
“Arghhhhh!”
Jeritan Reyno di tengah malam membuat Jennie tersentak kaget. Mengerjap-ngerjap, ia segera memeluk tubuh bergetar suaminya. Mengelap keringat yang membanjiri pelipis
Reyno dengan telaten, lalu meraba baju piama Reyno yang sudah basah karena
keringatnya.
“Mimpi buruk lagi, ya?” Tanya Jennie lembut. Ia tahu apa yang menjadi penyebab mimpi buruk suaminya. Pasti kejadian empat tahun silam. Saat Jennie melahirkan dua anak sekaligus dengan persalinan normal.
Saat itu, Reyno dan Jennie sedang melakukan hubungan persenggamaan.
Berhubung perkiraan melahirkan istrinya masih dua minggu lagi, Reyno jadi tidak
sungkan untuk melakukan kegiatan suami istri pada malam itu. Tentunya dengan
cara aman yang sudah dianjurkan dokter kandungan, yang Jennie sendiri juga
mengizinkan Reyno untuk menyentuhnya.
Tidak seperti malam pada umumnya. Reyno sedikit bersemangat kala itu. Ia memacu pergerakannya cukup kuat saat hendak mendapatkan pelepasannya. Namun alih-alih mendapatkannya, Jennie tiba-tiba menjerit kuat karena tiba-tiba ada kontraksi hebat di perutnya. Penyatuan mereka terlepas begitu saja.
Bingung bercampur panik, saat itu Reyno tidak paham apa yang terjadi pada istrinya. Apakah ia terlalu kasar? Malah hal itu yang Reyno pikirkan. Ketika ia merasakan ada sesuatu yang hangat mengalir dari pangkal
paha milik Jennie, Reyno memberanikan diri untuk meraba cairan itu dengan telapak
tangannya. Terbelalak, tubuh Reyno langsung gemetar hebat begitu melihat darah bercampur cairan putih kental di tangannya.
“Ren, sepertinya anak kita akan segera lahir. Cepat beres-beres dan pakai bajumu. Kita ke rumah sakit sekarang.”
Saat itu juga Reyno langsung panik total. Ia memakai baju piamanya, menggendong sang istri yang sudah dipakaikan baju dan segera menuju parkiran mobil. Jangankan membawa tas untuk kebutuhan bayi. Pakai sandal saja tidak.
Kebetulan saat itu Reyno belum mempunyai supir, mobil saja masih difasilitasi orang tua. Karena masih merintis bisnis bengkel kecilnya.
__ADS_1
“Sayang, bertahanlah! Kamu jangan panik.”
Reyno langsung menelpon bunda. Untung belum terlalu larut malam, jadi bunda belum tidur dan langsung mengangkat panggilan dari Reyno.
“Bun, Jennie mau melahirkan! Bagaimana ini … bagaimana?”
jerit Reyno dengan suara melengking. Jennie sampai menutup telinganya karena
bising.
Tenang, Reyno … tenang. Kalian sekarang ada di mana?
“Di mobil, Bun. Sedang dalam perjalanan ke rumah sakit. Reyno bingung … Reyno bingung, Bun, harus gimana? Jennie sangat teriksa. Dari tadi menjerit kesakitan terus, Bun. Bagaimana ini. Ya Tuhan,” teriaknya frustasi.
Jennie memang beberapa kali menjerit saat mendapatkan kontraksinya. Reyo selalu panik dan gemetar takut
saat mendengar suara jeritan istrinya.
"Iya, Bun."
Hati-hati Reyno. Fokus menyetir. Istrimu tidak kenapa-napa. Fokus … fokus … keselamatan Jennie ada di tangan kamu, Sayang. Bunda akan segera
menyusulmu ke rumah sakit. Tutup teleponnya, biar bunda yang kabari orang tua
kamu.
“Makasih, Bun.” Panggilan ditutup. Reyno kembali menyetir. Ia sudah seperti orang kesetanan, bahkan mengendarai mobil dengan kecepatan maksimal
agar cepat sampai ke rumah sakit.
“Tahan Sayang. Sebentar lagi kita akan sampai di rumah sakit. Jangan panik. Oke!”
“Kamu yang seharusnya jangan panik, Reyn.” Bicara Reyno sama sekali tidak menenangkan hati istrinya. Justru malah dari tadi Reyno yang heboh sendiri. Bahkan mengalahkan Jennie yang hendak melahirkan.
__ADS_1
“Pelankan kecepatan me-nge-mu-di-nya,” ucapnya dengan nafas putus-putus. Tiba-tiba kontraksinya datang lagi. Inilah yang membuat Jennie sulit bicara.
“Aku bingung liat kamu tersiksa begitu. Aku gak tenang. Huuh … huuhh … huuh.”
Deru nafas Reyno semakin berat. Jantungnya bertalu-talu tidak jelas. Seperti
hendak keluar dari tempatnya.
“Tenang, Reyn. Tarik nafas dalam-dalam, lalu hembuskan perlahan. Tenangkan pikiranmu. Aku masih baik-baik saja.”
“Baik-baik saja apanya? Jelas-jelas kamu sering teriak kesakitan," ucap Reyno dengan nada suara campur aduk. Setengah membentak, panik, khawatir.
Keadaan Reyno sudah seperti orang gila sekarang.
"Huhhh ... huuh ... huhhh." Nafas Reyno semakin naik turun.
Aku teriak kalau kontraksinya lagi dating, tapi ngga sampai sepanik dan seheboh kamu, Reyn. Gerutu Jennie dalam hatinya.
“Tenang Sayang. Lakukan seperti apa yang perintahkan tadi.” Jennie memperagakan cara bernafas dengan benar agar Reyno dapat mengikutinya.
Jujur saja, di saat genting begini. Jangankan tenang, cara bernafas dengan benar saja Reyno mendadak lupa.
"Huahh. Gak bisa .... Susah! Mana mungkin aku bisa tenang di saat istri aku sedang mempertaruhkan nyawanya," teriak Reyno menggila.
"Sayang tenang Sayang. Aku baik-baik saja," lirihnya sambil mengusap paha Reyno. "Yang fokus nyetirnya ya, jangan mikirin yang aneh-aneh." Sebisa mungkin Jennie menenangkan Reyno demi keselamatan bersama.
Sebenarnya yang melahirkan aku apa kamu sih, Reyn? Kenapa jadi aku yang harus nenangin kamu. Heuh. Gerutu Jennie sambil menahan perutnya yang mulai melilit.
***
Maklum ya guys, 19 taunan jadi bapak ya getooo. Natural wajar, kok.
Next 1000 like dulu ya, wkkwwk.
__ADS_1