Suamiku Anak Mami

Suamiku Anak Mami
S2- Namsan Tower


__ADS_3

"Kamu gila ya, Reyn?" teriak Jennie frustasi. Suaranya menggema nyaring di dalam kamar hotel itu. Membuat Reyno harus menutup gendang telinganya agar jangan sampai rusak.


Mereka berdua baru selesai berbelanja buah tangan untuk semua keluarganya. Siapapun kebagian jatah sekalipun itu pekerja yang membantu di rumah Reyno dan Jennie.


"Kenapa banyak banget oleh-olehnya? Aku bisa mati kalau harus bawa pulang semua barang-barang ini," decak Jennie sambil membanting tubuh lelahnya di atas kasur. Menemani suami berburu belanjaan benar-benar seperti mendapat sensasi kerja rodi di jaman penjajahan. Pusing dan mual Jennie rasakan saat ini. Lebih parah dari orang nyidam pada saat hamil muda.


"Tenang saja Sayangku, barang-barang ini akan aku kirim sekarang juga. Jadi kita ngga perlu repot bawa semua oleh-oleh ini."


Berbanding terbalik dengan sang istri, hari ini Reyno kalap dan membeli apapun barang yang ia suka. Sementara Jennie malah tidak tertarik sama sekali untuk belanja.


"Terserah kamu lah, Reyn. Pokonya aku gak mau dibuat susah sama belanjaan kamu yang banyak segunung ini. Suami gak ada ahlak!" seru Jennie dengan bahasa sarkasme.


"Gak papa, Sayang. Sekali-kali nyenengin orang-orang yang selama ini membantu kita apa salahnya? Belum tentu kita bisa membalas jasa mereka dikemudian hari," rayu Reyno sok bijaksana.


"Terus boneka panda besar itu buat siapa? Ngapain beli boneka? Cilla 'kan sukanya kelinci," protes Jennie semakin kesal.


Kenapa pula Reyno harus membeli barang tidak berguna seperti itu.


"Panda itu untuk Tayo. Siapa yang bilang untuk Cilla."


"Tayo?" seru Jennie sambil melirik Reyno yang baru duduk di atas ranjang. Wanita itu bangun, lalu duduk seraya memasang wajah heran ke arah sang suami.


"Apa kamu tahu? Tayo sudah menemaniku selama ini, tapi aku lupa bahwa Tayo juga butuh istri. Dia pasti sangat kesepian selama ini. Jika Tayo bisa bicara, dia akan menuntut kamu karena setiap saat diracuni oleh desahanmu di atas ranjang. Kasihan Tayoku kalau jomlo bertahun-tahun."


"Jangan gila deh, Reyn! Tayo itu jenis beruang. Mana ada beruang yang bercinta dengan panda."


Kini gantian Reyno yang menyerngit ke arah Jennie. "Sayang, mereka itu boneka. Tidak butuh bercinta seperti kita."


"Hahaha." Jennie tertawa miris dengan gejolak amarah besar di dalam dada. Padahal Reyno yang mendului obrolan gilanya. Sekarang ia malah jadi tersudutkan seolah yang gila adalah dirinya sendiri.


Berjalan ke arah boneka barunya. Reyno menyelipkan sebuah kartu ucapan yang baru saja ia tulis.


'Anak-anak papa yang manis, nama boneka ini adalah Erina. Taruh Erina di samping Tayo agar ia tidak kesepian. Anggap mereka seperti orang tua kalian sendiri. Mumpung om Farhan ada di sana, jangan lupa repotin om Farhan dan kuras habis tenaganya. Ajak om Farhan main kuda-kudaan seharian juga boleh. Jangan sungkan. Nikmati hari kalian dan jangan lupa bahagia. Cium manis dari papa dan mama dari Korea.'


Setelah selesai menaruh surat gokilnya di tubuh boneka panda, Reyno lantas kembali menghampiri sang istri yang masih berguling-guling di atas kasur dalam keadaan manyun.


"Nanti semua barang ini akan sampai duluan ke Indonesia sebelum kita pulang. Aku sudah menitipkan surat kecil agar Erina tidak di eksekusi lagi oleh dua jelmaan kecebongku itu," ucap Reyno yang masih trauma berat.


