
Semangkuk mie hangat selesai dihidangkan. Jennie masuk ke dalam kamar dan menaruh nampan makanannya di atas meja. Lalu berjalan menghampiri Reyno yang masih gulang-guling di atas ranjang. Jam menunjukkuan pukul satu malam, kalau sudah mimpi buruk begini biasanya Reyno akan kesulitan tidur. Maka dari itu Jennie berniat mengajak Reyno bernostalgia dengan masa lalunya saat masih hidup susah. Begitulah manusia, saat ia sedang di atas, kadang mereka rindu akan masa-masa sulit itu. Bukan untuk kembali, namun untuk mengenang, dan mensyukuri nikmat yang lebih baik dari Tuhan.
"Makan dulu yuk," ajak Jennie, ia duduk di pinggiran ranjang, tangannya mengelus-elus rambut kepala Reyno seperti anak kucing. "Aku udah bikinin makanan buat kita, loh."
"Makan?" Reyno menyerngit heran. "Kirain tadi kamu ke kamar anak-anak, ternyata bikin mie. Tumben banget ngajakin makan malam-malam gini, biasanya kamu marah kalau aku mimpi buruk. Ganggu tidur kamu," protes Reyno.
Pria itu mendudukkan tubuhnya. Lalu bergelayut manja di pundak Jennie. "Kamu kok tumben, baik?" tanya Reyno sok imut.
"Jadi selama ini aku gak baik? Begitu maksud kamu." Memutar bola mata malas, ada cubitan yang melayang di paha Reyno. Jennie geregetan mendengar pertanyaan suaminya.
"Aw ... aw .... Sakit, Sayang. Engga gitu maksudnya. Biasanya 'kan kamu marah kalau aku teriak malem-malem. Ngagetin kamu katanya." Satu kecupan jatuh di ceruk leher Jennie. "Aku kan cuma tanya, salah ya?" Tangannya sudah bergerilya, menarik-narik pita baju milik sang istri, usil.
Jennie memutar posisi tubuhnya, kini ia sudah menghadap Reyno. "Coba ceritain ke aku, mimpi kamu itu seperti apa? Terus apa yang membebani diri kamu sampai terus-terusan dihantui mimpi kayak begitu."
Jennie tahu mimpi Reyno itu ada hubungannya dengan dirinya, maka dari itu ia ingin mendalami apa yang Reyno rasakan sebelumnya. Karena beberapa kali Jennie menyarankan Reyno untuk pergi ke psikiater, namun pria itu menolak dengan berbagai alasan.
"Darah dan teriakkan kamu. Semua itu masih melekat erat di pikiran aku. Saat kamu teriak kesakitan, saat dokter menjait itu kamu, dan kamu menjerit sekuat tenaga.
__ADS_1
Aku melihat semua prosesnya, Je, dan yang paling membuat aku takut, saat suster mengeluarkan sisa darah dari perut kamu. Rasanya lemas, ada banyak darah berceceran, ada juga yang menggumpal sebesar telapak tangan. Itu yang aku mimpiin, kejadian waktu kamu habis melahirkan." Reyno selesai bercerita.
"Sekarang kamu lihat aku? Kamu bisa mimpi seperti itu karena masih memikirkan kejadian waktu itu. Pegang ini!" Jennie menarik tangan Reyno, menuntunnya untuk menyentuh bagian inti miliknya sendiri.
"Bagian ini sudah baik-baik saja, bahkan kamu bisa menikmatinya setiap saat. Bukannya sudah waktunya kamu melupakan trauma yang menyiksa diri kamu itu? Apa lagi yang kamu pikirkan?"Ada anggukkan tanda paham. Semoga saja Reyno benar-benar melupakan ketakutannya di masa lalu.
Jiwa Reyno memang benar-benar terguncang karena peristiwa melahirkan itu. Bahkan terlalu takutnya, ia sampai tidak berani menyentuh istrinya hingga 1 tahun lebih. Beruntungnya Jennie sibuk mengurus anak, jadi ia tidak terlalu fokus dengan hal yang satu ini.
Ya, Reyno memang selemah itu. Ia nyaris pingsan saat tak sengaja melihat milik istrinya sehabis melahirkan. Tidak hanya banjir darah, tapi di bagian itu terdapat luka robek yang cukup besar, siapapun lelaki yang melihatnya pasti akan bergidik ngeri. Terutama Reyno, pria yang terlahir dengan hati lemah dan sensitif. Kalau di pikir-pikir, Reyno hampir tidak menyangka bagian itu bisa kembali rapat seperti semula. Mungkin itu yang dinamakan keajaiban tuhan.
"Aku akan coba buat lupain semua ketakutan itu. Tapi untuk memiliki anak lagi, aku belum siap, Je. Aku masih tidak sanggup jika harus melihat kamu menderita untuk kedua kalinya." Serius. Wajah Reyno begitu sungguh-sungguh saat mengucapkan kalimat tadi.
"Iya. Makasih ya, pengertiannya." Reyno memeluk Jennie erat.
Kata bunda, Reyno itu beda dengan lelaki lain. Banyak suami yang menuntut istrinya untuk melahirkan anak lagi dan lagi, tapi tidak peduli bahwa melahirkan itu sangat menyiksa wanita. Banyak juga pria yang hanya suka berbuatnya saja, namun tidak mau membantu mengurus anak karena merasa itu adalah tugas wanita.
Sejatinya, anak adalah tanggung jawab bersama suami dan istri. Jangan merasa sudah capek kerja, lalu melimpahkan urusan anak-anak pada pihak wanita seorang. Sungguh, itu terlalu jahat untuk pihak wanita.
__ADS_1
"Eh, mienya entar dingin. Makan, yuk!" Jennie mengacak rambut kepala Reyno gemas. Kalau terus dibiarkan dalam posisi berpelukan begini, bisa-bisa acara makan mienya gagal.
Bangun dari posisi duduknya, Jennie menari tangan suaminya. Dengan malas Reyno menjulangkan kakinya ke lantai, menyeret langkahnya menuju sofa.
Brugh!
Reyno membanting tubuhnya di sofa. Pria itu menyerngit saat matanya menangkap semangkuk mie di atas meja. "Kok cuma satu? Kirain mau makan bareng? Buat aku mana?" kesalnya seraya mengerucutkan bibir.
Jennie menjatuhkan tubuhnya dengan lembut di pangkuan Reyno, lantas bergelayut manja di pundak sang suami. "Emang sengaja aku masak satu, biar bisa disuapin kamu kayak dulu." Menjawil hidung Reyno centil, Jennie meraih mangkok itu, lalu memaksa Reyno untuk menerimanya.
"Dasar istri aku manja!" Bibirnya mengembang manis, Reyno tersenyum hangat dengan perasaan bahagia.
"Mau dong, dimanjain, Reyno," godanya. Satu sendok mie berlabuh di depan bibir basah Jennie. Anak itu menerimanya dengan mulut yang terbuka lebar.
"Manja! Manja! Manja" Suara Reyno seiring dengan adukan mie di mangkoknya. Meski bibirnya manyun, namun ada bunga dan kupu-kupu terbang di dalam hatinya.
Terkadang, kembali ke masa lalu dengan bernostalgia adalah suatu hal yang menyenangkan.
__ADS_1
***
Likenya dong, semua... hehehehe