Suamiku Anak Mami

Suamiku Anak Mami
S2- Bab 61


__ADS_3

Kali ini Reyno menggunakan kekuatan sultan untuk mengerahkan pasukan di garda terdepan. Ia sudah lebih dulu sigap menceritakan semua masalah rumah tangganya kepada Farhan—tentang kelakuan Jennie yang lancang bertemu dengan laki-laki di belakang Reyno. Di mana segi inti yang Reyno usulkan, adalah demi kebaikan Jennie.


Seorang wanita yang sudah berstatus istri .... Wajib untuk menjaga kehormatannya di luar rumah. Jika kelakuan Jennie dibiarkan, semua itu akan berdampak buruk untuk kehidupan rumah tangga mereka kedepannya. Tidak hanya gosip buruk yang menimpa, mungkin saja hubungan rumah tangga mereka bisa semakin keruh akibat perbuatan Jennie.


Beruntung, Reyno adalah orang pertama yang memergoki kelakuan sang istri. Karena ceritanya lain lagi jika hal ini sampai dilihat oleh orang lain. Mungkin akan ada tambahan penyedap rasa agar terkesan mendrama.


Tanpa sepengetahuan, papinya, Jennie, atau sang mami, Reyno telah mengerahkan pasukan mata-mata untuk membuntuti Jennie atas izin Farhan. Jadi ia tidak perlu capek-capek untuk mengetahui kabar istrinya ada di mana.


"Maaf...," lirih Reyno saat melihat beberapa foto sang istri luka-luka. Sejurus kemudian, Reyno meradang kembali saat melihat pria yang membantu istrinya ke rumah sakit adalah Dafa. Orang yang menjadi pusat utama atas pertengkarannya dengan Jennie.


"Ah, sial!" mobil Reyno berhenti di sebuah taman pinggiran kota. Pria itu memarkirkan mobilnya. Reyno melirik kedua anaknya yang masih terlelap di belakang.


Maafkan papa, Nak. Sepertinya kita harus memberi pelajaran pada mamamu ... agar dia tahu betapa pentingnya keluarga, ucap Reyno dalam hati.


Beberapa informasi tentang Dafa sudah di dapat. Semua yang Jennie katakan memang benar, Dafa adalah teman akrab di masa kecil Jennie. Sayangnya, Jennie tidak pernah menceritakan secuilpun tentang Dafa pada Reyno. Tapi malah pergi berduaan tanpa izin terlebih dahulu. Hal itulah yang memacu Reyno semakin murka. Merasa dikhianati. Diinjak harga dirinya sebagai seorang suami.


Apa yang Jennie dapatkan sekarang, adalah hal yang pantas untuknya. Reyno harus lebih tega agar tidak terjadi masalah kurang komunikasi di antara mereka untuk kedepannya.


"Papa!" Si kecil Cilla sudah pangun, di ikuti Cello yang sudah mengerjap-ngerjap—bersiap untuk ikut bangun juga.


"Kita yagi di mana, Pa. Kapa kecini?"


"Kalian berdua siap-siap ya, kita mau tamasya. Di taman pinggiran kota."


"Ah, kenapa gak ajak mama Panda, Pa?" Cello langsung bringsut dari posisinya yang terlentang. Pria kecil itu duduk seraya melihat ke arah Jendela.


"Mama Panda sedang sibuk, Sayang. Hari ini mainnya bareng Papa aja, ya."

__ADS_1


"Iya Pa," jawab mereka kompak. Tanpa berpikir macam-macam mengenai mamanya.


Taman kecil nan sejuk menjadi destinasi wisata yang Reyno tuju. Jennie tidak mungkin bisa melacak sampai taman yang Reyno datangi. Tempat itu terlalu terpencil dan jauh dari keramaian kota. Ada waduk buatan yang terlihat bersih seperti danau sungguhan.


Tikar mulai digelar. Berbagai camilan dan makanan kesukaan Cilla dan Cello tersedia lengkap di atasnya. Anak-anak begitu senang, meski Reyno merasa ada yang kurang.


"Pa, mau tangkep upu-upu, ya?" tanya Cilla riang. Gadis kecil itu berlarian memburu kupu-kup yang berterbangan. Ada banyak kupu-kupu di taman itu, ia nampak senang sampai lupa bahwa mamanya tidak ada.