"Erina?" Ah, bahkan boneka sialan itu sudah memiliki nama sekarang.


"Tayo dan Erina adalah simbol kita. Papa Teddy dan Mama Panda, bagus 'kan?"


"Terserah kamu, Reyn! Aku bahagia meskipun kamu gila," pasrah Jennie sambil memijit pelipisnya yang terasa pusing.


"Jangan frustasi, Yank. Nanti malam kita 'kan mau kencan ke Namsan. Kamu pasti langsung fresh lagi setelah melihat keindahan tempat itu," rayu Reyno dengan kata-kata semanis madu yang dioplos menggunakan gula biang.

__ADS_1


"Iya deh, iya. Awas ya, kalau aku gak bahagia kayak di gedung YG itu. Aku gak mau kasih jatah lagi ke kamu." Mata Jennie sudah terpejam. Bersiap untuk tidur siang sebelum melanjutkan acara kencan ala K-lovers pada malam nanti.


"Eh, jangan bobo dulu. Aku masih mau ngobro, tau!"


"Ngobrolin apa lagi ya ampun?" desah Jennie setengah bergumam. Matanya sudah tinggal 2 wath. Tidak kuat lagi diajak untuk terbuka.


"Gimana nama boneka panda baru kita? Bagus 'kan?"


Ya ampun, kalau childish Reyno sedang datang benar-benar membuat Jennie ingin menusuk pria itu dengan paku karatan. Menyebalkan dan tidak bisa dikondisikan.


"Emmm .... Bagus banget bonekanya, lebih bagus lagi kalo dikasih nama Bambang."


"Jennie!" seru Reyno saat gadis itu menjawab setengah tidak sadar. Dan setengah pikirannya sudah melayang ke alam mimpi.


***


Mengunjungi negara Gingseng tidak akan lengkap jika belum menginjakkan kaki ke Namsan tower. Setelah berfoto di depan rumah viral yang pernah dipakai syuting The Legend Of The Blue Sea oleh Lee Min Hoo dan Jun Ji Hyun, Reyno dan Jennie melanjutkan perjalanannya ke Namsan tower untuk melakukan kencan terbaik mereka.


Menara Namsan merupakan sebuah ikon kota Seoul yang menyuguhkan pemandangan panorama kota. Menara ini menjadi sebuah observatorium dan menara komunikasi di puncak gunung Namsan yang merupakan pusat geografis kota Soul. Namsan Seoul Tower adalah destinasi wisata yang sangat populer dan merupakan salah satu objek wisata yang wajib dikunjungi oleh setiap wisatawan. Menara ini juga merupakan tempat kencan populer di kalangan penduduk lokal dan wisatawan dari berbagai mancanegara


"Sebuah survei tahun 2012 yang dilakukan oleh kota ini—menemukan sebuah fakta bahwa Namsan Seoul Tower dinobatkan sebagai objek wisata nomor satu di Seoul oleh para pengunjung. Saat ini, menara ini menerima sekitar 8,4 juta pengunjung setiap tahun," ucap Reyno yang sudah seperti tour guide.


Tidak seperti saat kunjungan di gedung YG, Jennie lebih antusias saat berada di sini. Dingin yang menusuki kulit ia abaikan. Wanita itu tak henti-hentinya terkagum melihat seluruh kota Soul dari atas menara Namsan.


Selain menjadi destinasi ikonik yang bisa dikunjungi, Namsan Seoul Tower terlihat cantik dari jarak jauh, terutama pada malam hari. Dengan menggunakan teknologi LED terbaru, menara ini selalu disinari dengan berbagai warna dan pola. Kawasan yang dilindungi di sekitar Namsan Seoul Tower juga menampilkan suasana harmonis antara alam dan peradaban abad ke-21, sebuah bagunan mutakhir. Lalu lintas kendaraan dibatasi di sini guna menjaga gunung Namsan tetap bersih dan hijau.


"Ah, tapi kita tidak memiliki kunci pasangan seperti mereka." Jennie menunjuk para pasangan yang sedang memasang gembok cinta. Mereka tampak berselfie ria di depan gembok-gempok cinta yang terpasang rapi di belakangnya.


