Suamiku Anak Mami

Suamiku Anak Mami
Suami sempurna


__ADS_3

“Pagi!” Satu kecupan lembut mendarat di kening Jennie, gadis itu membuka kelopak matanya perlahan.


Seperti putri malu, Jennie segera meraih selimut untuk menutupi wajahnya. Pagi ini terasa berbeda, Jennie mendadak malu jika diperhatikan begitu. Karena Reyno terus senyum-senyum sambil memandangi Jennie yang sedang tidur pulas.


“Kamu ngapain sih, ngeliatin aku? Malu tahu!” Berbicara dari balik selimut.


Reyno menarik selimut yang menutupi wajah Jennie. “Aku nungguin kamu bangun.” Tersenyum cerah seperti pelangi.


“Ngapain di tungguin? Kenapa ngga bangunin aku?” Jennie menelusupkan tubuhnya ke dalam pelukan Reyno. Membenamkan wajah merona itu di sana.


“Kasian! Kamu kecapek—an gitu, bahkan sampai ngorok tidurnya.”


“Masa, sih?” Jennie mendongakan kepalanya malu-malu. “Biasanya kan gak pernah ngorok, kamu bohong ya?”


“Aku serius. Kamu tidur pulas, ngorok, ileran, tapi kayak orang kelelahan gitu.” Reyno mengusap- usap rambut Jennie dengan penuh kasih sayang. Jennie juga semakin mengeratkan pelukanya, seakan enggan untuk bangun dari tempat tidur. Kalau bisa pelukan terus sampai besok. Hehehe.


“Mungkin efek balapan kemarin kali ya, soalnya badan aku rasanya sakit-sakit. Kayaknya aku ngga bisa bangun nih,” ucapnya dengan nada manja. Eh, sejak kapan Jennie menjadi gadis manja.


“Maafin aku ... Maaf.” Reyno membisikan kata itu dengan lembut di telinga Jennie. “Hati aku jauh lebih sakit lihat keadaan kamu begitu,” Reyno menurunkan posisi tubuhnya, sehingga kedua mata mereka bisa saling bersitatap. Mengunci pandangan masing-masing dengan netra beningnya.


“Tapi kemarin kamu diam, bahkan aku tanya beberapa kali gak di jawab,” protes Jennie.


“Karena aku khawatir, aku marah sama diri aku sendiri, aku ngga bisa jadi suami yang baik, gagal jagain istri sendiri.”


Uluuuhhh ... So sweet banget sih, suami aku.


“Maafin aku ya, Reyn. Sudah bikin kamu khawatir.” Jennie memainkan dada Reyno dengan jari-jarinya, sesekali menggelitik dan mengelus permukaan itu.


“Jennie!” Menangkap tangan istrinya.


“Eh, kenapa?”


Aku terlalu berani ya? Hihihi, aku gak sadar pegang-pegang. Maaf ya, Reyn. Ucap Jennie dalam hati.


Reyno menggenggam tangan Jennie erat, menatap Jennie agak tajam. Ada binar tulus di dalam bola putih hitamnya.


“Kalau aku bukan cowok manja, bukan cowok aneh, bukan juga anak cupu kesayangan Mami. Apa Jennie akan mencintai Reyno, apa bisa aku hidup bersama kamu selamanya? Aku tahu kalau selama ini kamu selalu mengumpat dalam hati, mungkin saja kamu malu memiliki suami seperti aku.”


“Hei ... Hei ... Kenapa bilang begitu?” Jennie mengusap air bening yang hampir meleleh di pelupuk mata suaminya. Walaupun Reyno sudah berjanji akan berubah, namun sifat melankolisnya tetap tidak akan hilang, itu sudah mendarah daging sepertinya.

__ADS_1


“Aku ngerasa ngga pantas ada di samping kamu, Je,” isaknya.


“Siapa bilang, tolong jangan bicara seperti itu. Jadilah diri kamu sendiri, seperti apapun kamu, Reyno tetap suami Jennie.” Gadis itu merangkum wajah Reyno dengan kedua tanganya. “Dan—.”


“Dan apa?”


“Dan aku sangat mencintaimu,” ucap Jennie sambil menaruh wajahnya di ceruk leher suaminya.


“Cinta?”


“Iya, cinta kamu, cinta kelebihan dan kekurangan kamu. Jangan pernah bilang kalau kamu ngga pantas buat aku, aku yang gak akan rela jika kamu sampai pergi.” Mereka berdua saling mengeratkan pelukanya, sebuah kehangatan di pagi hari yang sulit dibayangkan. Hanya mereka berdua yang mengerti seperti apa bahagia mereka saat ini.


“Terima kasih Jennie, aku juga cinta kamu, aku ngga akan pergi. Semoga kita bisa menghadapi kesulitan ini bersama-sama.”


Sesederhana itu kehidupan mereka, tinggal di rumah kontrakan kecil, makan seadanya, berbaur dengan rakyat biasa, dan semua hal itulah yang membuat cinta tumbuh diantara mereka. Ternyata tidak perlu kemewahan untuk menghadirkan sebuah cinta yang tulus. Reyno dan Jennie adalah bukti nyata, bahwa menikah muda tidak selamanya menyedihkan. Jennie sangat bahagia mempunya suami yang sifatnya manja seperti Reyno.


