Suamiku Anak Mami

Suamiku Anak Mami
S2- Bab 46


__ADS_3

"Woi GILA!"


Alex tergelak kencang bersamaan dengan perut yang mendadak nyeri ketika melihat tingkah aneh seorang Reyno. Pria itu sedang menempelkan stiker di bagian mobil belakangnya. Bertuliskan,


'HARTA'


'TAHTA'


'JENNIE'


"Gak nyambung, Kambing! Kecuali istrimu suruh ganti nama dulu, Dinda, Aprilia, Manda." Alex masih setia ketawa sambil menyebut nama yang akhirannya huruf A. Teman Alex yang satu ini memang lewat, luar biasanya. Selalu ada saja yang membuat orang gemas, pengin nampar tapi kasian.


"Mau bucin boleh, Reyn. Tapi gak perlu maksa begitu. Wagilasih, tau!"


"Biarin suka-suka aku, dong." Akhirnya stiker jahanam itu menempel sempurna di kaca mobil belakang Reyno. "Yang beda itu lebih menantang. Kalau nama Jennie bisa, kenapa harus Dinda."


"Yah, itu sih namanya kamu bukan ngikutin yang lagi viral, tapi memviralkan diri sendiri." Alex menepuk bahu Reyno gemas. Lantas membuka pintu mobil belakang Reyno dan mulai berbaring sesuka hatinya. Tak lama setelah itu, Reyno ikut menyusul dan duduk di kursi pengemudi.


"Hei! Kedepan sini, memangnya aku supirmu, bodoh!" Reyno mengerucutkan bibirnya kesal.


Karena tidak ada dosen, Reyno berniat untuk jalan-jalan bersama Alex. Ia sengaja tidak mengabari Jennie karena masih ngambek perihal bonekanya yang tereksekusi mati dan rusak.

__ADS_1


Mobil mulai berjalan, Alex mulai melirik Reyno dengan perasaan tidak enak. "Kamu yakin, Reyn? Mau ke bar?"


Reyno hanya mengangguk sambil terus mengemudi. Membelah jalan raya di jam sepuluh pagi.


"Mau minum?"


lagi-lagi Reyno hanya menjawab dengan anggukkan. Di mana mobil semakin du gas cepat.


"Memangnya kamu sudah pernah minum?"


Sedikit menurunkan laju mobilnya, Reyno melirik Alex yang di sebelahnya. "Belum, tapi kata orang alkohol dapat menyembuhkan perasaan kesal. Aku mau minum, biar kesal aku ke Jennie hilang."


"Hanya karena boneka?" tanya Alex seraya menyerngitkan dahinya.


Boneka itu memang benda yang sangat Reyno sayangi. Melalui boneka itu, Reyno dapat melepas rindunya pada sang nenek yang telah tiada.


Mungkin bagi orang lain benda itu biasa dan bahkan tidak penting. Namun untuk Reyno benda itu sangat berharga. Ada makna di balik boneka pemberian sang nenek. Yang hanya Reyno seorang yang mengetahuinya.


"Aku takut di marahin istrimu, Reyn."


Alex tahu seperti apa seorang Jennie kalau sedang marah. Pernah ia di marahi Jennie saat mengajak Reyno jalan-jalan ke Bogor. Tak mau lagi ia merasakan kemarahan ibu macan saat menggila.

__ADS_1


"Dia sedang salah, mana berani marah." Hanya itu jawaban dari Reyno.


"Kamu sebenarnya marah pada istrimu, atau sedang sakit hati sih? Perasaan kamu begitu bahagia saat menempelkan stiker jelek itu di mobil. Kenapa sekarang berubah sedih lagi?"


Reyno terlihat menghela nafas berat. Lantas sedikit menurunkan kecepatannya dalam mengemudi untuk membagi fokus ngobrol.


"Boneka itu adalah satu-satunya barang pemberian nenekku. Dari kecil aku selalu dibedakan olehnya karena tingkahku yang manja seperti anak perawan. Nenek selalu sayang dan perhatian pada William kakakku, tapi padaku ia tidak begitu. Bahkan tidak menganggap punya cucu sepertiku, mungkin. Saat menjelang meninggalnya, nenek mempersiapkan boneka beruang itu untuk hadiah ulang tahunku. Namun na'as nenek meninggal terkena struk, tepat dua hari sebelum aku ulang tahu. Di dalam boneka itu tertulis sebuah surat, bahwa nenek minta maaf dan merasa menyesal karena telah membeda-bedakan cucunya. Nenek juga bilang, ia mau menerima sikapku yang kurang layak di mata nenek. Sayangnya, beliau pergi meninggalkanku di saat kita belum dekat."


Ada air mata yang jatuh saat Reyno bercerita. Alex paham dengan apa yang Reyno rasakan. Dibeda-bedakan memang tidak enak. Apa lagi jika mempunyai banyak cucu. Alexpun pernah merasa iri seperti itu, saat neneknya memberi kado pada cucu lain yang berprestasi. Sedangkan Alex yang nilainya standar hanya mendapat cemoohan.


"Setiap kali nenek membelikan kakak mainan, Mami selalu menenangkanku agar tidak iri dengan William. Begitulah nenek ... aku sempat membenci dan menganggap beliau orang jahat, Lex."


"Separag itu ya, hubunganmu dengan nenek?" Alex bertanya tidak enak.


"Ya, memang separah itu. Tapi aku sudah memaafkannya. Maka dari itu aku menganggap boneka itu sangat berharga untukku Alex, karena itu merupakan satu-satunya barang pemberian nenek. Nyatanya, aku tidak bisa menjaga boneka itu. Meskipun itu terjadi karena keteledoran istriku, tetap saja hati kecilku menyalahkan diri sendiri."


Alex mendadak ikut sedih. Pria itu mulai membuka suara atas apa yang menimpa Reyno. "Maaf ya, Reyn. Selama ini aku tidak tahu bahwa ada pengalaman menyedihkan di balik boneka beruangmu itu. Aku pikir kamu murni menyukai boneka," ujar Alex merasa bersalah, karena sering meledek Reyno selama ini.


"Saat menjelang meninggal, nenekku baru sadar bahwa aku masih punya kelebihan. Meskipun manja, aku selalu mendapat peringkat satu. Bahkan pernah melakukan pertukaran pelajar ke Jepang. Saat aku belajar ke Jepang, saat itulah nenekku meninggal. Keluarga tidak ada yang memberitahuku sampai aku pulang kembali ke Indonesia. Menurutmu, bagaimana perasaanku saat itu? Apalagi nenek sudah berbesar hati mau menerima perbedaan dari cucunya? Kita nyaris berbaikkan Lex, jika nenek tidak meninggal."


Alex menepuk bahu Reyno untuk memberinya sedikit kekuatan. "Sedih itu pasti, Reyn. Tapi kamu harus meninggalkan kenangan pahit. paling tidak mengenang semua itu di dalam hati. Jangan anggap boneka itu sebagai sarana untukmu menyayangi nenek. Beliau harus tetap ada di dalam hati walau bonekanya sudah rusak."

__ADS_1


Itulah kisah sedih Reyno di balik boneka Tayonya. Tidak ada orang yang tahu bahkan Jennie sekalipun.


***


__ADS_2