Ada satu hal unik di menara ini, yaitu pada puncak menaranya, ratusan bahkan mungkin ribuan gembok bernama Love Lock terpasang di pagar dengan berbagai macam tulisan berisi cita-cita yang dibuat oleh sepasang kekasih. Kemudian kunci gemboknya dibuang dengan harapan mereka tidak akan terpisahkan. Love Lock juga umum dilakukan di negara lain, contohnya di China, Uruguay, Taiwan, dsb.


"Kamu tenang saja! Jauh hari sebelum aku menikah, aku bahkan sudah membeli gemboknya terlebih dulu. Memasang gembok cinta di Namsan tower merupakan cita-citaku dari dulu." Reyno merogoh sebuah gembok berwarna merah muda dari saku jas tebalnya. Lantas memamerkan gembok itu pada sang istri dengan senyum lebar.


"Ya, ampun! Kamu niat banget ya, Reyn?" seru Jennie sambil menutup mulutnya tidak percaya.


"Iyalah, semua K-Lovers pasti ingin melakukan hal seperti ini dengan pasangannya. Aku termasuk K-lovers yang beruntung karena akan segera memasang gembok ini bersamamu. Gembok yang aku beli sejak umurku 16 tahun, jauh-jauh hari sebelum kita saling mengenal," jelas Reyno bahagia.


Jennie tersenyum gemas melihat mata polos Reyno ketika menatap gembok itu dengan haru biru. Senyumnya mengembang bersamaan dengan sang suami yang menggenggam erat gembok tersebut.


"Kamu lucu, Reyn! Bukannya kamu bilang aku cinta pertama kamu? Artinya kamu belum pernah pacaran dan jatuh cinta sebelum ketemu sama aku 'kan? Tapi kenapa beli gembok couple coba?"


"Aku juga tidak tahu, padahal saat itu hatiku masih sangat polos. Tidak ingin memiliki hubungan cinta sebelum aku lulus kuliah. Seluruh otakku hanya difokuskan untuk mata pelajaran dan nilai terbaik. Tapi aku ingin sekali membeli gembok itu," tutur Reyno yang memutar otaknya untuk mengorek masa lalu.


"Tapi takdir Tuhan berkata lain, kamu sudah memiliki dua anak dan satu istri sebelum kamu lulus S1," imbuh Jennie.


"Tidak masalah, aku bersyukur walau takdir yang aku dapat tidak sesuai dengan keinginanku pada awalnya. Terkadang, Tuhan memberikan sesuatu yang jauh lebih indah dari yang aku inginkan." Mencondongkan kepalanya, Reyno mulai mengikis jarak di antara mereka berdua, lalu menarik tubuh Jennie—erat. Mengecup puncak kelapa wanita itu penuh kasih sayang.

__ADS_1


"Dingin banget ya, Reyn," keluh sang istri. Pelukan Reyno terus diperetar. Cukup lama mereka dalam posisi itu hingga Reyno melepas pelukannya perlahan.


"Ayo kita pasang gembok cintanya. Udara di sini akan bertambah dingin jika semakin malam." Reyno menuntun Jennie ke pagar panjang di mana ada banyak gembok cinta yang terpasang di sana.


Bersama-sama sang istri, Reyno memasang gempok mini berwarna merah lalu menguncinya. "Kita berdoa dulu sebelum lempar kuncinya dari atas bukit."


"Iya," balas Jennie.


Keduanya menundukkan kepala. Saling berdoa dengan tangan yang menengadah ke atas langit.


...Ya Tuhan, aku sangat bahagia hari ini. Bahkan, aku rela jika waktuku terhenti di titik ini. Anugerah yang Engkau berikan untuk keluarga kecilku sungguh indah. Tolong kabulkanlah doa kecil ini ya, Tuhan. Jangan pernah pisahkan kami apapun yang terjadi. Jangan buat hatiku goyah pada wanita lain selain istriku, Jennie, ucap Reyno dalam hati....