Kisah ini akan membuktikan pada dunia, bahwa tidak semua wanita menginginkan suami tampan dan keren yang berstatus CEO. Lelaki manja dan perhatian juga sudah cukup membahagaikan. Menurut Jennie.


“Tadinya aku mikir kalau kamu akan terus begitu...” Jennie menghentikan pembicaraanya, Reyno jadi semakin penasaran.


“Begitu gimana?”


“Huahahah, maaf ya. Aku memang butuh penyesuaian diri untuk hal ini. Tapi aku akan berusaha berubah.” Cup! satu kecupan mendarat sekali lagi di kening Jennie. Gadis itu jadi semakin gemas dan langsung menerkam cowok tampan yang ada di hadapanya. Menciumi wajah Reyno tanpa ampun.


Kamu memang bukan cinta pertamaku, tapi aku akan pastikan, kamu yang terahir dalam hidup ini. Gumam Jennie dalam hati.


“Mandi sana!” Reyno menangkap wajah Jennie dengan telapak tanganya.” Kamu ileran!” ledeknya.


“Laper!” rengek Jennie manja. “ Kamu ngga mau masak, apa?” protes Jennie.


“Makanya keluar dulu, baru protes!”


“Eh ...”


“Coba keluar dulu,” perintah Reyno.


Oke. Jennie menurut. Menjulangkan kakinya ke lantai, lalu berjalan malas keluar kamar. Matanya nyaris terlepas dari tempatnya, ada banyak sekali makanan enak yang tersaji di atas meja. Jennie melirik Reyno.


“Apa kita punya keong emas? Apa jangan-jangan kamu memelihara keong emas? Makanan sebanyak ini dari mana?”

__ADS_1


“Aku yang memasak, kamu tidurnya seperti beruang hibernasi, makanya kamu gak dengar suara berisik dari arah dapur.” Memeluk tubuh kecil Jennie dari belakang.


“Hehehe, dari mana kamu dapat bahan baku sayur dan lauk pauk ini.” Air liur Jennie hampir menetes memandangi berbagai sajian lezat yang ada diatas piring.


“Uang yang ada di dompet kamu, semuanya sudah ku pakai.” Bercanda.


“Ya!” Jennie langsung membalikan tubuhnya sambil melotot. “Uangku?”


“Bohong ... Bohong ... Tadi memang naitnya mau pakai uang kamu, dan udah aku masukin kantong juga dompetnya, tapi pas aku mau beli sayur dan lauk di depan, banyak ibu-ibu yang ngasih aku sayur dan lauk-pauk mentah ini.” Reyno sambil tergelak saat bercerita.


“Kok bisa gitu?” Jennie bertolak pinggang tidak senang.


“Katanya mereka gemas lihat anak seumuran aku belanja sayuran, mereka pada cubitin pipi aku, terus aku di beliin banyak bahan-bahan untuk masak. Lumayankan, gak perlu ngeluarin uang.” Terkekeh lagi.


“Kamu ya!” Jennie mencubit kedua pipi Reyno agak kasar. “Jadi kamu suka di cubitin ibu-ibu!” Mencubit lebih keras. “Suka kan, di cubit gini!”


“Ampun! Sakit!” Meringis kesakitan.


“Aku gak suka ya, Reyn! Mending kamu habisin uang aku dari pada harus ngerelain kamu dipegang ibu-ibu itu.” Mengelap pipi Reyno dengan punggung tanganya. Barang kali masih ada bekas ibu-ibu kecentilan itu.


"Iya, maaf ngga lagi-lagi, deh. Mereka itu cuma heran sama aku, katanya anak mereka juga seuisia aku, tapi ngga bisa masak, apa lagi mau belanja di tukang sayur pagi-pagi."


“Tapi aku ngga suka kamu jadi idola para ibu-ibu, besok aku aja yang belanja. Kamu yang masak!” tandas Jennie jutek.


“Iya ... Iya ...”


“Selain di cubit kamu di apain sama mereka?” bentak Jennie lagi.


“Di cium pipinya,” balas Reyno pura-pura polos.


“Sialan! berani sekali mereka!” Jennie sudah hampir berlari keluar rumah, mau bikin perhitungan pada mereka. Buru-buru Reyno memeluk tubuh gadis marah itu dengan erat.


“Aku bohong ... Aku bohong, mereka ngga ada ngapa-ngapain aku, kok. Mana mungkin aku mau di cium sama mereka.” Reyno menyandarkan kepalanya di bahu Jennie. “Aku hanya mau di cium kamu, Jennie,” bisik Reyno di telinga Jennie. Gadis itu tersenyum dalam diam.


Ya Tuhan, sepertinya selama ini aku terlalu serakah . Aku selalu mendambakan sosok pria sempurna di hidupku. Suami yang sedang memeluku ini, jauh lebih berarti dari apapun. Meskipun Reyno bukan seorang CEO atau pria yang Mencool, tapi dia pintar memanjakan lidahku. Dia adalah bagian sempurna untuk seseorang yang hobinya makan sepertiku. I LOVE YOU REYNO.


...


VOTE LIKE SEBANYAK-BANYAKNYA KALAU MAU LAGI. Bikin aku seneng, sekali-kali, Hehehe. Jangan lupa tekan favorit, soalnya updateku tidak menentu.

__ADS_1


__ADS_2