"Jangan di tangkap ya, mereka juga mau hidup. Sama seperti Cilla." Gadis kecil itu langsung cemberut, namun sejurus kemudian Cilla paham.


"Kalo kejal-kejal aja bole, kan?"


"Iya, boleh. Tapi hati-hati ya ... awas jatuh!"


Tersenyum kecut, Reyno memandang kedua anak-anaknya yang saling berkejaran dan berceloteh riang. Sepertinya mereka terlalu senang sampai tidak ada yang menanyakan Jennie satupun. Setidaknya, melihat senyum bahagia Cello dan Cilla dapat mengobati hati Reyno yang dilanda luka lebam.


Ah, hari ini Reyno merasakan sensasi jadi ayah asuh dadakan. Sekelebat rindu menyeruak di dada. Ingin rasanya Reyno berkata bahwa yang Jennie lakukan itu salah. Termasuk pergi mencari Reyno hanya berdua dengan Dafa—walau tujuannya demi kebaikan.


Namun Reyno masih ingin melihat, sejauh apa Jennie menyadari kesalahannya sendiri.


***


Hari menjelang sore. Mobil Dafa berhenti tepat di depan gerbang rumah Jennie. Dengan gerakkan loyo, Jenni membuka pintu mobil samping untuk keluar.


"Je!" Dafa menarik lengan Jennie. Di mana gadis itu menoleh dengan sedikit rasa keterkejutan.


"Istirahat ya, jangan terlalu dipikirkan. Suami dan anak-anakmu pasti akan pulang jika mereka sudah rindu."

__ADS_1


"Terima kasih, Kak. Terima kasih juga karena menyempatkan waktu untuk menemaniku seharian ini."


"Aku akan selalu ada untukmu, Princess!" Dafa tersenyum hangat. Sementara Jennie tidak begitu memperhatikan sikap Dafa, ia memang sudah paham betul tentang kelakuan Dafa. Dan Jennie menganggap semua itu adalah bentuk kasih sayang Dafa terhadap sahabatnya.


Pintu rumah terbuka, tidak ada tanda-tanda kehidupan sama sekali. Kecuali para pembantu yang mungkin sedang beristirahat di rumah belakang.


Hampa, Jennie merasa kehilangan untuk pertama kalinya. Jika biasanya ia mendengar rengek dan tawa anak-anaknya, kini tak ada lagi hal seperti itu.


Jennie baru berpisah sehari dengan anak-anaknya, namun sakitnya melebihi satu tahun. Andai tidak ada kejadian seperti ini, mungkin semua kan baik-baik saja. Andai Jennie tidak lupa dan menyepelekan derajat suaminya, Reyno tidak akan kabur membawa anak-anak. Ah, perasaan bersalah semakin membuat hatinya bernanah.


Tak terasa langkah kakinya menuntuk ke kamar utama, tempat ia dan Reyno sering bergagi suka dan duka. Dinginnya ruangan itu terasa menusuk kulit begitu pintu dibuka. Tak ada lagi sosok Reyno di sana.


Jennie begitu merindukan sosok Reyno, bahkan ia ingin sekali melihat bibir Reyno yang selalu mengerucut di kala ngambek.


Membanting tubuhnya di atas ranjang, Jennie mengecek ponsel untuk menghubungi Reyno. Namun keadaan masih nihil, foto profil Reyno yang masih kosong menandakan bahka pesan yang Jennie kirim masih centang satu.


Reyno benar-benar berniat sekali untuk kabur. Terbukti bahwa ia tidak mendatangi rumah bunda ataupun mami Dina. Anak-anak bengkel juga tidak ada yang tahu di mana Reyno pergi.


"Aku gak kuat, Reyn. Kamu di mana sih? Jangan bikin aku khawatir," lirih Jennie membersamai laju turun air matanya.


Wanita itu bangkit kembali. Terduduk dan mengedarkan pandangannya ke sekeliling.


"Sepertinya aku harus mengunjungi tempat yang membuat hatiku sedikit tenang, aku bisa mati kalau berada di rumah ini tanpa kehadiran mereka."


Mengambil tas coklat miliknya, Jennie melangkah pergi dari rumah. Otaknya sudah tidak bisa berpikir Jernih.


Tujuannya sekarang hanya ingin bertemu Reyno dan anak-anak. Jika semua itu tidak bisa, Jennie lebih baik hilang ingatan untuk selamanya.

__ADS_1


***


__ADS_2