Ya, Tuhan. Tolong kabulkanlah doa kecil dari suamiku. Kabulkanlah keinginannya agar kita tetap bersama di dunia dan akhirat. Izinkan kami egois untuk kesekian kalinya. Demi Tuhan, aku tidak ingin terpisah dengan suamiku meski Engkau menggantinya dengan yang lebih indah dari Hello Kitty langka itu, sekalipun. Yang kumau hanya satu, Tuhan. Hidup bahagia bersama Reynoku tercinta. Jennie mengamini doanya di dalam hati.


Keduanya masih diam beberapa saat setelah mereka saling memanjatkan doa-doanya di dalam hati. Tidak ada yang bertanya tentang doanya masing-masing. Biarlah itu menjadi rahasia dari dua insan yang terikat cinta dalam tali pernikahan.


"Ayo lempar kuncinya," suruh Reyno sambil memberikan kuncinya kepada Jennie.


"Aku tahu bahwa tempat ini bukanlah tali pengikat pada hubungan seseorang. Tapi aku harap, hubungan kita tidak akan terpisahkan oleh ruang dan waktu," ucap Jennie dalam hati. "Aku mencintaimu Reyno Giovani!" serunya dengan teriakan yang melengking kuat—bersamaan dengan kunci yang terlempar dari menara tinggi itu.


"Aku juga mencintaimu, Sayang," balas Reyno yang terus tersenyum manis sedari tadi.


"Benar yang kamu katakan, tempat ini memang bukan jaminan atas takdir cinta yang Tuhan berikan. Banyak juga pasangan yang hubungannya kandas walau sudah memasang gembok cinta di tempat ini. Sebagian dari mereka putus. Apalagi yang masih muda-mudi," tutur Reyno menjelaskan.


"Sayang banget ya, Reyn. Tapi aku yakin tidak akan ada kata putus di antara kita. Jika suatu hari kita terputus, aku akan menangis seumur hidup sampai Tuhan mengabulkan doaku agar menyatukan hubungan kita kembali." Dirangkumnya wajah Reyno penuh cinta.


Malam dingin yang cerah itu menandakan hati mereka berdua yang sedang berbunga-bunga. Empat tahun pernikahan mereka, tidak sama sekali menghadirkan kata bosan di antara keduanya. Malahan semakin menjadi budak cinta dan enggan berpisah. Sungguh nikmat Tuhan mana lagi yang engkau dustakan.


Mengikis jarak kembali, satu kecupan Reyno berhasil menyapu bibir Jennie yang dingin seperti es batu. Perlahan benda kenyal itu mulai menghangat, meraskan sensasi menyenangkan di tempat yang sedang sepi pengunjung itu. Karena hari yang mereka pilih bukan hari weekend.


Ciuman terus berlangsung lama hingga keduanya harus pintar-pintar mengatur napas. Dalam dinginnya dataran tinggi, keduanya berlomba-lomba saling menghangatkan satu sama lain.


"Buruan, turun. Aku sudah tidak kuat, pengin cepet-cepet sampai ke hotel dan langsung tancap gas," ucap Reyno melepaskan ciumannya. Jennie cemberut masam. Lantas memukul dada Reyno gemas.


"Kamu itu kampret ya, Reyn! Kenapa harus ngomong gitu, padahal keadaan kita lagi romantis-romantisan gini," protes Jennie kesal sekali. Suasana manis itu rusak begitu saja saat Reyno kebelet anu-anu.


"Ya mau gimana lagi, yang di bawah gak bisa diajak kompromi, Yank. Dia langsung on fire kalo deket-deket sama kamu. Yuk pulang," ajak Reyno memelas.


"Aku bener-bener kesel sama kamu! Hentai banget otaknya!" seru Jennie emosi.


"Maaf ya, tapi mau gimana lagi? Kamu kan bisa merasakan sendiri kalo dia udah memberontak pas kamu cium aku. Siapa suruh ciuman kamu sepanas itu? Kalau bukan di tempat umum, mungkin dia sudah nyuruh aku nerkam kamu sekarang juga."


Jennie melipat kedua tangannya jengkel, memang kenyataan tidak pernah sama dengan film romantis yang di suguhkan menggunakan gaya apik. Bagi mereka yang sudah menikah, tidak akan ada kata ciuman romantis tanpa efek lebih berkelanjutan.


***

__ADS_1


__ADS_2