, lalu melakukan ritual cipika-cipiki. "Maaf ya, aku datang di saat yang tidak tepat." Menjulurkan lidah ke arah Reyno, sengit.

__ADS_1


"Sudah tahu kamu penggangu. Sana pergi!" usir Reyno yang tidak suka dengan kehadiran saudaranya. Wajahnya berubah sebal. Pria itu menaruh kedua tangannya di depan dada sambil menyoroti Sasha dengan pandangan kebencian.


"Reyn, jangan begitu. Sasha kan sepupu kamu, Sayang."


"Wah ... wah ... Jennie sudah banyak berubah ya, jadi makin feminim dan baik." Dalam arti Sasha sedang menyindiri Jennie yang dulunya paling galak sekelas.


"Sudah berkunjungnya? Lebih baik kamu pergi sebelum di usir. Aku kan sudah bilang, jangan datang malam ini," ketus Reyno kesal. Dalam kondisi apapun, Sasha selalu berhasil membuatnya darah tinggi.


"Harusnya kamu tanya dari mana aku bisa tahu rumahmu, Reyn? Bukankah aku hebat? Tahu tanpa ada yang memberitahu," ujar Sasha membanggakan dirinya.


Reyno berdecih jijik. "Cih! Aku tidak peduli, kau paling sudah membuntutiku sejak tadi siang, itu sebabnya kamu bisa tahu rumahku. Pergi sana! Waktu berkunjung Anda sudah habis," seloroh Reyno.


"Baiklah, aku mau pergi, kedatanganku hanya ingin mengembalikan barang ini. Tidak sengaja aku menemukan ini di dalam mobilnya dan memasukkanya ke dalam tas. Hehehe."


Sasha mengambil sebuah tissu, dan memberikannya kepada Jennie.


"Tissu apa ini, Reyn?" tanya Jennie penasaran. Ia juga menatap Reyno dan Sasha bergantian—dengan pandangan penuh tanya.


"Bukan apa-apa!" seloroh Reyno panik. Ia langsung merebut tissu yang ada di tangan istrinya secara brutal. Memasukkannya secepat kilat ke dalam kantung celananya sendiri.


Merona malu, saat itu juga Reyno dibuat mati gaya. Sasha si sepupu keparatnya telah berhasil membeberkan rahasianya selama ini. Sesuatu yang sudah empat tahun Reyno tutupi dari Jennie, dan hanya ia dan pak mandor yang mengetahuinya.


"Sialan!" potong Reyno cepat. Detik itu juga Reyno menarik tangan Sasha agar pergi menjauh. Membekap mulut gadis itu sebelum lebih jauh membeberkan rahasia yang sudah ia simpan selama empat tahun.


Sasha meronta, berteriak dan minta di selamatkan. Adegan mereka membuat siapapun orang yang melihatnya terheran-heran. Mereka berdua sudah sama-sama dewasa, tapi kelakuannya masih sama persis dengan anak SD.


"Reyn! Hentikan," teriak Jennie saat melihat Reyno mencekik Sasha sampai terbatuk-batuk.


Memang tissu apa sih? Sampai membuat Reyno murka dan hendak membunuh anak orang. Umpat Jennie dalam hati.


Tanpa menunggu dua kali, Reyno langsung menyeret tubuh Sasha. Mendorong anak itu ke kamar tamu dan mengunci pintunya. Gedoran kamar itu tak membuat hati Reyno luluh. Justri ia sedang diambang malu lantaran Jennie datang dengan pandangan meneliti.


"Tissu apa itu, Reyn? Kasihin ke aku."


"Bu ... bukan apa-apa, Sayang." Reyno terbata.


"Apaan?" bentak Jennie kesal.


"Itu punya cowok. Kamu gak perlu tahu. Ini rahasia," ujar Reyno yang sudah diambang malu.

__ADS_1


"Jelasin atau—"


"Heuh." Menghela nafas kasar. "Bisanya ngancam terus."


"Sejak kapan main rahasia-rahasian. Kasihin barang tadi ke aku, biar aku lihat benda apa itu."


"Tissu," jawab Reyno apa adanya. Masih tidak mau memberi tahu perihal yang sebenarnya.


"Kalau cuma tissu kok kamu sampai semarah itu?" tanya Jennie menyelidik. Pantang menyerah sebelum mendapat penjelasan yang masuk akal.


Menghela nafas pasrah, akhirnya Reyno menjelaskan pada istrinya yang polosnya kebangetan.


"Itu tissu buat cowok, biar bisa tahan lama di atas ranjang. Puas kamu!" Memalingkan wajahnya malu. Ia yakin mukanya sudah merah seperti kepiting rebus.


"Bohong aku gak percaya. Kok kamu gak pernah cerita kalau pake barang begituan?"


Astaga! Reyno ingin meraup wajah menyebalkan Jennie sekarang juga. Bisa tidak sih, jangan menambah malu Reyno semakin jadi?


Tanpa menunggu jawaban Reyno, Jennie melontarkan sebuah pertanyaan nyeleneh untuk kedua kalinya.


"Emang kalau gak pake tissu itu kamu gak bisa begituan?" Penghinaan pertama.


"Terus bisa tahan berapa lama?" Penghinaan kedua.


"Jadi harus ada bantuan alat-alat begitu ya?" Penghinaan ketiga.


"Cara makainya gimana?" Semua pertanyaan Jennie terdengar seperti sebuah hinaan di telinga Reyno.


"Jadi kamu ngga perkasa ya, Reyn? Makannya pakai itu?"


Dueeer. Detik itu juga Reyno tidak bisa lagi menahan laju malunya. Pria itu berbalik badan dan meninggalkan Jennie sendiri.


"Terserah! Aku males deket-deket kamu."


Acara ngambek Reyno dimulai.


***


Yang gak paham pelukan sama authornya ya, aku juga nulis berdasarkan riset. Gak tau dan gak pernah nyoba. 🤣

__ADS_1


__ADS_2